
Marie membuka matanya secara perlahan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Akhirnya kau bangun, Marie. Syukurlah. Aku sangat khawatir saat kau pingsan tadi."
Marie mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah sumber suara itu. Marie membulatkan matanya dan segera bangun.
"Nona. Benarkah ini dirimu?" Seru Marie tak percaya saat melihat Ratu Roseline (Alice) berada di hadapannya.
Ratu Roseline duduk di samping Marie sambil tersenyum.
"Tentu saja ini aku, Alice. Memangnya siapa lagi?" Jawab Ratu Roseline.
"Nona. Syukurlah hamba masih bisa melihat Nona lagi. Hamba pikir Nona sudah pergi jauh dan kembali ke dunia Nona." Ucap Marie sambil terisak.
Ratu Roseline langsung memeluknya. "Maafkan aku Marie, karena aku pergi tanpa memberitahumu."
Marie mengangguk dan mengusap air matanya. Marie menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang asing baginya itu. Saat ini mereka sedang tidak berada di Kediaman Duke Sullivan.
"Kita berada di Sherya, kampung halaman Tuan Ronaf."
"Mengapa hamba tiba-tiba bisa berada di sini? Bukankah hamba berada di kediaman Duke Sullivan?" Tanya Marie yang terlihat bingung.
"Aku minta maaf, Marie. Aku terpaksa membuatmu pingsan karena kau terus memberontak dan membawamu ke tempat ini." Ucap Dean yang masuk bersama Felix.
"Dean?"
"Jadi, kau yang telah membekap mulutku?"
"Benar. Aku terpaksa melakukannya agar tidak ketahuan prajurit bayangan Raja Alec." Jawab Dean. "Apa kau mau memaafkanku?"
"Tentu saja aku memaafkanmu. Karenamu aku bisa bertemu kembali dengan Nona Alice." Ucap Marie sambil tersenyum senang.
Butiran salju mulai turun dan menyelimuti desa Sherya dengan hawa dingin karena di sana telah memasuki musim dingin. Sherya merupakan salah satu desa terpencil yang terletak di Kerajaan Cardania bagian barat.
"Udaranya benar-benar dingin." Ucap Duke Ramon yang baru kembali dari kota dan bergabung dengan yang lain di ruang keluarga.
Dean dan Marie meletakkan beberapa kayu bakar di dekat perapian untuk menghangatkan ruangan. Duke Ramon mendudukkan pinggulnya di kursi panjang di samping Ratu Roseline.
"Apa kau mendapatkan semua yang kita butuhkan selama musim dingin ini, Ramon?" Tanya Duke Sullivan.
"Ayah tidak perlu cemas. Semua kebutuhan kita, baik itu makanan atau pakaian sudah Ramon siapkan untuk kita semua. Jika stoknya habis, aku akan kembali lagi ke kota untuk berbelanja." Jawab Duke Ramon.
Duke Ramon menggosok kedua tangannya karena kedinginan.
"Felix. Ambilkan beberapa botol anggur yang ada di gudang bawah tanah. Kita sangat membutuhkannya saat ini untuk menghangatkan badan." Pinta Duke Ramon.
Felix segera pergi melaksanakan perintah Tuannya bersama Dean. Sedangkan Marie pergi ke dapur dan kembali dengan membawa teh hangat. Seraya menunggu minuman anggur datang, mereka menyesap teh hangat itu.
"Alice. Boleh kakak bertanya sesuatu?" Celetuk Duke Ramon.
"Tentu saja. Apa yang ingin kakak tanyakan?" Sahut Ratu Roseline.
"Aku penasaran dengan kehidupanmu di duniamu. Apakah semua orang yang ada di sana sama dengan yang ada di dunia ini? Kau pernah bilang jika duniamu lebih modern dan maju dari dunia kami."
Ratu Roseline tersenyum. "Manusianya sama kak, hanya saja budaya dan gaya hidupnya berbeda. Dunia kalian ini merupakan kehidupan masa lalu di duniaku. Aku seperti ditarik melewati lorong waktu dan kembali ke masa lalu."
"Lalu, bagaimana dengan wujud aslimu di sana?"
"Aku dan Roseline memiliki wujud yang sama. Bentuk tubuh, warna rambut dan wajah kami pun sama, yang membedakan adalah gaya berpakaian dan gaya hidup kami." Jawab Ratu Roseline.
"Benarkah?" Seru Duke Ramon dengan mata terbelalak.
"Apa Nona serius?" Sambung Marie.
Ratu Roseline mengangguk. "Itu benar. Bisa dibilang aku dan Roseline adalah orang yang sama namun beda dunia dan waktu. Bahkan wajah ayah dan ibuku sama persis dengan wajah Duke Sullivan dan Duchess Rosalia."
Duke Sullivan dan Duke Ramon semakin membelalakkan mata mereka.
"Siapa nama ayah dan ibumu, Nak?" Tanya Duke Sullivan.
"Tuan Alejandro Quinn dan Nyonya Gabriela Quinn. Dan nama panjangku adalah Alicia Alexandria Quinn."
"Nama keluargamu adalah Quinn."
Ratu Roseline mengangguk.
"Apakah kau juga mempunyai kakak laki-laki di sana? Dan apakah wajah kami juga mirip?" Duke Ramon terlihat sangat antusias.
Ratu Roseline menghela napas dengan raut wajah berubah sedih.
"Mungkin, jika kakakku masih hidup." Lirih Ratu Roseline.
"Jika masih hidup? Apa maksudmu?" Senyum di wajah Duke Ramon menghilang.
"Selama ini aku hanya tahu jika aku adalah anak tunggal di keluarga Quinn, sampai kedua orang tuaku mengatakan bahwa sebenarnya aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Romeo Valentino Quinn. Sayangnya kakakku meninggal di usia 2 tahun karena sakit, sehingga aku tidak pernah melihatnya. Aku hanya bisa melihat foto atau semacam gambar wajahnya saat masih kecil." Cerita Ratu Roseline.
"Tapi aku yakin, jika Kak Romeo masih hidup dia pasti akan memiliki wajah setampan dirimu, kak Ramon."
Duke Ramon tersenyum, lalu mencium tangan adiknya.
"Kedua orang tuamu saat ini pasti sedang kebingungan mencari keberadaanmu. Aku bisa membayangkan bagaimana sedihnya perasaan mereka." Ucap Duke Sullivan.
"Mereka tidak akan mencariku, Ayah. Ayah dan ibuku juga telah meninggal saat aku berusia 15 tahun. Mereka meninggal karena kecelakaan. Dan sejak itu aku diasuh oleh kakekku, ayah dari ayahku, Tuan Abraham Quinn. Dan dari kakekkulah aku belajar ilmu beladiri dan bagaimana cara menggunakan berbagai jenis senjata. Karena aku adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis milik mendiang ayahku. Aku harus bisa melindungi diriku sendiri dari orang-orang yang berambisi untuk merebut dan menguasai perusahaan keluargaku."
Ratu Roseline kembali mengingat masa lalunya. Duke Sullivan menyentuh bahu Ratu Roseline dan membuyarkan lamunannya.
"Pasti sangat berat beban yang kau pikul selama ini, Alice. Dan karena itulah kau tumbuh menjadi wanita yang kuat dan hebat. Ayah yakin kedua orang tuamu pasti sangat bangga memiliki putri sepertimu." Ucap Duke Sullivan.
"Terima kasih, Ayah." Ratu Roseline berhambur ke dalam pelukan Duke Sullivan.
"Kalian curang. Aku juga mau ikut." Protes Duke Ramon.
"Kemarilah, Kak." Ratu Roseline mengulurkan tangannya.
Duke Ramon langsung berhambur dan ikut memeluk Ratu Roseline. Tuan Ronaf, Arabella dan Marie tersenyum senang melihat kebahagiaan mereka. Felix dan Dean datang dengan membawa beberapa botol anggur. Duke Ramon segera membuka salah satu botol lalu menuangkan isinya ke dalam beberapa gelas dan membagikannya kepada semua orang.
Ratu Roseline menggeleng. "Sepertinya tidak. Karena keluargaku tinggal kakek Abraham seorang, tidak ada yang lain."
Arabella terlihat sedikit kecewa.
"Ini Alice, minumlah supaya badanmu terasa lebih hangat." Duke Ramon menyodorkan segelas anggur kepada Ratu Roseline.
"Tidak Kak. Terima kasih. Aku lebih suka minum teh hangat ini." Tolak Ratu Roseline sambil mengisi gelasnya dengan teh hangat.
"Sepertinya kau sangat menyukai teh. Apa kau tidak pernah minum anggur di duniamu?"
"Pernah, untuk menghormati rekan bisnisku yang mengundangku ke acara mereka, dan itupun hanya sedikit. Aku kurang nyaman dengan minuman beralkohol." Jawab Ratu Roseline.
Duke Ramon mengangguk paham dan meminum anggur dari gelas yang dipegangnya.
"Mau sampai kapan kau akan merahasiakannya dari kami, Alice?" Seru Tuan Ronaf.
"Apa maksud Anda, Tuan Ronaf?" Tanya Ratu Roseline.
Semua orang juga dibuat bingung dengan pertanyaan Tuan Ronaf.
Tuan Ronaf tersenyum. "Mau sampai kapan kau menyembunyikan kehamilanmu, Nak?"
Ratu Roseline melebarkan matanya.
"Apakah itu benar, Alice jika kau sedang hamil saat ini?" Tanya Duke Sullivan.
Ratu Roseline langsung terdiam, lalu mengangguk pelan. "Benar Ayah, aku sedang hamil."
"Kau mengandung calon pewaris Kerajaan Cardania."
Ratu Roseline tersenyum simpul. "Ya begitulah. Aku tidak menyangka jika Tuhan akan menghadirkan anak di dalam rahimku."
"Apa kau menyesalinya? Apa kau tidak menginginkannya sehingga kau merahasiakannya dari kami?" Tanya Duke Sullivan.
"Tidak Ayah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku menyayangi dan menginginkan anak ini. Aku rela menjadi ibu tunggal dan merawatnya dengan sepenuh hati."
Duke Sullivan tersenyum bahagia. "Syukurlah, Ayah senang mendengarnya. Selamat Alice sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu. Kau tidak perlu cemas, kau tidak akan sendiri. Kami akan selalu ada untukmu dan calon anakmu."
"Terima kasih, Ayah." Ratu Roseline menitikkan air mata haru.
"Raja Alec pasti akan menyesal suatu saat nanti, karena dia telah menyia-nyiakan anaknya sendiri demi wanita lain dan kekuasaan." Geram Duke Ramon.
"Ramon!" Tegur Duke Sullivan.
Duke Ramon mengerti dan menyesali ucapannya barusan, karena itu akan membuat Alice semakin sakit hati.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bersedia menjadi ayah angkatnya dan menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku akan mengajarkan banyak hal kepadanya suatu saat nanti dan menjadikannya menjadi orang yang hebat." Ucap Duke Ramon dengan wajah berbinar.
"Dan dia juga akan memiliki bibi tercantik di dunia. Aku akan ikut andil untuk merawatnya. Jika dia perempuan, aku akan membuatnya menjadi wanita tercantik di dunia ini." Ujar Arabella penuh semangat.
"Hamba juga, Nona. Hamba akan merawat dan melimpahinya dengan kasih sayang." Ucap Marie sambil tersenyum.
"Dan kami berdua akan menjadi paman terbaik yang ada di dunia ini untuknya. Benarkan, Dean?" Sahut Felix.
"Tentu saja. Kami pastikan dia tidak akan pernah merasa kesepian. Kami akan selalu mendampinginya dan menjadi pelindungnya." Tegas Dean.
"Terima kasih banyak untuk kalian semua." Ucap Ratu Roseline penuh haru.
"Boleh aku memeriksa kondisimu, Alice?" Tanya Tuan Ronaf.
"Boleh Tuan. Aku penasaran bagaimana Tuan bisa mengetahui kehamilanku tanpa memeriksaku terlebih dahulu?"
Tuan Ronaf tersenyum. "Aku memiliki dua orang sepupu perempuan, Duchess Rosalia dan Countess Almeera. Keduanya juga mengalami masa kehamilan, sehingga aku bisa tahu ciri-ciri wanita hamil dari tingkah lakunya."
Tuan Ronaf memeriksa denyut nadi Ratu Roseline. Tuan Ronaf menyerngitkan dahinya membuat Ratu Roseline cemas.
"Ada apa Tuan Ronaf? Mengapa raut wajahmu seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Tanya Ratu Roseline.
Wajah tegang Tuan Ronaf berubah menjadi senyuman.
"Kita tidak hanya akan diramaikan oleh tangis seorang bayi, namun dua bayi sekaligus. Selamat Alice bayi yang kau kandung adalah bayi kembar." Ucap Tuan Ronaf.
"B-benarkah?" Ratu Roseline tak percaya.
Tuan Ronaf mengangguk sambil tersenyum. Tangis bahagia Ratu Roseline semakin pecah. Dan berita bahagia ini membuat semua orang sangat bahagia. Mereka bersulang untuk kedua calon pewaris Kerajaan Cardania.
Sedangkan di Kerajaan Cardania, seperti biasa Raja Alec selalu menghabiskan waktunya dengan meminum wine di kamar pribadinya. Raja Alec mengeraskan rahangnya sambil menatap benda yang dia terima saat berada di labirin Sesat.
"Tidak ada satupun yang tidak bisa aku miliki dan aku dapatkan, karena aku adalah Alec Cardania." Ucap Raja Alec sambil menyeringai.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰