Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Johan Baper



"Iya, Ayah. Dia masuk rumah sakit gara-gara dikeroyok lagi," balas Halsey sembari menggeleng beberapa kali.


Mahesa dan Shiren hanya bisa terkekeh, begitupun Baila. Mereka tengah menyantap makan malam bersama. Penuh cinta, seperti biasa.


"Bagaimana jika kita menjenguknya bersama-sama?" saran Baila bersemangat.


Mahesa dan Shiren menoleh bersamaan. "Kalian pergi berdua dulu saja, Sayang. Ayah harus datang ke kantor malam ini," balas Mahesa kemudian.


"Bagaimana dengan besok?" tanya Shiren.


"Seingatku, Johan sudah keluar, besok," sahut Halsey cepat.


"Kenapa cepat sekali, Hale? Bukankah lukanya parah?" tanya Baila heran.


"Johan tidak betah di rumah sakit."


Baila mengangguk-angguk mengerti. "Tidak ada yang betah di tempat itu," gumamnya pelan.


Setelah menyantap makan malam, kini Halsey dan Baila bersiap menjenguk Johan di rumah sakit lagi.


Baila melajukan mobilnya pelan, membelah jalan malam yang sejuk dan tenang.


Jika ada yang penasaran soal keadaan hatinya, jujur saja ia masih merasa cukup patah. Sam sudah lumayan lama mengisi hari-harinya, dan sungguh ia lebih memilih untuk jatuh cinta berkali-kali saja daripada harus berusaha melupakan. Ke depannya, mungkin ia akan berusaha berhati-hati dalam menitipkan hatinya pada pria mana pun. Rasanya sudah terlalu trauma saja untuk kembali merasakan sakit yang sama.


"Apa yang kau pikirkan?"


Suara Halsey berhasil menyadarkan Baila, hingga detik berikutnya, ia langsung menoleh pada Gadis itu dengan senyum tipis yang mekar. "Tidak ada," balasnya singkat.


Setelah beberapa lama, mobilnya tampak berbelok memasuki pelataran sebuah rumah sakit. Halsey dan Baila bergegas keluar dari jok masing-masing. Bertemu di bagian depan mobil, kemudian mulai melangkah beriringan menyusuri lorong rumah sakit.


Setibanya di depan pintu ruang inap Johan, Halsey bergegas mengetuk pintu beberapa kali.


Ceklek.


"Assalamualaikum," ujarnya mengucap salam.


"Hale? Aku sudah bilang untuk tidak perlu datang, Sayang," sambut Johan.


Halsey dan Baila tetap melangkah masuk tanpa mengindahkan ucapan Johan.


"Apa kau sudah makan? Bagaimana dengan obatmu?" tanya Halsey sembari berjalan mendekat ke sisi ranjang Johan.


"Ya ampun, Johan. Lukamu cukup parah, ya?" celetuk Baila.


"Terima kasih sudah menjenguk," balas Johan terdengar tulus.


"Hm. Cepat sembuh, ya," ujar Baila lagi sembari berjalan mendekat ke arah sofa di mana ada Alan dan Reyhan terduduk.


"Aku sudah sembuh, apalagi setelah Hale menciumku tadi."


"Apa kau tak dengar aku bertanya sejak tadi?" Halsey bertanya dengan nada kesal hingga Johan sontak menoleh dengan cengirannya yang tampak. "Iya, Sayang. Rey yang menyuapiku tadi," balasnya kemudian.


Halsey terdiam. Setidaknya Johan sedikit beruntung telah memiliki kedua Pria itu sebagai sahabatnya. Setia, dan selalu di sana tak hanya ketika perlu saja.


"Duduk di sini, Hale. Aku sangat rindu."


Halsey mengangguk kemudian mendaratkan bokongnya di kursi samping ranjang Johan, membiarkan Pria itu meraih kemudian menciumi jemarinya. "Kau tidak berbohong, kan?"


"Berbohong apa, Sayang?" Johan balik bertanya.


"Makan dan obatmu."


Johan mengangguk mantap. "Demi cintaku padamu, aku tidak berbohong."


"Setelah ini, jangan mencari masalah lagi, ya?"


"Kenapa? Apa aku merepotkan?"


"Apa aku bilang begitu?"


"Lalu apa?"


"Aku takut, Johan. Kumohon jangan mengulanginya lagi ...," balas Halsey sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


Johan tersenyum simpul dengan tangan yang terulur menarik dagu Halsey agar menatapnya. "Aku tidak akan ke mana-mana," bisiknya pelan.


Halsey mengangguk keras. Genangan di pelupuk matanya telah berhasil meluap banyak. "Maafkan aku atas semuanya ...."


"Jangan menangis, Sayang .... Aku tidak akan ke mana-mana," bisik Johan lagi sembari mengusap pipi Halsey pelan. "Aku akan selalu berusaha agar kita tetap bersama. Aku akan mencintaimu, untuk sekarang dan selamanya."


"SUDAH CUKUP BERMESRAANNYA, JOHAN, HALE! Kumohon ...! Aku iri melihat kalian berdua!" teriak Alan kesal. Sungguh, ia iri dengan kedua sahabatnya. Mereka sudah menemukan gadis masing-masing untuk dicintai, sementara dirinya?


Sudah banyak sekali gadis yang telah ia nikmati, namun tak satu pun dari mereka yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Ck! Mengganggu saja! Makanya cepat-cepatlah jatuh cinta! Berhenti membuang-buang waktumu hanya dengan menikmati wanita-wanita murahan itu," balas Johan tanpa dosa.


"Jadi kau belum pernah merasakan jatuh cinta? Astaga, yang benar saja!" celetuk Baila kemudian tertawa setelahnya.


"Sst! Doakan saja agar aku segera jatuh cinta, oke?" balas Alan sok tegar.


"Semoga segera jatuh cinta, Sayang. Dengan gadis jelek sesuai kutukanku hari itu, tentunya! Hahaha- aw! Sakit, Hale ...." Johan mengeluh sembari memegangi bekas cubitan Halsey di pinggangnya.


"Makanya jangan tertawa lagi. Kau itu sedang sakit!"


"Cubit lagi saja, Hale. Kalau perlu sampai kulitnya terkelupas!"


Halsey menoleh sekilas pada Alan kemudian berpindah pada Johan lagi. "Aku mencintainya, jadi tidak mungkin mau menyakitinya begitu."


Selepas penuturan Halsey barusan, semua orang dalam ruangan itu langsung bersorak keras tanpa kenal tempat. Johan sendiri hanya bisa tersenyum malu-malu. Ia baru tahu bagaimana rasanya dibuat baper begini. Ternyata ... memang dahsyat. Membuat jantung berdetak hebat.


"Selama ini, aku yang selalu membuat gadis-gadis baper, tapi sekarang .... Kau nakal, ya, Sayang? Hari ini saja sudah sebanyak dua kali kau melakukannya."


Halsey hanya mengangguk sombong, tak niat lagi menanggapi lebih. Tentu saja karena takut jika Johan malah berbalik menggombalinya, dan ia akan lebih baper sampai seluruh tubuhnya yang memerah, bukan pipinya lagi.


***


Drrrttt .... Drrtt.


Dengan mata yang masih memejam, Halsey mengulurkan tangan ke atas nakas kemudian meraih ponselnya yang sejak tadi terus bergetar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Suara Johan terdengar.


"Hm?"


"Selamat bangun, Calon Istriku."


"Kenapa? Ini masih tengah malam."


Halsey membuka pejamannya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. "Aku pikir kau tidak salat lagi."


"Aku sudah pernah berjanji akan berubah menjadi lebih baik, kan? Ayo, bangun."


"Memangnya kau sudah selesai?"


"Iya, sudah. Aku sedang olahraga pagi, sekarang."


"Baiklah."


"Jangan lupa berdoa semoga Allah menjadikan kita jodoh, ya?"


"Hm. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Aku mencintaimu."


"Aku tidak dengar."


Halsey meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dengan senyum yang mekar. Sudah dua hari yang lalu Johan memaksa keluar dari rumah sakit, jadi hari ini adalah Minggu.


Setelah berwudu dan menunaikan salat subuh, Halsey juga bergegas mandi lalu bersiap setelahnya. Tidak akan ke mana-mana, tapi seperti biasa, ia akan menyirami tanaman bunga di taman belakang.


Setelah tiba di lantai satu, ia mendapati Shiren tengah sibuk menyiapkan sarapan. "Selamat pagi, Bu," sapanya cerah.


Shiren sontak berbalik kemudian tersenyum hangat. "Selamat pagi, Sayang."


"Aku bantu membuat sarapan, ya?"


"Tentu saja."


Sementara Halsey sibuk membantu Shiren membuat sarapan, di tempat Johan, Pria itu kini tampak baru saja selesai berolahraga pagi seperti biasa, tentu saja bersama Alan dan Reyhan.


Setiap hari Minggu jika ada kesempatan, kedua Pria itu akan menginap di apartemen Johan lalu berolahraga bersama setiap paginya jika malam sebelum itu mereka tidak sempat mabuk-mabukan.


"Aku mandi duluan, ya!" teriak Johan keras sembari berlari terbirit-birit masuk ke kamar mandi.


Brak! Brak!


"Buka pintunya, Bodoh!" teriak Reyhan tak kalah kerasnya.


"Aku sedang mandi!"


"Buka pintunya, Johan! Jangan sok suci atau aku akan bakar semua celana kolormu ini!" ancam Alan ikut berteriak.


Johan yang baru saja selesai melepas pakaiannya langsung bergegas membuka pintu. Tentu saja ia jera. Alan dulu pernah mengancam begitu, dan sialnya ia tak main-main. "Kalian menunggu dulu saja, sih! Aku sedang buru-buru!" balasnya kesal.


"Kita semua memang buru-buru, Sayang. Gabbie pasti sudah mencari-cari Abangnya yang tampan ini," balas Alan santai sembari menerobos masuk ke kamar mandi.


Reyhan juga mengekori, hingga jadilah mereka mandi bertiga, seperti biasa. Tidak sering juga, tapi hanya saat buru-buru.


"Sambil tetap mandi ... aku ingin curhat sedikit," ujar Reyhan membuka suara.


Alan dan Johan yang sejak tadi hanya sibuk dengan acara mandi mereka menoleh bersamaan, dengan raut heran tentunya.


"Serius sekali," sahut Alan santai.


"Katakan saja, Sayang," susul Johan.


Reyhan terdiam beberapa saat kemudian menarik napas . Detik berikutnya, ia melangkah mendekati Alan kemudian mengguncang-guncang tubuh Pria itu frustrasi.


"S-sialan! Ada apa denganmu?!" tanya Alan panik.


"Pokoknya aku tidak mau!" rengek Reyhan manja masih dengan dirinya yang sibuk mengguncang-guncang tubuh Alan.


"Satu ...! Dua ...!"


Plak!


"Aku bisa muntah jika kau terus mengguncang-guncang tubuhku, Bodoh! Katakan saja mau curhat apa!" gerutu Alan kesal.


Reyhan merengut sedih sembari mengusap pipi kanannya pelan. "Aku serius tidak mau, Johan ... Alan ...."


Johan menggeleng pelan kemudian melanjutkan aktivitas mandinya lagi. Sungguh menunda waktu. Tak bisakah langsung bilang saja? Baru kali ini ia melihat Reyhan berubah lebay begitu. "Katakan saja, Rey!" ujarnya kesal.


"Aku ... aku sepertinya benar-benar jatuh cinta dengan gadis SMP itu ... huwaaaaaaaaa!"


"Aku tidak kaget," balas Johan santai.


"Kau sudah lama menyukainya, jadi kenapa baru sadar sekarang?" sahut Alan juga.


"Tapi kenapa harus dengannya, sih?! Kenapa, Johan?! Alan?! Kenapa?!"


"Karena takdir."


"Aku tidak mau dengannya, Johan. Dia terlalu belia! Belum lagi dengan kemampuannya yang bisa membaca pikiran. Kau tahu itu menyiksa sekali!"


Alan dan Johan sudah tertawa lepas. Untung saja gigi mereka tak ikutan lepas.


"Kenapa tertawa, Sialan?!" tanya Reyhan kesal.


"Kau pasti takut jika Atha membaca pikiran-pikiran kotormu, kan? Hahahaha ...!" Alan sudah tertawa terpingkal-pingkal di lantai kamar mandi.


"Itu bagus, Rey! Atha jadi langsung tahu kemauanmu tanpa kau harus meminta lagi, hahahahahh ...!" Johan menyusul.


"Baiklah. Itu tidak masalah. Yang penting


... aku sudah merasakan jatuh cinta," balas Reyhan kemudian.


"Jangan menyindirku, Brengsek!" Alan berteriak tak terima.


"Memang fakta, kok. Benar, kan, Johan?"


"Benar. Aku bahkan jadi curiga kalau kau ...." Johan melirik Alan. "Kalau kau gay- aarghhhh! Aku hanya bercanda ALAAAAN! Kumohon, jangaaan!"


Dengan geram, Alan melempar alat pel di tangannya ke lantai begitu saja. Untung saja kamar mandinya lumayan luas, jadi Johan bisa bebas berlari. Jika tidak, ia yakin sudah sejak tadi alat pel tersebut berhasil mendarat ke pinggang Johan. Benar-benar menyebalkan. "Kalau aku gay, aku tidak mungkin nafsu dengan perempuan, Bodoh!"


"Bisa saja kau nafsu dengan keduanya, bukan?" sahut Johan langsung.


Alan menggeram kesal sembari berlari mengejar Johan lagi. "Kalau begitu sini, Johan Sialan! Aku akan memperkos-"


"TIDAAAAAK! KUMOHON JANGAN MENYELESAIKAN UCAPANMU, ALAN! AKU JIJIK! JIJIIKKK!"


Reyhan hanya bisa tertawa menyaksikan Alan memukuli Johan. Entah mengapa mereka tak pernah ingat tempat jika sedang saling mengejek. Kalau sudah hobi, kamar mandi pun juga jadi.


❀❀❀