
Meja makan itu tampak diramaikan oleh manusia-manusia yang saling menyantap sarapan pagi ini.
Baila yang baru saja selesai berpakaian langsung mendudukkan dirinya di sisi kiri Halsey. Sam sudah sejak tadi menunggu Gadis itu untuk berangkat ke sekolah bersama, sebabnya kini ia sudah selesai dengan sarapannya.
"Assalamualaikum."
Perbincangan kecil yang tadinya terjadi seketika tertunda. Semuanya menoleh ke arah suara dan mendapati Johan yang sudah bersama wajah cerianya seperti biasa.
"Waalaikumsalam. Ayo, sarapan bersama, Nak," ajak Mahesa.
Johan mengangguk. Berjalan mendekat, kemudian mendudukkan dirinya di sisi kiri Sam. Ia menoleh ke arah Pria di sampingnya itu dengan mata yang sedikit memicing. "Apa hanya aku yang merasa bahwa kita pernah berjumpa sebelumnya?" tanyanya serius.
Sam sempat terdiam namun tersenyum tipis setelahnya. "Kurasa hanya kau yang melihatku," balasnya singkat.
"Aku serius kita pernah berjumpa, tapi aku tidak ingat di mana. Entahlah mungkin kau benar." Johan segera meraih sarapan yang diulurkan Shiren untuknya.
Selanjutnya, suasana hening pun membuat peraduan garpu, sendok, dan piring terdengar memenuhi ruangan.
"Kurasa kita harus segera berangkat," ujar Halsey seraya bangkit dari kursinya.
Johan mengangguk lalu beranjak kemudian ikut menyalami Mahesa dan Shiren bergantian. Setelahnya, mereka berjalan menuju pintu utama rumah, lalu menghampiri tempat di mana mobil Johan terparkir.
Setelah masing-masing terduduk di jok, Johan perlahan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa kau sudah meminum obatmu?" tanya Halsey tetap fokus pada pemandangan di luar jendela.
Johan menoleh. "Aku tidak membutuhkannya lagi," balasnya kemudian kembali fokus pada kemudi.
Halsey menoleh. "Bagaimana jika kau menderita luka dalam? Jangan suka menyepelakan, Johan." Suaranya terkesan dingin sekaligus sebal.
"Aku senang kau perhatian, Hale, tapi aku sungguh tidak suka minum obat."
Halsey tak lagi menanggapi. Gadis itu tampak kembali fokus melempar pandangannya keluar jendela.
Setelahnya, tak ada lagi percakapan yang terjadi, bahkan setelah mobil Johan sudah benar-benar berhenti tepat di parkiran sekolah.
Keduanya saling keluar dari mobil kemudian beriringan menyusuri koridor sekolah dalam hening.
Sikap Johan yang berubah tak secerewet biasanya membuat Halsey sedikit merasa tenang. Setidaknya, ia tidak perlu mengerahkan tenaga untuk lebih bersabar lagi.
"Apa kau tidak keberatan aku mengantarmu hingga ke kelas?" tanya Johan.
"Terserahmu."
Johan hanya mengangguk seraya berpindah memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Setelah beberapa lama, langkah mereka akhirnya terhenti tepat di hadapan kelas Halsey.
Baru saja niat melangkah masuk, Halsey memutuskan untuk berbalik sebentar tatkala merasa tangannya dicekal.
"Aku ingin bertanya," ujar Johan kemudian.
Halsey melirik tangannya sekali, seolah berujar agar ia melepaskannya. Meski mengerti, Johan tetap betah begitu tanpa niat melepaskan.
"Lepaskan cekalan-"
"Siapa pria yang menggandeng tanganmu di mall kemarin?" potong Johan dengan nada dingin.
Halsey sempat terdiam, namun detik setelahnya, ia ikut menatap Johan datar seraya menghempaskan tangan Pria itu kasar. "Bukan urusanmu!"
"Jawab pertanyaanku, Hale."
"Setidaknya jawab pertanyaanku saja agar aku tidak tetap tinggal dengan kau yang bahkan sudah menyukai pria lain," sambung Johan lagi.
"Aku tidak menyukai pria mana pun, jadi lepaskan tanganku!"
Johan hanya berdiri terpaku memandangi Halsey yang sudah berlalu pergi dari hadapannya. Dengan wajah yang sedikit mengeras menahan amarah, ia ikut berbalik, membawa langkahnya menjauh dengan sebelah tangannya yang sibuk melepas kancing baju.
Kini, langkahnya telah berpijak sempurna di lantai rooftop. Ia mendudukkan bokongnya di tepi lantai dengan kaki menjuntai seraya menyaksikan pelajar berlalu lalang di bawah sana.
Tangannya bergerak merogoh saku celana kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari sana. Diraihnya sebatang, membakarnya dengan geretan, lalu dengan tenangnya gulungan tembakau itu ia hisap lalu hembuskan pelan.
"Apa ada masalah?"
Pandangan Johan yang tadinya terarah lurus seketika terputus. Pria itu menunduk dengan jarinya sibuk menjentikkan rokok yang terselip di sana, kemudian napasnya ia buang berat.
Reyhan dan Alan yang sudah ikut duduk di sisi kanan Johan memandangi Pria itu dari samping.
"Ck! Lebay sekali," ejek Alan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Johan masih betah membungkam.
"Apa ini perihal Halsey?" tanya Reyhan lagi.
Johan mengangguk pelan seraya kembali menghisap rokoknya.
"Kau sudah menanyakannya langsung, tidak?"
Johan mengangguk lagi. "Jawabannya meragukan, Rey," balasnya kemudian.
"Maksudmu bagaimana?"
"Jika benar tidak ada apa-apa, mengapa ia harus menjawab dengan suara meninggi seolah pertanyaanku membuatnya risih?"
Alan berdecak. "Kan sudah kukatakan dulu, Johan. Kau harus selalu siap patah hati jika berani mencintai sosok gadis sespesies Hale."
"Mungkin perasaanya sedang tidak baik, atau mungkin caramu menanyakannya yang kurang tepat," tambah Reyhan juga.
Johan melirik Reyhan kemudian berpikir sebentar perihal bagaimana ia bersikap pada Halsey saat menanyakan hal itu tadi. "Kau ... kurasa kau benar, Rey. Aku tak tahu mengapa sikapku sedikit kasar padanya tadi, hanya saja ... aku merasa ... entahlah. Aku akan menanyakan hal itu padanya lagi nanti."
Sesaat, suasana hening. Ketiganya saling sibuk menghisap rokok masing-masing.
"Ngomong-ngomong ... apa kau sudah cukup pulih?" tanya Reyhan kemudian.
"Kurasa begitu," balas Johan tanpa menoleh.
"Jadi ... kapan kita akan membalas Fito sialan itu? Aku sudah tidak sabar melayangkan bogemku ke hidungnya hingga patah," ujar Reyhan dengan gerakan melayang-layangkan kepalan tangannya di udara.
"Tunggu mommy-ku kembali ke Turkey dulu." Johan melempar puntung rokoknya ke sembarang arah.
"Lalu kita akan membolos lagi hari ini?" Alan bertanya.
Reyhan dan Johan menoleh bersamaan. "Kau pikir aku bersedia mendengarkan Pak Trisno menyebutkan rumus-rumus Kimia-nya hingga kupingku panas, begitu?
❀❀❀