
"Bertengkar? Memangnya kenapa, Hale?"
"Aku lupa, Ayah. Lagi pula itu sudah terlalu la-"
"Kau berbohong, Hale. Malik dulu sangat ingin akrab denganmu juga, tapi kau selalu menjauh bahkan memarahinya jika berani memanggilmu dengan sebutan 'Hale' seraya bilang 'kau hanya orang asing, jadi jangan memanggilku dengan sebutan itu'," jelas Baila kemudian berakhir dengan tawa ketiganya yang pecah.
Halsey mendengus kemudian melirik ketiga manusia itu secara bergantian.
"Lalu kalian tahu apa yang dia katakan setelah Malik pergi? Dia bilang 'aku akan merindukannya sebagai teman bertengkarku'," sambung Baila lagi.
"Terserahmu, ya, Baila. Aku akan menyirami bunga di taman belakang." Halsey bangkit berdiri kemudian berlalu pergi.
Langkahnya terarah pada sebuah pintu yang kemudian dengan perlahan menampakkannya keindahan. Sebuah kolam sungai kecil dengan berbagai jenis bunga tertata rapi mengelilingi, tak lupa beberapa pohon-pohon hias yang ikut mengasrikan.
Halsey meraih selang air kemudian berjalan menginjakkan kakinya di rumput hijau. Perlahan, ia mulai memyemprotkan air ke arah bunga-bunga dan tanaman-tanaman lain di sekitarnya.
"Hale?! Coba lihat siapa yang datang!"
Halsey mendengar suara Baila yang masih terdengar berjarak beberapa meter dari pintu pembatas taman. Spontan, Gadis itu membalikkan tubuhnya ke arah suara tanpa sadar bahwa selang air yang masih di gelung tangannya terarah pada sosok Pria yang kini telah basah karena tersemprot air.
"Hale? Apa yang kau-ya ampun, Malik?!"
Baila yang mendapati Malik telah basah hanya bisa bertampang kaget. Sementara Halsey yang baru saja menyingkirkan selang di tangannya malah hanya sibuk memandangi Pria di hadapannya itu tak percaya sekaligus panik.
"Hale?! Kau itu kenapa, sih?!" Teriakan Baila menyadarkan Halsey saat itu juga hingga dengan segera ia menghampiri Malik.
"Tidak apa, Baila. Hale mungkin ter-"
"Maafkan aku. Aku benar-benar tak sengaja," potong Halsey cepat.
Baila dan Malik berbagi pandangan satu sama lain.
"Iya, aku maafkan, kok. Tapi ... apa aku masih orang asing yang tidak boleh memanggilmu dengan sebutan 'Hale'?"
Halsey hanya memandang Malik kemudian mengangguk kecil. Membuat Malik berjalan mendekat dengan kedua tangan merentang hendak memeluk, hingga Baila yang menyaksikan itu bergegas cepat kemudian mencekal lengan Malik.
"Kau bisa dihadiahi pukulan mautnya, Malik. Lebih baik ganti pakaianmu dulu. Aku dan Hale menunggumu di sini," ujar Baila dan dibalas anggukan oleh Malik.
Setelah menyaksikan Malik hilang dari pandangannya, Baila berbalik dan mendapati Halsey telah kembali sibuk menyirami tanaman bunga.
Halsey menghentikan aktivitasnya sebentar. "Maksudmu?"
Baila menarik napas panjang. "Kau tahu Malik itu teman masa kecil kita, 'kan ?"
"Lalu?"
"Setidaknya terima ia sebagai tamu saja jika memang tidak bisa sebagai teman. Jangan bersikap sedingin tadi jika ia kembali."
"Apa pun alasanmu sangat menutup diri, sebaiknya jangan berlaku sama pada semua orang," sambung Baila lagi.
Halsey memandangnya sebentar lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Aku tidak tahu apa alasanmu memintaku demikian," balasnya datar.
"Kuharap kau penuhi saja."
Beberapa saat setelah perbincangan mereka, Malik muncul dengan kaos putih tipis membalut tubuh kekarnya. Tak jauh beda dengan Johan, Pria itu juga sama cerianya.
"Di mana kau mencuri pakaian?" tanya Baila terkekeh.
"Ibumu yang memberinya. Entahlah ini milik siapa," balas Malik kemudian berpindah melirik Halsey. "Aku akan membantumu, Hale," ujarnya sembari meraih selang air lain dan mulai ikut menyirami tanaman bunga.
Halsey yang tadinya tak mengindahkan Malik langsung menoleh. Ia berniat untuk menyuruh Pria itu pindah saja, namun setelah mengingat ucapan Baila tadi, niatnya pun berakhir tertahan.
"Kau tahu, Hale? Aku baru saja tiba di Indonesia semalam. Paginya, aku mendengar ayahku menelepon seseorang yang ternyata adalah ayahmu. Setelahnya aku langsung saja kemari karena merindukan kalian," jelas Malik tanpa diminta.
Seperti biasa Halsey sangat jarang menanggapi, terlebih pada hal yang memang tak niat diketahuinya.
"Hale? Kau dengar aku tidak, sih?" Malik bertanya dengan nada sebal, hingga Halsey yang mendengarnya terpaksa menoleh kemudian mengangguk dan tersenyum tipis.
Selama ini, Baila tak pernah berkomentar perihal sikap dinginnya terhadap orang lain. Benar, tadi adalah yang pertama. Dan setelah menimang-nimang, ia kira tak ada salahnya. Lagi pula mereka teman kecil, bukan? Sangat buruk jika harus bersikap seolah dengan orang asing.
"Apa kau masih menganggapku orang asing, Hale? Oh, astaga. Aku tidak pernah menjadi secerewet ini selain denganmu. Para penggemarku yang selalunya memuji ketampanan dan ke-cool-anku pasti akan terkaget-kaget dengan Malik yang ini."
Halsey mengulum senyum."Sespesies dengan Johan rupanya," batinnya.
❀❀❀