Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Kecupan Empuk



SILAKAN BACA PART SEBELUMNYA DULU.


***


Halsey tampak berjalan santai dengan sebuah buku tebal di tangannya. Ia berjalan sendirian, tak ada Johan yang akan berceloteh panjang lebar seperti biasa.


Pria itu sekarang diopname karena lukanya lumayan parah. Halsey sedikit kesal juga dengan sikap Johan yang berlebihan. Tak membiarkannya ke sekolah sendiri, tapi harus bersama Alan atau Reyhan, bahkan dengan supir suruhannya. Jadilah ia berdiri di depan gerbang sekarang, menunggu Alan yang mentok pulang bersamanya hari ini.


"Hale?!"


Terdengar seseorang meneriakkan namanya, bersamaan dengan munculnya juga sosok Sam. Pria itu menghampirinya dengan senyum cerah. "Hale? Ayo pulang bersama," ujar Pria itu kemudian.


Halsey hanya melirik sekilas kemudian berpindah ke arah lain lagi. Demi apa pun ia sangat benci dengan manusia di hadapannya itu. Sangat pandai meyakinkan, lagi tak punya belas kasihan.


Dan juga ... atas dasar apa ia datang dengan kepercayaan diri sebesar itu? Padahal mereka sudah jelas beda sekolah, dan untuk apa juga menyempatkan kemari?


"Hale? Aku bicara denganmu." Sam kembali bersuara, bahkan sudah terdengar meredam kesal.


"Aku sudah sering bilang untuk jangan memanggilku dengan sebutan itu, bukan? Kau itu orang asing, jadi semoga bisa lebih tahu diri!"


Tanpa Halsey sangka, Sam langsung menariknya kasar. Tentu saja ia memberontak, bahkan tangannya sudah sempat mendaratkan pukulan di lengan Pria itu. "Lepaskan aku, Sam! LEPASKAN!"


"Kita akan pulang bersama, Hale. Tidak ada penolakan!" balas Sam datar tanpa melonggarkan sedikit pun cekalannya di tangan Halsey.


Halsey mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa orang telah melirik ke arah mereka berdua, dan sungguh ia jadi jijik dengan dirinya sendiri. Jika ada pilihan, maka ia akan lebih memilih untuk tampak bersama dengan kambing saja daripada manusia sialan bernama Sam ini. "LEPASKAN, SAM! LEPAS!"


Sam berbalik kemudian berpindah menatap Halsey serius. "Kita akan ke sekolah dan pulang bersama mulai sekarang, mengerti?"


"Di mana otakmu?! LEPASKAN, BODOH! AKU JIJIK DENGANMU!"


"DIAM, HALE!"


"Lepas."


Sam mendesah kasar, masih berusaha lebih bersabar menghadapi sikap Halsey. "Ayo, Hale. Jangan sampai aku bersikap kasar, mengerti?"


"Apa? Bersikap kasar?!" Halsey terkekeh pelan dengan nada mengejek. "Memangnya siapa dirimu? Johan saja bahkan tak pernah memperlakukan kasar, lalu kau malah ingin begitu? Dengar, ya. Kita hanya orang asing. Aku tak pernah mengenalmu sama sekali, jadi lepas-"


"Johan?" Sama seperti Halsey, kini Sam juga tampak tertawa mengejek. "Berhenti mengharapkan sialan itu, Hale. Kau sudah lihat sendiri, kan? Johan berselingkuh di belakangmu! Dia bermain dengan wanita lain, Hale!"


"Sayangnya aku tidak peduli, jadi kau juga tak berhak untuk peduli. Urus dirimu sendiri saja, karena dengan sangat yakin, Johan jelas jauh lebih baik darimu," balas Halsey santai. Tangannya kini ia tarik dari cekalan Sam kemudian berpindah menatap Pria itu lagi. "Dan asal kau tahu, aku dan Johan sudah bersatu kembali," sambungnya lagi kemudian berlalu pergi.


Halsey lalu melirik pergelangan tangannya sekilas dan mendapati warna kemerahan di sana. Kini ia sadar, bahwa selain ayahnya, hanya Johan satu-satunya pria yang bisa memperlakukannya dengan baik. Mencintainya dengan tulus, penuh kesabaran.


Mulai sekarang, ia akan berusaha untuk tidak bersikap egois lagi. Sudah cukup keseriusan Johan ia uji, sebab ... ketakutan terbesarnya kini adalah kehilangan. Kehilangan saat sudah terlalu sayang.


"Hale? Aku mencarimu sejak tadi."


Halsey menoleh dan mendapati Alan. Raut wajah Pria itu tampak sangat khawatir. "Maaf. Aku ada urusan tadi," balasnya kemudian.


Alan mengangguk singkat. Detik berikutnya, mereka mulai berjalan beriringan hingga tiba di sisi mobil.


***


"Aku senang kau kemari, Hale, tapi mengapa tidak mengganti pakaianmu dulu?" tanya Johan sembari memerhatikan Halsey menyiapkannya bubur.


"Sudah, Johan. Jangan bahas itu lagi."


"Tapi kau bahkan belum makan, Sayang. Bagaimana aku tidak keberatan atas itu?"


Halsey mulai berbalik menghampiri ranjang Johan dengan sebuah nampan di tangannya. "Kau lebih membutuhkanku," balasnya singkat.


Setelah terduduk di kursi samping ranjang Johan, perlahan ia meraih mangkuk bermuatkan bubur tersebut lalu mengaduknya pelan. "Aku tahu hobimu adalah tebar pesona dan ingin terlihat keren, tapi mulai sekarang, jangan berpikir begitu lagi, oke?"


Alan dan Rey tentu saja langsung tertawa bersama setelah mendengar ucapan Halsey. Menurut mereka, itu menggelikan.


"Hale? Mereka menertawakanku ...," ujar Johan seolah mengadu.


"Anggap saja mereka tidak ada di sini. Ayo, buka mulutmu." Halsey menyuapkan bubur ke mulut Johan kemudian memandangi Pria itu mengunyah isi mulutnya. "Lukamu sangat parah, Johan," lanjutnya pelan.


"Aku sudah bilang, Sayang. Luka ini hanya akan sembuh jika kau mencium-"


Halsey langsung membungkam mulut Johan dengan memasukkan sendok ke mulut Pria itu tiba-tiba. Sudah sakit, masih sempat-sempatnya lagi minta dicium. Dasar.


"Kalau aku sampai tersedak dan langsung mati bagaimana?" protes Johan kesal.


"Mengapa membahas mati melulu, sih? Memangnya amalmu sudah banyak, ap-"


Dengan gerakan menarik tangannya dari Johan, Halsey mengalihkan pandangan ke arah lain. Mengapa juga Pria itu harus menanyakan hal itu sekarang? "Tidak. Ini hanya ... hanya ...."


"Hanya apa?"


Halsey menggeleng pelan sembari berusaha menampakkan senyum manisnya. Semoga saja Johan langsung meleleh dan melupakan pertanyaannya tadi.


"Malah senyum. Siapa yang sudah berani menarikmu sampai merah begini?" tanya Johan lagi, berusaha mengulum senyumnya karena tingkah Halsey.


"Astaga, Pacarku. Jangan cerewet lagi, oke? Ayo, buka mulutmu."


Johan menurut lalu mulai membuka mulutnya. "Aku akan mencari tahu sendiri. Kalau sampai dia seorang pria, maka siap-siap saja aku dikabarkan masuk penjara? Oke, Sayang?"


Ceklek!


Semuanya sontak menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok Atha di sana. Napas Gadis itu tampak terengah-engah, bahkan peluh bercucuran di keningnya.


"Atha? Ayo, masuk," ujar Halsey kemudian.


"Biasakan mengetuk pintu dulu," sindir Reyhan pedas. Ia bahkan telah melirik Atha tak suka kemudian kembali sibuk lagi dengan ponselnya.


"Maafkan aku, Kak. Aku hanya sangat panik setelah mendengar kabar bahwa Kak Johan dirawat di rumah sakit ...," balas Atha lirih.


"Tidak masalah, Sayang. Sini, masuklah." Johan berusaha menenangkan.


Detik berikutnya, Atha berjalan mendekat ke sisi ranjang Johan. "Bagaimana bisa kau terluka parah begini, Kak?" tanyanya kemudian.


"Kakak dikeroyok oleh Sam dan teman-temannya, Sayang," balas Johan. Bersamaan dengan itu, ia membatin tentang kejadian sebenarnya sembari tetap balas menatap Atha.


"A-APA?!"


"Johan dikeroyok bukan lagi hal yang asing, Atha. Johan? Ini." Halsey menarik dagu Johan hingga menghadapnya kemudian menyuapi Pria itu lagi.


"Atha? Sini duduk dengan Kakak!" pinta Alan berteriak.


Atha menoleh dengan senyum mekar. Tanpa menunda lagi, langsung saja Gadis ceria itu berjalan menghampiri Alan kemudian duduk di sisi kirinya.


"Alan? Sini, berikan kaca mataku," ujar Reyhan dingin. Ia bahkan mengambil posisi duduk lebih jauh dari Atha, entah apa penyebabnya.


Halsey dan Johan yang menyaksikan itu hanya bisa saling memandang kemudian terkekeh geli.


"Sangat jelas bahwa ia hanya berusaha menutupi perasaannya, kan?"


Halsey mengangguk sembari menyuapi Johan lagi.


"Setelah ini, kau pulang dulu saja, ya?"


"Kau mengusirku?" tanya Halsey kesal.


"Bukan, Sayang. Aku hanya tidak mau merepotkanmu. Dan ... tidak perlu menjengukku lagi. Aku akan memaksa dokter untuk membiarkanku keluar besok pagi," jelas Johan.


"Aku tidak suka jika kau mengatakan dirimu merepotkan! Pokoknya aku akan kemari lagi kapan pun aku mau. Kau tidak berhak mengatur." Halsey kembali menyuapkan suapan terkahir ke mulut Johan kemudian bangkit berdiri.


Setelah meletakkan mangkuk tadi ke atas nakas, ia kembali meraih segelas air dan beberapa pil obat kemudian membantu Johan minum.


"Sudah, Hale."


Halsey meletakkan gelas tadi ke atas nakas kemudian berpindah memandangi wajah Johan.


Baiklah.


Cup!


Cup!


Cup!


"Cepat sembuh," bisiknya pelan.


Johan hanya bisa membeku sembari memegangi beberapa luka di wajahnya, tepat di mana bibir Halsey mendarat tadi. "A-aaaaaaaaaa! Hale ...?! Pokoknya kau harus tanggung jawab! Aku baper, Hale! Aku bapeerrr!"


"Aku jauh lebih baper, Johan," batin Halsey malu-malu.


Detik berikutnya, ia meninggalkan ruang inap Johan kemudian pulang dengan diantar oleh Reyhan.


❀❀❀