I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 31. Rasa Sakit



Raja Alec bangun dengan wajah sumringah pagi ini. Dia terus menyentuh bibirnya sambil tersenyum. Raja Alec saat ini sudah berada di ruang kerja Duke Ramon karena Marquess Filan ingin menyampaikan laporan penting. Marquess Filan yang sejak tadi menjelaskan dengan panjang lebar, langsung berhenti karena Raja Alec terlihat tidak fokus. Marquess Filan menghela napas panjang.


"Mengapa kau berhenti, Filan?" Tanya Raja Alec.


Marquess Filan mendengus kesal. "Percuma saja hamba menjelaskan panjang lebar, namun Baginda tidak mendengarkan."


Raja Alec memberikan tatapan tajamnya.


"Kau sudah mulai berani sekarang, Filan?"


"Bu-bukan seperti Baginda. Hamba perhatikan sejak tadi Baginda hanya melamun sambil tersenyum, dan tidak mendengarkan penjelasan hamba." Ucap Marquess Filan sedikit takut.


"Kau tulis saja, nanti akab aku baca." Ucap Raja Alec.


Raja Alec berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Marquess Filan bernapas lega.


"Ternyata saat Baginda Raja sedang jatuh cinta lebih menakutkan. Baginda menjadi lebih sensitif."


Raja Alec melangkahkan kakinya menuju kamar Ratu Roseline dengan hati berbunga-bunga.


"Apa Ratu ada di kamarnya?" Tanya Raja Alec.


"Mohon ampun, Baginda Raja. Saat ini Ratu sedang bersama Duke Sullivan di ruang kerja Duke." Jawab Pelayan.


Raja Alec segera menuju ruang kerja Duke Sullivan. Seorang pelayan akan melapor, namun Raja Alec langsung memberikan isyarat. Pelayan itu segera pergi. Raja Alec hendak mengetuk pintu, namun diurungkan saat mendengar percakapan antara Ratu Roseline dan Duke Sullivan.


"Ayah perhatikan hubunganmu dengan Baginda Raja semakin membaik. Baginda Raja sudah menunjukkan perhatiannya kepadamu, putriku." Ucap Duke Sullivan.


Ratu Roseline menghela napas panjang.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?"


"Entahlah Ayah. Seline tidak tahu." Jawab Ratu Roseline.


"Dengarkan Ayah, Seline. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Dan tidak ada salahnya kau berikan kesempatan kedua kepada Baginda." Ujar Duke Sullivan.


Ratu Roseline tersenyum hambar.


"Luka ditubuh bisa sembuh dengan mudah Ayah. Berbeda denga luka di hati. Butuh lebih banyak waktu dan bukti untuk menyembuhkannya. Jujur saja Ayah, keinginanku untuk pergi dari istana masih kuat."


"Ayah tahu Nak. Ayah akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Dan Ayah berharap kamu bisa bersikap bijaksana saat mengambil keputusan." Tutur Duke Sullivan.


"Terima kasih, Ayah." Ucap Ratu Roseline sambil memeluk ayahnya.


Raja Alec melangkahkan kakinya dengan wajah yang memerah, serta mata yang tajam dan dingin. Para pelayan dibuat ketakutan dan tidak ada satupun yang bergerak, apalagi mengangkat kepala saat Raja Alec melewati mereka. Raja Alec menuju taman belakang. Dengan cepat Raja Alec menarik pedang dari salah satu penjaga. Raja Alec menebas tamanan bunga yang ada di sana dengan membabi buta untuk meluapkan emosinya.


"Aarrgghh!!!"


Raja Alec melempar pedang itu dan menancap pada batang pohon. Raja Alec menjatuhkan tubuhnya di bawah pohon sambil menutup matanya. Ingatan Raja Alec kembali ke masa lalu.


...***...


"Baginda." Panggil Ratu Roseline.


Ratu Roseline masuk ke dalam ruang kerja Raja Alec, lalu melepaskan jubah tidurnya dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya dari balik gaun tidur tipisnya.


"Mau apa kau datang ke sini? Pergilah! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" Bentak Raja Alec.


Ratu Roseline mengabaikan bentakan Raja Alec. Ratu Roseline memberanikan diri mendekati Raja Alec dan memijat bahu Raja Alec.


"Lancang!" Raja Alec mencekal tangan Ratu Roseline dengan kuat.


"Auh." Pekik Ratu Roseline.


"Beraninya kau menyentuhku dengan tangan kotormu itu." Ucap Raja Alec dengan tatapan membunuhnya.


"Ta-tangan hamba bersih, Baginda. Hamba sudah mencucinya tadi." Lirih Ratu Roseline.


"Aku tidak peduli. Bagiku semua yang ada di tubuhmu itu kotor, tak lebih dari sampah." Hina Raja Alec.


Mata Ratu Roseline terasa berkabut, namun ia berusaha agar cairan beningnya tidak sampai jatuh.


"Kalau kau ingin menangis, menangislah! Kau pikir dengan berpakaian seperti ini kau bisa memikatku. Bagiku penampilanmu saat ini tak jauh berbeda dengan wanita penghibur yang ada di rumah bordil. Dan itu membuatku sangat jijik."


Raja Alec mencengkeram rahang wajah Ratu Roseline keras dan membuat Ratu Roseline semakin kesakitan.


"Bukankah sudah kukatakan padamu. Jika tubuhmu ini membutuhkan kehangatan, carilah pria lain di luar sana. Aku akan menutup mata dan aku pastikan tidak akan yang tahu sepak terjangmu, Ratu." Ucap Raja Alec sambil menyeringai.


Raja Alec melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Ratu Roseline hingga tersungkur di lantai. Tangis Ratu Roseline pun pecah tak tertahankan. Dengan perlahan Ratu Roseline segera bangkit dan memungut jubah tidurnya, lalu memakainya kembali.


"Baginda boleh menganggap hamba sebagai wanita rendahan. Tapi hamba bukanlah wanita hina yang akan mengkhianati suami hamba dan membiarkan tubuh hamba di sentuh oleh pria lain. Hamba tidak sehina itu, Baginda. Dan hamba rela mati demi keselamatan suami hamba." Ucap Ratu Roseline, lalu pergi meninggalkan ruang kerja Raja Alec.


...***...


Raja Alec menangis mengingat betapa kejamnya dirinya kepada Ratu Roseline di masa lalu. Dengan teganya dia menghina dan merendahkan wanita yang selalu mencintainya dengan tulus.


"Aku memang manusia jahat dan biadab. Ratu Roseline memang pantas untuk membenciku. Tuhan, jika aku bisa memutar waktu aku tidak akan menyia-nyiakan wanita sebaik Roseline. Aku benar-benar merasa hina." Lirih Raja Alec.


Raja Alec tersentak saat ada yang menyentuh bahunya.


"Ratu."


Ratu Roseline duduk di depan Raja Alec.


"Aku sangat menyesal Ratu. Aku pria yang jahat dan hina. Aku selalu melontarkan kata-kata hinaan untuk menyakitkan hatimu. Aku selalu merendahkanmu. Aku adalah manusia hina." Ucap Raja Alec sambil terisak.


"Apa sekarang Baginda sudah tahu, bagaimana rasa sakit yang aku rasakan?" Tanya Ratu Roseline.


Raja Alec mengangguk.


"Lepaskan hamba, Baginda." Seru Ratu Roseline.


Raja Alec membelalakkan matanya.


"Tapi hamba juga ingin merasakan kebahagiaan, Baginda." Ujar Ratu Roseline.


Raja Alec langsung bersujud di hadapan Ratu Roseline.


"Baginda! Apa yang Baginda lakukan?" Teriak Raja Ratu Roseline.


"Kau boleh memberikan hukuman apapun padaku. Akan aku terima. Tapi aku mohon, jangan pernah berniat untuk meninggalkanku. Kau boleh menebas tanganku, kau boleh memotong kakiku. Lakukanlah, aku rela." Ucap Raja sambil terus bersujud.


Hati Ratu Roseline terasa sakit melihat Raja Alec yang merendahkan dirinya di hadapannya. Ratu Roseline langsung menarik tubuh Raja Alec sampai terduduk dan memeluknya.


"Baginda jangan pernah merendahkan harga diri Baginda di depan siapapun. Baginda adalah Raja yang hebat dari Kerajaan Cardania. Baginda tidak boleh terlihat lemah." Ucap Ratu Roseline.


Raja Alec mengurai pelukan mereka.


"Aku rela merendahkan harga diriku di hadapanmu Ratu. Asalkan kau membuang jauh-jauh niatmu untuk pergi meninggalkanku." Ucap Raja Alec.


"Tapi hamba tidak berani menjanjikan hal yang belum tentu bisa hamba lakukan atau berikan kepada Baginda. Hamba juga tidak ingin membuat Baginda kecewa, jika nantinya rasa cinta untuk Baginda tidak akan pernah datang kembali." Jelas Ratu Roseline.


"Berikan aku kesempatan Ratu. Aku yang akan mendatangkan cinta itu kembali dan memenuhi hatimu. Aku mohon, beri aku waktu."


Raja Alec meletakkan telapak tangan Ratu Roseline di atas kepalanya.


"Aku, Alec Cardania, Raja dari Kerajaan Cardania berjanji, aku tidak akan pernah melihat wanita lain. Aku tidak akan pernah menyentuh wanita lagi, apalagi sampai menikah dengan wanita lain. Jika aku mengingkari janjiku, tancapkan pedangmu tepat di jantungku. Dan kau bisa pergi ke manapun yang kau inginkan." Janji Raja Alec.


Ratu Roseline menarik tangannya dan menyentuh wajah Raja Alec.


"Kalau begitu jangan sia-siakan waktumu, Baginda." Ucap Ratu Roseline.


Raja Alec melebarkan matanya. "Apa itu artinya Ratu telah memberikan kesempatan kepadaku?"


Ratu Roseline mendengus kesal. "Hamba tidak akan mengulangi ucapan hamba untuk kedua kalinya. Kecuali Baginda ingin hamba membatalkannya."


Ratu Roseline segera berdiri dan berjalan menjauh. Raja Alec segera mengejarnya dan memeluknya dari belakang.


"Tidak Ratu. Aku mohon jangan kau batalkan. Terima kasih, kau telah memberikan kesempatan kepadaku. Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakannya." Ucap Raja Alec.


"Kalau begitu, jaga sikap Baginda. Hamba tidak ingin menjadi pusat perhatian." Ketus Ratu Roseline.


Raja Alec segera melepaskan pelukannya saat menyadari banyak mata yang tertuju pada mereka berdua. Raja Alec dan Ratu Roseline berjalan beriringan dan tidak ada yang membuka suara sampai keduanya masuk ke dalam mansion Duke Sullivan. Raja Alec dan Ratu Roseline berpamitan kepada Duke Sullivan dan Duke Ramon. Mereka akan kembali ke istana.


"Seline pergi dulu Ayah. Ayah harus selalu menjaga kesehatan." Ucap Ratu Roseline.


"Tentu saja. Ayah masih ingin melihat cucu-cucu Ayah dan bermain bersama mereka nantinya." Jawab Duke Sullivan menggoda.


"Ayah!"


Wajah Ratu Roseline memerah karena malu.


Duke Sullivan tertawa. Raja Alec dan Duke Ramon senang melihat aura kebahagiaan yang menguar dari diri ayah dan anak itu.


"Aku sudah menempatkan beberapa prajurit istana untuk berjaga di Kediaman ini. Aku tidak ingin lagi ada yang berhasil masuk ke kediaman Duke dan mencelakainya lagi." Ucap Raja Alec.


"Hamba ucapkan terima kasih, Baginda. Anak buah hamba sudah menginterogasi pelayan itu. Dia tetap mengatakan tidak tahu apa-apa dan hanya menerima perintah dan upah. Tapi hamba tidak akan pernah menyerah untuk menemukan penjahat itu. Tak kan hamba biarkan siapapun menyakiti keluarga hamba dan keluarga kerajaan." Ujar Duke Ramon.


"Terima kasih, Duke." Ucap Raja Alec sambil memeluk Duke Ramon.


Rombongan Raja Alec dan Ratu Roseline pergi meninggalkan Kediaman Duke Sullivan, namun tanpa Arabella. Arabella kembali ke kediaman orang tuanya setelah mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit.


Di sebuah ruangan, terlihat seorang pria membanting barang-barang yang ada di sana.


"Kurang aj@r! Bagaimana bisa kalian gagal?" Bentak pria itu.


"Ampun Tuan Baron. Orang suruhan kita sudah melakukan tugasnya dengan baik. Tinggal sedikit lagi, namun tiba-tiba Raja dan Ratu tiba di kediaman Duke Sullivan dan menggagalkan semua rencana kita." Ucap salah seorang anak buahnya.


Pria itu semakin marah dan membanting guci besar hingga pecah berkeping-keping.


"Hentikan semua rencana kita dan hilangkan semua barang bukti serta saksi mata. Jangan sampai mereka menemukan jejak kita." Ucap pria itu.


"Baik Tuan Baron, akan kami laksanakan."


"Suruh pelayan untuk menyiapkan kereta kuda. Aku akan pergi dan masuk ke dalam istana hari ini juga."


"Aku akan memperkenalkan calon Raja baru Kerajaan Cardania kepada mereka semua, Raja Joseph." Ucap pria itu sambil menyeringai.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :



Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku



Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰