
"Alice..."
Alice tersentak saat mendengar namanya dipanggil. Namun dia tidak bisa melihat apapun di dalam kegelapan.
"Alice!" Panggilan itu terulang lagi.
"Alec. Kaukah itu?" Tanya Alice dengan tangannya berusaha meraba benda yang ada di sekitarnya. Namun hanya udara kosong yang dapat diraih oleh tangannya.
"Alice sayang, kembalilah. Tempatmu bukan di sini." Terdengar jelas suara Raja Alec dari arah belakangnya.
Alice langsung membalikkan badannya dan melihat tubuh Raja Alec yang bercahaya dan sedang tersenyum kepadanya.
"Alec!"
Alice berlari ke dalam pelukan Raja Alec. Akan tetapi tubuh keduanya tidak bisa bersentuhan. Alice menembus tubuh Raja Alec. Alice berusaha menyentuh tubuh Raja Alec kembali, dan tetap tidak bisa.
"Mengapa aku tidak bisa menyentuhmu? Aku merindukanmu, Alec." Ucap Alice dengan air mata berlinang.
"Kita sudah berada di dunia yang berbeda Alice. Kembalilah ke duniamu." Jawab Raja Alec.
Alice menggeleng.
"Semua orang yang menyayangimu mengharapkanmu kembali, sayang." Tambah Raja Alec dengan lembut.
"Aku ingin bersamamu dan ketiga buah hati kita, Alec. Aku tidak bisa hidup tanpa kalian. Aku mohon bawa aku kembali ke dalam duniamu." Mohon Alice.
Wajah Raja Alec berubah sendu. Dia mengangkat tangan kanannya dan menyentuh wajah Alice, meskipun kulit keduanya tidak benar-benar bersentuhan.
"Kau masih ingat dengan janjiku, bukan? Di dunia mana pun kau berada, aku pasti akan menemukanmu. Setelah kita bertemu nanti, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Sekarang kembalilah ke dunia di mana seharusnya kau berada dan tunggu kedatanganku. Aku mencintaimu, Alice." Ucap Raja Alec.
Wujud Raja Alec perlahan menghilang bersamaan dengan cahaya terang yang seolah menarik tubuh Alice. Alice membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat berat.
"Alice. Syukurlah kau membuka matamu kembali, sayang."
Alice melihat ke arah sumber suara itu.
"K-kakek?" Lirihnya saat menatap pria berumur sekitar 70 tahun.
Dia adalah Tuan Abraham Quinn, kakek Alice. Mekipun wajahnya telah dipenuhi dengan banyak kerutan, namun tidak sedikitpun melunturkan ketampanan murni yang dimilikinya. Salah satu gen terbaik yang beliau turunkan kepada Alice. Tim medis segera memeriksa kondisi Alice. Dokter mengatakan jika kondisi Alice sudah membaik saat ini.
"Kakek. Mengapa kakek menangis?" Tanya Alice pelan saat dia sedang berdua dengan kakeknya.
Tuan Abraham menggenggam tangan Alice lalu menciumnya. "Kakek sangat takut kehilangan dirimu cucu kesayangan kakek, Alice."
Alice terlihat bingung. "Aku di mana sekarang, Kek?"
"Saat ini kau berada di rumah sakit milik keluarga Quinn." Jawab Tuan Abraham.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?" Alice memegang kepalanya yang masih pusing.
"Para maid menemukanmu dalam keadaan tidak sadarkan diri di mansion orang tuamu, lebih tepatnya di kamar pribadi mendiang Daddy dan Mommymu. Beruntung mereka segera membawamu ke sini. Jika tidak kakek tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Alice." Terang Tuan Abraham dengan terisak.
"Kakek minta maaf jika selama ini kakek terlalu keras dalam mendidikmu dan kakek juga telah memberikan tanggung jawab yang terlalu besar kepadamu, Cucuku. Seharusnya kakek lebih perhatian kepadamu dan meluangkan lebih banyak waktu bersamamu."
"Kakek benar-benar minta maaf, Alice. Kakek berjanji akan memperbaiki semuanya. Jadi kakek mohon jangan mencoba mengakhiri hidupmu lagi."
Air mata Tuan Abraham semakin berlinang.
"Bunuh diri?" Alice membelalakkan matanya.
"Apa maksud, Kakek? A-aku tidak bunuh diri, Kek."
"Jika kau tidak berniat mengakhiri hidupmu, mengapa kau meneguk obat tidur yang membuatmu koma selama empat hari?"
Alice berusaha memutar ingatannya. Alice ingat dia berusaha untuk tidur, namun gagal. Akhirnya dia mengambil tiga butir obat tidur, berharap dia bisa segera tidur dan kembali ke dunia novel. Namun sayangnya kenyataan tidak berjalan sesuai harapannya.
"Itu artinya aku tidak bisa kembali ke dunia novel lagi. Aku tidak bisa bertemu lagi dengan suamiku, Alec, dan ketiga anakku, Cello, Celine dan Leon."
Alice meneteskan air mata. Hatinya terasa sakit. Dia merasakan rindu yang teramat.
"Mengapa kau menangis, Nak? Apakah ada yang sakit?" Tanya Tuan Abraham membuyarkan lamunan Alice.
"Ada Kek, hatiku sangat sakit."
"Aku baik-baik saja, Kek. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk bunuh diri. Aku hanya ingin beristirahat sejenak. Beberapa hari ini banyak pekerjaan yang menguras pikiran dan tenagaku."
"Dan Alice bersyukur Tuhan masih memberikanku kesempatan untuk hidup, Kek." Jawab Alice sambil memaksakan senyumnya.
"Kakek merasa sangat bersalah." Lirih Tuan Abraham.
"Kakek tidak boleh bicara seperti itu. Kakek adalah kakek terbaik di dunia ini. Kakek terbaik yang Alice miliki. Alice menyayangimu, Kek." Sahut Alice.
"Kakek juga sangat menyayangi, Alice." Ucap Tuan Abraham sambil mencium kening cucunya dengan lembut.
Setelah menjalani perawatan selama satu minggu lamanya di rumah sakit, akhirnya Alice kembali sehat seperti sedia kala. Dia pun telah kembali ke mansion orang tuanya. Tuan Abraham memutuskan untuk tinggal di mansion tersebut. Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama cucunya.
"Kau mau ke mana, Alice? Kau baru saja sembuh." Sapa Tuan Abraham saat Alice telah bersiap dan hendak berangkat ke kantor.
"Alice mau kembali bekerja, Kek. Alice sudah cuti terlalu lama. Selama hampir satu bulan, Alice meninggalkan tanggung jawab di perusahaan. Bella dan Jacob pasti sangat kuwalahan karena harus menghandle semua pekerjaan Alice." Jawab Alice.
"Kau tidak boleh pergi." Ucap Tuan Abraham.
"Tapi, Kek?"
Alice menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan bibir mengerucut.
"Alice bosan, Kek. Alice ingin beraktivitas." Gerutunya dengan wajah kesal.
Tuan Abraham terkekeh melihat wajah kesal cucunya itu yang terlihat menggemaskan baginya.
"Kakek tahu. Maka dari itu, kakek ingin kau berlibur Alice. Kau bisa pergi ke tempat mana pun yang kau inginkan dan bersenang-senanglah. Jauhkan sejenak pikiranmu itu dari urusan perusahaan." Ucap Tuan Abraham.
"Tidak Kek. Alice lebih suka menghabiskan waktu di perusahaan dan menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawab, Alice. " Tolak Alice.
Tuan Abraham tersenyum. "Kau benar-benar mewarisi sifat Daddymu, Alejandro. Kalian berdua sama-sama pekerja keras."
Alice tersenyum lembut.
"Ini." Tuan Abraham menyodorkan sebuah amplop yang berisi undangan.
Alice segera membuka amplop itu dan membukanya.
"Undangan perayaan wedding anniversary Tuan Suarez dan istrinya di Budapest. Kakek ingin aku pergi ke Hongaria?" Tanya Alice tak percaya.
Tuan Abraham mengangguk. "Kakek ingin kau pergi ke sana mewakili keluarga Quinn untuk memberikan ucapan selamat dan kado kepada mereka. Selain itu kakek ingin kau mendapatkan kontrak kerjasama besar antara perusahaan kita dengan perusahaan Tuan Suarez. Dan pastinya itu bukanlah hal yang mudah, karena akan ada banyak perusahaan besar dari berbagai negara yang akan bersaing untuk bisa bekerja sama dengan Suarez Corps."
"Jadi kakek ingin memberikan tantangan kepadaku?" Alice menyerngitkan dahinya.
"Bisa dibilang seperti itu." Jawab Tuan Abraham.
"Baiklah, tantangan diterima kakekku sayang. Tapi aku memiliki syarat." Ucap Alice.
"Yah, kakek tahu. Kau tidak akan bisa jauh dari kedua asisten kesayanganmu itu. Jacob dan Bella akan pergi bersamamu." Sahut Tuan Abraham.
Alice melompat kegirangan. Dia langsung memeluk Tuan Abraham. "Terima kasih, Kakek."
Tuan Abraham tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa melihat senyum bahagia di wajah cucunya. Pasalnya, semenjak Alice bangun dari komanya dia sering terlihat murung. Beberapa kali, Tuan Abraham memergoki Alice menangis sendirian di dalam.kamarnya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan cucunya. Tuan Abraham sampai menginterogasi Bella dan Jacob untuk mengetahui kehidupan pribadi Alice selama ini.
...***...
Private jet berlambangkan keluarga Quinn mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Budapest Ferigehy, Budapest, Hongaria.
"Akhirnya kita tiba juga, Nona." Ucap Bella dengan senyum merekah saat turun dari pesawat.
"Hello, Budapest. Aku berharap tempat ini akan membawa keberuntungan untukku." Ucap Alice sambil memakai kacamata hitamnya.
"Nona, sopir yang dikirimkan oleh Tuan Suarez sudah menunggu kita di depan bandara." Lapor Jacob setelah menutup telpon dari orang anak buah Tuan Suarez.
Alice hanya mengangguk. Mereka segera bergegas menuju pintu keluar. Tanpa sengaja Alice bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap Alice tanpa melihat ke arah orang yang bertabrakan dengannya dan melanjutkan langkahnya.
"Apa seperti itu caramu meminta maaf, Nona?" Terdengar teriakan seorang pria dari arah belakang Alice yang terkesan kesal.
Alice dan kedua asistennya berhenti. Alice membuang napasnya kasar. Dia berbalik dan sedikit menundukkan kepalanya tanpa menatap ke arah pria itu sedikitpun.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak sengaja dan saat ini saya sedang terburu-buru. Permisi."
Alice membalikkan badannya kembali dan melangkahkan kedua kaki jenjangnya tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
"Cih. Sombong sekali." Gumam pria itu.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya asisten pria itu.
Pria itu hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Dia dan asistennya juga segera pergi meninggalkan bandara.
"Maaf Tuan Sean, apakah kita akan menginap di hotel yang telah disediakan oleh Tuan Suarez?" Tanya asisten pria itu saat mereka berada di dalam mobil.
"Perlukah aku menjawab pertanyaan konyolmu itu, Bill?" Sahut pria itu dengan wajah dinginnya kepada asistennya yang bernama, Bill.
Bill memaksakan senyumnya. "Tentu saja tidak, Tuan. Kita akan tinggal di penthouse yang baru saja Anda beli satu jam yang lalu, yang terletak di pusat kota Budapest."
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰