Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Tidak Penting



Mobil Johan sudah sejak tadi melaju meninggalkan kediaman keluarga Bamatara. Ia tak menduga bahwa Halsey masih bersedia berangkat ke sekolah dengannya hari ini. Padahal seingatnya, kemarin Gadis itu lebih memilih pulang dengan supir suruhan ayahnya saja.


"Jangan balas dendam," ujar Halsey memecah hening, dengan tatapan yang tetap ia lempar keluar jendela.


Johan menoleh. "Kau bicara denganku?" tanyanya terdengar serius.


Halsey mendengus. Sungguh, inilah yang paling tak ia suka dari Johan. Ia bahkan masih terlalu waras untuk berbicara sendiri, bukan?


"Menurutmu?" Halsey balik bertanya, tetap tanpa menoleh.


"Kau bicara denganku, Hale?" tanya Johan lagi, memastikan.


Sudah cukup. Halsey menoleh lalu menatap Pria itu sebal sekaligus jemu. "Apa ada orang lain selain kau di sini?"


"Itu salahmu karena berbicara sambil memandang jendela," bela Johan juga.


Halsey membuang napas berat. "Berhenti menjadi menyebalkan, Johan. Aku sedang tidak ingin berdebat!" kesalnya.


"Baik, Hale-ku."


"Ngomong-ngomong ... kau mencegahku balas dendam, ya?"


Johan mengangguk-angguk. "Jika aku tidak balas dendam, Fito pasti meremehkanku. Bagaimana jika ia belum puas lalu niat mencari masalah denganku lagi? Terlebih jika ia tahu perihal bagaimana aku padamu. Bisa-bisa sialan itu memanfaatkanmu untuk membuatku tak berdaya-"


"Kau sudah sering mengatakannya, bukan? Bilang saja kau sedikit senang karena bisa bersamaku sepanjang hari dengan beralasan seperti tadi." Halsey lalu memutar bola matanya malas.


Johan terkekeh. "Sebagiannya begitu. Tapi kau tahu aku memang mengkhawatirkanmu, Hale."


"Lebih dari aku mengkhawatirkan diriku sendiri," sambungnya lagi, seraya berpaling menatap Halsey serius.


"Lampu hijaunya sudah menyala."


Melihat Halsey seolah tak mengindahkan ucapannya, Johan berdecak kesal seraya kembali melajukan mobil. "Hale? Apa kau tidak percaya bahwa perasaanku benar-benar serius?"


"Ya."


"Mengapa? Apa yang kutunjukkan selama ini masih cukup kurang?" Johan terdengar putus asa.


"Tidak."


"Lalu apa, Hale?"


"Entah."


"Hale-"


"Sikapmu sama pada semua perempuan, bukan? Lagi pula ... aku memang tidak pernah menganggap semua perlakuanmu," potong Halsey malas.


"Apa kau tidak sadar betapa spesialnya kau kuperlakukan selama ini? Bagaimana lagi aku harus menunjukkannya, Hale?" tanya Johan mulai frustrasi.


"Sudahlah, Johan. Jangan membahas hal tak penting dulu."


Johan tersenyum masam. Ia tak menyesal telah jatuh cinta duluan, tapi ... perasaan tulus yang tak dianggap penting itu terlalu sadis. Sangat.


***


Halsey tampak memandangi Johan yang tengah menikmati roti dari kotak bekal yang ia bawakan. Pria itu menikmatinya sangat lahap seolah rasanya benar-benar enak, padahal ... itu adalah buatannya. "Bagaimana rasanya?" tanyanya kemudian.


Johan meliriknya sekilas kemudian tersenyum manis. "Enak, Hale. Tante Shiren benar-benar hebat," balasnya cerah.


"Buatan ibu jauh lebih enak, jadi sangat jelas bahwa kau adalah seorang pembohong."


Johan memandang Halsey bingung. "Maksudmu?"


"Itu buatanku," balas Halsey singkat seraya mengulurkan tissue pada Johan, dan diterima cepat oleh Pria itu.


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin buatanmu saja."


Halsey hanya mengangguk singkat. Ia kembali memikirkan Hanum sekarang. Andai saja bukan karena wanita itu, ia tak11kan mungkin mau bersama Johan apalagi mengiyakan permintaan Pria itu.


"Kau bebas memandangiku, Hale. Jika sewaktu-waktu kau jatuh cinta, aku pasti tanggung jawab. Salahku juga karena terlalu tampan."


Halsey menarik napas singkat. "Jangan balas dendam, ya, Johan."


Sebenarnya, Johan sedikit kesal dengan Halsey yang sejak tadi sangat gemar mengabaikan ucapannya. Tapi dengan yang ini ... tidak jadi. Itu membuatnya lebih merasa dikhawatirkan. "Ya, Sayang- Ya, Hale."


Halsey membuang napas  lalu kembali membuka buku di tangannya. "Ada baiknya kau berhenti mengejar gelar pria sejati, Johan. Itu merugikan dirimu sendiri."


Halsey mengangguk. "Kalau begitu selesaikan makanmu cepat."


"Tidak mau jika kau tak ikut makan denganku," rengek Johan manja, seraya meletakkan kotak bekal di tangannya ke kursi taman.


Halsey berdecak kesal. Benar-benar seperti bocah. "Aku sedang tidak ingin, jadi cepatlah. Jam istrahat seb-"


"Buka mulutmu, Hale."


Halsey melirik ke arah potongan roti yang diulurkan Johan ke mulutnya. "Itu bekas gigitanmu."


"Kau jijik dengan calon pacarmu sendiri? Ya, ampun. Nanti kita pasti melakukan lebih dari ini, Hale. Ayo cepat buka mulutmu."


Halsey menepis kasar tangan Johan dari wajahnya, kemudian langsung melempar tatapan datar pada Pria itu. "Berhenti berucap mesum!"


Johan terkekeh. "Kau pasti salah mengartikan. Maksduku lebih dari ini itu adalah rotinya, Hale. Kau membawa terlalu sedikit hari ini, sementara yang tersisa tinggal bekas gigitanku. Di mana hal mesumnya?"


Halsey memutar bola matanya malas. Kita? Melakukan? Roti dari mananya semua itu? Sudah jelas Pria ini hanya berusaha mengelak.


Karena geram, Halsey merebut potongan roti di tangan Johan, lalu memaksa masuk ke mulut Pria itu tanpa ampun. "Selesai. Cepat minum ini, Pria Sejati," ujarnya santai sembari langsung  menyodorkan sebotol air mineral pada Johan.


Johan baru saja hendak protes, tapi setelah mendengar dua penggalan kata terakhir yang diucapkan Halsey, ia malah tersenyum bangga karena merasa tersanjung. "Tentu, Bidadari Jutekku."


Halsey bangkit berdiri kemudian menyaksikan Johan meneguk habis air mineral di tangannya.


"Hale!"


Halsey berhenti melangkah dan memutuskan untuk berbalik. Ia mendapati Johan tengah memandangnya singkat lalu tubuhnya diarahkan untuk duduk kembali oleh Pria itu.


Posisi Johan sudah bersimpuh dengan pandangannya mengarah pada lutut Halsey. "Kau sudah mengobati lukamu, kan?" tanyanya sembari beralih mendongak menatap Gadis itu.


Halsey mengangguk singkat.


"Jangan berbohong, Hale."


"Aku bukan pembohong, Johan! Aku ingin ke kelas, terserah kau ikut at-"


"Jangan suka marah-marah!" potong Johan seraya mencekal pergelangan tangan Halsey. "Sayang," sambungnya dalam hati.


Tentu saja dalam hati. Jika tidak, itu sama saja dengan sebuah usaha membangkitkan sisi macan dari seorang Halsey.


"Lepaskan tanganmu."


Johan menurut lalu keduanya mulai berjalan beriringan. "Sebenarnya ... kau risih ketika disentuh atau memang hanya menjaga?" tanyanya penasaran.


Halsey menoleh. "Risih sekaligus menjaga, apalagi dengan Pria M-e-s-u-m," balasnya penuh penekanan.


"Mengapa harus menatapku begitu saat mengatakannya? Apa di matamu aku ini Pria mesum, Hale?! Whoahhh! Yang benar saja." Johan menyapu rambutnya ke belakang seraya menggeleng tak percaya.


"Baiklah. Apa aku pernah berbuat mesum padamu, Hale? Jangan bilang hanya karena kemarin aku membopong tubuhmu lalu kau malah menyimpulkan begitu," lanjutnya lagi.


"Di mataku, itu sudah sangat tidak senonoh, lalu apa masalahmu? Kau keberatan, begitu?" tanya Halsey beruntun dengan langkahnya yang ikut terhenti.  Ia kini berpaling menghadap Johan.


Johan menghentikan langkahnya lalu ikut mengahadapkan tubuh pada Halsey. Sejenak ia tampak memandangi wajah Gadis itu dengan mata memicing, namun kian saat, tatapannya perlahan berubah lembut dengan bibirnya yang terikut melengkung.


Johan meraih tangan Halsey dalam genggamannya dengan tatapan yang tak lepas dari Gadis itu. "Kau bisa telat ke kelas jika harus mendengar keberatanku, Hale. Ayo."


Mereka telah berjalan beriringan dengan tangan yang bergandengan. Dalam hati Johan bersorak bahagia, sebab Halsey bahkan tak menolak dan menarik tangan dari gengga-


"Aku tidak suka disentuh Pria Mesum."


Batin Johan mengumpat keras. Padahal ... Halsey bahkan baru saja membuatnya terbang, tapi sekarang ...? Mengikutkan kata mesum, lagi.


"Jangan menyebutku Pria Mesum, Sayang."


"Kau yang jangan menyebutku Sayang!"


"Itu karena kau yang lebih dulu menyebutku Pria Mesum, Hale." Johan masih memelankan suaranya, berusaha mengalah.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu menggandeng tanganku? Sudah jelas kau hanya ingin mod-"


"Hale?"


❀❀❀