
Tak terasa Xander dan Alice telah melakukan kencan kontrak semalam lima hari. Selain makan bersama, keduanya telah menghabiskan waktu kencan dengan menonton film di bioskop milik Xander, berkeliling Disneyland, bahkan pergi berlayar menggunakan yacth pribadi milik Xander.
Di hari kencan keenam ini, Xander membawa Alice ke suatu tempat yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana perkotaan. Mobil limusin Xander memasuki pintu gerbang dan berhenti tepat di halaman mansion yang jauh lebih besar dan megah dari mansion keluarga Quinn.
"Mengapa kau membawaku ke mansionmu?" Tanya Alice ketus.
"Kau tidak perlu takut dan cemas, Alice. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu." Jawab Xander sambil mengulum senyum.
Semua maid dan penjaga langsung membungkukkan badan mereka saat Xander dan Alice masuk ke dalam mansion. Alice terkesima dengan kemegahan yang tampak pada bagian dalam mansion, yang terkesan sangat mewah sekali. Bahkan ornamen-ornamen yang ada di sana masuk ke dalam barang langka dengan nilai yang fantastis.
"Apa kau ingin membuatku terkesan dengan menunjukkan barang-barang mewah ini?" Ucap Alice sinis.
Xander tertawa pelan.
"Aku tidak sebodoh itu, Alice sayang. Aku tahu kau berbeda jauh dengan para wanita murahan di luar sana yang matanya langsung silau saat melihat barang mahal. Kau spesial, Alice." Ucap Xander dengan tersenyum.
Xander menggerakkan kursi rodanya lagi. Dia mengajak Alice pergi ke bagian belakang mansion. Alice terkejut saat mendengar suara deru ombak yang cukup keras. Kedua mata Alice membulat saat melihat pantai dengan hamparan pasir putih yang bersinar memantulkan cahaya matahari. Hijaunya pepohonan dan mangrove yang ada di sekeliling pantai menambah keindahan pantai itu.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Xander.
"Ini, luar biasa." Jawab Alice sambil mengulum senyum.
"Kau benar. Sungguh luar biasa." Gumam Xander yang menatap wajah Alice lekat.
"Tunggu apalagi?" Seru Alice dengan wajah bahagianya.
"Kalau begitu lepas sepatumu." Sahut Xander.
Alice segera melepas sepatunya dan berlari menuju pantai. Alice membiarkan kaki telanjangnya menyentuh kehangatan pasir putih itu. Hembusan angin telah menghempaskan midi dress putihnya sehingga terangkat ke atas, beruntung Alice sedang memakai hot pants. Xander tiada henti mengumbar senyum bahagianya sambil bergerak mendekat ke arah Alice. Alice mendudukkan tubuhnya di bawah payung pantai yang telah disediakan.
Tak lama kemudian ada dua maid datang dengan membawakan minuman segar dan makanan ringan untuk mereka.
"Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum lepas." Celetuk Xander.
Alice memejamkan matanya sejenak sambil menikmati aroma air laut dan menarik napas pelan lalu membuangnya.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan kedamaian seperti ini."
"Aku dulu pergi ke pantai jika sedang merindukan ayah dan ibuku. Hembusan angin dan deru ombak membuat hatiku merasa tenang." Ucap Alice dengan tatapannya terus menikmati ombak yang menggulung.
"Itu artinya kau sedang merindukan seseorang saat ini. Benarkan?" Ujar Xander.
Senyuman di wajah Alice perlahan memudar. Di dalam ingatannya langsung muncul wajah Raja Alec.
"Menangislah jika kau ingin menangis. Teriaklah jika kau ingin berteriak. Jangan menahannya lagi. Menyimpannya hanya akan membebani batinmu."
Alice menatap tak percaya ke arah Xander.
"Mengapa kau masih diam? Keluarkan apa yang ingin keluarkan. Lautan yang luas ini akan siap menampung semua bebanmu." Tambah Xander.
Alice tak kuasa lagi menahan air matanya. Dia berjalan ke bibir pantai, kemudian berteriak sekencangnya sambil menangis. Alice menumpahkan semua kerinduan, kekesalan dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Xander menyentuh dadanya. Teriakan dan tangisan Alice terasa menyayat relung hatinya.
Setelah puas berteriak dan menangis, Alice kembali ke tempat Xander. Xander segera memberikan tisu kepadanya.
"Apa kau lega sekarang?"
"Lumayan." Jawab Alice singkat.
Setelah menghapus air matanya, Alice mengambil minumannya.
"Setidaknya bebanmu telah berkurang." Ucap Xander.
Alice mengatur napasnya sampai benar-benar tenang.
"Aku tidak menyangka keluarga Smith akan sekaya ini." Ujar Alice sambil terkekeh.
"Aku anggap ini adalah anugerah dan kebaikan yang Tuhan berikan, sehingga aku tidak perlu terus menerus hidup dalam keterpurukan. Bahasa lainnya adalah aku sangat bersyukur." Ucap Xander dengan senyuman di bibirnya.
Alice mengangguk setuju.
"Apa kau mau berbagi cerita denganku?" Tanya Xander.
"Cerita?" Alice menyerngitkan dahinya.
"Cerita dari novel yang selalu kau bawa itu. Itu pasti novel kesayanganmu." Xander menunjuk novel yang berada di dalam tas Alice.
Alice tertegun.
"Apa kau tertarik?" Tanya Alice tak percaya karena sedikit sekali pria yang menyukai kisah yang ada dalam dunia novel.
Xander mengangguk. "Please!"
Alice segera mengeluarkan novel itu dan menunjukkannya kepada Xander.
"The Weak Queen." Seru Alice.
"Menarik." Tanggap Xander.
Alice menarik napas panjang. Ini kali pertamanya dia berbagi kisah novel itu dengan orang lain.
"Novel ini bercerita tentang sebuah kerajaan bernama Cardania dengan segala kebahagiaan dan penderitaan di dalamnya. Tokoh utamanya adalah sang penguasa kerajaan, Raja Alec Cardania dan Ratu Roseline. Singkat cerita, Ratu Roseline sangat mencintai suaminya dan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa pria yang tak pernah menganggap keberadaannya."
"Ratu Roseline merebut minuman Raja Alec yang telah diberi racun. Raja Alec sangat marah tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya. Ratu Roseline pun meninggal karena racun itu. Ratu Roseline hidup kembali namun dengan jiwa lain yang datang dari dunia lain. Berkat jiwa itulah, dia berubah menjadi Ratu Roseline yang kuat dan tangguh."
"Jiwa itu adalah aku." Batinnya sambil tersenyum tipis.
Alice terus menceritakan kisahnya dengan Raja Alec. Aura kebahagiaan menguar dari dirinya saat menceritakan kisah percintaannya dengan Raja Alec. Sesekali dia menitikkan air mata saat mengingat kisah yang tak menyennagkan. Xander menyimak dengan seksama. Bahkan Xander ikut hanyut dalam kisah yang Alice ceritakan. Xander menitikkan air mata haru saat Alice mengakhiri ceritanya dengan kebahagiaan Raja Alec bersama Ratu Roseline dan ketiga anak mereka, Marcello, Michelline dan Leonardo.
Alice menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi santai. Senyum bahagia masih terlihat jelas di wajah Alice setelah mengingat kisah cintanya dengan Raja Alec.
"Apa kau percaya dengan time travel?" Tanya Alice.
Xander mengangguk.
Alice membelalakkan matanya. Tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Kau pasti menganggapnya konyol. Mungkin kau juga menganggapku sudah gila." Lirih Alice sambil tersenyum hambar.
"Konyol? Malah menurutku itu sangat menarik."
"Apa kau tahu, Alice? Pada saat aku sedang tidur dan bermimpi, aku merasa seperti sedang melakukan perjalanan waktu. Dengan mudahnya aku bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang tak pernah bisa aku tebak." Ucap Xander sambil tersenyum lebar membuat Alice kembali menatapnya.
"Percayalah. Itu sangat menakjubkan." Tambahnya.
"Tetapi juga menyakitkan. Karena pesaingku cukup berat. Aku harus bersaing dengan orang yang tak nampak, sehingga aku tidak bisa menghajarnya sepuasku."
Alice tertawa pelan.
Xander melihat arlojinya. Tak terasa sudah lebih dari dua jam mereka berada di pantai.
"Sebaiknya kita kembali ke mansion sekarang karena hari mulai gelap. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Para maid pasti sudah menyiapkan hidangan makan malam kita." Ajak Xander.
"Bolehkah aku menikmati makan malam sambil melihat matahari terbenam?"
"Tentu saja. Anak buahku akan mempersiapkannya. Kita akan makan malam di atas balkon. Kau bisa melihat matahari terbenam sepuasmu." Jawab Xander.
Xander dan Alice segera beranjak meninggalkan pantai. Alice senang sekali makan malam mereka kali ini diwarnai dengan indahnya langit yang berwarna merah dengan matahari yang perlahan menyembunyikan sinarnya.
"Terima kasih, Xander. Kencan hari ini sangat menyenangkan." Ucap Alice.
Xander hanya membalas dengan senyuman.
"Besok adalah hari terakhir kencan kontrak kita. Aku ingin memasak untukmu. Apa kau keberatan jika aku yang memasak untuk hidangan kencan kita?" Tanya Alice.
"Tentu saja tidak. Aku malah bahagia, Alice. Aku seolah bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang suami sekarang." Jawab Xander.
"Ish. Mimpimu terlalu tinggi, Tuan." Ejek Alice.
"Semakin tinggi mimpi itu, maka semakin besar usahaku untuk mendapatkannya." Sahut Xander.
Alice hanya menghela napas panjangnya. Selesai makan malam, Xander segera mengantarkan Alice pulang.
"Selamat beristirahat Alice. Sampai bertemu lagi di hari terakhir kencan kita."
"Jemput aku besok pagi. Aku akan mengosongkan semua jadwalku besok." Ucap Alice.
Xander melebarkan matanya.
"A-apa itu artinya aku bisa bersamamu selama seharian penuh?" Tanya Xander tak percaya.
Alice mengangguk dingin untuk menyembunyikan rasa malunya. Xander sangat bahagia.
"Aku janji akan menjemputmu pagi-pagi sekali. Sebaiknya sekarang kau masuk dan segera tidur. Supaya energimu bisa penuh besok." Ucap Xander dengan wajah bahagia.
Alice segera turun. "Selamat malam."
Selama di perjalanan, Xander terus mengumbar senyum bahagianya. Hatinya sangat berbunga-bunga. Allen tersenyum tipis, bahkan hampir tidak kelihatan. Ponsel Xander berdering.
"Halo, ada apa Scott?" Tanyanya dengan suara bahagianya.
"R dan Penelope telah kembali, Tuan."
Senyum bahagia Xander tiba-tiba menguap dan wajahnya berubah dingin. Allen menyerngitkan dahinya.
"Ada seseorang yang datang ke markas dan ingin bertemu dengan Anda." Tambah Scott.
"Baiklah."
Xander langsung memutuskan panggilan telepon mereka.
"Kita ke markas sekarang juga!" Xander mengeraskan rahangnya dengan tangannya mengepalkan kuat.
"Baik, Tuan." Jawab Allen.
Malam semakin larut dan hari pun telah berganti lima menit yang lalu. Xander mengambil sebuah kotak hitam dari dalam laci kamarnya. Dia mengeluarkan kalung yang bertahtakan permata rubi.
"Kalung ini sangat cantik. Dan akan semakin cantik jika kau yang memakainya, Alice. Hanya kau yang layak memakai kalung ini." Gumam Xander sambil tersenyum, namun di matanya menyimpan sebuah kepedihan.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰