
Malam ini, Halsey tampak duduk di kasur dengan kaki menyilang dan sebuah buku di pangkuan. Baila bersamanya, hanya saja Gadis itu dalam posisi merebah sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Ck! Sudah kubilang jangan mengambil gambarku sembunyi-sembunyi, Baila!"
Entah telah keberapa kian kalinya Halsey melontarkan itu. Bukan bagaimana, hanya saja ia merasa terganggu dan kurang fokus pada bacaannya jika Baila terus begitu.
"Kau percaya diri sekali, sih? Aku hanya mengambil gambar wajahku sendiri, kok," elak Baila.
"Jangan berbohong."
"Aku tidak berbohong, Hale."
Halsey mengangkat wajahnya kemudian menatap Baila datar. "Kalo begitu berikan ponselmu padaku," ujarnya sembari merangkak mendekat pada Baila dan merebut ponsel Gadis itu dari pemiliknya.
"Hale?! Kembalikan ponselku!"
Halsey berlari sembari memfokuskan pandangannya pada layar ponsel Baila. Beberapa detik berikutnya, terdengar nada notifikasi bersamaan dengan munculnya nama 'Johan' dari balik layar.
"Astaga! Kembalikan ponselku, HALE!"
Setelah menyembunyikan ponsel Baila di belakang tubuh, kini Halsey menatap Baila dengan sorot datar. "Aku tidak akan membuka isi percakapan kalian, jadi katakan saja padaku," ujarnya datar.
"Katakan apa, Hale?" tanya Baila terdengar kesal.
"Katakan padaku isi pesanmu dengan Johan. Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada, Hale. Sungguh itu bukan hal yang penting."
Halsey menatap Baila beberapa saat. "Katakan, Baila."
"Sudah kubilang itu tidak penting! Kembalikan-"
Halsey telah menontoni layar ponsel Baila lalu membuka isi percakapan Gadis itu dengan Johan.
Johan
'Tolong, Baila'
8.20 PM
Me
'Tapi, Johan ... nanti kita ketahuan'
8.22 PM
Johan
'Tidak akan, kok. Kumohon'
8.23 PM
Me
'Berikan aku waktu'
8.26 PM
Johan
'Baiklahđź’“
8.27 PM
Me
'Johan? Maafkan aku, tapi lain kali saja, ya. Aku janji'
8.32 PM
Johan
'Tapi kenapa, Baila? Ayolah, kumohon. Aku sudah sangat rindu'
8.33 PM
Sudah cukup. Halsey tak sanggup lagi jika harus membaca kelanjutannya. Sungguh, hatinya sakit sekali. Bagaimana bisa Baila melakukan ini padanya?
"Kau tega sekali," ujarnya datar sembari mengembalikan ponsel Baila dan berjalan ke arah kasur.
"Hale? Kau pasti salah paham! Ayo, baca seluruhnya dulu." Baila berjalan mendekat pada Halsey.
"Sudahlah, Baila. Aku sedang ingin sendiri."
Baila menghentikan langkahnya kemudian berjalan meninggalkan kamar Halsey. Diam-diam ia membuang napas lega. Untung saja Halsey tak membaca keseluran pesannya dengan Johan, jika iya, maka semuanya berakhir. Pasti berakhir.
***
Meski beberapa kali terjadi perbincangan, Halsey semakin lebih banyak diam dan hanya menanggapi jika ditanya. Entahlah, tapi perasaannya sedang buruk saja, terlebih jika mengingat Baila semalam. Andai saja itu tak benar, seharusnya ia tak langsung memilih pergi ketika diminta.
"Aku harus berangkat," ujar Halsey sembari berdiri kemudian mencium punggung tangan Mahesa dan Shiren bergantian.
"Hati-hati, ya, Sayang," balas Mahesa.
"Iya, Ayah."
"Aku juga harus berangkat," susul Baila sembari ikut menyalami Mahesa dan Shiren.
"Kalian hati-hati, ya, Sayang," balas Shiren.
Halsey dan Baila mengangguk kemudian berjalan beriringan menuju pintu utama rumah.
"Hale? Kau marah padaku, ya?" tanya Baila ragu.
Halsey menoleh. "Marah kenapa?"
"Soal percakapanku dan Johan."
Setelah berhasil mendaratkan bokong di jok kemudi, Halsey perlahan melajukan mobilnya hingga meninggalkan pelataran rumah keluarga Bamatara.
Ia merasa sikapnya pada Baila tadi itu salah. Mungkin ucapannya tidak, tapi ... nada suaranya benar-benar menjelaskan bahwa ia memang sedang marah. Pantas saja banyak persahabatan yang rusak karena pengkhianatan, ternyata ... cinta memang sulit dikendalikan.
Setelah beberapa lama, kini Halsey berhasil memarkirkan mobilnya.Gadis itu mulai tampak berjalan, menyusuri koridor sekolah yang kian ramai.
Halsey sudah memikirkannya sejak semalam bahwa ia memutuskan untuk melupakan Johan saja. Lagi pula akan kedengaran lucu jika dua saudari tiri bertengkar hanya karena seorang pria, bukan? Tidak akan sulit, sebab perasaannya juga baru tumbuh sejak beberapa hari terakhir.
Bokongnya kini telah duduk sempurna di kursi. Halsey mengeluarkan buku tebal berisi rumus kesukaannya, dan juga ... buku curhatannya tentang Johan.
Tangannya terulur meraih pulpen, menggoreskan beberapa penggalan kata di atas kertas kemudian berpindah memandanginya.
"Aku ... aku akan berusaha menghilangkan perasaan yang baru tumbuh ini, tapi tetap ... aku masih merindukanmu, Johan." Halsey membaca tulisannya dengan suara berbisik.
Detik berikutnya, ia mulai meraih buku tebal rumusnya itu kemudian larut dalam kegiatan membacanya.
***
Seperti biasa, saat jam istrahat tiba, Halsey hanya akan datang ke taman kemudian sibuk membaca di sana. Sembari memegang sebuah buku dan kotak bekal di tangannya, Gadis itu berjalan santai dengan air wajah datarnya seperti biasa. Ia memang tetap membawa kotak bekal, tapi itu untuknya sendiri, meski tak pasti akan ia makan.
Setelah berhasil mendaratkan bokongnya di kursi taman, Halsey meletakkan kotak bekal tadi di sisi kirinya, kemudian membuka lagi buku rumus tebalnya.
"Di mana buku curhatanku?" gumamnya bertanya.
Seingatnya, ia menyelipkan buku curhatan itu pada buku rumusnya, lalu di mana benda itu sekarang?
Halsey menjadi kalut sekaligus panik. Dengan cepat ia berusaha mencari dengan benar di buku rumus tersebut, tapi ... memang tak ada.
"Astaga! Di mana buku itu?!" bisiknya panik.
Halsey berdiri dari duduknya. Mungkin saja ia tak sengaja menjatuhkannya di kursi taman atau mungkin hingga terjatuh ke rumput. Gadis itu mulai sibuk berjongkok, berusaha menemukannya tapi tetap saja tak ada.
"Atau mungkin ... buku itu tertinggal di kelas? Atau ... astaga! Bagaimana jika terjatuh di jalan saat aku kemari tadi?!"
Dengan gesit Halsey bangkit berdiri. Hingga setelah ia berbalik, tubuhnya benar-benar membeku tatkala mendapati sosok Johan dengan tangan Pria itu yang sudah terulur padanya. Bukan hanya karena kehadiran Johan, tapi ... benda yang ia ulurkan padanya itu adalah ....
"Kau mencari buku ini, 'kan?"
Halsey menelan salivanya berat sembari mengalihkan pandangan malu. Astaga, demi apa pun ... tak ada lagi hal yang lebih memalukan dari ini dalam hidupnya.
"D-di mana kau mendapatkan itu?"
Johan tersenyum simpul. "Kau menjatuhkannya tadi," balasnya kemudian.
Halsey berdehem. "Kau ... kau tidak membacanya, 'kan?"
"Iya, aku membacanya. Aku bahkan sangat suka dengan isinya."
Halsey menatap Johan tak percaya beberapa saat, kemudian memalingkan wajah lagi. Sungguh, ia benar-benar malu sekarang. Wajahnya juga pasti sudah sangat memerah.
Tak ingin membiarkan lebih lama, langsung saja ia mengulurkan tangannya hendak mengambil buku tersebut. "Terima ka-" Ucapannya terhenti tatkala ia menyadari bahwa Johan memegang erat buku itu. Halsey mendongak, tapi sialnya, ia malah mendapati Johan dengan tatapannya yang intens dan sungguh sulit untuk diartikan.
"Johan? Lepas-"
Bugh!
Mata Halsey membulat lebar kala tubuhnya telah membentur sesuatu yang bidang. Johan ... astaga Johan memeluknya?! Haruskah ... haruskah ia marah dan menampar Pria mesum itu sekarang juga?
"Aku juga rindu, Hale. Aku bahkan hampir mati gara-gara rindu," bisik Johan sembari mengeratkan dekapannya.
Halsey terdiam. Ia merasa geram dengan posisi mereka sekarang, tapi entah mengapa ... dadanya malah terasa sangat sesak hingga membuatnya hendak menangis.
"Johan? Hiks ...." Halsey balas mendekap Johan sembari menumpahkan tangis di dada Pria itu.
"Iya, Sayang?"
"J-jangan menjauh dariku, hiks...," bisik Halsey lirih.
Johan mengangguk keras kemudian mengecup puncak kepala Halsey. "Iya, Sayang. Tidak akan lagi," balasnya.
"Kau ... kau berubah, hiks. Kau tak peduli padaku lagi dan lebih memilih gadis hitam itu ...," lirih Halsey lagi.
Johan tersenyum kemudian menarik tubuhnya mundur. Tangannya membingkai wajah Halsey, menelusuri tiap sudut wajah Gadis itu dengan tatapan sendu.
Cup!
Cup!
"Jangan menangis lagi," ujarnya setelah mendaratkan kecupan dalam pada kelopak mata Halsey bergantian.
"Aku tak pernah berhenti peduli, Sayang. Aku hanya berhenti menunjukkannya."
Halsey mendongak menatap Johan. "Benarkah?"
Johan mengangguk seraya tersenyum lembut. Kedua ibu jarinya mengusap pipi Halsey pelan.
"Tapi mengapa kau lebih peduli pada gadis hitam itu daripada aku?"
Johan terkekeh. "Gadis hitam mana? Dia tidak hitam, kok. Kulitnya hanya berwarna coklat, makanya lebih terkesan manis."
Halsey mengerucutkan bibir seraya menepis kedua tangan Johan dari wajahnya. Gadis itu kini mendaratkan bokong di kursi taman dengan wajah ditekuk.
Johan yang menyaksikannya malah terkekeh lagi, kemudian menyusul Halsey dan duduk di sisi kanan Gadis itu. "Jangan cemburu, Hale. Aku hanya menyayanginya sebagai adik," ujarnya sembari mengusap lembut surai Halsey dari samping.
"Terserahmu, yang penting aku sangat membencinya."
"Kenapa?"
Halsey menoleh pada Johan. "Dia merebutmu dariku, Johan! Gadis hitam itu telah membuatmu mengabaikanku."
Johan tersenyum lembut seraya menarik Halsey bersandar pada dada bidangnya. "Aku mencintaimu," bisiknya pelan.
"Aku juga, Johan. Aku baru sadar telah mencintaimu," balas Halsey kemudian mendongak menatap Johan.
❀❀❀