I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 68. Pengakuan



Ratu Roseline mulia tersadar dari buaian Raja Alec. Ratu Roseline mendorong tubuh Raja Alec menjauh sehinģga pagutan keduanya terlepas.


Plak!!!


Raja Alec mendapatkan tamparan yang sangat keras di pipi kirinya. Ratu Roseline tiba-tiba merasa pusing dan tubuhnya sedikit limbung. Raja Alec dengan sergap menangkap tubuhnya dan mendudukkannya di atas ranjang. Ratu Roseline mendorong Raja Alec kembali agar menjauh darinya.


"Sudah cukup kau perlakukan aku seperti wanita murahan. Bisa-bisanya kau menyentuhku setelah menyentuh wanita lain. Kau benar-benar menjijikkan, Alec. Menjauhlah dariku!" Bentak Ratu Roseline dengan mata memerah.


"Dengarkan penjelasanku, Alice. Apa yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang kau pikirkan. Aku mohon kendalikan emosimu. Ingat Alice, ada bayi kembar kita di dalam perutmu." Ucap Raja Alec dengan pelan.


"Apalagi yang ingin kau jelaskan? Semua sudah jelas, Alec. Dan aku tidak percaya lagi kepada pria sepertimu."


"Kau salah paham, Alice. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya semua kepadamu. Aku mohon."


Raja Alec berusaha mendekat namun Ratu Roseline mengangkat tangannya sebagai tanda penolakan.


"Baiklah. Tapi menjauhlah dariku dan jangan coba-coba untuk menyentuhku lagi." Ucap Ratu Roseline.


Raja Alec bergerak mundur dan duduk di kursi yang agak jauh dari ranjang.


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Dan jika setelah mendengarkan penjelasanku kau masih membenciku, aku terima Alice." Ujar Raja Alec.


Flashback On


Di perbatasan Cardania


Raja Alec masuk ke dalam tenda Ratu Roseline, setelah mengurus jenazah para prajurit yang tewas dan memastikan prajurit yang terluka mendapatkan perawatan. Seorang dokter istana sedang memeriksa keadaan Ratu Roseline. Marie berdiri di samping ranjang sambil menangis.


"Apa yang terjadi, Dokter?" Tanya Raja Alec dengan wajah cemas.


"Yang Mulia Ratu mengalami demam, Baginda. Sepertinya Yang Mulia terkena infeksi dari luka yang dideritanya." Jawab sang dokter.


"Bagaimana mungkin? Bukankah kau tadi mengatakan jika luka Ratu tidak terlalu dalam dan kau juga sudah mengobati serta membalut lukanya? Mengapa kau tidak memeriksa dengan baik tadi?" Raja Alec mulai tersulut emosi.


"Ampun Baginda. Ratu terkena goresan pedang yang telah dilumuri racun. Hamba sudah memberikan obat penurun panas dan penawar racunnya. Saat ini Ratu sedang tertidur karena efek dari obat tersebut." Jawab dokter tersebut.


"Baiklah. Kalian boleh pergi sekarang." Ucap Raja Alec.


"Baik, Baginda."


"Pelayan Marie, jangan lupa untuk sering mengompres Yang Mulia Ratu agar demamnya bisa segera turun. Dan jika demamnya semakin tinggi segera panggil aku."


"Baik, dokter." Jawab Marie.


Selepas kepergian dokter dan para asistennya, Marie mengganti air dan kain untuk mengompres Ratu Roseline.


"Biar aku saja yang melakukannya, Marie. Kau boleh keluar. Aku akan memanggilmu jika membutuhkanmu." Ucap Raja Alec.


"Baik, Baginda." Marie segera keluar dari tenda.


Raja Alec duduk di tepi ranjang sambil menyentuh wajah Ratu Roseline. "Sudah terlalu banyak pengorbanan yang kau lakukan untukku, Alice. Aku bukan hanya berhutang nyawa kepada Roseline, tapi juga denganmu. Aku tidak sanggup kehilangan dirimu, karena kau sudah memenuhi ruang di hatimu."


"Setelah ini aku akan mengungkapkan semuanya kepadamu dan aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Apapun akan aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku yang telah menyakitimu. Aku sangat mencintaimu, Alice." Raja Alec mengecup kening Ratu Roseline dengan lembut.


Raja merawat Ratu Roseline dengan penuh kesabaran. Sepanjang malam dia terus terjaga dan tidak membiarkan kedua matanya terpejam. Raja Alec melihat bayangan hitam yang mencurigakan dari balik tenda. Saat Raja Alec mendekatinya, bayangan itu pergi menjauh.


"Marie, masuklah!" Teriak Raja Alec.


Marie segera masuk dengan tergopoh.


"Jaga Ratu sebentar. Ada sesuatu yang harus aku lakukan." Ucap Raja Alec. "Di mana Felix?"


"Felix sedang makan, Baginda. Karena sejak tadi dia belum makan. Sebentar lagi dia akan kembali." Jawab Marie.


"Saat Felix kembali, pastikan dia untuk lebih mengawasi dan menjaga tenda ini selama aku tidak ada."


"Baik, Baginda."


"Siapa kau? Mengapa kau menyelinap masuk ke dalam perkemahan prajurit Cardania? Apa kau orang suruhan Raja Henry?" Tanya Raja Alec.


Orang berbaju hitam itu menoleh ke arah Raja Alec, dengan wajah yang tertutup cadar.


"Aku memang orang Liam, tapi aku bukan orang suruhan Raja Henry. Aku ingin memberitahumu jika saat ini orang kepercayaan Raja Henry sedang berada di Kerajaan Sun untuk menculik Ratu Cetta. Raja Henry ingin menukar keselamatan Ratu Cetta dengan sebuah pernikahan." Terdengar sangat jelas dari suaranya jika orang itu adalah seorang wanita.


Raja Alec tetap dengan raut wajah datarnya. "Pernikahan?"


"Benar. Raja Henry ingin membuat kesepakatan denganmu, Raja Alec. Semua orang tahu tentang hubungan dekat yang terjalin antara kau dengan Raja Abraham. Raja Henry ingin kau menikahi Putri Viviane, putri sulung Raja Henry dan dia adalah wanita tercantik di Kerajaan Liam." Terang wanita itu.


"Apa maksud dan tujuanmu sebenarnya? Aku tahu kau pasti memiliki maksud tertentu dengan mengatakan semuanya kepadaku, Putri Viviane."


Wanita itu terkekeh, lalu membuka cadar dan penutup kepalannya dengan perlahan. Tampaklah wanita cantik berkulit putih, berambut merah sedang menyunggingkan senyum di bibir merahnya. Ekspresi Raja Alec tidak berubah sedikitpun.


"Aku menemui orang tepat. Kau memang spesial Raja Alec. Kau tidak menunjukkan reaksi takjub, terpukau ataupun terpesona pada kecantikanku." Ucap Putri Viviane sambil tersenyum.


"Karena Ratuku jauh lebih cantik, anggun dan elegan darimu." Ketus Raja Alec.


"Sekarang katakan apa tujuanmu yang sebenarnya? Jika kau berharap aku akan menyetujui keinginan Raja Henry untuk menikahimu, kau bermimpi terlalu tinggi."


"Aku memang ingin kau untuk menyetujui kesepakatan itu agar Raja Henry mau melepaskan Ratu Cetta dan tunduk di bawah kekuasaanmu. Tapi kau tidak perlu khawatir, kita tidak akan benar-benar menikah." Jawab Putri Viviane.


"Lalu?"


"Bantu aku membalaskan kematian ibuku, Ratu Eklesia. Aku ingin kau membantuku membalas semua orang yang telah dengan keji memfitnah ibuku dan meracuni tubuh ibuku sampai ibuku menghembuskan napas terakhirnya." Ucap Putri Viviane dengan tatapan penuh amarah.


"Bagaimana aku bisa mempercayai semua perkataanmu? Bisa saja kau sedang berusaha mempermainkanku. Kau adalah anak dari musuhku." Tanya Raja Alec.


"Apa kau akan percaya jika aku memberikan plakat milik Raja Henry kepadamu?"


Raja Alec menajamkan tatapannya dan terlihat tidak ada kebohongan di mata Putri Viviane.


"Kalau begitu tunjukkan plakat itu kepadaku sekarang juga."


"Aku tidak memilikinya saat ini. Beri aku waktu. Dua hari lagi orang kepercayaanku akan memberikan plakat itu kepadamu. Dan aku pastikan kau akan mendapatkan plakat yang asli." Ujar Putri Viviane.


"Salah satu anak buahku akan menemui orang suruhanmu di hutan dekat istana Cardania. Aku tidak bisa membiarkan sembarang orang memasuki istanaku."


"Aku setuju. Kalau begitu sampai berjumpa kembali di Kerajaan Liam, Raja Alec." Putri Viviane melompat dan menghilang di dalam kegelapan hutan.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰