Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Obsesi



"K-kau?"


"Hm?"


Halsey langsung memberontak keras tatkala ia menyaksikan Sam menarik kursi lain dan duduk tepat di hadapannya. "Lepaskan aku, Sam! Apa yang kau lakukan?! Lep-"


"Ck! Jangan bergerak banyak, Hale. Kau bisa terluka," potong Sam cepat. "Sekarang aku akan menyuapimu, ya. In-"


PRANG!


"LEPASKAN AKU!"


Sam memejamkan matanya beberapa saat. Menarik napasnya sedikit pelan, sembari amarahnya yang sangat berusaha ia kendalikan.


Selanjutnya, ia bangkit berdiri kemudian mulai memunguti pecahan kaca dari piring yang dilempar Halsey tadi. Wajahnya tidak berekspresi, bahkan ia seolah tuli oleh segala teriakan dan umpatan-umpatan yang sudah lolos dari mulut Gadis itu.


"KAU GILA, SAM! GILA!"


"LEPASKAN AKU, BODOH! LEPASKAN!"


"ARGH! Berisik sekali, sih?! Kalau bukan karena Sam mencintaimu, aku serius sudah memperkosa mulut-"


"Jaga omonganmu, David!" Sam terdengar berteriak.


Halsey kembali melirik ke arah pintu ruangan, tapi tidak terdengar sahutan lagi.


"Aku akan ambilkan makanan lagi, ya. Jangan bergerak banyak agar tangan dan kakimu tidak terlu-"


"S-Sam ...?"


Langkah Sam terhenti di pintu ruangan. Setelah berbalik, ia lalu berpindah menatap Halsey dengan sorot bertanya.


"Kumohon lepaskan aku ... hiks, hiks ...," pinta Halsey lirih.


"Sam ...?"


"Kumohon, Sam ...!"


Tapi tetap tak ada tanggapan yang diberikan oleh Sam. Pria itu bahkan hanya berlalu pergi, seolah permohonan-permohonan Halsey barusan hanyalah angin lalu.


"SAM?! LEPASKAN AKU ...!"


"SAM?!"


"MENGAPA KAU MELAKUKAN INI?! HUH?!"


"SAM, SIALAN?! LEPASKAN AKU, BRENGSEK! LEPAKSAN AKU!"


"KAU TIDAK SEHARUSNYA MELAKU-"


"KAU BISA DIAM, TIDAK, SIH?! HUH?!"


Dengan napasnya yang masih memburu, Halsey menatap tajam sosok Pria yang kini sudah berdiri di pintu dan memandanginya dengan sorot kesal. "APA?! HAH?! KAU MAU APA JIKA AKU MASIH BERTERIAK?!"


"Wah ...! Aku tidak percaya bahwa kau jatuh cinta dengan Gadis Sia-"


"AKU BILANG JAGA OMONGANMU, DAVID! PERGI! BERJAGA DI LUAR DENGAN YANG LAIN SA-"


BUGH!


"Kau sialan, Sam!"


Sam mengusap sudut bibirnya pelan sembari kembali melangkah mendekat pada Halsey dan duduk tepat di hadapan Gadis itu. "Aku akan menyua-"


"Lepaskan aku saja! Aku tidak butuh makanan itu!" potong Halsey berteriak.


"Jangan bergerak banyak, Say-"


"AKU JIJIK, BODOH! AKU JIJIK! LEPASKAN AKU SEKAR-"


"DIAM, HALE!"


"KAU YANG-"


Plak!


Halsey menunduk dengan isakannya yang langsung mengalun keras. Tamparan Sam barusan benar-benar membuat sisi wajahnya terasa panas, bahkan bercampur pedih. Dan ... dan demi apa pun ..., rasa sakit itu membuatnya langsung teringat pada Johan.


Apa ... apa rasa sakit yang dirasakan pria itu setiap kali ia menamparnya juga sebesar itu ...?


Tapi mengapa Johan tidak pernah marah?


Dan mengapa ... mengapa pria itu juga tidak ada di sana dan melindunginya seperti biasa ...?


"Sekarang makan dan buka mulutmu! Cepat!"


Halsey menggeleng keras. "Hiks, hiks. Tidak mau, S-Sam ...."


"Buka mulutmu!"


Sembari terisak keras, Halsey membiarkan sendok yang diulurkan oleh Sam masuk membawa makanan ke mulutnya.


"Kau harus makan yang banyak, menger-"


"Jangan menyentuhku!" teriak Halsey cepat.


Sam tersenyum simpul sembari terus mengusap rambut Halsey pelan.


"Kubilang jangan menyentuhku, Sam! Jangan menyentuhku!" teriak Halsey lagi.


Akhirnya ... Sam pun mengangguk.  "Baiklah. Tapi kau harus makan yang bany-"


"Aku hanya ingin pulang ... hiks. Kumohon lepaskan aku, Sam ...."


Sesaat, Sam hanya menatap datar.


"Sam ...?"


Dan setelah menarik napas panjang, "Iya. Aku akan melepaskanmu nanti, tapi makan dulu. Ini."


"Jangan membodohiku!" teriak Halsey cepat.


"Hm. Aku serius."


Halsey menatap Sam beberapa saat sebelum akhirnya memilih menurut.


Sam tersenyum menyaksikan itu. Ia bahagia, sangat.


Mungkin ... ini memang jalan satu-satunya agar Halsey mau menurut dan bisa lebih terbuka padanya. Dan soal tamparan tadi ... ia benar-benar menyesal telah melakukannya.


"Aku ingin minum."


Sam mengangguk kemudian membantu Halsey minum. Meraih sehelai tisu, kemudian mengelap sudut bibir Gadis itu lembut.


"Aku sudah kenyang, jadi sekarang lepaskan aku."


Tanpa memberi sahutan apa-apa, Sam berlalu pergi begitu saja dengan air wajahnya yang berubah mendingin. Belum pernah ia sampai bersikap selembut itu pada Gadis mana pun, tapi ... mengapa Halsey tak bisa menghargainya sama sekali? Kesabaran juga ada batasnya, bukan?


"Ada apa dengan wajahmu?"


Sam tak membalas dan lebih memilih mendudukan dirinya di sofa samping Fito. Keempat temannya yang lain juga ikut terkekeh, tak peduli sama sekali dengan raut kesal di wajah Sam.


"Sampai kapan kau akan menculik gadis itu?" tanya Gema lagi.


"Entah. Mungkin sampai ia menjadi jinak dan tidak menolakku lagi," balas Sam santai sembari rokok David yang langsung ia rebut dan hisap begitu saja.


"Jadi kita akan berjaga sampai pagi, begitu?" celetuk David tak percaya.


"Tentu saja."


"Jangan tersinggung, tapi ... aku hanya ingin bilang bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Bahkan meski kau mengurung Halsey begitu, menurutku sangat sedikit kemungkinan ia bisa berbalik mencintaimu." Noah berujar dengan tenangnya.


Sam hanya mengangguk mengerti.


Ingin membantah, tapi perkataan Noah terlalu benar. Ck! Persetan saja, deh! Terpenting ia ada usaha untuk membuat Halsey berbalik mencintainya, kan?


❀❀❀