Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Bahagia Berlipat



"Satu ... dua ... tiga!"


Cekrek!


"Kemari, Hale. Berfoto denganku juga!" teriak Johan.


Halsey mengangguk lalu mulai menghampiri Johan. Perlahan ia mengangkat ponselnya ke udara, saling tersenyum manis dengan deretan gigi yang nampak, dan ....


Cekrek!


"Coba, kulihat," pinta Johan setelahnya.


Halsey menampakkan layar ponselnya pada Johan.


"Hale?"


"Hm?"


Johan menoleh menatap Halsey. "Coba perlihatkan senyummu seperti di foto ini," pintanya lagi.


Halsey menurut lalu mulai tersenyum dengan menampakkan deretan giginya.


"Senyumku sudah sangat manis, hanya saja ... aku masih perlu lesung pipi seperti ini," bisik Johan seraya menyentuh lesung pipi Halsey dengan telunjuknya. "Jika kita sudah punya anak nanti, siapa pun pasti dibuat meleleh akan senyumnya," sambungnya lagi.


"Baiklah. Aku akan memindahkan pasir-pasir itu dari tubuhmu," ujar Halsey tak menanggapi seraya mulai bangkit.


"Tidak usah, Sayang. Kau hanya perlu menarik tanganku saja," cegah Johan cepat.


Halsey terdiam sebentar. "Aku selalu tahu niat busukmu, Johan."


"Aaaa ... Hale! Ayolah, Hale! Kumoooooohon!" Johan berteriak dengan kedua tangan menyatu juga mata yang ia kedip-kedipkan.


"Lagi pula hanya tanganmu, Hale. Aku tak pernah meminta lebih, bukan? Ayolah, Hale! Ayolah! Haleeee!"


"Tetap tidak boleh!" kukuh Halsey mutlak seraya mulai memindahkan tumpukan pasir itu dari tubuh Johan.


Setelah selesai, Johan langsung bangkit kemudian berjalan menjauh begitu saja. Halsey yang menyaksikannya terdiam bingung. Benarkah Johan benar-benar marah karena hal tadi?


"Johan?! Kau ingin ke mana?!" tanya Halsey berteriak dari tempatnya.


Johan terus saja berjalan seolah tak mengindahkan, membuat Halsey langsung berlari kecil kemudian menyusul langkah Pria itu. Setelah saling beriringan pun, Johan masih memandang lurus seolah tak menganggapnya.


"Johan? Kau marah, ya?" tanya Halsey hati-hati.


"Y."


Halsey terkekeh diam-diam. Jika dirinya yang sedang marah, ia pasti tak akan menanggapi. Tapi Johan? Sangat nampak bahwa Pria itu hanya berusaha tetap terlihat marah.


"Aku tahu kau tak bisa marah padaku," ujar Halsey kemudian.


Johan menoleh dengan raut datar. "Kata siapa?"


"Kalau kau marah tapi masih menanggapi omonganku, itu artinya kau hanya berusaha terlihat marah," jelas Halsey.


"Itu marah versi diriku."


Halsey menghentikan langkahnya dengan wajah kesal. "Johan?!"


"Baiklah aku minta maaf, ya? Sekarang jangan marah lagi atau aku akan berlari hingga kakiku terkilir!"


Johan masih tak menanggapi. Pria itu tetap melangkah tanpa mengindahkan ucapan Halsey.


"Baiklah. Aku akan berla-"


Baru saja beberapa langkah, tubuh Halsey langsung berputar 90° hingga kedua tangannya membentur dada bidang milik Johan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, terlebih dengan tangan Johan yang kini melilit pinggang Halsey, dan tangan satunya lagi sibuk membelai wajah Gadis itu.


Dengan deru napas yang berpompa cepat, Halsey menggeram tatkala mendapati tatapan nakal dan seringaian mesum itu. Sungguh ....


PLAK!


BUGH!


BUGH!


"PRIA MESUM GILA! KAU BENAR-BENAR MESUM, JOHAAAAAAN!"


Johan hanya tertawa keras seraya membiarkan Halsey meluapkan amarahnya. Tidak tahu, tapi ia benar-benar menikmati kebersamaan mereka sore ini. Pertama kali Halsey bersikap bebas padanya, tersenyum sangat lebar karenanya, bahkan bersikap manis dan manja juga padanya. Meski ... selalu saja seperti sekarang. Memukulinya tanpa jeda, namun kewalahan sendiri pada akhirnya.


"Joh ... Johan Brengsek? Apa ... apa kau ... tak merasa sakit atas ... pukulanku?" tanya Halsey terengah-engah dengan keduan tangannya bertumpu di lutut.


Johan terkekeh. "Pukulanmu malah membuat pegal di tubuhku membaik, Sayang."


"Tapi kenapa ... tanganku yang malah terasa ... sakit?" tanya Halsey lagi.


"Sini, coba kulihat."


Halsey berdecak kesal seraya meluruskan tubuhnya kembali. "Itu, kan? Kau mulai lagi. Aku benar-benar tidak suka, ya. Sekali lagi kau mengulanginya, aku tidak akan mau bicara padamu lagi!"


Johan tersenyum lembut. "Iya, Sayang, iya. Aku minta maaf."


Halsey mengangguk singkat, sementara Johan, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Sudah hampir gelap, Hale. Ayo ikuti aku!"


"Ayo duduk di sini. Aku akan menggerakkan ayunannya," ujar Johan kemudian.


Halsey tersenyum lalu mendudukkan bokongnya pada ayunan tadi. Detik berikutnya, Johan mulai menarik tali ayunan tersebut pelan hingga tubuh Halsey terikut melayang.


"Johan?"


"Hm?"


Halsey mendongak ke belakang hingga mendapati wajah Johan yang terikut menunduk. "Terima kasih," ujarnya tersenyum lembut.


Johan ikut tersenyum seraya mengangguk dengan tangannya yang ikut terulur mengacak-acak rambut Halsey. Ki"Mataharinya sudah hampir terbenam, Hale. Ayo duduk di tepi pantai."


Halsey kembali mengangguk lalu ikut menyusul duduk di tepi pantai tepat di sisi kiri tubuh Johan. Ombak yang menggulung sesekali menerpa mereka.


Dari samping, Johan memandangi wajah Halsey yang tengah tersenyum seraya memandang ke arah barat. Tangannya lalu terulur menyelipkan anak-anak rambut Gadis itu ke belakang telinga. Membuat Halsey menoleh hingga pandangan mereka bersua dengan senyum yang sama-sama menghias wajah.


"Apa kau suka senja?" tanya Halsey kemudian.


Johan menarik napas lalu berpaling memandang ke barat. "Suka, bahkan kerap menyempatkan waktu untuk singgah hanya karena ingin menikmatinya lebih," balasnya seraya kembali menoleh pada Halsey.


"Begitujuga dengan senyum dan lesung pipi ini. Aku ...." Pandangan Johan beralih menyelami netra madu Halsey, dalam. "Aku akan melakukan apa pun untuk tetap bisa menikmati ini. Aku akan selalu berusaha membuatmu tersenyum."


Halsey terkekeh. "Kau memang pandai menggombal, ya?"


"Tanyakan pada Tuhan jika kau meragukannya."


Halsey tersenyum tipis kemudian mengikuti arah pandang Johan. Semburat jingga yang menghiasi langit barat itu tampak mulai membenamkan diri. Suasana yang kian gelap, dengan gemuruh ombak juga desiran pasir tertiup angin menambah kesan dingin yang menenangkan.


***


Selepas mampir makan malam bersama keluarga Bamatara, Johan tampak mengemudikan mobilnya yang kian membelah jalan raya. Perasaannya sedang sangat baik malam ini, sebabnya ia memutuskan untuk menemui Harris.


Setelah beberapa lama, mobilnya berbelok masuk pada gerbang mewah milik kediaman Harris. Selepas turun dari mobil hingga kakinya telah menapak pada lantai porselen di pelataran rumah, ia mulai melangkah masuk, melalui pelayan-pelayan rumah yang langsung menyambut kedatangannya hangat, seperti biasa.


Setelah kakinya berhasil menyusuri anak-anak tangga, ia tiba di hadapan sebuah pintu dengan pahatan mewahnya, sama seperti malam terakhir hari itu.


Tok ... tok!


Selepas mengetuk, Johan bisa mendengar suara gaduh dari dalam ruangan itu.


Ceklek!


Pintu terbuka hingga menampilkan wajah dingin Harris yang menyambutnya. Johan tersenyum lembut seraya meraih lalu mencium punggung tangan Pria paruh baya itu.


"Aku merindukanmu, Dad," ujarnya kemudian.


Harris tampak menyusuri setiap wajah Johan dengan tatapan menyelidik. "Apa hanya itu yang membawamu kemari?"


"Tidak. Aku juga ingin mengatakan banyak hal padamu. Jadi, bisakah kau membiarkanku masuk?" Johan bertanya dengan kepalanya yang menengok-nengok ke dalam ruangan.


Harris berdehem. "Masuklah."


Johan mengekori Daddy-nya memasuki ruangan tersebut. Matanya ia edarkan ke seluruh ruangan yang masih tampak sama sejak terakhir kali ia berkunjung ke sana.


Setelah menyaksikan Harris duduk di sofa panjang tepat di sudut, Johan terikut mendudukkan bokongnya di sisi kanan Pria paruh baya itu. Suasana yang kian berubah canggung membuat jantungnya berdegup kencang, hingga setelah berdehem sebentar, ia memberanikan diri untuk melirik ke sisi kiri tubuhnya.


"Daddy? Bisakah ... aku memelukmu?"


Harris menoleh dengan alis bertaut. "Apa yang ingin kaukatakan? Cepatlah. Aku sedang banyak pekerjaan."


Johan tersenyum kecut. Meski tadi bukanlah penolakan pertama yang ia terima, rasa sakitnya tetap saja selalu lebih besar. "Kau pasti sudah tahu perihal kematian mommy."


"Lalu?"


Johan tersenyum lembut. "Sudah kuduga bahwa itu bukan masalah bagimu, Dad. Tapi ...."


"Tidak, tidak jadi. Aku hanya merindukanmu, karenanya aku berkunjung kemari," sambung Johan lagi seraya berdiri dengan canggung.


"Katakan apa yang ingin kaukatakan. Cepat duduk kembali!" perintah Harris dingin.


"Aku ... aku takut kau akan marah."


"Cepat duduk dan katakan saja."


"Itu ... aku ... aku hanya ingin memelukmu," balas Johan seraya langsung duduk dan memalingkan wajahnya malu.


"Apa ada hal lain lagi?"


Johan menelan salivanya susah payah. Ia benar-benar hendak mengatakan itu, hanya saja ... lidahnya terasa sangat kelu. Bukan hanya lidahnya, tapi hatinya juga. Ia merasa tak akan sanggup menjadi baik-baik saja jika Harris malah membalas kasar permintaannya.


"Johan?"


Johan tersentak lalu kembali berdehem. "Aku ... maksudku ... kau sudah tahu tentang kematian mommy, jadi ... tak adakah niat dalam dirimu untuk mulai menyayangiku sebagai Putramu? Kau tahu, Dad. Selain dirimu aku tak punya keluarga lain lagi. Aku tak punya tempat untuk kembali saat sedang merasa jatuh. Hanya kau ... hanya kau yang tersisa, Dad ...." Johan tak sadar bahwa genangan di pelupuk matanya benar-benar telah meleleh sekarang.


Harris bangkit dari duduknya. "Kemarilah," balasnya dengan kedua tangan merentang.


Johan sontak mendongak dan menatapnya tak percaya. Setelah beberapa lama mematung, Pria itu lalu berhambur memeluk Harris kemudian memecah tangisnya di balik dekapan.


❀❀❀