I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 33. Rumor Yang Belum Mereda



Raja Alec dan Ratu Roseline tiba di pekarangan belakang sebuah rumah yang sederhana. Raja Alec menyerngitkan dahinya dan terlihat bingung. Raja Alec segera turun dan membantu Ratu Roseline. Tuan dan Nyonya Bernard segera menutup butik mereka saat mengetahui Ratu Roseline datang.


"Hormat kami, Yang Mulia Ratu." Ucap Tuan Bernard.


Bukan hanya Tuan dan Nyonya Bernard yang memberikan hormat, namun Gustav, salah seorang petani gandum juga memberikan hormat. Gustav adalah adik Tuan Bernard. Gustav sangat terkejut namun juga bangga saat mengetahui wanita yang bernama Rose sebenarnya adalah Ratu Roseline, Ratu Cardania.


Ratu Roseline membuka tudung kepalanya. "Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabar kalian?"


"Kabar kami baik, Ratu. Semoga Yang Mulia Ratu selalu diberikan kesehatan dan umur panjang." Jawab mereka.


Tuan dan Nyonya Bernard serta Gustav menatap penasaran ke arah pria bertudung yang berdiri di belakang Ratu Roseline. Raja Alec membuka tudung kepalanya membuat mereka langsung membelalakkan mata.


"Hormat kami, Baginda Raja." Seru mereka bersamaan.


"Hormat kalian aku terima. Bangunlah." Ucap Raja Alec.


Dengan ragu ketiganya segera bangun dengan perlahan. Mereka tidak percaya jika orang nomor satu di Kerajaan Cardania akan berkunjung ke gubuk mereka. Raja Alec dan Ratu Roseline duduk di atas kursi kayu sederhana yang tersedia di sana. Nyonya Bernard segera mengambilkan teh hangat dan roti yang mereka miliki untuk dihidangkan kepada kedua junjungan mereka.


"Kami mohon ampun, Baginda. Gubuk kami kecil dan sangat tidak layak untuk menjamu Baginda Raja. Dan hanya teh hangat dan roti yang bisa kami sajikan." Ucap Tuan Bernard.


"Tempat ini cukup nyaman, Tuan. Terima kasih." Jawab Raja Alec ramah sambil tersenyum.


Tuan dan Nyonya Bernard terharu. Raja mereka yang terkenal dingin, angkuh dan kejam itu bersikap ramah kepada rakyat jelata seperti mereka.


"Nyonya Bernard. Apakah gaun yang aku pesan beberapa waktu lalu sudah jadi?" Tanya Ratu Roseline.


"S-sudah Yang Mulia. Semua gaun yang Ratu pesan sudah jadi. Tunggu sebentar, akan hamba ambilkan." Jawab Nyonya Bernard.


Nyonya Bernard menunjukkan tiga pasang gaun ke hadapan Raja Alec dan Ratu Roseline, ada warna merah, biru dan hijau. Ratu Roseline tersenyum puas dengan hasil pekerjaan Nyonya Bernard dan sesuai dengan keinginannya. Sedangkan Raja Alec masih diam dan menelisik pakaian dan jubah miliknya satu per satu.


"Apa ada yang salah, Baginda? Atau Baginda tidak suka dengan model baju dan jubahnya?" Tanya Ratu Roseline.


"Tidak Ratu. Aku menyukai semuanya meskipun modelnya terlihat berbeda dengan pakaian yang biasa aku kenakan." Jawab Raja Alec.


"Hamba sengaja membuatnya dengan model yang berbeda. Hamba harap Baginda benar-benar menyukainya. Namun jika Baginda tidak suka, Nyonya Bernard nanti akan memperbaikinya atau membuatkan ulang sesuai keinginan Baginda." Terang Ratu Roseline.


Raja Alec tersenyum. "Aku menyukainya Ratu, malah sangat menyukainya. Aku yakin tidak akan ada seorang pun yang bisa menyamai pakaian dan jubahku."


"Terima kasih, Nyonya Bernard. Kau telah membuat rancangan yang luar biasa."


"Sudah menjadi kewajiban hamba, Baginda. Seharusnya kalimat pujian itu Baginda tujukan kepada Ratu. Karena semua gaun ini adalah rancangan Ratu, hamba hanya bertugas untuk membuatnya sesuai rancangan." Ucap Nyonya Bernard.


"Aku tidak tahu jika Ratu sangat handal dalam membuat rancangan baju." Ujar Raja Alec sambil menatap Ratu Roseline yang sedang meneguk tehnya.


"Itu hanya salah satu hobby kecil hamba, Baginda." Ucap Ratu Roseline.


"Hobby?" Tanya Raja Alec tak mengerti.


"Itu semacam kegemaran, Baginda."


Raja Alec mengangguk paham.


"Aku ingin kalian semua datang di acara pesta ulang tahun Ibu Suri dan perayaan panen tahun ini. Aku akan mengundang seluruh rakyat Cardania untuk berpesta bersama. Karena berkat rakyat hasil panen gandum tahun ini sangat meningkat dengan kualitas yang bagus." Ucap Raja Alec.


"Terima kasih banyak, Baginda. Ini merupakan anugerah yang tak terhingga bagi kami." Ucap Tuan Bernard dengan wajah bahagia.


"Semua itu berkat Yang Mulia Ratu, Baginda. Berkat bantuan Ratu dan Duke Sullivan kami, para petani bisa mengolah ladang dengan baik dan mendapatkan bibit gandum yang berkualitas." Ucap Gustav.


Raja Alec dibuat terbelalak tak percaya.


"Kau benar-benar telah mengejutkanku, Ratu." Ucap Raja Alec.


Ratu Roseline hanya menyunggingkan bibirnya. Setelah beberapa lama, Raja dan Ratu meninggalkan rumah Keluarga Bernard dan membawa gaun-gaun itu kembali ke istana. Namun sebelum kembali ke istana, Ratu Roseline meminta untuk mampir ke pasar terlebih dahulu. Sudah lama dia tidak menikmati keramaian pasar Kerajaan Cardania.


"Apa Ratu sering datang ke pasar ini?" Tanya Raja Alec.


"Benar Baginda. Setiap hamba ke luar istana pasti mampir ke sini. Panggil hamba dengan nama Rose, dan hamba akan memanggil Baginda dengan nama Alec. Supaya tidak ada yang mengenali kita." Bisik Ratu Roseline.


"Baiklah Rose. Ceritakan padaku, apa yang menarik dari tempat ini." Sahut Raja Alec.


"Di tempat ini kita bisa mendapatkan informasi apapun yang kita inginkan, karena di sini adalah ladang dari segala informasi." Ucap Ratu Roseline.


"Kau memang luar biasa. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan wanita yang luar biasa untukku. Kau membuatku semakin terpesona, Roseline." Bisik Raja Alec di telinga Ratu Roseline.


Bisikan Raja Alec berhasil membuat jantung Ratu Roseline berpacu kencang dan kedua pipinya mulai memanas. Raja Alec tertawa pelan melihat wajah Ratu Roseline yang merona.


"Sebaiknya aku segera pergi sebelum Baginda semakin meracau tak karuan." Gerutu Ratu Roseline sambil melangkahkan kakinya dengan wajah kesal.


Ratu Roseline mendekat dan berbisik. "Aku ingin membeli barang khusus untuk wanita. Apa kau masih ingin ikut?"


Wajah Raja Alec langsung merona. "Ekhm! Baiklah kau boleh pergi, tapi Marie harus selalu berada di dekatmu."


Ratu Roseline segera pergi dengan didampingi oleh Marie dan Dean yang mengikuti keduanya dari belakang. Sedangkan Raja Alec menunggu sambil minum di kedai bersama Felix.


"Hei, apa kalian sudah dengar? Di istana akan diadakan perayaan ulang tahun Ibu Suri Helene dan Baginda Raja Alec telah mengundang para raja dari kerajaan tetangga." Ucap salah seorang pengunjung kedai.


"Tentu saja kami sudah mendengarnya, Stevan. Itu bukan berita baru lagi." Sahut pengunjung yang lain.


"Tapi apa kalian juga tahu pada acara pesta nanti, Baginda Raja akan meminang Countess Sarah dan menjadikannya sebagai Selir?" Tanya Stevan.


"Apa berita itu benar, Stevan?"


"Tentu saja benar. Aku mendapatkan berita itu langsung dari kediaman Count Donovan. Seperti yang kita semua ketahui jika Ratu Roseline sampai saat ini belum bisa memberikan keturunan untuk Baginda Raja. Dan rumornya Ratu Roseline itu wanita mandul." Ucap Stevan.


"Sudah seharusnya Raja menikah lagi dan memiliki selir agar bisa mendapatkan keturunan. Dan menurutku Countess Sarah itu adalah wanita yang sangat tepat untuk Baginda Raja." Tambah Stevan.


"Apa yang kau katakan benar, Stevan. Raja harus memiliki keturunan untuk menduduki tahta selanjutnya. Karena Baginda Raja sendiri anak tunggal dan tidak memiliki saudara." Sahutan dari pengunjung yang lain.


"Benar sekali. Dan apa kalian tahu? Countess Sarah itu wanita yang cantik, anggun, berhati lembut serta berpendidikan tinggi. Sebenarnya wanita seperti dialah yang layak bersanding dengan Baginda Raja, bukan Ratu Roseline yang manja itu. Dari rumor yang aku dengar Ratu Roseline itu tidak bisa melakukan apapun, selain merayu dan mencari perhatian Raja." Tambahnya.


Raja Alec mengeraskan rahangnya dan tagannya mengepal dengan kuat. Raja Alec hendak berdiri dan menghajar pria yang telah merendahkan Ratu Roseline, namun Felix segera menahannya.


"Tahan emosi, Baginda. Jangan sampai penyamaran Baginda terbongkar." Bisik Felix.


Raja Alec menarik napas panjang dan berusaha menahan emosinya yang meluap. Kepalan tangannya semakin kuat sampai buku-buku jarinya memutih.


"Bukankah wajar jika seorang istri selalu mencari perhatian suaminya. Seperti yang kita tahu, jika Ratu sangat mencintai Baginda Raja." Sahut istri pemilik kedai tak terima.


"Seharusnya bukan hanya mampu merayu tapi juga mampu memberikan penerus untuk Baginda Raja." Cibir Stevan.


Raja Alec menarik satu kancing bajunya dan menyentilnya tepat ke arah mulut pria yang bernama Stevan itu.


Takk...


"Arrghh!" Stevan berteriak kesakitan dan tubuhnya jatuh ke belakang.


Bibir Stevan seketika bengkak dan memerah.


"Sepertinya Tuhan dan alam semesta tidak setuju dengan apa yang kau katakan tadi anak muda." Ejek pemilik kedai sambil tertawa dan diikuti gelak tawa para pengunjung yang lain.


Raja Alec segera pergi meninggalkan kedai. Felix mengikutinya dari belakang. Raja Alec tidak akan tinggal diam dan menyuruh prajurit bayangannya untuk menangkap pria yang bernama Stevan itu. Dia akan memberikan pria itu pelajaran dengan tangannya sendiri.


"Rasanya ingin sekali aku kuliti dan cincang tubuh baj***an itu." Gerutu Raja Alec.


"Bukankah Marquess Andry mengatakan jika rumor itu sudah mereda? Lalu apa yang aku dengar tadi?"


"Mohon maaf, Baginda. Menurut hamba ada yang sengaja memerintahkan pria yang bernama Stevan itu untuk membangkitkan rumor itu kembali." Ucap Felix.


Raja Alec mengangguk dan merenungkan ucapan Felix. Keduanya segera kembali ke tempat kuda mereka beristirahat dan menunggu Ratu Roseline kembali.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰