Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Tidak Sia-sia



Alan tampak fokus dengan kemudi sembari bibirnya bersenandung mengikuti musik yang terdengar dari radio mobilnya. Sesuai rencana konyol yang ia dan kedua sahabatnya itu susun, kini tujuannya adalah rumah Halsey. Jadi semoga saja ... ia tak kelepasan tertawa nantinya.


Dan soal Johan, Pria itu kini sudah dalam kondisi babak belur parah. Tentu saja ia merasa senang dan puas. Kepalan tangannya itu memang sudah cukup lama tak pernah meninju lagi, jadi biarlah Johan saja yang jadi pelampiasan. Toh, dia juga yang meminta.


Setelah beberapa lama, kini mobilnya sudah tampak berhenti tepat di depan gerbang kediaman keluarga Bamatara. Alan bergegas keluar. Melangkah masuk ke pelataran, hingga berhasil tiba di mulut rumah.


"Assalamualaikum ...." Alan menarik napas panjang, berusaha sebisa mungkin untuk memasang tampang sedih dan panik.


"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam, bersamaan dengan munculnya sosok Baila.


"Alan? Ayo, masuklah," ujar Baila kemudian. Ekspresinya tampak kaget.


"Eh, iya."


Alan dan Baila berjalan beriringan memasuki rumah hingga saling terduduk di sofa.


"Aku akan buatkan minuman dulu."


"Tidak perlu. Aku hanya kemari untuk bertemu Hale. Ada hal penting yang harus kuberi tahu padanya," cegah Alan cepat.


Baila mengangguk mengerti. "Baiklah. Aku akan panggilkan dulu," balasnya sembari mulai bangkit berdiri.


Detik berikutnya ia melangkah menuju juntaian tangga. Menyusurinya perlahan, hingga akhirnya hilang di balik tangga.


Beberapa saat kemudian, muncullah sosok Halsey. Tampang Gadis itu juga tak kalah kaget. Memangnya ia hantu, apa? Pikir Alan.


"Alan? Ada apa kemari?" tanya Halsey serius sembari ikut duduk di sofa seberang Alan.


Alan bangkit berdiri. "Johan, Hale. Dia dikeroyok oleh Sam dan teman-temannya."


"A-apa ...?"


"Ayo. Cepatlah. Dia sekarang sekarat." Alan menarik pergelangan tangan Halsey cepat kemudian menarik Gadis itu untuk mengekorinya.


"Apa yang kau katakan?! J-jangan bercanda!"


Alan berbalik sekilas, masih dengan tangannya yang sibuk menarik Halsey. "Aku serius, Hale. Cepatlah. Jangan membuang waktu lagi!"


Mereka pun berhasil tiba di sisi tubuh mobil Alan. Alan membukakan pintu untuk Halsey kemudian ikut mengitari mobil dan mendaratkan bokongnya di jok kemudi.


"Mengapa Johan bisa dikeroyok? Kumohon jelaskan dengan benar!"


Sembari mulai melajukan mobilnya, Alan menoleh sekilas pada Halsey. Dalam hati ia tertawa geli. Entah mengapa Johan dan Halsey terlihat konyol sekali. Sudah tahu saling mencintai, malah memilih untuk saling mengakhiri. "Johan benar-benar jadi gila karenamu, Hale. Untung saja ia akhirnya hanya memilih dikeroyok. Kau tahu? Sialan itu tadinya niat bunuh diri dengan melompat dari gedung dengan ketinggian 11 tingkat!" jelas Alan berusaha terdengar serius.


Untung saja suasana sedikit temaram. Makanya, Halsey tidak akan begitu melihat betapa ia bersusah payah untuk tidak kelepasan tertawa.


"Aku bilang jangan bercanda!" Halsey membentak.


"Ya, Tuhan. Mengapa juga aku harus bercanda, Hale? Johan memang sedang sekarat dan hidupnya sudah di ambang kemat-"


"Kalau begitu cepat, Alan! Aku tidak mau Johan sampai mati ... hiks, hiks ...."


Diam-diam, Alan terkekeh. "Dengar, Hale. Manusia itu tidak ada yang sempurna. Meski brengsek, Johan juga manusia, dan melakukan sekali kesalahan itu kurasa adalah hal yang wajar. Lagi pula kau sudah tahu alasannya, bukan? Hidupnya menyedihkan. Ia tak seberuntung dirimu. Ia tak terlahir dari keluarga yang harmonis."


"Alan ... hiks, hiks. Kumohon, cepatlah ...." Tangis Halsey semakin pecah. Perasaannya benar-benar kalut. Di sisi lain, ia merasa Johan pantas dihukum. Namun setelah mendengar penuturan Alan barusan, ia malah berbalik merasa bersalah.


"Aku tidak yakin bahwa Johan masih bernyawa. Keadaannya tadi saja sudah sangat babak belur parah. Tapi kau tahu, Hale? Di sisa-sisa napas terakhirnya sekalipun, ia tetap mengingatmu. Ia bahkan memohon padaku agar menjemputmu hanya karena ingin kau menyaksikannya meregang nyaw-"


Plak!


"Cukup, Alan! Aku tidak ingin dengar lagi! Hiks, hiks ...."


Alan mengusap pipi kanannya pelan. Untung saja ... ia tidak pernah sempat jatuh cinta dengan Gadis sespesies Halsey. Padahal baru beberapa menit bersama, tapi pipinya bahkan sudah merasakan tamparan manis dari Gadis itu. Semoga saja tidak, dan tidak pernah. Sungguh itu terdengar sangat mengerikan.


Setelah beberapa lama, mobilnya tampak menepi di pinggir jalan. Benar, mereka tak jadi memilih taman kota. Di sini suasananya lebih aman. Tak ada kemungkinan untuk orang lain menyaksikan mereka beraksi konyol.


"Johan ...?!" Halsey bergegas keluar dari mobil dengan tergesa-gesa kemudian berlari menghampiri tubuh Johan yang sudah tampak terkapar lemah di pinggir jalan.


"Johan ... m-mengapa bisa sep-"


"Hale ...." Johan berlirih sembari tangannya terulur mengusap pipi Halsey pelan. "Jangan menangis, Sayang ...," bisiknya lagi.


Halsey menggeleng keras. "Tidak, Johan. Bertahanlah! REY? ALAN?! CEPAT BAWA JOHAN KE MOBIL! KITA HARUS KE RUMAH SAKIT!"


Halsey bangkit berdiri sembari menyaksikan Alan dan Reyhan yang mulai membopong tubuh Johan. Setelahnya, ia mengekori kedua Pria itu hingga tiba di mobil kemudian mendaratkan bokongnya lebih dulu di jok penumpang tengah. "Mengapa kalian tak membawanya sejak tadi, sih?! Bagaimana jika Johan benar-benar mati?! HAH?!" Ia berteriak sembari menarik kepala Johan ke pangkuannya.


"Hale ...? Sakit sekali ...," rengek Johan manja.


Reyhan dan Alan yang mendengar itu langsung saja memutar bola mata jijik.


Reyhan mengulurkan tangannya ke bahu Alan, seolah meminta Pria itu untuk tetap sabar atas segala cobaan yang ada.


"Jangan menyentuhku, Sialan!" Alan memaki sembari mulai melajukan mobilnya.


"Johan? Bertahanlah. Aku yakin kau akan baik-baik saja," bisik Halsey pelan. Dengan tangis yang kembali pecah, ia membelai luka di wajah Johan pelan.


"Sakit, Hale ...."


"Iya, Johan. Aku tahu kau kuat," balas Halsey mengangguk keras, dengan tangisnya yang semakin pecah.


"Tapi ini sangat sakit, Hale ...."


"Bersabarlah. Lukamu akan diobati setelah kita tiba di rumah sakit."


Johan menggeleng. "Tidak mau .... Aku tidak butuh dokter!"


"Lalu apa, Johan? Jangan bicara lagi!"


"Sakit, Hale .... Sepertinya kau harus mencium luka di wajahku ini," balas Johan manja. Ia bahkan langsung menarik tangan Halsey kemudian memeluknya erat.


"Kau harus diam, ya? Jangan bicara lagi."


Johan kembali merengut manja. "Tapi aku kesakitan, Hale .... Bagaimana jika luka ini membuatku mati? Memangnya kau rela kehilanganku, ya?"


"Joh-"


"Pokoknya cium!"


"Ayolah, Johan. Kau pasti ingat bahwa ada aku dan Rey di sini!" Alan ikut bersuara, bahkan terdengar sangat muak sekaligus kesal.


Tak niat mengindahkan, Johan lebih memilih memandangi wajah Halsey dari bawah sembari mengeratkan dekapannya di tangan Gadis itu. "Hale ...?"


"Hm?"


"Sepertinya ... hidupku memang tidak akan lama la-"


Plak!


"Jangan bicara sembarangan, Johan!"


Johan hanya bisa meringis menahan perih di wajahnya. Mengapa, sih, Halsey sangat suka menamparnya? Padahal sudah jelas ia sedang terluka parah. "Aku serius, Hale ...! Sepertinya luka di wajahku inilah yang akan merenggut nyawaku secara perlahan," balasnya lagi.


"Sudah, Johan. Jangan bicara lagi!"


"Kalau aku benar-benar mati setelah ini, maukah kau mengabulkan permintaanku, Hale? Aku tidak mau gentayangan nantinya hanya karena satu keinginanku tak sempat terpenuhi."


"Sudah, Joh-"


"Lihat aku, Hale."


Halsey menurut, membiarkan Johan menarik wajahnya untuk menunduk. Entah mengapa, ada banyak perasaan takut yang menerpanya tatkala mendapati wajah serius itu. Ada apa dengan Johan?


"Untuk cium tadi, aku hanya bercanda. Tapi kali ini ... aku benar-benar serius, Hale."


"Serius apa?" tanya Halsey takut-takut.


"Kembalilah denganku. Aku ingin menghabiskan sisa-sisa hidupku bersamamu. Mencipta banyak kenangan, saling mengisi kekurangan. Beri aku kesempatan kedua, Hale."


Halsey terdiam. Balas menatap netra Johan sembari berusaha menemukan segala kebenaran di sana. Mengapa ia merasa Johan tengah berucap serius?


"Hale ...?"


Halsey memutuskan tatapannya dengan Johan sembari menarik tangannya dari genggaman Pria itu. "Maaf, Johan. Aku- aku ...."


"Kumohon, Hale .... Hidupku berantakan tanpamu."


Halsey terdiam sesaat, kemudian menarik napas kasar. "Tapi ... berjanji dulu bahwa kau tak akan mencari masalah dan membahayakan dirimu sendiri lagi."


"Iya, Hale. Aku janji," balas Johan mengangguk mantap, penuh haru.


Baiklah.


Halsey hanya berharap pilihannya tidak salah. Entah mengapa ia memilih mengikuti kata hati, tapi memang begitulah adanya. Tak ada kuasa dalam dirinya untuk menolak, sama sekali.


❀❀❀