
"Bagaimana keadaan Baginda Raja, tabib Ma?" Tanya Ratu Roseline.
"Kesehatan Baginda sedang menurun Ratu." Jawab tabib Ma. "Apakah Baginda belum makan?"
"Benar tabib. Baginda belum makan. Tadi siang Baginda juga makan sedikit karena terburu-buru. Selain itu, Baginda juga meminum winenya dengan kondisi perut kosong." Jawab Marquess Filan.
Ratu Roseline menyerngitkan dahinya. "Apakah urusan Baginda Raja itu sangat penting sampai dia mengabaikan jam makannya?"
"B-benar Ratu." Jawab Marquess Filan sedikit gugup.
"Sebenarnya urusan penting apa itu?" Cerca Ratu Roseline.
"Nghh..." Lenguh Raja Alec.
"Syukurlah Baginda Raja sudah sadar." Ucap tabib Ma.
Raja Alec membuka matanya secara perlahan dan langsung mencari keberadaan Ratu Roseline.
"Baginda Raja harus banyak istirahat sekarang, hamba akan menyiapkan obat penurun panas dan pengembali stamina tubuh. Tapi sebelum itu, Baginda harus makan terlebih dahulu." Terang tabib Ma.
"Kau siapka saja obatnya tabib. Aku sedang tidak ingin makan." Ucap Raja Alec.
"Pelayan segera membuatkan bubur untuk Baginda Raja!" Perintah Ratu Roseline.
Marie segera pergi ke dapur untuk membuat bubur.
"Tidak perlu Ratu." Tolak Raja Alec dengan suara pelan.
"Aku tidak menerima penolakan." Sahut Ratu Roseline dengan wajah dinginnya.
Raja Alec pun terdiam. Dia tidak ingin mendebat dan membuat Ratu Roseline semakin marah padanya.
"Marie, siapkan air hangat dan kain lap, serta baju ganti untuk Baginda Raja."
"Baik, Ratu."
Marquess Filan dan tabib Ma segera keluar dari kamar meninggalkan Raja dan Ratu berdua. Tak lama kemudian, Marie dan seorang pelayan masuk dengan membawa seember air hangat, kain lap dan baju ganti untuk Raja Alec.
"Kalian berdua keluarlah." Ucap Ratu Roseline.
Keduanya segera keluar dan menutup pintu dari luar. Tanpa berkata apapun, Ratu Roseline membantu Raja Alec untuk duduk. Ratu Roseline membuka baju Raja Alec dengan perlahan. Napasnya sempat tercekat saat kedua mata indahnya menatap tubuh yang terpahat sempurna di depan matanya. Ratu Roseline berusaha untuk mengatur deru napasnya saat menggosok tubuh menggoda itu dengan perlahan.
"Sial! Mengapa jantungku tidak bisa berdetak dengan normal?" gerutu Ratu Roseline dalam hati.
Raja Alec berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Raja Alec.
"Jika Ratu keberatan, biarkan pelayan saja yang melakukannya." Ucap Raja Alec.
Wajah Ratu Roseline langsung berubah dingin dengan tatapan mata yang tajam.
"Jadi kau lebih senang jika tubuhmu disentuh oleh pelayan?" Tanya Ratu Roseline dengan tatapan tajam.
Raja Alec meneguk salivanya dengan kasar. Ucapan yang keluar dari mulutnya seolah telah membangunkan singa betina yang sedang tidur.
"Bu-bukan seperti itu, Ratu. Aku jauh lebih senang jika Ratu yang menyentuh tubuhku. Tidak ada satu perempuan pun yang pernah menyentuh tubuhku, selain Ratu dan Ibu Suri. Yang aku maksud, biarkan pelayan pria yang melakukannya. Aku tidak ingin membuat Ratu terbebani." Terang Raja Alec dengan hati-hati.
Ratu Roseline menghela napas panjang. Tanpa membalas ucapan Raja Alec, Ratu Roseline melanjutkan membersihkan tubuh Raja Alec sambil terus meneguk salivanya. Tangan Ratu Roseline berhenti saat berada di perut Raja Alec bagian bawah.
"Mengapa berhenti Ratu?" Goda Raja Alec sambil tersenyum.
Ratu Roseline langsung melototkan matanya ke arah Raja Alec. Raja Alec segera mengambil kain lap dari tangan Ratu Roseline.
"Akan aku bersihkan sendiri." Ucap Raja Alec dengan lembut.
Ratu Roseline pun membantu Raja Alec memakai baju bagian atasnya. Kemudian, Ratu turun dari ranjang dan menurunkan kain kelambu. Raja Alec segera membersihkan tubuh bagian bawahnya dan mengganti celananya. Setelah Raja Alec selesai, Ratu Roseline memanggil Marie dan menyerahkan baju kotor milik Raja. Pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkuk bubur dan obat dari tabib Ma.
Ratu Roseline mengambil bubur itu dan menyuapi Raja Alec. Raja Alec tidak berani menolak dan memakan bubur itu sampai habis, lalu meminum obatnya. Raja Alec tersenyum bahagia.
"Orang sakit malah tersenyum bahagia." Ujar Ratu Roseline.
"Aku memang sedang bahagia Ratu. Aku rela jika harus sakit seperti ini agar bisa mendapatkan sedikit perhatian darimu, Ratu." Ucap Raja Alec.
"Dasar tidak waras!" Sahut Ratu Roseline.
"Aku memang sudah tidak waras Ratu. Cinta ini membuatku menjadi bodoh dan kehilangan akal sehat." Ucap Raja Alec sambil tersenyum.
Ratu Roseline hanya menghela napas panjang.
"Sebaiknya Baginda istirahat sekarang." Ucap Ratu Roseline mengambil bantal.
"Tidak Ratu. Ratu tidurlah di ranjang. Aku akan kembali ke istanaku." Ujar Raja Alec.
"Ini sudah malam, Baginda. Angin malam tidak baik untuk tubuh Baginda yang masih lemah." Sahut Ratu Roseline.
Raja Alec segera turun dari ranjang.
"Berhenti. Kembali naik ke atas ranjang. Kita tidur bersama malam ini." Ujar Ratu Roseline sambil meletakkan guling di tengah.
Ratu Roseline merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Raja Alec. Raja Alec segera naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan hati bahagia. Obat dari tabib Ma bereaksi dengan cepat sehingga Raja Alec tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur. Ratu Roseline membalikkan badannya saat mendengar dengkuran halus Raja Alec. Ratu Roseline memandangi wajah tampan Raja Alec.
"Seharusnya aku sangat membencinya." Batin Ratu Roseline.
Tanpa sadar jari telunjuk Ratu Roseline menelusuri setiap inch pahatan wajah Raja Alec dan berhenti di bibir Raja Alec. Seketika bayangan mereka saat berciuman muncul diingatan Ratu Roseline. Wajah Ratu Roseline langsung merah merona. Ratu Roseline membalikkan badannya lagi, namun dengan cepat Raja Alec menahannya.
Mata keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Entah siapa yang memulai dulu, kedua bibir mereka sudah terpaut dan saling beradu. Terdengar suara cecapan dari keduanya seolah sedang menyesap rasa manis yang menjadi candu. Setelah cukup lama, tautan bibir mereka pun terlepas dengan napas keduanya yang terengah-engah.
"Terima kasih, Ratu. Obat yang kau berikan sangatlah manis." Ucap Raja Alec sambil tersenyum.
Tanpa menjawab, Ratu Roseline langsung membalikkan badannya dan membelakangi Raja Alec lagi. Ratu Roseline menutup matanya dan berusaha menormalkan jantungnya yang seakan sedang melompat-lompat. Sedangkan Raja Alec berusaha menahan hasratnya yang telah bangkit dari tidur lamanya.
Keesokan paginya, Ratu Roseline bangun dan tidak mendapati Raja Alec di sampingnya.
"Marie!" Panggil Ratu Roseline.
Marie segera masuk dan menghampiri junjungannya.
"Di mana Baginda Raja?" Tanya Ratu Roseline.
"Pagi-pagi sekali, Baginda Raja kembali ke istana raja, Yang Mulia." Jawab Marie.
"Kalau begitu tolong siapkan air mandiku."
"Baik, Yang Mulia." Marie segera menyiapkan air hangat untuk Ratu Roseline.
Selesai mandi, Ratu Roseline menikmati sarapan paginya di kamar. Felix masuk dan menghadap Ratu Roseline.
"Ada apa Felix? Apakah ada hal yang penting?" Tanya Ratu Roseline.
"Ratu Cetta pingsan, Yang Mulia. Sepertinya penyakitnya kambuh lagi." Jawab Felix.
Ratu Roseline segera beranjak dan meninggalkan sisa makanannya. Dengan langkah cepat, dia menuju paviliun tamu, lebih tepatnya kamar yang ditempati oleh Ratu Cetta. Saat Ratu Roseline masuk, pelayan Ratu Cetta hendak meminumkan obat kepada Ratu Cetta yang baru saja siuman.
"Berhenti!" Seru Ratu Roseline.
Pelayan itu tersentak.
Ratu Roseline berjalan mendekat dan merampas cairan obat itu. Ratu Roseline mendekatkan obat itu ke hidungnya, lalu membuang obat itu dengan menyiramkannya ke dalam pot yang berisi tanaman hias.
"Ada apa Ratu? Mengapa kau membuang obat itu?" Tanya Raja Abraham tak terima.
"Ini bukan obat, tapi racun." Jawab Ratu Roseline.
"Racun? Itu tidak mungkin. Ratuku selalu meminumnya saat penyakitnya kambuh. Omong kosong apa ini?" Bentak Raja Abraham.
"Tenangkan dirimu, Abraham. Ratuku ahli dalam ilmu pengobatan." Sahut Raja Alec yang baru tiba.
"Itu artinya selama ini kalian telah memberikan racun kepada Ratu Cetta sedikit demi sedikit dalam jangka waktu lama."
"Benar begitu, pelayan?" Tanya Ratu Roseline kepada pelayan Ratu Cetta sambil menyeringai.
Pelayan Ratu Cetta langsung gemetar karena ketakutan.
"Apa semua itu benar, Mayya?" Tanya Ratu Cetta pelan.
Tubuh Mayya langsung merosot ke lantai.
"Hamba minta maaf, Yang Mulia. Hamba terpaksa melakukannya." Ucap Mayya sambil terisak.
"Apa maksud dari ucapanmu, pelayan Mayya?" Teriak Raja Abraham.
Dengan cepat Mayya meneguk cairan dari botol kecil yang dia simpan di dalam saku bajunya. Tak lama kemudian tubuh Mayya jatuh ke atas lantai dengan mulut berbusa. Ratu Roseline memeriksa denyut nadi Mayya.
"Pelayan ini sudah tak bernyawa." Seru Ratu Roseline.
Ratu Cetta sangat ketakutan dan histeris. Raja Abraham langsung memeluk istrinya dan berusaha menenangkannya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku