I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 69. Pengakuan 2



Raja Alec segera kembali ke tenda Ratu Roseline.


"Bagaimana kondisinya, Marie?" Tanya Raja Alec.


"Syukurlah demam Yang Mulia Ratu sudah berangsur turun, Baginda." Jawab Marie tersenyum senang.


"Terima kasih. Kau telah bekerja dengan baik. Kau boleh istirahat sekarang. Aku yang akan menjaga dan merawatnya." Ucap Raja Alec.


Marie keluar dan menutup pintu tenda dengan rapat. Raja Alec merebahkan tubuhnya di samping Ratu Roseline yang masih terlelap. Raja Alec menarik tubuh Ratu Roseline ke dalam pelukannya.


"Mengapa di saat aku ingin meraih kebahagiaan denganmu, selalu saja ada rintangan yang menghadang? Aku ingin sekali membahas masalah ini denganmu, Alice. Aku yakin kau pasti bisa memberikan saran dan ide yang luar biasa dari otak geniusmu ini. Dan aku juga tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kita." Ucap Raja Alec sambil mengusap rambut Ratu Roseline.


Keesokan paginya, utusan dari Kerajaan Liam tiba. Raja Alec segera menemui utusan itu bersama Raja Abraham, dan dengan terpaksa meninggalkan Ratu Roseline yang masih tidur. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Putri Viviane semalam, jika anak buah Raja Henry telah menculik dan menyandera Ratu Cetta.


Begitu mendengar kabar bahwa istrinya yang sedang mengandung diculik, Raja Abraham sangat murka. Hampir saja dia menebas kepala utusan itu, namun dengan cepat, Raja Alec menahannya.


"Tahan emosimu, Raja Abraham. Salah bergerak sedikit saja, nyawa Ratumu yang akan menjadi taruhannya." Ucap Raja Alec.


"Katakan, apa yang diinginkan oleh Raja Henry?" Pancing Raja Alec.


"Baginda Raja ingin membuat kesepakatan. Baginda Raja Henry akan melepaskan Ratu Cetta jika Raja Alec bersedia untuk menikah dengan Putri Viviane dan menjadikan Putri Viviane sebagai Ratu di Kerajaan Cardania." Utusan menunjukkan wajah angkuhnya.


"Omong kosong! Beraninya pria tua bangka itu membuat kesepakatan gila seperti itu." Bentak Raja Abraham.


"Semua keputusan ada di tanganmu, Raja Alec. Dan satu hal lagi, dengan bergabungnya dua kerajaan kita, Raja Alec akan menjadi raja yang paling berkuasa." Ucap utusan itu.


"Persetan dengan kesepakatan ini. Aku akan menyerang kerajaan Liam dan menyelamatkan Ratuku. Sedikit saja kalian berani menyentuhnya, aku tidak segan-segan untuk menguliti kalian."


Raja Abraham keluar dari ruangan Raja Alec dan pergi dengan terburu menuju Kerajaan Liam bersama para prajuritnya.


"Jika sampai terjadi pertempuran antara prajurit Kerajaan Liam dengan Kerajaan Sun, sudah dipastikan Kerajaan Sunlah yang akan sangat dirugikan. Karena Raja Henry tidak akan membiarkan Ratu Cetta bebas dalam keadaan hidup. Bagaimana Raja Alec? Apa keputusanmu?" Ucap tusan itu sambil menyunggingkan bibirnya.


Raja Alec menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Katakan kepada Raja Henry, aku menerima kesepakatan ini. Satu minggu dari sekarang rombongan dari kerajaan Cardania akan tiba di kerajaan Liam."


Utusan dari Kerajaan Liam tersenyum bahagia karena misinya telah berhasil. Dia pun segera berpamitan pulang ke kerajaannya untuk menyampaikan berita besar ini kepada Raja Henry.


Raja Alec terkejut saat mengetàhui Ratu Roseline menghilang. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata Ratu Roseline telah mendengar percakapannya dengan utusan dari Kerajaan Liam dan membuatnya salah paham. Raja Alec berusaha menutupi kecemasan yang melanda dirinya. Dia harus tetap bersandiwara, karena nyawa Ratu Cetta yang masih dalam bahaya.


Raja Alec mengirimkan prajuritnya untuk mencari keberadaan Ratu Roseline beserta Keluarga Duke Sullivan. Saat mendapat laporan tentang hilangnya Arabella, Marie, dan Felix, Raja Alec bersikap seolah tak peduli dan tetap melanjutkan sandiwaranya.


Raja Alec menemui prajurit kepercayaannya di labirin Sesat pada malam harinya. Prajurit bayangan Raja Alec membawakan plakat milik Raja Henry yang telah dijanjikan oleh Putri Viviane.


"Kerja bagus, Clay. Dengan adanya plakat ini di tanganku, Raja Henry tidak akan bisa berkutik." Ucap Raja Alec sambil menyeringai.


"Benar, Baginda. Putri Viviane juga berpesan agar Baginda mempercepat keberangkatan menuju Kerajaan Liam. Karena Selir Raja Henry dan anak buahnya telah membuat rencana jahat untuk Putri Viviane dan juga Baginda." Ucap Clay.


"Aku mengerti. Lalu bagaimana dengan keberadaan Ratu Roseline? Apa kau sudah menemukannya?"


"Ratu dan keluarganya berada di desa Sherya, kediaman Tuan Ronaf. Kami hanya bisa mengawasi mereka dari jauh, karena Duke Ramon telah menempatkan prajurit terbaiknya menyebar di sekitar desa tersebut." Jawab Clay.


"Aku mengerti. Awasi terus pergerakan mereka. Aku tidak ingin kalian sampai kehilangan jejak mereka sebelum aku datang."


"Baik, Baginda."


Setelah Ratu Cetta berhasil dibebaskan, Raja Alec dan rombongannya segera pergi menuju Kerajaan Liam. Kedatangan Raja Alec tentu saja sangat mengejutkan Raja Henry dan keluarga istana Liam, kecuali Putri Viviane. Di depan banyak orang, Putri Viviane bersikap genit dan berusaha untuk merayu Raja Alec.


"B-bagaimana bisa kau mendapatkan plakat Raja dari Kerajaan Liam, Raja Alec?" Tanya Raja Henry yang terkejut sekaligus marah.


"Tidak peduli dari mana aku mendapatkannya, Raja Henry. Dengan adanya plakat ini di tanganku, itu artinya akulah penguasa Kerajaan Liam saat ini." Ujar Raja Alec sambil menyeringai.


"Apa yang kau inginkan sekarang, Raja Alec? Apa kau ingin membunuhku?"


"Keinginanku yang pertama, batalkan rencana pernikahanku dengan Putri Viviane. Karena aku tidak akan pernah mengkhianati Ratuku. Namun untuk sementara waktu kau harus merahasiakannya dari siapapun sampai waktunya tiba."


Raja Henry mengeraskan rahangnya. Niatnya memiliki menantu sehebat Raja Alec akhirnya kandas begitu saja. Bukan tanpa alasan, Raja Henry sengaja ingin membuat ikatan dengan Raja Alec agar dia bisa menjatuhkan Kerajaan Sun dengan mudahnya dan merebut gunung emas yang telah diincarnya selama ini.


"Yang kedua, temui aku nanti malam secara rahasia. Anak buahku yang akan memberikan petunjuk ke tempat yang harus kau tuju. Dan ingat hanya kita yang mengetahui masalah ini."


Raja Alec meninggalkan Raja Henry yang berusaha menahan amarahnya. Pada malam harinya, Raja Henry memenuhi permintaan Raja Alec. Dia diarahkan ke sebuah gudang yang terletak di belakang istana Ratu. Raja Henry tercengang dan sangat marah saat melihat siapa yang berada di dalam gudang itu.


Selir Maria sedang berpelukan mesra dengan seorang pria yang tidak asing bagi Raja Henry. Raja Henry hendak masuk dan menggrebek kedua orang itu, namun Putri Viviane mencegahnya.


"Tahan dulu emosimu Ayah, dan dengarkan saja apa yang sedang mereka bicarakan." Bisik Putri Viviane.


Raja Henry menuruti apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


"Kau kelihatannya sedang kesal, Mariaku sayang?" Tanya pria yang sedang bermesraan dengan Selir Maria.


"Bagaimana aku tidak kesal, Gaston? Raja Alec mempercepat kedatangannya. Padahal rencanaku sudah aku susun dengan matang. Aku akan memberikan kejutan yang luar biasa untuk anak sialan itu, Viviane." Jawab Selir Maria dengan wajah kesalnya.


Gaston duduk di atas kursi dan menempatkan Selir Maria di atas pangkuannya. "Apa kau akan melakukan hal yang sama, seperti yang telah kau lakukan beberapa tahun yang lalu?"


"Tentu saja. Aku akan membuat Viviane menderita seperti ibunya dulu. Aku bukan hanya membuat rumor bahwa Viviane memiliki pria idaman lain, tapi aku juga telah membayar mahal pria itu untuk menyetu buhi Viviane sepuasnya. Aku yakin anak sombong itu pasti akan hancur dan menjadi gila." Ucap Selir Maria sambil tertawa.


Raja Henry mengepalkan tangannya dengan wajah yang semakin memerah.


"Kau memang wanita yang luar biasa, sayang." Puji Gaston.


"Aku bukan hanya luar biasa, tapi aku adalah wanita yang hebat dalam segala hal. Aku telah berhasil membuat Raja Henry yang bodoh itu jatuh ke dalam pelukanku. Dan aku juga dengan mudahnya membuat dia percaya bahwa istrinya, Eklesia telah berselingkuh dengan pria lain. Bahkan Raja bodoh itu sampai membenci putranya sendiri, Pangeran Erland. Sampai saat ini, Raja Henry percaya jika Pangeran Erland adalah anak hasil perselingkuhan Eklesia dengan kekasih gelapnya." Aku Selir Maria dengan bangganya.


"Dan yang paling diuntungkan nantinya adalah Viola." Sahut Gaston.


"Tentu saja. Putri kita yang akan menikah dengan Raja Alec dan naik tahta. Viola bukan hanya menjadi penguasa di Kerajaan Liam, tapi juga penguasa dari beberapa kerajaan. Karena Viola akan menjadi Ratu di Kerajaan Cardania." Jawab Selir Maria.


Raja Henry melebarkan matanya mendengar pengakuan Selir Maria tentang Putri Viola.


"Wanita itu benar-benar iblis. Aku akan membunuhnya." Geram Raja Henry.


Raja Henry menarik pedangnya dan mendobrak pintu gudang sehingga mengagetkan Selir Maria dan Gaston yang sedang bercumbu.


"B-baginda." Selir Maria langsung melompat dari pangkuan Gaston dengan wajah ketakutan.


"Dasar wanita iblis!" Raja Henry mengarahkan pedangnya dan menebas leher Selir Maria tanpa ampun.


"Maria!" Teriak Gaston.


Gaston yang melihat kekasihnya dibunuh, langsung mengambil pedangnya. Gaston menyerang Raja Henry secara membabi buta. Putri Viola yang mendengar keributan, langsung masuk dan mendapati tubuh ibunya tanpa kepala tergeletak di atas lantai.


"Ibu!"


Putri Viola mendekati jasad ibunya sambil menangis meraung-raung. Putri Viviane hanya memberikan ekspresi datar di wajahnya. Tidak ada rasa belas kasihan sedikitpun. Putri Viola melihat Raja Henry yang menghajar Gaston, ayah kandungnya tanpa ampun. Putri Viola mengambil pisau dari dalam sakunya dan berusaha menusuk Raja Henry dari belakang.


Putri Viviane yang mengetahuinya, langsung memegang mata pisau itu saat akan mengenai punggung Raja Henry.


"Takkan kubiarkan kau melukai keluargaku lagi." Ucap Putri Viviane dengan darah yang mengucur dari tangannya.


Putri Viviane berhasil merampas pisau itu dan membuangnya asal. "Prajurit. Bawa wanita ini dan jebloskan ke dalam penjara bawah tanah. Dia harus menanggung hukuman atas kejahatan telah dia dan ibunya lakukan selama ini."


Viola dan Gaston segera digiring menuju penjara bawah tanah. Raja Henry terduduk sambil menangis. Dia menyesal atas apa yang telah dia lakukan kepada Ratu Eklesia dan Pangeran Erland.


Setelah kejadian itu, Raja Henry memutuskan untuk turun tahta dan menobatkan Putri Viviane sebagai penggantinya, namun ditolak oleh Putri Viviane.


"Tidak, Ayah. Aku tidak ingin menjadi Ratu. Yang layak menduduki tahta adalah adikku, Pangeran Erland. Dan aku mempunyai keinginan yaitu hidup bebas di luar Kerajaan Liam."


Raja Henry akhirnya menyetujui permintaan Putri Viviane dan mengangkat Pangeran Erland menjadi Raja yang baru. Raja Henry juga menggelar pernikahan besar antara Pangeran Erland dengan kekasihnya, Miranda, putri dari salah satu bangsawan Liam.


Flashback Off.


"Begitulah yang sebenarnya terjadi Alice. Aku bersumpah apa yang aku katakan adalah kejujuran. Kau bisa menanyakannya langsung kepada Putri Viviane." Ucap Raja Alec.


Ratu Roseline tersenyum sinis. "Jika memang tidak terjadi apa-apa diantara kalian, mengapa kalian terlihat sangat mesra? Kau bahkan telah tinggal di kamar yang sama dengan Putri Viviane."


Raja Alec menghela napas panjang.


"Yang pertama, aku terpaksa harus bersandiwara di depanmu dan keluargamu. Jujur saja, aku ingin mengetahui apakah kau cemburu atau tidak supaya aku tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku."


"Kedua, Putri Viviane juga mempunyai tujuan tersendiri untuk memanas-manasi pria yang dia cintai selama ini."


"Ketiga, apa yang terjadi di kamar Putri Viviane tidak seperti yang kau pikirkan. Aku menemuinya untuk memintanya agar mengakhiri sandiwara ini karena aku tidak ingin membuatmu semakin membenciku. Dan kebetulan, dokter istana sedang mengobati tangan Viviane dan mengganti kain pembalutnya."


"Suara Viviane yang menjengkelkan itu keluar bukan karena kami sedang melakukan hal yang menjijikkan, melainkan dokter harus menjahit kembali luka Viviane yang terbuka dan terus mengeluarkan darah." Pungkas Raja Alec.