
Johan kembali menatap Halsey dengan senyum lembut setelah berhasil mendaratkan kecupan singkat di kening Gadis itu. Detik berikutnya, mereka kembali melanjutkan langkah sembari Johan mulai membentangkan kain segi empat tadi.
Belum juga beberapa detik selesai, Halsey malah langsung mendudukkan dirinya di atas kain tadi dengan sangat ceria.
"Kau jadi sangat ceria, ya?" ujar Johan sembari ikut duduk. Perlahan, ia meraih gitar kemudian meletakkannya di pangkuan.
Halsey sendiri hanya mengangguk. Kini, ia bahkan telah sibuk mencomot isi snack-snack yang Johan beli tadi. "Ayo, cepat. Bernyanyilah," pintanya bersemangat.
"Eum ... apa kau tahu lagu yang berjudul Make You Feel My Love?"
Halsey mengangguk cepat. "Dipopulerkan oleh Adele, bukan?"
Johan tersenyum sebagai jawaban. Sembari jemarinya mulai memetik senar gitar, ia tetap memandang hangat pada netra madu itu. Menyalaminya dalam-dalam, seolah sangat kecanduan akan keindahannya.

When the rain is blowing in your face
Ketika hujan membasahi wajahmu
And the whole world is on your case
Dan seluruh dunia menyalahkanmu
I could offer you a warm embrace
Aku bisa memberimu dekapan hangat
To make you feel my love
Agar kau merasakan cintaku
When the evening shadows and the stars appear
Saat malam membayang dan gemintang bermunculan
And there is no one there to dry your tears
Dan tak ada yang mengusap air matamu
I could hold you for a million years
Aku bisa mendekapmu jutaan tahun
To make you feel my love
Agar kau merasakan cintaku
Halsey terpaku, menghentikan kunyahan mulutnya sesaat sembari balas memandang Johan sendu.
I know you haven't made your mind up yet
Aku tahu kau belum memutuskan
But I would never do you wrong
Namun aku takkan pernah mengecewakanmu
I've known it from the moment that we met
Aku tahu sejak pertama kita jumpa
No doubt in my mind where you belong
Tak ada keraguan di sisikulah tempatmu
I'd go hungry, I'd go black and blue
Aku rela menahan lapar, aku rela kesakitan
I'd go crawling down the avenue
Aku rela merayap di jalan
No, there's nothing that I wouldn't do
Semua rela kulakukan
To make you feel my love
Agar kau merasakan cintaku
Johan kembali menatap Halsey dalam-dalam, mencipta senyum paling hangat, tanpa sedetik pun pandangannya pernah lepas dari Gadis itu. "Aku bukan sekedar ingin bernyanyi untukmu, Hale. Itu ungkapan hati," ujarnya terdengar serius.
Halsey langsung mengangguk sembari mengulurkan segenggam snack di tangannya ke mulut Johan. "Terima kasih," balasnya tersenyum tulus.
Johan mengangguk sembari menyelipkan anak-anak rambut Halsey ke belakang kuping. Detik berikutnya, ia melempar pandangan ke atas langit dan mendapati awan hitam yang menghiasi. "Sepertinya akan turun hujan, Hale. Ayo, kita pulang sekarang."
Halsey mengerucutkan bibir kesal sembari menahan pergerakan Johan yang baru saja hendak berdiri. "Kau menyebalkan sekali, sih?"
"Kita bisa kemari kapan-kapan saja, Sayang. Sebentar lagi akan turun hujan. Ay-"
"Tapi aku masih ingin di sini, Johan ...," potong Halsey memohon.
"Tidak boleh, Hale. Kita bisa kehujanan, nanti," balas Johan berusaha membujuk.
Halsey menatapnya kesal beberapa saat kemudian langsung membalikkan badan.
Mengapa Gadis itu berubah manja begini, sih? "Hale? Ayo, Sayang ...."
"Tidak mau!"
"Coba lihat ke atas. Sebentar lagi akan turun huj-"
"Kalau begitu kita hujan-hujanan saja. Selesai-"
"APA?! HUJAN-HUJANAN?!" Johan menggeleng keras. "Tidak, Hale! Bagaimana jika nantinya kau jatuh sakit? Pokoknya-"
"Tapi-"
"Kau baru saja bilang akan melakukan apa pun untukku. Lalu, mana buktinya? Katanya rela menahan lapar, rela kesakitan, rela merayap di jalan, tapi baru kuminta hujan-hujanan bersama saja sud-"
"Hale? Ini bukan soal diriku, Sayang .... Aku hanya khawatir kau jatuh sakit jika hujan-hujanan. Ayo, pulang seka-"
"Aku mencintaimu, Johan. Jadi ... kabulkan permintaanku, ya? Kumohon ...."
Johan terdiam memandangi Halsey. Gadis itu menatapnya dengan sorot memohon. Tersenyum sok imut- eh, memang imut, kok, dan itu ... itu malah membuatnya berpikir keras jika harus menolak. Tak biasanya Gadis itu bersikap begini, bahkan mungkin adalah kali pertama. "Tapi bagaimana jika kau sakit, Sayang?"
"Aku, kan, bisa minum obat."
"Hale-"
"Ayolah, Johan ...."
Johan menarik napas panjang. "Tapi ... ada syaratnya."
"Apa?"
Johan mengangkat telunjuknya hingga menyentuh pipi, kemudian mengetukkannya di sana beberapa kali "Cium dulu," balasnya santai.
"Enak saja! Tidak, tidak akan!"
"Apa?!"
Halsey diam-diam bergerak. Beranjak dari posisi duduknya, kemudian langsung berlari menjauh dari posisi Johan.
Bersamaan dengan itu, hujan mulai berjatuhan. Membasahi bumi, menitikkan air pada hamparan danau.
Johan bangkit berdiri kemudian berpaling menatap Halsey yang sudah tampak tertawa lebar karena terlalu bahagia. Gadis itu ... dia sederhana. Tidak pernah menuntut banyak, dan malah merasa sangat bahagia hanya dengan hal-hal yang sederhana.
"HALE?!"
"Aaaaaarghhh!"
Halsey kembali berlari setelah menyadari Johan melangkah mendekat. Tawanya belum juga selesai, bahkan semakin lebar saja.
"Jangan berlari, Hale!"
"Diam, Johan! Aku mencintaimuuuuu!"
Johan tersenyum sembari berlari kecil menghampiri Halsey yang tengah berdiri di tepi danau. Setelah berhasil sampai, langsung saja ia merangkul Gadis itu erat. Menariknya dekat, kemudian memejam membiarkan wajahnya semakin basah.
"Johan?"
"Hm?"
Halsey mendongak menatap Johan. Tersenyum memandangi wajah damai Pria itu tengah memejam. "Kalau aku melompat ke danau ini, apa aku tak akan bisa kembali lagi?"
Sontak, Johan membuka pejamannya kemudian berpindah menatap Halsey dingin. "Apa yang kau katakan? Jangan mengulanginya lagi."
"Kurasa iya. Aku pasti tidak akan bisa kembali lagi," lanjut Halsey.
"Aku bilang jangan mengulanginya, Hale!"
"Jangan membentakku," rengut Halsey manja.
Cepat, Johan menarik tubuh Halsey hingga menghadapnya kemudian langsung menangkup kedua pipi Gadis itu. "Aku tidak akan membiarkanmu melompat, mengerti? Kalaupun kau berhasil melompat, maka aku akan ikut melompat."
"Hah? Kau bilang apa?"
"Kita akan melompat bersama, Sayang. Aku pasti menyusulmu lalu membawamu naik ke permukaan."
Halsey terkekeh pelan. "Sayangnya aku tidak ada niat untuk melompat," ujarnya tanpa dosa sembari mendorong tubuh Johan mundur dan kembali berlari menjauh.
Tapi ... belum beberapa langkah, Halsey terlihat kehilangan keseimbangan. Membuat Johan sontak terdiam, karena sadar akan perasaan gugup yang perlahan menguasai sekujur tubuhnya.
Brugh!
"Joh ... an?"
Sudah ia bilang bahwa semua ini tidaklah benar. Mereka seharusnya memang pulang saja. Tidak perlu hujan-hujanan dan tidak perlu berlari-larian.
Dengan khawatir yang luar biasa, Johan berlari menghampiri Halsey yang kini sudah tampak menangis dengan posisinya yang terduduk di tanah. Gadis itu terjatuh karena tersandung batu. Entahlah. Mungkin akan ada sedikit luka yang menggores di kakinya.
"Aku sudah sering bilang untuk jangan berlari, Sayang. Kau itu Gadis yang kaku! Kalaupun berlari, jangan pernah mencoba untuk secepat tadi!"
"Sakit, Johan .... hiks, hiks. Jangan memarahiku ...."
Johan memandangi wajah Halsey beberapa saat, kemudian mengusap pipi Gadis itu pelan. Meski sedang panik luar biasa, tetap, bibirnya masih berusaha ia lengkungan. "Jangan menangis, ya? Sini."
Detik berikutnya, Halsey sudah berada dalam bopongan Johan. Bisa ia rasakan jemari kakinya yang sakit, bahkan bercampur pedih.
Setelah Johan mendudukkannya di jok penumpang tengah, perlahan ia bergegas mundur, memberi ruang untuk Pria itu ikut duduk.
"Coba kulihat."
Johan menarik napas tatkala mendapati ibu jari kaki Halsey yang berdarah, bahkan sudah terlihat sedikit membengkak. Ia mendongak menatap Gadis itu dengan sorot dingin. Berusaha tidak peduli, meski tahu bahwa Halsey sudah terisak-isak.
Tidak, tidak bisa.
Ia tidak pernah bisa terlihat marah lebih lama.
"Lain kali jangan berlari lagi, ya, Sayang?" ujarnya lembut sembari menarik tangan Halsey kemudian menempelkannya di dada bagian kiri. "Kau bisa rasakan betapa aku berdebar-debar, kan? Aku panik, Hale. Kumohon jangan membuatku seperti ini lagi ...."
"I-iya. Maafkan aku ...."
Cup!
"Sekarang aku obati lukamu, ya? Setelah ini kita pulang, dan jangan lupa untuk langsung mandi. Tidak ada mengerjakan tugas dulu, dan minum teh hangat jika perlu, mengerti?"
Halsey mengangguk mengerti. Mungkin memang salahnya karena bersikap keras kepala.
❀❀❀