Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Malik



Matahari yang kian meninggi tampak menelusup masuk hingga membuat ruangan bernuansa putih itu lebih menerang. Sosok Pria yang barangkali terganggu akibat silau yang menerpa matanya kian menggeliat dengan selimut yang semakin ia tarik menutupi seluruh tubuhnya.


"Sudah siang, Johan. Bangunlah," ujar Wanita yang tampak merapikan surai coklatnya di depan cermin itu, dengan pakaian minim yang selalu setia membalut tubuh rampingnya.


Johan perlahan membuka mata dengan sedikit menyipit, berusaha membiasakan pupilnya terhadap cahaya matahari yang terlihat begitu ceria siang ini.


Setelah beberapa menit mengumpulkan segala sadar, Pria itu perlahan beranjak dari kasur empuknya kemudian berjalan terhuyung-huyung menuju kamar mandi.


Rasa peningnya mungkin belum sepenuhnya hilang. Ia membawa diri ke kelab setelah rasa kacau yang terasa memporak-porandakan pikirannya semalam. Minuman haram pun ikut ia teguk banyak hingga rasa mabuk hampir mendominasi tubuhnya, ditambah juga dengan wanita tadi yang sempat ia ajak bermain.


Setelah beberapa menit berlalu, ia tampak selesai mandi dan baru saja keluar dengan handuk lembut membalut dari perut hingga lututnya.


"Terima kasih untuk waktunya, Liza. Aku transferkan bayaranmu nanti, ya," ujar Johan pada Wanita pemilik nama yang kini juga ikut berbalik memandangnya itu.


"Tentu saja, Johan. Aku pergi lebih dulu, ya. Bye!"


Cup!


Setelah menerima kecupan singkat di bibirnya, Johan masih setia tersenyum menyaksikan Wanita itu merenggang pergi.


Pandangannya kemudian ia edarkan ke seluruh ruangan hingga berakhir pada benda pipih yang terletak di atas nakas.


Johan berjalan mendekat dan menyempatkan untuk melirik jam dinding. Sudah pukul 11.08 AM. Jemarinya menjamah layar ponsel beberapa saat, kemudian mulai mendekatkan benda itu ke telinganya.


"Assalamualaikum."


Bibirnya kembali menyungging. Meski sikap Halsey benar-benar membuatnya kecewa semalam, tetap saja ia tak kuasa untuk berhenti terpukau. Ia jadi berbalik tak suka hari Minggu jika harus ikut meliburkannya berjumpa dengan Gadis itu. Rasa rindu sudah terasa bergejolak, bahkan pukul 3 subuh tadi saja ia masih sempat-sempatnya mengirimkan Halsey pesan selamat malam sekaligus ungkapan cinta. Sama sekali tidak. Berharap Halsey membalas pesannya tak pernah terangin di benaknya barang sekali.


"Apa aku harus menutup sambungan teleponnya?"


Johan tersadar. "Waalaikumsalam. Selamat pagi, Hale."


"Ada apa menelepon?"


"Aku hanya rindu dengan calon pacarku. Tidak boleh, ya?"


"Jangan menghubungiku jika tidak ada hal penting. Aku ada pekerjaan. Assalamualaikum."


'Tett'


Halsey memutuskan sambungan teleponnya sepihak.


Ish!


Gadis dingin itu benar-benar, deh!


Sementara di sisi Halsey, Gadis itu juga sedang melakukan hal yang sama. Memilah pakaian untuk ia gunakan pergi bersama Malik & Baila juga ... Sam.


Sebenarnya Halsey sedang sangat malas untuk bepergian, tapi demi menyenangkan Malik, ia harus kembali rela. Belum lagi ... sudahlah. Tidak akan lama dan harus tidak lama.


Setelah ia rasa selesai, Gadis itu perlahan melangkah keluar kamar dan mulai menyusuri anak-anak tangga. Malik tampak sibuk pada ponselnya, sedangkan Baila tengah berdebat dengan Sam entah perihal apa.


Beberapa saat saling memandangi, mereka berempat bergegas berpamitan pada Mahesa dan Shiren kemudian saling mendudukkan bokong di jok mobil Malik. Kedua Pria itu saling duduk di jok depan dengan Sam yang mengemudi, sedangkan Halsey dan Baila di jok tengah.


"Kita akan ke mana?" tanya Sam melirik Malik sekali.


Malik mengangkat bahu. "Aku belum terlalu tahu apa-apa soal jalanan ini," balasnya menampakkan cengiran. "Kurasa mall saja. Bagaimana?" lanjutnya bertanya.


"Hale tidak suka tempat ramai."


Malik melirik Sam sekali kemudian berpindah menengok Baila ke belakang. Mereka menyahut bersamaan, tadi. "Pasangan yang sangat kompak, ya," ujarnya terkekeh dan ditanggapi senyum tipis oleh keduanya.


"Lalu kita harus ke mana, Hale?" tanya Malik lagi.


Halsey yang sejak tadi hanya sibuk memandang keluar jendela kaca mobil beralih melirik Malik. "Terserah saja. Aku tidak masalah," balasnya lalu kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela.


Keempat manusia itu kemudian saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mobil Malik melaju membelah jalanan kota dalam hening, membiarkan suasana ramai berupa klakson juga deru mobil menjadi musik yang seolah minta dinikmati.


Beberapa waktu berlalu, Sam membelokkan mobil pada pelataran sebuah mall besar di kota itu.


"Kau tidak masalah, 'kan, Hale?" Malik lagi-lagi membalikkan badan menghadap Halsey.


"Hm. Yang penting tidak terlalu lama," balas Halsey seraya mulai membuka pintu mobil dan bergegas keluar.


Tapi baru saja hendak melangkah, ia terpaksa berbalik setelah merasakan seseorang mencekal lengannya. Alisnya terangkat setelah mendapati Sam yang kemudian tampak berjongkok entah hendak mengapa.


Perlahan, Halsey mengamati pergerakan Pria itu, hingga detik berikutnya, ia tersadar dan langsung melangkah mundur. "Terima kasih, tapi aku bisa melakukannya sendiri," ujarnya sembari berjongkok, kemudian mulai membetulkan kebatan tali sepatunya.


Sam bangkit berdiri. Ternyata ... masih sebeku layaknya dulu.


"Kalian duluan saja," sambung Halsey.


Baila mengangguk kemudian menarik Sam memasuki pintu utama mall tersebut.


Malik yang tadi melupakan ponselnya di mobil baru saja tiba dan langsung mendapati Halsey tampak berjongkok membetulkan tali sepatunya. "Aku akan mengikatkan-"


"Ayo." Halsey sudah bangkit dari posisinya dan ikut memasuki pintu utama mall. Malik yang menyaksikan betapa menyebalkannya Gadis itu pun hanya bisa mendengus berusaha mengerti.


❀❀❀