
Xander tersenyum lebar menatap Alice yang sedang berdiri di depan cermin besar. Alice terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna kuning srluyut dengah motif bunga pilihannya. Xander memeluk tubuh Alice dari belakang dan mendaratkan ciumannya di pipi kanan Alice. Alice mengulum senyumnya.
"Kau cantik sekali, Ratuku." Bisik Xander.
"Kau juga sangat tampan, Rajaku." Balas Alice sambil menatap Xander dari pantulan cermin.
Xander memutar badan Alice lalu menci um bibirnya dengan lembut.
"Sebaiknya kita segera keluar Alex. Aku lapar." Pinta Alice.
"Baiklah sayangku." Jawab Xander.
Alice tersenyum senang. Sebenarnya Alice takut jika keduanya tetap berada di dalam kamar, mereka akan mengulangi kegiatan di atas ranjang yang tertunda. Xander membuka laci dan mengambil topeng lalu memakainya.
"Mengapa kau masih memakai topeng itu, Alex? Apa kau masih malu jika orang lain nengetahui bekas luka di wajahmu?" Tanya Alice penasaran.
Xander menyunggingkan bibirnya. "Apa wajahku terlihat buruk rupa?"
"Tidak sama sekali. Bekas luka itu tidak akan pernah bisa mengurangi ketampananmu." Jawab Alice.
Xander menarik pinggang Alice sehingga jarak keduanya sangat dekat.
"Aku ingin kau menjadi satu-satunya wanita yang menikmati ketampananku, sayang." Ucap Xander lembut.
Alice mengerjapkan matanya.
"Apa kau ingin berbagi diriku dengan wanita lain? Hah?"
"Aku tidak sudi!" Jawab Alice marah.
"Aku menjadi seorang Alex hanya untukmu. Dan bagi orang lain, aku adalah seorang Xander." Terang Xander yang membuat hati Alice berbunga.
Xander dan Alice menyantap hidangan sarapan pagi mereka sambil menikmati keindahan pantai yang berada di belakang mansion. Alice tersenyum mengingat pertama kali dia datang ke mansion ini yaitu saat dia masih menjalani teman kencan kontrak Xander.
"Sepertinya kau sangat menyukai pantai." Ucap Xander.
Alice mengangguk. "Yah. Suasana pantai bisa membuat otakku relax sejenak setelah dipusingkan dengan semua urusan di perusahaan."
"Apa kau mau tinggal di mansion ini setelah kita menikah nanti?"
Alice melebarkan matanya.
"Apa kau serius?" Tanya Alice tak percaya.
Xander mengangguk. "Itu pun jika kau mau. Tapi jika kau tidak suka kita bisa tinggal di mana pun kau menginginkannya."
"Aku tidak ingin tempat lain. Aku ingin kita tinggal di sini." Jawab Alice antusias.
"As you wish, my Queen."
Terlihat Allen sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Selamat pagi Tuan Xander dan Nona Alice." Sapa Allen.
"Pagi, Allen. Apa kau sudah makan?" Tanya Xander.
"Sudah, Tuan." Jawab Allen sambil tersenyum.
Namun senyuman di wajah Allen seketika luntur begitu melihat tatapan tajam dari Alice yang meneliti dirinya dari atas sampai bawah. Bahkan Allen sampai menelan salivanya kasar.
"Kalau diperhatikan lagi, pria ini mirip Marquess Filan." Batin Alice.
"Hah. Tapi sayang aku tidak punya saudara sepupu perempuan di dunia ini." Tambahnya.
"A-ada apa Nona? Mengapa Nona menatapku seperti itu?" Tanya Allen sambil membetulkan kaca matanya.
"Apa matamu bermasalah?" Alice balik bertanya.
"T-tidak. Mataku baik-baik saja." Jawab Allen.
Alice memainkan pisau dan garpu yang ada di atas piringnya. Allen membelalakkan matanya.
"N-nona tidak bermaksud mencongkel mataku, kan?" Teriak Allen dengan wajah ketakutan.
Alice menyeringai. "Kira-kira berapa banyak uang yang bisa aku dapatkan dari hasil menjual dua bola matamu itu?"
"Nona hanya bercanda kan? Nona tidak serius kan?" Tanya Allen yang semakin ketakutan.
Xander tak bisa menahan tawanya lagi. "Sudah Alice sayang. Jangan dilanjutkan lagi. Aku tidak tega melihat wajah pucatnya."
Allen mengelus dadanya dengan napas tidak beraturan.
"Bagaimana bisa Tuan menertawakanku seperti itu? Mengapa Tuan tega membiarkan Nona Alice mengerjaiku seperti itu? Saya ini orang terdekat Anda, orang yang lebih lama mengenal Anda dari pada Nona Alice." Ucap Allen sambil menatap Alice sinis.
"Kau merajuk seperti anak kecil. Dan itu membuatmu terlihat semakin lucu, Allen." Xander tertawa semakin keras.
Tak lama kemudian tawa Xander berhenti dan wajahnya berubah dingin.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan, Allen?" Tanya Xander dingin.
"Sudah Tuan. Saya sudah menyelidiki apa yang terjadi di pesta yang kalian datangi semalam. Dan saya juga sudah menemukan siapa orang yang telah menjebak Nona Alice. Orang itu adalah Jason O'bero." Jawab Allen.
Brak!!!
Alice menancapkan pisau tajamnya pada daging panggang yang ada di atas piringnya. Allen mengelus dadanya karena kaget. Wajah Alice memerah karena marah. Xander langsung menggenggam tangan Alice.
"Tenangkan dirimu, Alice sayang." Ucap Xander lembut.
"Bagaimana aku bisa tenang? Pria br*ng sek itu harus aku beri pelajaran." Sahut Alice.
"Aku mohon tenangkan dirimu. Aku yang akan mengatasi pria itu. Percayalah. Baj* ngan itu akan membayar mahal atas perbuatannya padamu." Yakin Xander.
"Baiklah." Ucap Alice akhirnya.
Dari arah belakang Allen, datanglah Scott bersama seorang pria yang memakai penutup wajah dan seorang wanita berbaju sangat seksi. Alice mengeraskan rahangnya. Alice ingat wanita itu adalah wanita yang dia lihat bersama Xander saat Alice mendatangi markas Xander.
"Selamat pagi Tuan Xander dan Nona Alice." Sapa Scott.
"Bagaimana kabar Anda, Nona? Sepertinya Anda suka sekali menampilkan kesan yang garang. Tapi itu membuat Anda terlihat semakin cantik dan menawan." Ucap Scott sambil tersenyum.
"Apa kau ingin aku memotong lidahmu dan memberikannya kepada anjing peliharaan Allen, Scott?" Tanya Xander dengan tatapan membunuhnya.
Senyuman di wajah Scott seketika memudar. "Saya minta maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda. Saya hanya bercanda. Nona Alice, saya minta maaf."
Alice tak menjawab. Pandangannya masih tertuju pada wanita seksi yang berdiri di samping Scott. Xander menyadarinya.
"Alice sayang. Kenalkan dia adalah Penelope dan sebelahnya lagi "R". Mereka adalah anak buah dan orang kepercayaanku." Ucap Xander.
Alice terkekeh pelan.
"Anak buah dalam hal apa?" Tanya Alice sinis.
Xander melebarkan matanya lalu menghela napas pelan.
"Penelope, jelaskan kepada calon istriku apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia semakin salah paham." Perintah Xander.
Keempat orang yang berdiri itu membelalakkan mata mereka secara bersamaan.
"C-calon istri?" Teriak Allen dan Scott bersamaan.
Xander hanya mengangguk.
"Sebelumnya izinkan aku untuk memperkenalkan diri, Nona. Namaku Penelope Cruiz dan aku adalah salah satu anak buah Tuan Xander."
"Sebenarnya apa yang Anda lihat di markas Fire Eagle itu tidak seperti apa yang Anda pikirkan. Pria yang bersamaku dan duduk di kursi roda bukanlah Tuan Xander, tapi "R" yang sedang menyamar sebagai Tuan Xander." Terang Penelope.
"Saat itu aku sedang berada di luar negeri. Dan aku meminta "R" menyamar menjadi diriku untuk mengelabuhi rekan bisnis dan para musuhku." Xander menambahkan.
"Katakan sesuatu "R"!"
"Semua yang dikatakan Tuan Xander dan Penelope itu benar, Nona." Ucap "R".
Alice melebarkan matanya saat mendengar suara "R" yang rasanya tidak asing di telinganya. Alice langsung menatap "R" dengan lekat.
"Tatapan mata itu." Batinnya.
"Ada apa, sayang? Apa kau masih tidak percaya padaku?" Tanya Xander yang membuyarkan lamunan Alice.
Alice menggeleng. "Aku percaya padamu. Tapi aku ragu apakah wanita ini benar-benar menganggapmu hanya sebagai Tuannya saja."
"Nona tidak perlu meragukan loyalitas dan profesionalisme yang aku miliki. Aku pastikan bahwa aku tidak akan pernah memiliki perasaan terlarang untuk Tuan Xander. Mana sanggup aku bersanding dengan wanita sehebat Anda, Nona. Membayangkannya saja, aku tidak berani." Yakin Penelope.
Alice melihat kesungguhan dari tatapan mata Penelope.
Selesai sarapan, Xander segera mengantar Alice pulang ke mansionnya. Sepanjang perjalanan Alice terus diam dan tak bersuara. Xander menepikan mobilnya.
"Ada apa sayang? Apa kau masih tidak percaya padaku? Aku berani bersumpah. Aku tidak memiliki hubungan spesial dengan Penelope." Ucap Xander berusaha meyakinkan Alice.
"Aku percaya padamu." Ujar Alice.
"Lalu, mengapa kau terus diam dan mengabaikanku, sayang?" Tanya Xander.
Alice menghela napas.
"Aku hanya merasa sangat marah dan kesal pada Jason. Aku ingin sekali menghajarnya tanpa ampun." Ucap Alice sambil mengepalkan tangannya.
Xander menarik tangan Alice dan menciumnya. "Bukan hanya kau yang marah. Aku lebih marah darimu. Hatiku terasa terbakar saat mengetahui ada pria yang berniat memilikimu dengan cara yang busuk. Aku janji padamu, aku pastikan baj* ngn itu akan menyesal seumur hidupnya karena telah berani mengusik wanita yang paling berharga dalam hidupku."
Alice mengangguk sambil tersenyum. Xander melajukan kembali mobilnya. Dan tak butuh waktu lama, keduanya telah tiba di mansion Keluarga Quinn. Tuan Abraham langsung memeluk Alice.
"Apa kau baik-baik saja, kesayanganku?" Tanya Tuan Abraham khawatir.
"Alice baik-baik saja, Kakek. Beruntung ada Xander yang menyelamatkanku." Jawab Alice.
Tuan Abraham menatap tajam ke arah Xander.
"Apa kau yakin pria ini tidak berbuat macam-macam padamu?"
"Percayalah, Kek. Cucumu ini kembali dalam keadaan utuh tanpa kurang secuil pun." Tegas Alice.
"Sebaiknya kita masuk dan membicarakannya di dalam, Kek."
Alice menarik tangan Tuan Abraham dan menuntunnya masuk ke dalam mansion diikuti Xander di belakang.
"Apa yang akan kau lakukan pada baj* ngan yang bernama Jason itu? Apa kau ingin kakek yang memberikan hukuman padanya?" Tanya Tuan Abraham.
"Tidak, Kek. Aku dan Xander yang akan memberikan pelajaran padanya." Jawab Alice.
Tuan Abraham menyerngitkan dahinya dan menatap curiga. "Apa maksudmu dengan kau dan dia yang akan melakukannya? Apa benar tidak terjadi sesuatu diantara kalian?"
"Benar, Tuan. Tidak terjadi sesuatu seperti yang Anda cemaskan itu, yah meskipun nyaris saja terjadi. Tapi kami masih bisa menahannya." Ucap Xander sambil terkekeh pelan.
"Apa kau bilang? Nyaris saja?" Tuan Xander tersulut emosinya.
"Tenangkan diri Kakek. Aku mohon." Pinta Alice untuk meredakan emosi kakeknya.
Alice menatap tajam ke arah Xander, namun dibalas dengan kerlingan mata.
"Beraninya kau menggoda cucuku di depan mataku!" Bentak Tuan Abraham.
Alice menggenggam tangan Tuan Abraham sambil menampilkan senyum menawannya. Tuan Abraham membuang napasnya kasar. Emosinya seketika mereda begitu melihat senyum manis cucu cantiknya.
"Mengapa kau sudah kembali secepat ini? Apa kau sudah merasa pantas untuk berdampingan dengan cucuku?" Tanya Tuan Abraham sinis yang membuat Alice terkejut.
"Belum, Tuan." Jawab Xander.
"Apa maksud Kakek?" Tanya Alice.
"Sebenarnya pada malam keenam kencan kita, Tuan Abraham datang ke markas Fire Eagle." Ujar Xander.
"Untuk apa?" Alice semakin tidak mengerti.
"Tentu saja untuk memberikan peringatan keras kepadanya agar menjauh darimu. Dan apa kau tahu jawaban dari pria ini? Dengan lantangnya dia mengatakan bahwa dia mencintaimu dan tidak akan pernah menjauh darimu." Ucap Tuan Abraham.
"Lalu apa yang terjadi?" Tuntut Alice.
"Kakek tegaskan padanya, jika dia memang bertekat terus mendekatimu dia harus menjadi pria yang layak dan pantas untukmu. Dia harus menjadi pria yang bisa diandalkan. Dia harus menjadi pria yang bisa menjamin keselamatan dan kebahagiaanmu."
"Jadi, Xander mengambil keputusan besar untuk melakukan operasi karena kakek? Supaya kakek bisa menganggapnya layak berdiri di sampingku." Alice tak percaya.
"Tidak Alice. Sudah sejak lama aku berniat melakukan operasi, namun aku selalu ragu. Dan saat bertemu denganmu niatku semakin bulat untuk melakukannya. Apa yang dikatakan Tuan Abraham memanglah benar. Aku harus menjadi pria yang layak agar bisa bersanding dengan wanita seistimewa dirimu." Ucap Xander yang membuat Alice terharu.
"Jika kau merasa masih belum pantas, mengapa kau kembali secepat ini?" Cerca Tuan Abraham.
"Hati saya terasa sesak, karena saya sangat merindukan cucu Anda, Tuan."
Alice tersipu malu.
Tuan Abraham mendengus kesal. "Sebaiknya kau istirahat sekarang, Alice. Pergilah ke kamarmu."
Alice langsung mengangguk dan tak berani membantah perintah kakeknya.
"Dan kau, ikut aku. Ada yang harus kita bicarakan." Ucap Tuan Abraham sambil menunjuk wajah Xander.
"Baik, Tuan."
Alice menatap kepergian Xander yang mengikuti langkah Tuan Abraham menuju ruang pribadinya, sebelum pergi ke kamarnya.
"Apa yang ingin kakek bicarakan dengan Alex?" Gumam Alice.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. Terpaksa Menikah : Suami Buleku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰