
"Hale?"
Halsey terdiam memandang wajah Johan. Tak ada sedikit pun raut kesal di sana, dan itu ... itu sontak membuatnya menundukkan wajah tak enak hati. "Maafkan aku, Johan. Aku ... aku tak tahu mengapa bisa sep-"
"Sssttt! Sekarang kita ke kelas, ya? Kau bisa telat masuk," potong Johan seraya merapikan anak-anak rambut Halsey ke belakang telinga.
Halsey mengangguk hingga keduanya kembali berjalan beriringan. Tak ada lagi percakapan yang terjadi. Mereka seolah betah dengan pikiran yang masing-masing berkelana entah ke mana.
Setelah beberapa lama, mereka berhasil tiba di depan kelas Halsey yang tampak masih ricuh dan ramai.
"Pulang sekolah nanti cukup tunggu aku di sini, ya?" ujar Johan cepat.
"Bagaimana jika kau lama?" tanya Halsey.
"Aku hanya di rooftop. Tapi jangan menghampiriku. Aku tidak akan membuatmu menunggu."
Halsey mengangguk mengerti. Tapi ... haruskah ia melontarkan pertanyaan tertahannya? Bagaimana jika Johan malah menyalahartikan? Itu pas-
"Masuklah, Hale. Aku pergi dulu."
Halsey lagi-lagi mengangguk dan hendak berbalik. Namun niatnya ia urungkan, hingga kini, ia dapati Johan yang juga tampak membalas tatapannya bingung. "Apa yang akan kaulakukan di rooftop?" Pertanyaannya lepas begitu saja.
"Aku hanya membolos, Hale," balas Johan.
"Jangan berbohong."
Johan menautkan alisnya heran. Ada apa dengan Gadis ini? Mengapa tiba-tiba banyak pertanyaan? "Aku serius," balasnya mantap.
Halsey tampak memandangnya dengan tatapan menyelidik. "Lalu mengapa kau harus melarangku menyusulmu ke sana?"
Johan terkekeh. "Aku hanya tidak ingin kau menyusuri anak-anak tangga lalu lelah, Hale. Memangnya kau pikir aku ingin mengapa?"
Halsey terdiam lalu menggeleng pelan. Pria ini pasti berbohong. "Tidak ada. Pergilah."
Ia lalu berbalik tanpa menunggu sahutan Johan. Johan sendiri hanya bisa mengedikkan bahu, kemudian ikut berbalik dan berlalu dari sana.
Selepas perginya Johan, Halsey langsung duduk di bangkunya kemudian mulai berpikir keras. Bagaimana jika ia menyusul pria itu saja? Tapi bagaimana jika bu Kesya datang lalu ia dianggap membolos?
Bukan bagaimana, tapi ... ia benar-benar merasa khawatir Johan akan balas dendam. Ucapan pria itu tak sepenuhnya bisa dipercaya, kan? Jadi ... bagaimana sekarang?
Harusnya ia tak perlu peduli perihal Johan, hanya saja ... ia khawatir gagal mencegah pria itu balas dendam lalu Hanum akan kecewa padanya karena dianggap tak bisa menjaga janji.
Menyusul saja.
Tidak.
Menyusul saja.
Tidak.
Menyusul saj-
Tidak, keputusannya sudah bulat. Ia hanya akan menyusul tanpa Johan ketahui, lalu akan kembali ke kelas lagi setelah tahu bahwa pria itu benar-benar tak niat balas dendam.
Halsey lalu bangkit dari kursinya kemudian menghampiri sesosok Pria yang dikenalnya menyandang gelar sebagai seorang ketua kelas. "Ryan? Aku ingin ke toilet sebentar."
Si empunya nama tampak terkejut sesaat. Bisa dibilang, tadi adalah kali pertama seorang Halsey berbicara padanya lebih dulu, terlebih Gadis itu bahkan menyebut namanya.
Ryan lalu mengangguk singkat seraya tersenyum tipis, berusaha menetralkan rasa gugupnya. Bagaimanapun, netra madu Halsey terlalu indah dan jelas bisa membuat beku siapa pun jika menatapnya.
Halsey yang menyadari sikap Ryan memilih untuk berlalu begitu saja. Perlahan, ia berjalan menuju tempat tujuannya sekarang, berharap dalam hati bahwa semuanya sungguh baik-baik saja.
Setelah beberapa lama, kakinya telah benar-benar menapak di lantai rooftop. Dari pintu pembatas tangga dan rooftop, ia mengintip, berusaha menemukan keberadaan Pria yang kini dicari-carinya.
Hingga ... netra indahnya berhenti pada segumpal asap yang tampak berkelana bebas di udara. Ia telah mendapati sosok Johan tengah menghisap dalam rokok di jemarinya dengan tenang. Tampak begitu nyaman seolah suasana itu tengah mendekapnya hangat.
"Hale?"
"Apa yang sedang kauintip, Hale?"
"Kau mengintip Johan? Ya, ampun. Yang benar saja."
Perlahan, Halsey membalikkan tubuhnya hingga mendapati dua sosok Pria yang dirasanya tak lagi asing.
"Johan?! Ada yang tengah mengintipmu di sini, Sayang! Kemarilah."
Halsey menatap Alan datar penuh amarah. Harga dirinya sebagai seorang Gadis mahal benar-benar serasa direndahkan, sekarang.
Berbeda dengan Reyhan, Pria itu tampak bersusah payah menahan senyum gelinya. Ia tak mengira seorang Halsey juga bisa berbuat demikian. Padahal selihatnya, Gadis itu selalu bersikap seolah hidup sendirian di bumi dan tak menganggap hadir orang-orang di sekitarnya.
Johan muncul dari pembatas pintu dan berbalik bingung saat mendapati ketiga manusia tadi. "Hale? Apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya kemudian.
"Aku memergokinya tengah mengintipmu, Sayang. Astaga ... benar-benar cinta dalam diam, ya. Hanya bisa memandangi dari ja-"
"Alan!" Reyhan menatap geram pada Alan.
"Ya, ya. Maafkan aku."
"Hale?"
Semuanya kembali beralih memandang Halsey yang kini tampak memasang wajah datar seolah merasa biasa saja.
"Apa benar kau mengintipku?" Johan kembali bertanya dengan nada tenang.
Meski tak ada nada mengejek dalam ucapan Pria itu, tetap saja ... Halsey merasa benar-benar malu dan ingin segera berlalu saja.
Ditambah lagi dengan keberadaan Alan yang sangat gemar membumbui suasana. Membuatnya semakin geram saja untuk segera mencakar habis wajah Pria itu. Ugh, benar-benar memalukan!
Halsey mengedarkan pandangannya ke sekitar, berusaha mencari alasan guna menutupi perbuatannya. Sementara ketiga Pria yang kini tengah menyaksikannya hanya bisa memasang tampang geli. Sudah tepergok, masih saja berusaha mengelak. Tapi Johan akui, Gadis di hadapannya itu benar-benar pandai mengendalikan raut wajah.
Ia berdehem sebentar. "Alan, Rey, kalian tunggu di luar saja. Aku akan mengantar Hale kembali ke kelas dulu," ujarnya memecah hening, dan dibalas anggukan langsung oleh kedua Pria tadi.
Setelah menyaksikan Alan dan Reyhan benar-benar berlalu, Johan kembali mengalihkan pandangannya pada Halsey. Yang benar saja, Gadis itu sudah menatapnya tajam sekarang. Maksud Johan ..., di mana, sih, letak kesalahannya? Ia tak merasa melakukan sesuatu yang salah, kok.
"Ada apa, Hale? Mengapa menatapku be-"
"Johaaan ...?! Ini benar-benar memalukan, Johan! Aku maluuuuu!" Halsey berteriak histeris seraya berbalik menyusuri anak-anak tangga dengan kedua tangan menutup wajah. Johan yang tertinggal di belakang pun tampak tersenyum puas.
"Sepertinya menyenangkan," gumamnya bersemangat.
Keduanya sudah berjalan beriringan menyusuri lorong kelas. Halsey masih berusaha meredam rasa malunya hingga sekarang, sedangkan Johan yang tadinya seperti menikmati, kini berbalik iba menyaksikan Gadis pujaannya dipermalukan begitu. Ini semua salah Alan. Awas saja pria sialan itu nanti! "Sudah cukup, Hale. Sini dengarkan aku."
Johan menarik tubuh Halsey untuk menghadapnya. Ia tersenyum lembut seraya merapikan anak-anak rambut Halsey yang terasa begitu halus menyentuh kulitnya. "Tak perlu berlebihan begini, Sayang. Lagi pula hanya aku yang tahu, bukan?" ujarnya berusaha menenangkan.
Halsey terdiam. Ia masih berusaha menerjemahkan suara Johan yang terdengar begitu berbeda dari biasanya. Hanya ada makna tulus, bukan mengejek atau bahkan menggoda.
Lalu Johan sendiri, ia tengah berdoa mati-matian dalam hati. Entah ada apa dengan mulutnya itu. Semoga saja Halsey tak menyadarinya telah mengucapkan kata 'sayang', tadi.
"Aku kira kau akan balas dendam, Johan, makanya aku mengikutimu. Tapi sungguh, ini ... ini benar-benar memalu-"
"Sssttt! Sudah, jangan dipikirkan lagi. Wajahmu sudah sangat merah, jadi sekarang aku akan mengantarmu ke kelas." Johan meraih tangan Halsey dan niat melangkah.
"Johan?"
Johan berbalik dan mendapati Halsey tengah memandangnya dengan sorot memohon. "Kumohon jangan beritahu siapa-siapa soal ini ...," lirih Halsey kemudian memalingkan wajah.
Johan terdiam sesaat lalu menampakkan senyum jahilnya. Iris coklat gelap Pria itu kemudian berpindah melirik tangannya yang tengah bertautan dengan milik Halsey, mengangkatnya sedikit ke udara hingga tangan Gadis itu ikut terangkat juga. "Tentu, Sayang, tapi ... biarkan tetap seperti ini."
❀❀❀