
"Katanya dia pria sejati dan tidak suka melihat laki-laki menyakiti perempuan," jelas Halsey seraya kembali memasukkan potongan roti ke mulutnya.
"Jadi karena itu dia dikeroyok hingga masuk rumah sakit?" tanya Mahesa terdengar tidak percaya.
Halsey mengangguk, hingga seketika ... tawa Mahesa dan Shiren pecah.
"Kau punya teman yang ba-"
"Assalamualaikum!"
Sontak, semuanya menoleh ke arah suara.
"Waalaikumsalam."
"Johan? Kau sudah dibiarkan pulang oleh dokter?" tanya Shiren tak percaya.
Johan tersenyum seraya melangkah mendekat ke meja makan tempat keluarga itu tengah menyantap sarapan.
Halsey sendiri hanya memandangnya dengan pertanyaan tertahan. Bagaimana bisa ... bagaimana bisa Pria itu diberi izin untuk pulang oleh dokter sementara memar wajahnya saja masih belum benar-benar sembuh?
"Ayo, Nak. Duduklah," ujar Mahesa kemudian.
Johan mengambil tempat untuk duduk tepat di seberang Halsey. "Sebenarnya, dokter menolak untuk mengizinkanku pulang, tapi ... aku memaksa," jelasnya seraya meraih makanan yang diulurkan Shiren.
"Memangnya kenapa, Nak? Padahal kami baru berniat menjengukmu siang nanti. Terlebih ... kau bahkan belum sepenuhnya pulih, kok," balas Mahesa kemudian meresap cangkir berisi teh di tangannya.
Johan terkekeh pelan. "Aku sudah sering merasakan ini, Om. Yang terparah bahkan aku pernah mengalami koma."
"Lagi pula aku harus melindungi Hale dari mereka," lanjutnya lagi.
Halsey meliriknya. "Maksudmu?"
"Aku takut mereka menggunakanmu untuk membuatku tak berdaya, Hale. Kau tahu aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu sedikit pun," jelas Johan seraya menatap Halsey lekat-lekat tanpa peduli sedang ada siapa saja di sana.
Sementara Halsey sendiri, seperti biasa hanya melempar tatapan datar kemudian memutar bola matanya malas.
"Pria ini benar-benar pandai berkata manis," batinnya.
Mahesa, Shiren juga Baila hanya saling berbagi pandangan satu sama lain. Dalam hati, Mahesa sedikit bersyukur bahwa Putri-nya diperlakukan seistimewa itu oleh seorang Pria.
"Baiklah. Aku harus berangkat, Ayah, Bu," ujar Halsey mulai bangkit dari duduknya hendak bergerak mencium punggung tangan Mahesa dan Shiren.
"Johan belum selesai, Hale! Jangan selalu bersikap ketus padanya atau kau akan menyesal!" cegah Baila cepat, sehingga Halsey menurut dan kembali duduk di kursinya.
"Siapa suruh hanya sibuk berkata-kata manis?" balas Halsey tak kalah sewotnya.
Seperti biasa, Johan hanya akan tersenyum menanggapi ucapan Halsey. "Tidak, Baila. Aku sudah sarapan sekalian meminum obatku tadi. Lagi pula ini sudah hampir pukul setengah tujuh," selanya seraya bangkit dari duduk.
"Kau benar-benar sudah meminum obatmu?" tanya Halsey tanpa melirik.
Johan yang mendengarnya pun sontak menoleh dan menghentikan aktivitas memasang sabuk pengamannya sebentar. "Iya, Hale."
Perlahan, ia lalu menyalakan mesin hingga mobilnya perlahan melaju meninggalkan pelataran rumah mewah milik keluarga Bamatara. "Mulai hari ini, aku akan berusaha agar terus dekat untuk menjangkaumu," lanjutnya lagi.
***
Baru saja Pak Anwar meninggalkan kelasnya, Halsey sudah kembali mendapati sosok Johan yang tampak berjalan menghampiri mejanya.
Lama-lama bisa muak juga.
"Kita ke kantin bersama, Hale," ajak Johan sembari langsung mendudukkan bokong di meja Halsey.
Halsey hanya melirik datar kemudian lanjut merapikan buku-bukunya ke dalam tas. "Aku tidak suka tempat ramai. Ke kantin dengan Alan atau Reyhan saja."
"Tidak! Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian, Hale. Itu terlalu beresi-"
"Kau harus meminum obatmu, bukan? Pergilah, Johan. Jangan terlalu berlebihan dalam memperlakukanku!" ketus Halsey sembari mulai berlalu dengan sebuah buku tebal bermuatkan rumus di tangannya.
"Jangan menghalangiku, Hale. Kumohon ...." Johan telah memegang kedua bahu Halsey sembari netranya yang langsung menyelami iris madu itu dengan sorot memohon.
"Terserahmu, dan jangan mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhku!" bentak Halsey datar, sembari tangan Johan yang langsung ia tepis kasar dari kedua bahunya.
Mendengar itu, Johan tersenyum puas. Ia kembali menyusul langkah Halsey hingga mereka telah berakhir di taman.
Halsey mendaratkan bokongnya di bangku, tak lupa disusul oleh Johan. Gadis itu mulai membuka lembaran buku tebalnya kemudian berlanjut sibuk. Sementara Johan, Pria itu hanya memperhatikan wajah serius Halsey dari samping dengan tatapan lembut, seolah tak ada lagi hal yang lebih indah dari pemandangan di hadapannya sekarang.
"Hale?"
"...."
"Aku sudah jatuh cinta, lho. Tanggung jawab, ya? Jadi pacarku."
Halsey menoleh kemudian melirik Johan sinis. "Kapan aku mengatakan peduli?"
"Jahat sekali! Oh ya, Hale. Aku sangat suka dengan roti buatan ibumu. Bisa kau bawakan untukku besok?"
"Insya allah," balas Halsey tanpa menoleh.
Johan sontak tersenyum senang. Kembali menopang wajahnya di dagu, seolah berusaha menemukan posisi ternyaman untuk bisa memandangi wajah Halsey lebih leluasa.
"Aku mencintaimu, Hale. Sangat."
❀❀❀