I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 54. Perlakuan Kasar



"Menyingkirlah Marquess Andry. Dan jangan coba-coba menghalangi kami." Teriak Duke Ramon.


"Kami tidak akan pernah menyingkir dan membiarkan kalian pergi." Jawab Marquess Andry.


Para prajurit semakin merapatkan barisannya membentuk suatu benteng.


"Aku tegaskan sekali lagi Andry, menyingkirlah atau aku akan melupakan persahabatan kita. Aku tidak akan bersikap baik lagi padamu." Ancam Duke Ramon.


"Dengan senang hati, akhirnya aku bisa berduel denganmu, Duke Ramon." Jawab Marquess Andry sambil memicingkan bibirnya.


Keduanya turun dari atas kuda sambil menarik pedang dari sarungnya masing-masing, lalu mengarahkannya ke depan wajah lawan.


"Ada apa ini? Mengapa kalian mengepung kediamanku?" Tanya Duke Sullivan yang baru saja turun dari kereta kuda.


Marquess Andry segera memberi hormat.


"Kami minta maaf Tuan Duke. Kami diperintahkan oleh Baginda Raja untuk membawa Yang Mulia Ratu kembali ke istana." Jawab Marquess Andry.


"Aku tidak akan membiarkan kalian membawa putriku kembali ke istana." Ucap Duke Sullivan.


"Itu artinya kalian melawan perintah Baginda Raja. Kalian bisa dianggap sebagai pemberontak." Ujar Marquess Andry.


"Lebih baik aku dianggap sebagai pemberontak, dari pada aku harus melihat putriku disakiti lagi." Sahut Duke Sullivan.


"Aku mohon, tolong tarik ucapan Anda barusan, Tuan Duke." Mohon Marquess Andry dengan bibjr bergetar.


Selama ini Marquess Andry sudah menganggap Duke Sullivan seperti ayahnya sendiri, dan Duke Ramon seperti saudara laki-lakinya.


"Sekali lagi aku peringatkan, sebaiknya kalian segera menyingkir dari sini. Atau kita akan saling melukai satu sama lain." Seru Duke Ramon.


Marquess Andry tak bergeming dan tetap pada pendiriannya. "Kami tidak akan pergi dari sini tanpa membawa kembali Yang Mulia Ratu."


"Baiklah kalau itu kemauanmu."


Duke Ramon mengayunkan pedangnya dan menyerang Marquess Andry. Namun Marquess Andry menangkisnya dengan cepat. Terdengarlah suara dentingan dari kedua pedang yang saling bersahutan.


"Berhenti!"


"Aku mohon, hentikan!" Teriak Ratu Roseline yang membuat keduanya berhenti saling menyerang.


"Apa yang sedang kau lakukan, putriku? Masuklah kembali ke dalam kereta kudamu. Kami tidak akan membiarkan mereka membawamu kembali ke dalam istana." Ujar Duke Sullivan.


"Tidak Ayah. Aku tidak akan bersembunyi dan membiarkan mereka melukai kalian." Jawab Ratu Roseline.


"Kami tidak apa-apa, Alice." Sahut Duke Ramon.


"Alice?" Guman Marquess Andry tak mengerti.


Ratu Roseline menggeleng. "Aku akan ikut mereka dan kembali ke istana."


Duke Sullivan dan Duke Ramon hendak protes, namun Ratu Roseline segera menahan mereka.


"Ayah dan kakak tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku pastikan mereka tidak akan bisa menyakitiku. Percayalah." Ucap Ratu Roseline meyakinkan.


"Ijinkan hamba untuk ikut." Seru Marie.


"Hamba juga." Sahut Felix.


"Tidak perlu. Aku akan kembali sendiri. Aku tidak ingin kalian mendapatkan masalah karenaku." Jawab Ratu Roseline.


"Tidak Ratu. Baginda Raja memerintahkan kami untuk membawa Yang Mulia Ratu kembali istana bersama pelayan dan pengawal pribadi Ratu." Ujar Marquess Andry.


"Sebaiknya Yang Mulia Ratu segera ikut kami kembali ke istana, sebelum Keluarga Duke Sullivan mendapatkan masalah." Tambahnya.


"Sial! Beraninya Baginda Raja mengancam seperti itu!" Geram Ratu Roseline.


Ratu Roseline, Marie dan Felix pun segera dibawa kembali ke istana. Duke Sullivan berusaha untuk tersenyum sambil menahan tangisnya.


"Tenanglah Ayah. Aku yakin adikku akan baik-baik saja. Dia itu Alice, bukan Seline. Alice adalah wanita yang kuat dan tangguh." Ucap Duke Ramon berusaha menguatkan ayahnya.


"Putramu benar, Duke. Setidaknya kau masih bisa menemuinya di istana." Tambah Tuan Ronaf.


Duke Sullivan mengangguk pelan sambil menghapus titik-titik air mata di pelupuk matanya.


Kereta kuda Ratu Roseline tiba di istana Ratu.


"Mengapa kalian membawaku kembali ke istana Ratu, bukannya penjara istana?" Tanya Ratu Roseline.


Marquess Andry menyerngitkan dahinya. "Apa Yang Mulia telah membuat kesalahan besar sehingga harus tinggal di penjara?"


Ratu Roseline mendengus kesal, lalu melangkahkan kakinya keluar dari istana Ratu.


"Aku mau menemui Baginda Raja."


Marquess Andry segera berlari dan menghadangnya.


"Baginda Raja sedang mengadakan rapat dengan para bangsawan dan pejabat istana." Jawab Marquess Andry.


"Baiklah. Aku akan menemuinya nanti."


Ratu Roseline segera masuk ke dalam istana Ratu dengan diikuti oleh Marie dan Felix di belakangnya. Para pelayan dan penjaga sangat senang dengan kembalinya junjungan mereka.


"Haahh... Sebenarnya apa yang telah terjadi diantara mereka berdua. Bukankah mereka sudah berbaikan dan terlihat mesra. Sekarang Baginda Raja telah kembali dengan sikap dingin dan kejamnya. Bahkan Baginda Raja juga tidak ingin menemui Ratu sama sekali." Gumam Marquess Andry sambil menghela napas panjang.


Saat jam makan siang, Ratu Roseline mendatangi istana Raja untuk menemui Raja Alec. Kekecewaanlah yang didapatkan oleh Ratu Roseline, karena pengawal Raja mengatakan jika Raja Alec sedang sibuk dan ingin menemui siapapun, termasuk Ratu Roseline.


"Jika dia tidak ingin menemuiku, untuk apa dia menginginkanku kembali ke istana ini?" Gerutu Ratu Roseline saat tiba di kamarnya.


"Mungkin Baginda Raja membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan ini, Yang Mulia." Ujar Marie.


Ucapan Marie ada benarnya juga. Ratu Roseline berencana akan menemui Raja Alec kembali keesokan harinya. Usaha Ratu Roseline untuk menemui Raja Alec tidak membuahkan hasil. Sudah hampir satu minggu, Raja Alec mengabaikannya. Bahkan kerenggangan hubungan mereka menjadi buah bibir dan gosip hangat di kalangan bangsawan dan pejabat istana. Tidak sedikit dari mereka yang merasa senang, karena hal itu akan menjadi kesempatan untuk menjodohkan putri mereka dengan Raja Alec.


Marie keluar dari kamar Ratu Roseline, dan mata terbelalak saat melihat kedatangan Raja Alec dengan wajah memerahnya.


"Ba-baginda."


Marie hendak memberitahu Ratu Roseline, namun Raja Alec menggelengkan kepalanya sebagai tanda larangan. Raja Alec juga memerintahkan seluruh pelayan untuk pergi, termasuk Marie. Dengan berat hati, Marie pergi menjauh dari kamar Ratu Roseline. Raja Alec segera masuk ke dalam kamar.


"Mengapa kau kembali Marie? Apa ada yang tertinggal?" Tanya Ratu Roseline yang masih belum menyadari kedatangan Raja Alec.


Karena tidak mendapatkan jawaban, Ratu Roseline pun membalikkan badannya dan terkejut melihat Raja Alec berdiri di hadapannya.


"Baginda?" Lirih Ratu Roseline.


Raja Alec mendekat, lalu menarik tubuh Ratu Roseline ke dalam pelukannya. Raja Alec menci um Ratu Roseline dengan kasar. Ratu Roseline langsung mendorong tubuh Raja Alec. Ratu Roseline yakin jika Raja Alec sedang dalam keadaan mabuk, karena Ratu Roseline mencium bau alkohol yang menyengat. Mata Raja Alec pun memerah seakan menyimpan amarah yang sangat besar di dalamnya.


"Hentikan! Menjauhlah dariku, Baginda." Bentak Ratu Roseline.


Raja Alec menulikan telinganya dan kembali menarik tubuh Ratu Roseline. Dengan cepat Raja Alec mendorong tubuh Ratu Roseline ke atas ranjang. Raja Alec melepas bajunya dengan cepat. Ratu Roseline terus memberontak.


"Hentikan! Aku bilang hentikan, Baginda!" Teriak Ratu Roseline.


Raja Alec merobek baju tidur Ratu Roseline dengan kasar. Mata Ratu Roseline terasa memanah. Baru kali ini Raja Alec memperlakukannya dengan sangat kasar. Ratu Roseline tak bisa memberontak lagi karena Raja Alec sudah mengukungnya. Raja Alec kembali meraup bibir Ratu Roseline dengan tak kalah kasar. Raja Alec menggigit ujung bibir Ratu Roseline sampai berdarah karena Ratu Roseline tidak mau membalas ci umannya.


Raja Alec benar-benar seperti orang kesetanan dan memperlakukan Ratu Roseline tanpa ada kelembutan sedikit pun. Ratu Roseline tidak bisa membendung air matanya lagi saat pedang mandra guna milik Raja Alec menerobos masuk dengan sangat kasar. Rasa sakit yang luar biasa dirasakan oleh Ratu Roseline.


"Aaargh! Sakit! Hentikan Baginda."


Raja Alec terus memompanya dengan kuat tanpa menghiraukan teriakan dan rintihan Ratu Roseline yang kesakitan. Raja Alec semakin mempercepat lajunya dan berusaha untuk mendapatkan puncak kenik matannya. Saat berada di puncak, Raja Alec mencabut pedangnya dan membuang lahar putih yang banyak di kain sprei tepat di depan area sen sitif Ratu Roseline.


Raja Alec turun dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali, lalu pergi meninggalkan Ratu Roseline yang tergeletak lemas begitu saja tanpa sepatah katapun. Ratu Roseline terus menangis. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi juga hatinya. Raja Alec memperlakukannya seperti alat pemuas nap su.


Saat tiba di istana Raja, Marquess Filan sudah berdiri menunggu kedatangan Raja Alec.


"Apa kau sudah menemukan siapa orangnya, Filan?" Tanya Raja Alec dengan tatapan dinginnya.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰