Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
This Is What It Takes



Johan berlari menuruni anak-anak tangga dengan sangat gesit. Apa lagi jika bukan untuk mendatangi Halsey di kelasnya? Ia akan berusaha menjelaskan semuanya. Halsey pasti bisa mengerti, pasti.


Setelah berhasil tiba di depan kelas gadis itu, Johan langsung menengok ke dalam. Dan yang benar saja. Kelas Halsey sudah kosong, tak ada lagi manusia tersisa di dalam.


"Aku tahu aku salah, tapi tak bisakah Hale memberiku kesempatan untuk menjelaskan?" omel Johan kesal.


Langkah lebarnya kini ia tuntun menuju parkiran atau mungkin gerbang sekolah. Halsey pasti belum terlalu jauh, sebab bel pulang juga baru berbunyi beberapa menit lalu.


Dari jauh, bisa ia dapati sosok Halsey tengah berjalan dengan tas kuning lembut di punggungnya. Tak hanya itu, sosok Pria familiar juga tampak mengiringi langkah Gadis itu.


"Dasar brengsek! Berani sekali sialan itu menjemput Hale?!"


Tanpa jeda, Johan langsung saja berlari menghampiri kedua manusia tadi. Detik berikutnya, ia telah berhasil menarik kerah kemeja Sam kemudian ....


Bugh!


Bugh!


"Kau benar-benar serius ingin mencari masalah denganku, ya? Apa maksudmu, Sialan?! HAH?!" Johan telah mendudukkan dirinya di atas perut Sam sembari tangannya mencengkeram erat kerah kemeja Pria itu.


"Johan? Apa yang kaulakukan?!" teriak Halsey sembari berjalan mendekat, berusaha menarik Johan untuk bangkit dari posisinya.


Johan menoleh. "Jadi kau ingin pulang dengan Brengsek ini? Begitu?!"


Bugh!


"Aku lebih baik membunuhnya di sini saja daripada harus melihat itu terjadi," lanjutnya lagi.


Bugh!


Bugh!


"Cukup-"


Bugh!


"Joh-"


Plak!


Tangan Johan berhenti di udara setelah merasakan tamparan Halsey yang baru saja mendarat di pipi kirinya.


"AKU BILANG CUKUP!"


Johan menoleh. "Cukup untuk memukulinya?" tanyanya kemudian terkekeh jahat. "Karena perbuatannya kita menjadi seperti ini, Hale! Apa kau tak ingat betapa besar perjuanganku hanya untuk mendapatkanmu?"


Bugh!


Johan kembali memukuli Sam yang kini sudah tampak melemah. Pukulan Johan mungkin hanya beberapa kali, tapi betapa kuatnya pukulan itu hanya Sam juga yang tahu.


"Aku akan pulang denganmu, jadi berhenti memukulinya!"


Johan tersenyum simpul menyaksikan Halsey berjalan menjauh. Detik berikutnya ia berpindah memandangi Sam dengan sorot benci dan amarah. Jika saja membunuh itu tak dosa, maka ia akan melakukannya sekarang juga. Sayangnya ... ia masih ingat Tuhan. Apalagi jika mengingat dosa-dosanya yang sudah terlalu bertumpuk. Semalam saja bahkan dosanya sudah bertambah lagi.


"Padahal aku menganggap masalah kita telah selesai sejak hari itu, tapi ... karena kau yang telah memulainya kembali, maka dengan senang hati aku akan menurut saja. Maklum, anak saleh hahahaha!"


Bugh!


Johan bangkit berdiri kemudian merapikan seragamnya. "Aku masih akan memukulimu, jadi jangan merasa bebas dulu."


Detik berikutnya, ia mulai melangkah menjauh meninggalkan tubuh Sam yang telah terkapar lemah. Padahal itu belum seberapa.


Setelah berhasil tiba di parkiran dan mendapati Halsey tengah menunggunya di sisi tubuh mobil, bibirnya tersenyum lembut. Ia merasa bersalah telah membentak Gadis itu tadi. Bagaimanapun caranya, mereka harus bersatu kembali. Bagaimanapun caranya. "Maaf telah membuatmu menunggu," ujarnya kemudian.


Halsey tak menanggapi. Melirik saja bahkan tidak sama sekali. Bukan bagaimana, hanya saja ia sudah berusaha keras untuk menghindari Johan, namun tetap saja Pria itu selalu mendekati. Menghabiskan waktu bersama-sama akan membuatnya semakin sulit melupakan.


Saat Halsey mengulurkan tangannya pada kenop pintu dan berhasil membukanya, Johan malah langsung datang menggenggam tangan Gadis itu kemudian menutup pintu kembali.


Si Johan Mesum itu bahkan telah menumpukan tubuhnya di pintu mobil. Memandangi Halsey dengan senyum menggoda, dengan bibirnya yang sibuk mengecupi jemari Gadis itu berkali-kali.


"Apa yang kau laku-"


"Mencium jemarimu."


"Dasar gila! Lepas-"


"Katakan dulu kita tidak jadi putus."


"CUKUP, JOHAN! LEPASKAN TANGAN-"


"SSSTT!" Telunjuk Johan telah berhasil membungkam mulut Halsey. Ia menarik Gadis itu mendekat. Menyelami netra madunya dalam-dalam, dengan tangan yang juga sibuk membelai rambutnya pelan. "Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Sayang ...."


"...."


"Aku tahu aku salah, tapi setidaknya dengarkan penjelasanku dulu. Bisa?"


Halsey balas menatap Johan, berusaha memastikan segala rasa di netra coklat gelap itu. Setelah beberapa saat, akhirnya ia mengangguk pelan.


"Aku menuruti saranmu di taman siang itu, Hale. Malamnya, setelah tiba di rumah daddy, aku mendapati gadis kecil yang ternyata adalah anak dari hasil pernikahan daddy dengan istrinya sejak empat tahun lalu."


"E-empat tahun lalu?"


Johan mengangguk. "Namanya Ellie, sementara mommy-nya bernama Riana. Malam itu, tante Riana datang dan langsung marah pada daddy. Dia bahkan memelukku sambil menangis dan bertanya di mana aku tinggal selama ini."


"Jadi, alasan daddy mengusirku dari rumah dulu itu adalah karena ia akan melangsungkan pernikahan. Tante Riana tidak tahu sama sekali tentang diriku, sebab selama ini daddy mengatakan padanya bahwa aku sudah meninggal."


"Johan ...?"


Johan tersenyum samar. "Aku sangat kacau, Hale. Aku juga berusaha menghubungi nomor ponselmu, tapi kau tak menjawab meski sekali."


"Johan? Maafkan aku. Aku ... aku tidak sempat memeriksa ponselku malam itu. Kami berempat sedang keluar bersama untuk menghibur Baila yang sedang sangat patah hati ...."


Johan mengangguk mengerti. "Aku juga minta maaf. Mungkin salahku karena nekat mendatangi kelab dalam keadaan kacau," balasnya menenangkan. "Jadi ... apa hubungan kita benar-benar berakhir?"


Halsey memalingkan wajah kemudian menarik tangannya dari genggaman Johan. "Maaf, Johan. Tapi ... sebaiknya kita memang berakhir saja," balasnya pelan.


Johan terdiam, masih dalam posisinya yang bertumpu di pintu mobil. "Apa aku mengecewakanmu?"


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Menyingkirlah," balas Halsey berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Apa perlu aku berjuang untukmu dari awal lagi?" Johan kembali bertanya.


"Ck! Sudah, Johan. Aku ingin pulang sekarang!"


"Kita akan pulang setelah kau menjawab pertanyaanku."


Halsey memejam sesaat dengan napas yang ia tarik kasar. Detik berikutnya, ia kembali mendongak menatap Johan dengan sorot datar, berusaha meredam emosinya yang meronta untuk meledak. "Terserahmu, dan aku tidak peduli!"


Johan tersenyum simpul.


Cup!


Plak!


"Sekali lagi kau berani menciumku sembarangan, aku tak akan segan-segan menamparmu lebih!" ancam Halsey kesal. Setelahnya, ia mendorong tubuh Johan ke samping kemudian membuka pintu mobil dan mendaratkan bokongnya di jok begitu saja.


Johan yang kini sibuk terkekeh juga ikut mengitari mobil kemudian duduk di jok kemudi. Halsey mungkin terlihat marah tiap kali ia langsung mencium Gadis itu tiba-tiba, namun tetap saja, masih bisa ia dapati wajah merahnya yang merona karena marah, dan juga karena baper dalam waktu yang bersamaan.


Unch.


Calon istri yang menggemaskan.


***


Halsey tampak duduk bertumpu di kepala ranjang dengan sebuah buku yang sibuk ia baca. Tak ada tugas sekolah membuatnya bosan sekaligus kesal. Jika saja banyak, ia mungkin bisa menyibukkan diri. Berusaha mengalihkan pikirannya dari segala hal tentang pengkhianatan itu.


"Tapi ... daddy Johan benar-benar tak punya hati," bisiknya pelan. Pandangannya kini tak lagi tertuju pada buku.


"Mengusir putranya sendiri dari rumah kemudian melangsungkan pernikahan setelahnya? Belum lagi dia mengatakan bahwa Johan sudah meninggal." Halsey mmenggeleng-geleng.


"Mungkin wajar jika Johan merasa kacau. Siapa pun yang menjadi dirinya pasti akan merasa dan melakukan hal yang sama," sambungnya lagi sembari mengubah posisi duduk, berusaha menemukan kenyamanan.


Drrrttt .... Drrrttt.


Dengan jantung berdegup-degup, Halsey melirik ke arah nakas kemudian meraih ponselnya dari sana. Ia menebak itu adalah panggilan dari Johan, dan ... memang benar.


"Aku tidak mau mengangkatnya! Tidak mau!" bisiknya panik.


"Aku tidak mau, Ya Allah. Aku tidak mau ....!" Halsey menggigit bibir bawahnya keras, kemudian menggeleng-geleng berusaha meyakinkan diri.


"Tapi ... hatiku menolak," bisiknya mengerang kesal. "Kalau begini terus, bisa-bisa aku gagal melupakan Johan!"


"Argh! Haruskah kuangkat saja? Haruskah?"


Halsey menarik napas dalam sembari jarinya yang mulai mengusap ikon telepon.


Hanya kali ini, oke?


"Waalaikumsalam, Bidadari Surgaku. Kenapa lama sekali?"


"Kenapa menelepon?"


"Tentu saja karena rindu. Maksudku, aku merindukanmu, Pacarku."


"Kita sudah berakhir! Jangan menghubungiku lagi."


"Baiklah. Kau bukan lagi pacarku, tapi calon istriku."


"Assalamu-"


"Hale? Jangan dimatikan, Sayang ...."


"Aku sedang mengerjakan tugas. Jangan menghubu-"


"Kalau kau mematikan sambungan teleponnya, maka saat itu juga aku akan langsung datang ke rumahmu!"


Halsey menggeram. "Kau gila, ya?! Sudah, Johan. Aku sedang sangat sibuk. Lain kali-"


"Belajarnya besok lagi saja, Sayang. Kau itu sudah terlalu pintar."


"Aku bukan belajar, tapi mengerjakan tugas."


"Apa pun itu, kerjakan besok saja. Jam tidurmu sudah hampir tiba, jadi sekarang bergegaslah ke kamar mandi dan aku tidak akan mematikan sambungan teleponnya."


"Tidak mau."


"Cepat, Hale ...."


"Tapi aku membencimu ...."


Johan terkekeh. "Yang penting benih-benih cintanya masih lebih banyak. Sekarang cepat ke kamar mandi, oke? Aku akan menunggumu."


Halsey mengusap wajahnya kasar. Sungguh. Semakin lama ia akan menjadi gila karena Johan.


Detik berikutnya, ia benar-benar beranjak dari kasur kemudian melangkah menuju kamar mandi. Demi apa pun, Halsey sangat-sangat membenci dirinya sendiri. Setelah dibuat kecewa oleh pengkhianatan, masih saja mau menerima panggilan. Bodoh sekali!


Beberapa saat kemudian, ia sudah tampak keluar dari kamar mandi. "Astaga. Johan benar-benar tidak mematikan sambungan teleponnya?" Halsey menggigit bibir bawahnya cemas sembari berjalan mendekat ke arah kasur. Tangannya terulur meraih ponsel. Mendekatkannya lagi ke kuping, kemudian berdehem seolah memberi kode bahwa dirinya telah selesai.


Ya Tuhan. Sungguh memalukan dirinya itu.


"Sudah selesai?"


"Hm."


"Sekarang, ayo bersiap untuk tidur. Berbaringlah, kemudian tarik selimutmu hingga dada."


Halsey lagi-lagi menurut. Entah ada apa dengan dirinya malam ini.


"Sudah?"


"Iya."


"Matikan lampu kamarmu."


"Sudah."


"Memejamlah. Aku akan menunggumu terlelap."


"Johan?"


Meski tidak sedang bertatap wajah, Halsey tahu bahwa Johan baru saja tersenyum. "Iya, Sayang?"


"Kau sedang di mana?"


"Di apartemen. Kenapa?"


"Aku hanya bertanya."


"Jangan khawatir. Aku juga sudah bersiap tidur, kok."


"Tidak ada yang khawatir. Aku juga tidak peduli!" balas Halsey langsung ketus.


"Iya, Calon Ibu dari Anak-anakku. Sekarang memejamlah. Aku akan bersenandung untukmu hingga kau terlelap."


Halsey menurut. Detik berikutnya, mulai terdengar suara Johan bersenandung kecil dari seberang sana.


"Nina bobo, oh ... nina bobo~ kalau tidak bobo, dicium Johan~"


"Hahahahah!"


"Malah tertawa. Cepat tidur, Hale ...."


"Kenapa harus lagu itu? Aku bukan anak kecil!"


"Baiklah. Aku akan menyanyikanmu lagu romantis. Sekarang, ayo memejam."


shawn-mendes-this-is-what-it-takes



You keep on telling me I'm wasting time


Kau terus mengatakan bahwa aku membuang-buang waktu


But to call it wasting time oh that's a crime


Tapi untuk menyebutnya membuang-buang waktu, oh itu kejahatan


And you think it's crazy what I'm trying t'do


Dan kau pikir hal yang coba kulakukan itu adalah gila


Well baby, I'm a fool for you


Baik, Sayang, aku bodoh untukmu


And if this is what it takes


Dan jika ini yang dibutuhkan


Then let me be the one to bare the pain


Maka biarkan aku menjadi orang yang bisa menahan rasa sakitnya


Ooh if this is what it takes


Ooh jika ini yang dibutuhkan


I'll break down these walls that are in our way


Aku akan menghancurkan tembok-tembok yang menghalangi kita


Halsey meremas ujung selimutnya sembari berusaha memejam. Tangannya mengusap pipi pelan, tak sanggup untuk tidak menangis mendengar lantunan suara Johan. Bukan hanya dari liriknya, tapi dari bagaimana Pria itu bersenandung pelan. Sangat sarat akan sakit dan penderitaan.


Cause if you don't understand yet


Karena jika kau belum mengerti juga


Then I'll never let you forget


Maka aku tidak akan pernah membiarkanmu lupa


That you don't have to do this on your own


Bahwa kau tidak harus melakukan ini sendiri


I'll be your shoulder to lean on


Aku akan menjadi bahu untukmu bersandar


I'll be your right when you feel wrong


Aku akan menjadi pembenar saat kau merasa salah


So come on, take my hand, we're moving on


Jadi ayolah, ambil tanganku, kita teruskan


Di sisi Johan, Pria itu kini tersenyum simpul. Hale-nya sudah terlelap, bahkan ia bisa mendengar jelas dengkuran halus dari Gadis itu.


"Selamat tidur, Hale. Aku ... aku sangat mencintaimu ...."


❀❀❀