I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 75. Mengenalimu



Ratu Roseline tidak bisa tidur meskipun dia sudah berusaha memejamkan kedua matanya. Berkali-kali dia mengubah posisi tidurnya agar mendapatkan posisi ternyaman, namun dia tetap tidak bisa tidur. Ratu Roseline pun bangun dan duduk di tepi ranjang sambil mengayunkan kedua kakinya.


"Marie. Apa kau sudah tidur?" Tanyanya.


"Belum, Nona. Apa Nona menginginkan sesuatu? Hamba perhatikan sejak tadi Nona terlihat resah dan tidak bisa tidur." Sahut Marie yang duduk di atas kasur lantai yang tak jauh dari ranjang Ratu Roseline.


Ratu Roseline mengangguk pelan. Marie segera datang menghampiri dengan senyuman di wajahnya.


"Apa Nona ingin makan sesuatu?"


Ratu Roseline menggeleng.


"Lalu, apa yang Nona inginkan?" Tanyanya lagi.


Ratu Roseline mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya, nampak ada keraguan di wajahnya.


Tok! Tok! Tok! (Terdengar suara pintu diketuk)


"Ada apa?" Terdengar teriakan dari dalam kamar.


"Mohon ampun, Baginda Raja. Pelayan Marie ingin menemui Baginda." Jawab seorang penjaga.


Raja Alec segera membuka pintu dengan terburu.


"Ada apa Marie? Ratu baik-baik saja, kan?" Tanya Raja Alec.


"Yang Mulia Ratu baik-baik saja, Baginda. Hanya saja, Ratu tidak bisa tidur dan menginginkan sesuatu." Jawab Marie.


Dengan langkah panjangnya, Raja Alec segera menuju kamar Ratu Roseline. Di dalam kamarnya, Ratu Roseline duduk sambil memilin jari tangannya karena gugup.


"Ratu, Baginda Raja sudah datang." Lapor Marie yang mengagetkan Ratu Roseline.


"Suruh dia masuk, Marie." Jawabnya.


Raja Alec segera masuk dan berdiri agak jauh dari tempat tidur Ratu Roseline.


"Marie bilang kepadaku jika kau tidak bisa tidur dan menginginkan sesuatu. Katakan, apa yang kau inginkan Alice? Aku pasti akan mendapatkannya untukmu." Ucap Raja Alec dengan senyum bahagia yang mengembang membuat Ratu Roseline semakin gugup.


"Aku... Aku ingin...." Ratu Roseline ragu untuk mengatakannya.


Marie segera keluar sambil menutup pintu dengan ekspresi menahan tawa.


"Katakan Alice. Apa kau ingin makan kelinci hutan lagi? Aku akan segera mendapatkannya untukmu." Kata Raja Alec.


"Tidak. Aku tidak ingin makan apapun." Jawab Ratu Roseline dengan cepat.


Raja Alec terlihat bingung.


"Aku ingin kau mengelus perutku agar aku bisa tidur." Ucap Ratu Roseline sambil menahan malu.


Raja Alec langsung tertawa membuat wajah Ratu Roseline semakin masam karena kesal. Raja Alec langsung menghentikan tawanya saat mendapat tatapan tajam dari wanita yang sangat dicintainya itu.


"Ekhm!" Dehem Raja Alec. "Kalau begitu tidurlah. Aku akan mengusap perutmu sampai kau tertidur."


"Tapi kau jangan berusaha untuk berbuat macam-macam atau aku akan menebas lehermu!" Ancam Ratu Roseline.


"*Ya Tuhan, imut sekali wajahnya. Saat si kembar lahir nanti pasti sangat imut dan menggemaskan seperti ibunya*." Batin Raja Alec.


"Mengapa kau tersenyum? Kau sedang menertawakanku ya?" Ratu Roseline memicingkan matanya.


Raja Alec langsung mengangkat tubuh Ratu Roseline dan meletakkan secara perlahan di atas ranjang. Setelah itu Raja Alec mengambil sebuah kursi lalu duduk di samping ranjang. Ratu Roseline berguling dan menghadap ke samping dengan posisi membelakangi posisi Raja Alec. Dia tidak ingin degupan jantungnya semakin tidak karuan. Raja Alec mulai mengelus perut Ratu Roseline dengan lembut.


Ratu Roseline memejamkan matanya. "Oh, nyaman sekali. Kalian berdua pasti sedang merindukan ayah kalian."


"Bagaimana jika Baginda kembali ke istana suatu saat nantinya? Pastinya kedua anakku akan merindukannya." Ratu Roseline langsung membuka matanya kembali.


"Ada apa Alice?" Tanya Raja Alec.


Ratu Roseline hanya menggelengkan kepalanya. Raja Alec terus mengelus perut buncit Ratu Roseline dan satu tangannya mengusap bagian punggung. Tak butuh waktu lama, Raja Alec mendengar dengkuran pelan. Raja Alec menarik selimut untuk menutupi tubuh Ratu Roseline.


"Tidurlah yang nyenyak Alice." Bisik Raja Alec, lalu dia menci um kening Ratu Roseline sebelum keluar dari kamar.


"Baginda." Seru Marie.


"Masuklah Marie dan temani Alice tidur. Jika dia terbangun dan tidak bisa kembali tidur, beri tahu aku." Kata Raja Alec.


"Baik, Baginda." Jawab Marie sambil tersenyum.


Keesokan harinya, Ratu Roseline bangun dengan hati bahagia.


"Sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini." Gumannya sambil meregangkan kedua tangannya.


"Syukurlah akhirnya Nona bisa tidur nyenyak. Semua berkat Baginda Raja." Celetuk Marie.


Ratu Roseline seketika terdiam dengan pipi merona.


"Nona terlihat menggemaskan sekali jika sedang malu seperti ini." Goda Marie.


Ratu Roseline mendengus kesal.


"Tadi Putri Viviane datang kemari saat Nona masih tidur." Ujar Marie.


"Putri Viviane?" Ratu Roseline menyerngitkan dahinya.


Selesai membersihkan diri dan menghabiskan sarapannya, Ratu Roseline pergi menuju kamar Putri Viviane.


"Apa kau yakin akan pergi dari sini, Vi?" Terdengar suara Raja Alec.


"Aku yakin, Baginda." Jawab Putri Viviane.


Ratu Roseline menghentikan langkahnya. "Baginda Raja berada di kamar Putri Viviane."


Marie menyentuh bahunya dan membuat Ratu Roseline tersentak dari lamunannya.


"Nona." Lirihnya.


Ratu Roseline mengangguk.


"Apa kau akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan cinta Duke Ramon?" Lanjut Raja Alec.


"Mencintai tidak harus memiliki. Duke Ramon mencintai wanita lain dan dia tidak ingin mengkhianati wanita itu. Akan lebih baik jika aku pergi sehingga aku bisa melupakan cintaku kepadanya." Ujar Putri Viviane.


"Mohon maaf Baginda dan Tuan Putri, ada Ratu Roseline." Lapor pelayan.


Raja Alec langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Jangan salah sangka Ratu, aku bisa menjelaskannya." Ucap Raja Alec.


"Silakan masuk, Yang Mulia." Seru Putri Viviane.


Ratu Roseline masuk dan duduk. Raja Alec pun duduk di sampingnya.


"Aku harap Ratu tidak berprasangka buruk kepada kami." Ucap Putri Viviane dengan wajah yang terlihat agak sembab.


Ratu Roseline tersenyum. "Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Apakah benar kau akan pergi dari sini, Putri?"


"Benar Ratu." Lirih Putri Viviane.


"Jadi kau tadi datang ke kamarku untuk mengatakan hal itu." Ujar Ratu Roseline.


"Sebenarnya aku berharap kau tetap tinggal di sini bersama kami. Tapi jika itu sudah menjadi keinginanmu, maka aku tidak akan menghalangimu. Jika Putri memang berniat pergi, tunggulah sampai badai salju berhenti."


"Terima kasih, Ratu." Ucap Putri Viviane sambil tersenyum.


Putri Viviane bersikeras untuk pergi, Raja Alec pun memerintahkan beberapa prajurit bayangannya untuk mengawal Putri Viviane.


"Ya. Aku tahu." Jawab Duke Ramon singkat.


"Apa kakak tidak berniat untuk menahannya? Dia pergi karena kakak telah mematahkan hatinya." Cerocos Ratu Roseline.


Duke Ramon mendengus kesal. "Apa dia mengadu dan merengek padamu?"


"Tidak sama sekali. Putri Viviane bahkan tidak membahas tentangmu, Kak. Namun aku tahu jika dia sedang patah hati saat ini. Dan itu semua karenamu." Jawab Ratu Roseline.


"Perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan, Alice."


"Jadi benar di dalam hati kakak ada seorang wanita yang kakak cintai?"


Duke Ramon mengangguk.


"Tapi mengapa aku tidak mengetahuinya? Maksudku dari ingatan yang ditinggalkan oleh Ratu Roseline, tidak ada satupun ingatan tentang kisah cinta kakak."


Duke Ramon tersenyum simpul. "Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, Alice. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Siane."


"Jadi namanya Siane?"


Duke Ramon mengangguk. "Sepuluh tahun yang lalu, sebulan setelah kepergian ibu aku memutuskan untuk ikut prajurit kerajaan pergi ke perbatasan yang letaknya dekat dengan pantai Eros. Setiap hari aku pergi ke pantai untuk mengobati rasa sedihku. Dan di sanalah aku bertemu dengan Siane, gadis cantik yang lemah lembut. Kami memiliki nasib yang sama, yaitu kehilangan seorang ibu."


"Baik aku maupun Siane tidak pernah mengatakan jati diri kami yang sebenarnya. Aku hanya tahu jika dia datang ke Kerajaan Cardania bersama salah seorang bangsawan yang juga berprofesi sebagai pedagang. Semakin lama rasa cinta itupun tumbuh di hati kami."


"Lalu di mana Siane berada sekarang? Mengapa kakak menikah dan tidak hidup bersamanya?"


"Saat itu pasukan dari Kerajaan Brilian yang di bawah pimpinan Raja terdahulu menyerang Kerajaan Cardania melalui jalur pantai Eros. Aku ikut bertempur bersama prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raja Alec. Peperangan itu menjadi awal kemenangan dan kejayaan Raja Alec."


"Setelah perang selesai, aku mendapatkan sebuah surat dari Siane. Siane mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan dia harus pergi dari Kerajaan Cardania untuk menyelamatkan diri. Siane juga mengatakan jika suatu saat nanti kami akan bertemu kembali. Di dalam suratnya, Siane mengatakan jika dirinya telah berjanji hanya akan menikah denganku seorang." Pungkas Duke Ramon.


"Apa kakak yakin jika Siane masih hidup? Dan apakah kakak juga yakin jika Siane masih menunggu kakak?"


"Kakak yakin."


"Lalu bagaimana caranya supaya kakak bisa mengenalinya? Dalam waktu sepuluh tahun, seseorang pasti mengalami perubahan terutama pada fisiknya." Tanya Ratu Roseline penasaran.


"Aku pasti bisa mengenalinya, Alice." Yakin Duke Ramon.


Putri Viviane segera bersiap bersama para pelayannya setelah memastikan badai salju telah berakhir. Putri Viviane pergi ke kamar Ratu Roseline untuk berpamitan. Secara tidak sengaja dia berpapasan dengan Duke Ramon.


"Tuan Duke." Sapa Putri Viviane sambil memberi hormat.


"Tuan Putri." Balas Duke Ramon sambil menundukkan kepalanya sebentar lalu pergi tanpa berucap satu kata pun. Putri Viviane berusaha menahan pedih di hatinya dan melanjutkan langkahnya untuk menemui Ratu Roseline.


Ratu Roseline mengantarkan Putri Viviane sampai ke halaman depan tempat di mana kereta kuda yang telah menunggu.


"Hati-hati Putri dan jaga kesehatanmu." Ucap Ratu Roseline saat keduanya berpelukan.


"Terima kasih, Ratu. Ratu juga harus selalu menjaga kesehatan. Semoga Ratu dan para calon penerus Baginda Raja selalu sehat dan selamat." Balas Putri Viviane.


Putri Viviane bersalaman dengan Raja Alec. "Berhati-hatilah. Anak buahku yang akan mengantarmu sampai kau tiba di tempat tujuanmu. Dan tetaplah menjadi wanita yang kuat dan tangguh."


"Terima kasih, Baginda."


"Aku doakan semoga hubungan kalian berdua segera membaik. Kalian adalah pasangan yang sangat serasi." Bisik Putri Viviane.


Raja Alec mengangguk sambil tersenyum senang. Ratu Roseline terlihat cemburu namun dia berusaha menutupinya.


Putri Viviane juga berpamitan dengan Duke Sullivan dan Tuan Ronaf. Tak lupa juga dengan Arabella. Sikap Arabella sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setelah itu Putri Viviane masuk ke dalam kereta dan pergi meninggalkan kediaman Tuan Ronaf.


"Mengapa kalian berdua terlihat tergesa-gesa seperti itu?" Tanya Duke Ramon kepada dua orang pelayan yang terlihat berlarian.


"Ampun Tuan Duke. Kami harus segera mengejar kereta kuda Putri Viviane."


"Tuan Putri tidak sengaja menjatuhkan gelangnya. Hamba yakin ini bukan gelang tangan biasa, karena Putri Viviane tidak pernah melepasnya sama sekali." Terang pelayan.


Duke Ramon melihat gelang yang berada di tangan pelayan itu dan mengambilnya. Duke Ramon membulatkan matanya.


"Dasar ceroboh." Gumamnya sambil tersenyum tipis.


Putri Viviane terus melamun sambil melihat pemandangan dari balik kaca. Wajahnya terlihat sangat murung. Cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Tiba-tiba kereta kudanya berhenti secara mendadak.


"Apa yang terjadi? Mengapa kalian berhenti secara mendadak?" Tanya Putri Viviane.


"Mohon ampun, Putri. Ada yang menghadang kereta kuda kita." Jawab seorang prajurit.


"Putri. Duke Ramon yang menghadang kereta kuda kita." Lapor pelayan setia Putri Viviane.


Putri Viviane segera menghapus aur matanya dan turun dari kereta. Dia melihat Duke Ramon turun dari kuda dengan wajah dinginnya. Putri Viviane berjalan ke arah Duke Ramon.


"Ada apa Duke? Mengapa kau menghentikan kereta kudaku?" Tanya Putri Viviane.


Duke Ramon bukannya menjawab, malah berjalan mendekati sang kusir.


"Bawa kembali kereta kuda ini ke kediaman Tuan Ronaf." Ucap Duke Ramon.


Prajurit dan pelayan Putri Viviane dibuat terkejut.


"Apa maksudmu, Duke? Biarkan kami pergi. Aku akan pergi jauh dan menghilang dari hadapanmu, sesuai keinginanmu." Ucap Putri Viviane dengan wajah marahnya.


"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana. Sebaiknya kalian semua segera kembali ke kediaman Tuan Ronaf sebelum badai salju menerjang tubuh kalian." Teriak Duke Ramon.


Para prajurit dan pelayan Putri Viviane pun langsung menurut dan kembali ke kediaman Tuan Ronaf.


"Kau benar-benar keterlaluan, Tuan Duke!" Bentak Putri Viviane.


Duke Ramon menghampiri Putri Viviane dengan wajah es baloknya. Duke Ramon menarik tubuh Putri Viviane sehingga dada keduanya saling bertabrakan.


"Kaulah yang sudah keterlaluan. Beraninya kau berniat untuk pergi lagi dari hidupku, Siane."


Putri Viviane membelalakkan matanya.


"Kau?"


Duke Ramon tersenyum lalu dengan cepat meraup bibir ranum Putri Viviane dan melu matnya dengan lembut. Duke Ramon menghentikan pagutannya dan menakup wajah Putri Viviane.


"Maafkan aku yang terlamat mengenalimu, Siane-ku sayang." Lirihnya.


Putri Viviane tak kuasa menitikkan air matanya kembali, namun ini adalah air mata bahagia. "Terima kasih karena kau telah mengenaliku, Ramon-ku."


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰