
SESEKALI TULIS KOMEN YANG PANJANG2, YA, BIAR SAYA SEMANGAT. Happy reading!
***
Setelah menunaikan salat isya dan membersihkan tubuh seperti biasa, kini Johan tampak meraih ponselnya di atas nakas kemudian membanting tubuh ke atas kasur begitu saja. Ia sangat penasaran dengan keadaan Halsey sekarang. Pasalnya, gadis itu tadi sempat mengaduh sakit kepala saat telah tiba di rumahnya.
Cekrek!
Me
Aku sudah menunaikan salat isya dan tengah bersiap tidur, Sayang. Tidak ikut ke kelab dengan Alan dan Rey lagi. Ini, fotoku. Tetap tampan, kan? Tentu saja, dan terima kasih. Selamat malam, ya. Semoga bermimpi tentang masa depan kita, dan juga ... calon anak kita yang satu lusin. Aku mencintaimu, selamanya, selalu, dan akan tetap seperti itu. πππππ
Dan ... jangan lupa mengobati jari kakimu juga. Aku ingin ke rumahmu sekarang, tapi nanti pasti aku tetap tak bisa menengokmu hingga di kamar. Jadi ... cukup istirahat yang banyak, ya? Jangan mengerjakan tugas dulu.
21.16 PM.
Baru saja hendak meletakkan ponselnya kembali, Johan membatalkan niat tatkala merasakan benda itu bergetar singkat. Halsey membalas pesannya?
Bidadari Jutekkuβ‘
Aku Baila. Hale sedang demam, sekarang.
21.17 PM
"Apa?!"
Sontak, Johan bangkit dari posisinya kemudian bergegas mengenakan pakaian. Demi apa pun, ia sangat menyesal telah mengiyakan permintaan Halsey. Apalagi jika kembali mengingat perihal jari kakinya yang terluka tadi. Mungkin memang salahnya karena tidak menolak, tapi bagaimana lagi. Kalau terlanjur cinta, meminta apa pun pasti rela diberikan.
Sembari Johan bergegas menuju rumah Halsey, di tempat Gadis itu, ia kini tengah berbaring menyamping dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya hingga dada. Ia terkena pilek, meski tidak sampai batuk-batuk.
"Hale? Aku sudah buatkan bubur. Ayo, bangun dulu."
Baila muncul dari arah pintu dengan sebuah nampan di tangannya. Halsey menurut. Menegakkan posisi tubuhnya hingga bertumpu di kepala ranjang, kemudian menyaksikan Baila terduduk di tepi kasur.
"Jadi kau hujan-hujanan bersama Johan?"
Halsey mengangguk sembari membuka mulutnya. "Aku yang memaksa," lanjutnya lagi.
"Dia baru saja mengirimkanmu pesan, bahkan melampirkan foto juga."
"Foto apa?"
"Foto dirinya tengah bersiap tidur. Katanya dia tidak datang ke kelab dengan Alan dan Rey lagi," jelas Baila.
Halsey tersenyum tipis sembari tetap mengunyah isi mulutnya. Ia benar-benar senang Johan menepati janjinya.
"Jangan mengerjakan tugas dulu dan obati lukamu juga."
Halsey menoleh. "Dia bilang begitu?"
Drrrttt .... Drrrttt.
Baru saja hendak menjawab, ponsel Halsey yang bergetar membuat Baila bergegas meraih benda pipih itu dulu. "Hale? Johan menelepon," ujarnya kemudian.
"Kau saja yang angkat. Katakan bahwa aku sudah tidur."
Baila mengangguk sembari mulai mendekatkan ponsel tersebut ke kupingnya. "Halo?"
"Buka pintu balkon kamar Hale dan jangan lupa membawa selimut."
"Apa?! Apa maksudmu?"
Halsey menatap Baila serius seolah meminta agar ia me-loudspeaker panggilannya.
"Aku ada di luar. Cepat, Baila."
"APA?!" Halsey berteriak tak percaya kemudian langsung membekap mulutnya panik.
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Baila bergegas meraih selimut dari dalam lemari kemudian membuka pintu balkon kamar Halsey. Setelah menengok ke bawah, bisa ia dapati sosok Johan tengah ikut mendongak, menatapnya dengan sorot panik.
"Cepat, Baila. Juntaikan selimutnya kemari!" teriak Johan dengan suara berbisik.
Baila kembali menurut. Mengikatkan selimut tadi di tepi balkon, menjuntaikannya ke bawah, kemudian menyaksikan Johan mulai meniti hingga tiba di atas. "Kau mau apa, Johan?" tanyanya kemudian.
"Menjenguk Hale," balas Johan singkat kemudian menerobos masuk ke kamar Halsey. "Aku tahu kau hanya pura-pura tidur."
Halsey memejam keras tatkala merasakan Johan duduk di tepi kasur. Tangannya meremas ujung selimut gugup saking takutnya jika Pria itu marah.
"Hale? Sini, Sayang. Aku akan menyuapimu."
Tidak ada sahutan.
"Hale? Aku tidak akan marah. Ayo, sini," ulang Johan lagi.
Setelah mendengar nada suara lembut itu, Halsey perlahan memberanikan diri untuk berbalik.
"Aku akan mengunci pintunya dulu."
"Hale? Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ujar Johan serius.
"Apa?! Tidak perlu, Johan! Ini hanya demam biasa," balas Halsey cepat.
"Demam juga penyakit, Sayang. Ayo, cepat. Kita ke rumah sakit sek-"
"Aku hanya perlu minum obat," potong Halsey lagi.
"Hale?"
"Ya ampun, Johan? Hale hanya demam biasa," celetuk Baila sembari ikut duduk ke atas kasur kemudian merebah di samping Halsey.
"Hm. Aku hanya demam," susul Halsey berusaha meyakinkan.
"Bagaimana dengan kakimu? Kau sudah mengobatinya, kan?" tanya Johan lagi.
Cepat, Halsey mencegah Johan yang baru saja berusaha membuka selimutnya. "Iya, sudah!"
"Serius?"
"Hm."
Johan terdiam memandangi Halsey beberapa saat. Setelah beberapa detik berlalu, ia pun menampakkan senyum kemudian mulai menyuapi Gadis itu.
Baila yang menyaksikannya hanya bisa menelan saliva berat, berusaha sabar akan ujian yang ada. "Johan ...?" panggilnya pelan.
"Hm?"
"Saat kau memperlakukan gadis seperti itu, apa kau tulus dan memang mencintainya?"
Johan menyuapi Halsey sekali kemudian berpaling menatap Baila. "Maksudmu?"
"Sam pernah menyuapiku seperti itu juga, dan dia ... dia terlihat sangat tulus mencintaiku. Sikapnya selama ini membuatku berpikir bahwa ia tulus. Tulus mencintaiku, bukan Hale ...."
Johan mengangguk. "Sam mungkin memang mencintaimu, hanya saja dia terlalu serakah dan tak bersyukur dengan hal yang sudah ia punya."
"Maksudmu?" Baila bertanya bingung.
"Sebenarnya dia sudah mencintaimu, hanya saja obsesinya pada Hale jauh lebih menggebu-gebu. Dia terlalu bertekad mendapatkan Hale sampai-sampai tidak mau peduli bahwa kaulah yang memang seharusnya ia cintai," jelas Johan kemudian. "Menurut pengalaman dan pengamatanku, semua pria yang sempat mencintai Hale memang tidak akan pernah merasa menyerah sebelum berhasil mendapatkannya," lanjutnya lagi.
Baila menegakkan posisinya menjadi duduk kemudian memandang Johan kecewa. "Jadi maksudmu aku tidak menarik jadi harus berusaha menjadi seperti Hale?"
Johan membantu Halsey minum kemudian berpindah menatap Baila lagi. "Aku tidak bilang begitu, Baila. Kau tahu? Menjadi diri sendiri bahkan jauh lebih menarik. Contohnya saja aku."
"Memangnya kau kenapa?" celetuk Halsey.
"Aku tahu bahwa semua gadis sangat tertarik dengan pria dingin yang cuek. Sementara aku? Aku adalah kebalikan dari itu, namun tetap saja banyak yang menempel bahkan mengejar-ngejarku untuk menjadi pacarnya."
"Bahkan meski aku tidak setampan ini, aku yakin bisa mendapatkan Hale. Tampang tidak selalunya jadi prioritas, tapi bersabar dan terus berusaha merupakan kunci utama. Tak hanya gadis, tapi manusia mana pun itu pasti akan bisa luluh dengan perlakuan lembut, tak peduli betapa pun kerasnya ia," lanjut Johan lagi. "Benar, kan, Sayang?"
Halsey mengangguk mantap sembari tersenyum tipis. Kini ia beralih menatap Baila, seolah memberi semangat untuk Gadis itu melupakan Sam. "Aku yakin kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari dia, Baila," ujarnya lembut.
"Hm, terima kasih. Aku menyayangi kalian," balas Baila berusaha tersenyum.
"Sudah selesai, Sayang. Sekarang kau minum obat, ya?"
Halsey mengangguk sembari menerima uluran pil obat dari Johan kemudian langsung meminumnya sekali.
Cup!
"Sekarang istirahat." Johan membantu Halsey merebah kemudian menarik selimut menutupi tubuh Halsey hingga dada.
"Hale? Aku akan tidur di sini denganmu," celetuk Baila sembari ikut menelusup masuk ke selimut Halsey.
"Johan?"
Johan tersenyum. "Iya, Sayang?"
"Sudah larut malam ...."
"Iya. Aku sudah akan pulang."
Halsey terkekeh. "Aku tidak mengusirmu, kok."
"Lalu apa?"
"Aku hanya bilang."
"Setelah menghalalkanmu, kita pasti tidur bersama. Kalau perlu berpelukan sampai pagi juga tidak masalah. Eum ... sambil membuat anak selus-"
"Sudah, sudah! Pulanglah, Johan. Bermesraannya dilanjut besok lagi, oke?" sela Baila bergegas bangkit kemudian mendorong tubuh Johan keluar.
"Selamat tidur, Sayang! Aku mencintaimu!"
Halsey tersenyum menyaksikan Johan diseret keluar oleh Baila. Detik berikutnya, ia perlahan memejam masih dengan senyumnya yang mekar. "Iya, Johan. Aku juga mencintaimu."
βββ