
Johan tampak menarik tangan Halsey menyusuri lorong-lorong kelas, dan sempat berbalik pada Gadis itu beberapa kali seolah berusaha untuk membujuk dan membuat mengerti.
"Tidak mau, Johan! Lepaskan aku!"
"Jangan keras kepala, Sayang. Kau itu belum terlalu pulih!"
"Aku sudah pulih!"
"Iya, tapi belum cukup pulih jika harus ikut melaksanakan upacara."
Halsey tetap berusaha melepas cekalan Johan di tangannya, meronta keras-keras meski tahu bahwa usahanya hanya akan berakhir sia-sia.
"Berhenti meronta atau aku tidak akan segan-segan menggendongmu sekarang juga!" ancam Johan terdengar serius.
"Tapi, Johan ...." Halsey semakin merengek. "Aku sudah pulih! Kumohon lepaskan aku ...," rengeknya lagi.
Bukannya mengindahkan, Johan malah semakin menarik Halsey agar mengekorinya.
"Johan?"
Demi apa pun, Halsey sangat kesal dengan Pria mesum itu. Terlalu berlebihan, sungguh! "Johan? Lepaskan aku ...."
Johan berbalik sekilas. "Diam, Sayang. Sekali aku bilang tidak, tetap tidak!"
"Kau jahat!"
"PRIA MESUM JAHAT!"
"LEPASKAN AKU!"
"LEPAS!"
"Lepaskan, Johan ... hiks ...."
Setelah berhasil tiba di ruangan UKS, langsung saja Johan menuntun Halsey untuk berbaring di atas ranjang kemudian mendaratkan bokongnya di tepi.
"Kenapa jadi cengeng, sih, Hale? Sudah. Jangan menangis lagi," bisiknya lembut sembari tangannya mengusap pipi Halsey pelan.
"Tidak ikut upacara bisa mengacaukan nilaiku, Johan ...," balas Halsey masih berusaha merengek.
"Ya, ampun. Aku saja hampir tak pernah ikut belajar di kelas malah tidak khawatir."
"Kau, kan, Pria-
"Ssst! Mau kucium, ya? Jangan bicara lagi."
Halsey terdiam dengan tatapan sebalnya ia lemparkan pada Johan. Pria itu kini membelai rambutnya pelan. Tersenyum hangat, sembari napasnya yang berhembus teratur.
"Kau bisa pingsan jika masih bersikeras mengikuti upacara dengan kondisimu yang seperti ini," bisik Johan tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kalau aku pingsan, gampang. Tinggal dibawa kemari saja lalu diciumkan aroma terapi," balas Halsey enteng.
"Jadi kau sudi disentuh orang lain, begitu?"
"Memangnya aku bilang begitu? Aku bukan Gadis murahan jika kau lup-"
"Ya, ampun, Gadis ini. Kau serius mau kucium, ya?"
"Tapi kau sangat menyebalkan!"
"Ini juga untuk kebaikanmu, Sayang. Setelah kau pulih, aku tidak akan melarangmu lagi," ujar Johan sembari tangannya yang kembali sibuk membelai rambut Halsey.
"Di sini sangat membosankan, Johan. Tidak ada sedikit pun hal menariknya."
"Jangan bilang kau ingin membaca buku, ya. Sekarang istirahat saja, oke?"
Johan menarik kursi lain hingga di sisi kanan ranjang Halsey. Mendaratkan bokongnya dengan segera, kemudian mulai membelai rambut Gadis itu lagi.
"Masa, sih, aku harus tidur di jam pagi begini?" protes Halsey.
"Aku memang tidak menyuruhmu tidur."
"Lalu apa?"
"Seperti ini saja."
Halsey melirik tangan Johan yang kini berpindah menoel-noel lesung pipinya.
"Ayo, senyum!"
Ish! Apa-apaan?! Pria mesum gila!
***
"Jadi kau dan Atha sudah resmi berpacaran? Ah, astaga! Cepat, Rey! Ceritakan semuanya padaku!" pinta Johan antusias.
Reyhan yang menyaksikan itu hanya tetap membisu. Menghisap pelan rokok di jemarinya santai, tanpa niat membalas ucapan Johan.
Johan merengut. "Kau bisu, ya? Cepat katakan!"
"Ck! Memangnya urusanmu sampai kau juga harus tahu?!"
Bugh!
"Katakan, REY! KATAKAN PADAKU DAN JOHAN BAGAIMANA KALIAN RESMI BERPAC!"
"DIAM, SIALAN!" Reyhan berteriak.
"Cepat, Rey .... Aku sedang tidak bercanda!" ujar Johan mulai kesal.
"Iya, setuju! Cepat ceritakan! Di mana? Kapan? Dan ada adegan apa saja?" timbrung Alan tak kalah bersemangatnya.
Plak!
"Brengsek!" maki Reyhan setelah berhasil mendaratkan tamparan di pipi Alan.
"DASAR REY SIAL-"
"Tidak perlu, Rey! Tidak perlu! Awas saja jika aku sampai tahu bahwa kau menyakiti Atha! Nyawamu taruhannya!"
Johan berlalu pergi dari hadapan kedua Pria tadi begitu saja. Hanya kesal pura-pura, tapi semoga Reyhan benar-benar merasa bersalah.
Setelah beberapa lama, langkahnya kini berakhir tepat di hadapan kelas Halsey. Gadis itu rupanya sudah sejak tadi menunggu. "Aku lama, ya?" tanyanya kemudian.
Halsey menggeleng pelan.
"Baiklah. Ayo."
Keduanya mulai berjalan beriringan dengan langkah santai, tanpa ada yang niat membuka pembicaraan bahkan setelah mereka berhasil sampai di taman.
"Apa ada masalah?" tanya Johan. Bokongnya mendarat sempurna di kursi taman, begitupun juga Halsey.
"Tidak ada."
"Tapi jangan murung begitu, Sayang."
Halsey hanya mengulurkan kotak bekal pada Johan kemudian mulai sibuk dengan buku di tangannya.
"Hale?"
"Tidak ada, Johan."
Johan mendesah pelan. Menarik dagu Halsey sembari menuntun Gadis itu untuk ikut duduk menghadapnya. "Serius?"
"Hm."
"Baiklah. Aku akan menyuapimu."
Perlahan, Johan mencomot roti dari kotak bekal tadi. Menggigitnya sepotong, kemudian ikut mengulurkannya lagi ke mulut Halsey. "Kalau ada masalah, jangan dipendam, ya?" bisiknya lembut sembari memandangi Halsey mengunyah isi mulutnya santai.
"Hm."
"Kita harus saling terbuka agar bisa tetap menjaga hubungan, Sayang. Kalau aku punya kesalahan, langsung katakan saja, jangan dipendam."
"Cemburu?"
Halsey mengangguk pelan sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Hale? Cemburu apa, Sayang?"
"Tidak, tidak. Lupakan saja. Itu terdengar sangat konyol," balas Halsey berusaha terkekeh.
Johan menarik dagu Halsey untuk menghadapnya kemudian menyelami netra madu Gadis itu dalam-dalam. "Katakan," pintanya lembut.
"Tidak. Lupakan sa-"
"Hale? Katakan sa-"
"Aku cemburu, Johan .... Maafkan aku jika sudah bersikap kekanak-kanakan ...." Halsey langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan malu. "Tadi aku melihatmu berpapasan dengan seorang gadis di tangga lantai dua. Dia berpura-pura hampir jatuh, makanya kau menolongnya. Aku yakin kau juga tahu itu, tapi ... perasaan kesalku malah membuncah tatkala melihatmu tersenyum hangat padanya kemudian menepuk bahunya juga sebelum berlalu pergi."
Johan sudah tertawa, sementara Halsey hanya bisa semakin menutup wajah karena malu-malu.
"Aaaa jangan tertawa, Johan! Itu tidak lucu!"
Johan mengangguk-angguk berusaha meredakan tawanya. "Iya, iya. Maafkan aku. Aku akan berusaha keras untuk tidak mengulanginya lagi," balasnya serius.
"Tidak, Johan. Itu sama sekali bukan masalah. Aku sudah mengenalmu dan tahu alasanmu mengapa kau bersikap begitu pada semua gadis."
Johan tersenyum simpul. "Maafkan aku, Sayang ...."
"Hm. Aku percaya padamu," balas Halsey ikut tersenyum. "Tapi ... lain kali tidak perlu menyentuh bahunya lagi, ya?" lanjutnya lagi sembari memalingkan wajah malu-malu
Cup!
Drrrttt .... Drrrttt.
Baru saja hendak kembali menyuapi Halsey, Johan langsung mengurungkan niat dan memilih untuk merogoh saku celananya lebih dulu. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Memandangi label kontak yang tertera di balik layar, kemudian bergegas mendekatkan benda pipih itu ke kupingnya.
"Halo? Assalamualaikum."
"...."
"Iya, Bibi. Aku baik. Bagaimana denganmu?"
"...."
"Benarkah? Ah, iya. Maafkan aku karena tak pernah berkunjung ke sana lagi dalam beberapa waktu terakhir. Aku sedang sibuk, tapi nanti kuusahakan."
"...."
"Iya, Bibi. Bahkan aku sangat senang mendengarnya."
"...."
"Baiklah. Waalaikumsalam."
"Bibi? Bibi siapa?" tanya Halsey membuka suara.
Johan memasukkan ponselnya ke saku celana lebih dulu kemudian mulai menyuapi Halsey lagi. "Bibi Sri."
"Siapamu? Bukannya kau tak punya sanak saudara di Indonesia?"
Johan mengangguk mengiyakan sembari tangannya terulur mengusap mentega di sudut bibir Halsey. "Dia sangat baik, Hale. Aku sudah mengenalnya sejak 5 tahun yang lalu."
"5 tahun yang lalu?"
"Hm. Tiap kali mommy kembali ke Turkey, aku akan kesepian dan berusaha mencari hiburan. Terlebih saat daddy semakin sering memukuliku. Aku juga sudah kenal dengan kelab di usiaku yang masih belia itu, tapi suatu hari ... aku pulang dalam keadaan mabuk dan pingsan di sebuah gang sepi."
Halsey tetap diam mendengarkan sembari langsung membuka mulutnya setiap Johan niat menyuapi.
"Setelah bangun, aku langsung mendapati banyak anak-anak kecil bahkan yang beberapa tahun lebih tua menyambutku bangun dari tidur. Mereka anak-anak panti, sementara bibi Sri, dialah yang mengurus mereka semua."
Johan menjeda sebentar.
"Aku jadi merasa punya keluarga setelah kenal dengan mereka, Hale. Bahkan, aku selalu menyempatkan untuk mampir ke sana jika ada waktu."
"Nama panti asuhannya apa?" tanya Halsey menjeda.
"Panti Asuhan Yatim Dhuafa."
Halsey mengerutkan kening. "Yatim Dhuafa? Kalau tidak salah, berita tentang panti itu pernah muncul di televisi, bukan? Katanya hampir digusur karena anak dari pemilik tanah tersebut memintanya kembali."
Johan mengangguk mengiyakan.
"Lalu mengapa masih bisa bertahan sampai sekarang?" tanya Halsey lagi.
"Eum ... waktu itu ... aku ... aku- sudahlah, Hale. Tidak perlu dibahas."
Halsey mengerutkan kening lagi. "Memangnya kenapa? Tidak. Katakan dulu."
"Aku merasa malu jika mengatakannya. Lagi pula ini rahasia besar."
"Katakan saja, Johan," paksa Halsey. "Johan? Ayo."
Johan berdehem sesaat kemudian mengangguk. "Baiklah."
"Jadi ..., setelah mendengar kabar itu, aku langsung saja marah dan datang mengamuk di rumah pemilik tanah tersebut. Meminta belas kasihan, tapi dia tetap kukuh akan keputusannya."
"Dan karena tidak ada jalan lain, aku akhirnya memilih untuk pulang ke rumah dan meminta uang tebusan pada daddy. Sesuai kesepakatan, aku mendapatkan uang tersebut secara tunai, tapi daddy tidak akan memberiku uang jajan sepeser pun untuk empat bulan ke depan."
"Jadi? Kau setuju?" tanya Halsey cepat.
Lagi-lagi, Johan mengangguk. "Untuk tetap memenuhi kebutuhan sehari-hariku, aku datang ke sebuah cafe dan menyumbangkan suaraku di sana. Saat itulah takdir juga mempertemukanku dengan Alan dan Rey, hingga kami mulai dekat dan menjalin persahabatan."
"Setelah genap empat bulan, daddy sudah kembali memberiku uang jajan seperti sebelumnya. Dari uang jajan tersebut, aku mulai menyisihkan beberapa setiap harinya. Hingga setelah setahun lebih, aku, Alan dan Rey pun mengumpulkan uang bersama kemudian membeli cafe tempatku bernyanyi hari itu."
"Omzet penghasilan dari cafe tersebut kami sumbangkan sepenuhnya ke panti, bahkan sampai sekarang."
Halsey terdiam dengan ekspresi kagum menghiasi wajahnya. "Jadi kau malu karena telah berbuat baik?"
"Tidak. Jangan menyebutnya perbuatan baik. Tidak pantas."
Halsey menggeleng cepat. "Itu perbuatan mulia, Johan. Aku bahkan mengira bahwa persahabatan kalian bertiga itu hanya dihiasi oleh kelab dan wanita bayaran."
Johan mencebikkan bibir kesal. "Jujur sekali. Ish!"
Halsey terkekeh tanpa dosa sembari ikut mencomot sepotong roti dan menyuapkan seluruhnya langsung ke mulut Johan. "Aku mencintaimu, Pacarku," ujarnya tulus.
"Aku lebih."
"Sebesar apa?"
"Hm? Tidak bisa diibaratkan lagi. Bumi bahkan terlalu kecil jika harus dibandingkan dengan cintaku."
"Wuek!"
Ekspresi Johan berubah takjub. "Benarkah, Hale? Sudah berapa bulan, Sayang? Ya, ampun! Kita bahkan masih SMA tapi aku sudah hampir menjadi calon ay-"
Plak!
"Kau kebiasaan, ya, Sayang? Memangnya mau kucium?"
"Enak saja!" balas Halsey cepat.
"Aku, kan, sudah pernah bilang bahwa kau hanya bebas menamparku setelah kita menikah. Jika kau sering menamparku sekarang, maka dengan terpaksa aku juga akan mulai mencium-"
Plak!
"PRIA MESUM GILA!"
Johan terkekeh menyaksikan Halsey berlari menjauh. Gadis itu berubah sangat ceria, dan demi apa pun, ia benar-benar bersyukur akan hal itu.
❀❀❀