I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 64. Lamaran



Raja Abraham dan Ratu Cetta tiba di Kerajaan Cardania untuk melihat keadaan Lady Xena.


"Selamat datang Raja Abraham, Ratu Cetta." Sambut Raja Alec.


"Raja Alec." Sahut keduanya.


"Lady Xena sudah siuman, kalian bisa menemuinya." Ucap Raja Alec.


"Pelayan! Antarkan Raja Abraham dan Ratu Cetta ke kamar Lady Xena."


"Ratu, kau pergilah dulu dengan pelayan dan temui Xena. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Raja Alec." Ucap Raja Abraham.


"Baiklah, Baginda."


Ratu Cetta segera pergi ke kamar Lady Xena diantarkan oleh pelayan istana. Raja Alec mengajak Raja Abraham masuk ke dalam ruangan pribadinya.


"Apa yang ingin kau bicarakan, Raja Abraham?"


"Ini mengenai rencana pernikahanmu dengan Putri Viviane. Apa kau tidak bisa membatalkannya?" Tanya Raja Abraham.


"Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan tetap berangkat ke Kerajaan Liam."


"Lalu bagaimana dengan Ratu Roseline? Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Aku mohon batalkan niatmu itu, Raja Alec."


Raja Alec menyunggingkan bibirnya. "Aku bahkan tidak tahu di mana keberadaan Ratuku saat ini. Dan kerajaanku membutuhkan seorang Ratu. Kau tidak perlu repot-repot memikirkan kehidupan pribadiku, Raja Abraham. Sebaiknya kau segera menyusul Ratumu untuk menemui Lady Xena."


"Aku minta maaf." Ucap Raja Abraham dengan wajah bersalah.


Raja Alec hanya mengangguk. Raja Abraham segera pergi menuju kamar Lady Xena. Marquess Filan memberitahu jika gaun beserta perhiasaan yang Raja Alec pesan sudah jadi.


"Malam ini juga kita berangkat ke Kerajaan Liam. Persiapkan semuanya." Ucap Raja Alec.


"M-malam ini, Baginda? Bukankah seharusnya kita berangkat dua hari lagi?" Marquess Filan tidak mengerti mengapa rencana keberangkatan mereka dimajukan.


"Lebih cepat, lebih baik. Laksanakan saja perintahku tanpa memprotesnya." Raja Alec meninggalkan Marquess Filan yang masih terbengong.


Sedangkan di kamar Lady Xena, Raja Abraham tidak bisa menahan air matanya saat melihat wanita yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri sedang terbaring lemah di atas ranjang.


"Kakak, jangan menangis. Aku akan baik-baik saja. Bukankah Tuhan sangat baik kepadaku , Dia masih memberiku kesempatan untuk bersama kalian." Lirih Lady Xena sambil tersenyum.


Raja Abraham menghapus air matanya. "Mengapa kau melakukan hal sebodoh ini, Xena? Bagaimana jika Tuhan benar-benar memanggilmu untuk kembali? Apa kau tidak memikirkan perasaan kami semua dan juga perasaan Ibu Suri? Ibu Suri tiada henti menangis saat mengetahui apa yang telah terjadi padamu."


"Aku yakin, kakak akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku. Kakak pasti akan mengorbankan nyawa kakak untuk Kak Cetta." Jawab Lady Xena.


"Tapi kau mengorbankan nyawamu demi seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama denganmu, adikku."


Lady Xena hanya tersenyum tanpa menjawab. Tak lama kemudian, Tabib Fey masuk bersama Jenderal Azel.


"Hormat, Raja Abraham dan Ratu Cetta. Tabib Fey telah datang untuk memeriksa kondisi Lady Xena." Ucap Jenderal Azel.


"Silakan, Tabib. Tolong periksa adikku." Jawab Raja Abraham.


Pelayan segera menutup kelambu tempat tidur saat Tabib Fey memeriksa luka Lady Xena.


"Raja Abraham, aku ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi kepada Lady Xena. Aku sangat berhutang nyawa kepada Lady Xena." Ucap Jenderal Azel.


"Kau tidak perlu meminta maaf Jenderal. Semua yang terjadi bukanlah karena kesalahanmu." Jawab Raja Abraham.


"Maaf, Jenderal. Di luar ada Countess Irina yang ingin bertemu dengan Anda." Lapor seorang pelayan.


Jenderal Azel segera keluar untuk menemui Countess Irina. Sedangkan di dalam kamarnya, Tabib Fey dengan telaten membersihkan dan membalut kembali luka Lady Xena. Lady Xena memejamkan mata karena menahan rasa sakit, namun bukan karena luka di tubuhnya melainkan mengetahui jika Jenderal Azel sudah memiliki kekasih.


Pelayan menaikkan kelambu kembali setelah Tabib Fey selesai dengan tugasnya.


"Bagaimana kondisi adikku, Tabib?" Tanya Raja Abraham.


"Kondisi Lady Xena semakin baik, Baginda. Namun hamba sarankan jika Lady Xena tetap dirawat di sini sampai sembuh. Hamba khawatir lukanya akan memburuk jika Lady Xena harus menempuh perjalanan jauh menuju Kerajaan Sun." Ucap Tabib Fey.


"Lakukan yang terbaik, Tabib. Aku akan meminta ijin kepada Raja Alec supaya Xena bisa dirawat di sini sampai dia pulih kembali." Ujar Raja Abraham.


"Tidak perlu, Baginda. Baginda Raja Alec sudah memberikan ijin dan meminta hamba untuk merawat Lady Xena sampai sembuh." Ucap Tabib Fey.


"Apa yang dikatakan Tabib Fey benar, Baginda. Lady Xena akan mendapatkan perawatan dari tabib dan dokter terbaik di istana ini sampai sembuh total." Sahut Jenderal Azel.


Jenderal Azel menatap ke arah Lady Xena, namun Lady Xena membuang mukanya dan melihat ke arah yang lain.


"Terima kasih Jenderal. Aku nanti juga akan mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Raja Alec." Ucap Raja Abraham.


Tabib Fey pun pamit undur diri. Beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan itu.


"Ekhmm." Jenderal Azel berdehem.


"Raja Abraham, Ratu Cetta. Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian, juga kepada Lady Xena."


"Katakan Jenderal, ada apa?" Sahut Raja Abraham.


Jenderal Azel menarik napas panjang membuat semua orang menjadi penasaran.


"Aku ingin meminta ijin secara langsung kepada Raja dan Ratu dari Kerajaan Sun."


Raja Abraham dan Ratu Cetta terlihat bingung dan saling melempar pandangan.


"Aku ingin meminang Lady Xena dan menjadikannya sebagai istriku." Ucap Jenderal Azel dengan tegas.


Semua orang membelalakkan mata, terutama Lady Xena.


"Apa aku tidak salah dengar?" Lady Xena berusaha mengeraskan suaranya.


Jenderal Azel berjalan mendekat, lalu berlutut di tepi ranjang. Jenderal Azel mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan membukanya di hadapan Lady Xena. Di dalamnya terdapat sebuah cincin yang indah bertabur permata. Lady Xena membulatkan matanya.


"Bersediakah kau menjadi istriku, Lady Xena?" Ucap Jenderal Azel.


Lady Xena sangat terkejut, namun dia masih belum percaya dengan apa dia lihat dan dia dengar.


"Mengapa kau melakukannya Jenderal? Apa karena kau merasa berhutang nyawa padaku?"


"Karena aku memang ingin menjadikanmu sebagai istriku, pendamping hidupku." Jawab Jenderal Azel.


Jenderal Azel menyerngitkan dahinya. "Wanita yang aku cintai? Siapa?"


"Countess Irina."


Jenderal Azel tertawa pelan membuat Lady Xena tampak bingung.


"Countess Irina adalah wanita yang berusia sekitar 40 tahun dan dia merupakan istri dari Count Albertus. Keluarga mereka memiliki usaha jual beli perhiasaan. Kedatangannya kemari untuk mengantarkan cincin yang telah aku pesan ini khusus untukmu, Lady Xena."


Jenderal Azel mengambil cincin itu dan memperlihatkannya kepada Lady Xena. "Di sini juga telah tertulis namamu."


Lady Xena terpana melihat cincin yang indah itu dan ada namanya terukir di sana.


"Aku tidak tahu cinta itu seperti apa. Yang aku tahu, aku ingin memilikimu. Hatiku sakit saat melihatmu terluka dan menangis. Aku takut jika kau akan pergi jauh. Dan aku selalu ingin melihatmu tersenyum bahagia. Mungkin saat ini aku belum bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu, tapi aku akan belajar untuk mencintaimu, Lady Xena."


Lady Xena menangis haru mendengar pernyataan Jenderal Azel.


"Apa kau bersedia menikah denganku?"


Lady Xena tersenyum. "Dasar bodoh. Mengapa kau masih menanyakannya padaku, Jenderal. Itu adalah keinginan yang sangat aku dambakan. Aku bersedia menjadi istrimu dan bagian dari hidupku."


Jenderal Azel sangat bahagia mendengar jawaban Lady Xena. Kebahagiaan juga dirasakan oleh Raja Abraham dan Ratu Cetta. Ratu Cetta memeluk suaminya dan menangis bahagia.


"Aku sangat bahagia mendengar berita bahagia ini. Kau harus segera sembuh Xena, dan aku akan mempersiapkan pernikahan megah untuk kalian berdua." Ucap Raja Abraham.


"Tentu saja, Kakak. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istri dari Jenderal besar yang dingin ini." Jawab Lady Xena dengan penuh semangat yang disambut gelak tawa Jenderal Azel dan Raja Abraham.


Di halaman istana, rombongan Raja Alec sudah siap untuk berangkat. Raja Alec terlihat keluar dari istana Ibu Suri Helene. Raja Alec sengaja menemui ibunya terlebih dahulu sebelum pergi menuju Kerajaan Liam.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Raja Alec.


"Sudah, Baginda." Jawab Marquess Filan.


Raja Alec masuk ke dalam kereta kuda, dan rombongan kerajaan pun segera berangkat.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu hari, rombongan Raja Alec tiba di Kerajaan Liam menjelang malam. Kedatangan mereka disambut sorak gembira oleh para penghuni istana. Raja Henry sangat terkejut dengan kedatangan Raja Alec lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Tapi dia juga merasa sangat bahagia karena Raja Alec benar-benar memenuhi keinginannya.


"Selamat datang, Raja Alec." Sambut Raja Henry.


"Raja Henry." Jawab Raja Alec dingin.


Keduanya saling berjabat tangan.


"Ayah." Terdengar suara manja dari belakang Raja Henry.


Seorang wanita cantik berambut merah masuk ke dalam ruangan. Dengan memakai gaun mewah serta tiara kecil yang tersemat di atas kepalanya membuatnya terlihat sangat anggun.


"Raja Alec, perkenalkan ini adalah putriku, Viviane." Ucap Raja Henry.


Putri Viviane mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Raja Alec menyambutnya dan menjabat tangan itu tanpa menciumnya, membuat Putri Viviane terlihat kecewa.


"Jadi, kau adalah calon suamiku, raja yang sangat terkenal itu. Ternyata rumor itu memang benar. Kau adalah raja yang sangat tampan, Raja Alec." Ucap Putri Viviane sambil menyunggingkan bibirnya.


Raja Alec tidak menjawab dan hanya menatapnya sekilas. Tak lama kemudian, datanglah dua orang wanita yang berbeda usia dan bergabung dengan mereka.


"Perkenalkan ini adalah istriku, Selir Maria dan putri keduaku, Putri Viona."


"Selamat datang, Baginda Raja Alec." Ucap mereka sambil memberi hormat.


Raja Alec hanya mengangguk pelan.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Raja Henry. Hanya berdua." Ucap Raja Alec.


"Apa kau ingin mempercepat hari pernikahan kita, Baginda?" Tanya Putri Viviane dengan wajah berbinar.


"Benarkah? Mari ikut ke ruangan pribadiku Raja Alec untuk membicarakan masalah ini." Ucap Raja Henry antusias.


"Dan kalian, suruh pelayan menyajikan minuman untuk Raja Alec dan mengantarkannya ke dalam ruanganku."


Raja Henry dan Raja Alec segera masuk ke dalam ruangan pribadi milik Raja Henry. Putri Viviane menarik ujung bibirnya saat melihat kepergian kedua pria itu.


"Sepertinya kau terlihat sangat bahagia, Putri Viviane." Ucap Selir Maria.


Putri Viviane memutar pandangan kepada Selir Maria dan Putri Viona.


"Tentu saja, aku sangat bahagia." Jawab Putri Viviane sinis.


"Tapi sepertinya Raja Alec tidak menyukaimu. Dia terus menatapmu dengan dingin." Ucap Putri Viona dengan nada mengejek.


"Setidaknya dia masih mau menatapku dengan tatapan dingiñnya, Viona. Daripada kau yang terus mengumbar senyum genitmu itu tapi tak dilirik sama sekali oleh Raja Alec. Aku tahu Viona, kau selalu berusaha untuk merebut apapun yang aku miliki. Namun sayang, kau selalu gagal." Ucap Putri Viviane dengan tatapan merendahkan.


Putri Viviane segera pergi meninggalkan Selir Maria dan Putri Viona yang sedang menahan marah.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰