
Alice segera bersiap setelah menyelesaikan kegiatan memasaknya. Pagi ini Alice telah memasak salah satu makanan khas dari Indonesia, yaitu rendang. Mengingat Xander suka sekali menyantap makanan hasil olahan daging sapi. Alice meneliti penampilannya dari pantulan cermin sambil tersenyum tipis. Untuk kencan kali ini dia memilih gaya casual dengan memadukan v-neck blouse putih dan straight pants berwarna kuning, sehingga menampilkan gaya yang minimalis dan effortlessly stylish.
Dari jendela kamarnya, Alice melihat mobil Xander baru saja tiba di halaman mansion. Alice menyunggingkan bibirnya. Dia kembali ke depan cermin untuk melihat penampilannya lagi. Rambut yang diikat ekor kuda membuatnya terlihat semakin mempesona.
"Mengapa aku harus sesenang ini?" Alice heran dengan dirinya sendiri.
"Biasa saja, Alice. Jangan buat si XS itu besar kepala. Aku hanya ingin membalas kebaikannya yang telah membuat hatiku senang kemarin. Hanya itu saja. Dan setelah kontrak kencan ini selesai aku akan mendapatkan kalungku kembali dan hidupku terbebas darinya." Gumamnya.
Alice segera turun menggunakan lift. Saat berada di ruang tamu Alice terkejut melihat Scott, anak buah Xander duduk di sofa. Scott segera berdiri dan memberi hormat.
"Selamat pagi, Nona Quinn." Sapa Scott sambil tersenyum seperti biasa.
"Pagi. Di mana bossmu?" Tanya Alice dingin.
"Silakan duduk, Nona." Ucap Scott.
"Aku yang tuan rumah di sini." Sahut Alice ketus.
"Aku tanya, di mana bossmu? Dan mengapa wajah menyebalkanmu yang muncul di hadapanku?"
Scott terkekeh mendengar kalimat hinaan itu. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan pedas Alice.
"Sebaiknya Nona duduk dulu."
Alice segera menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Sekarang jawab pertanyaanku." Tuntut Alice.
Scott menyodorkan sebuah paper bag yang telah dia letakkan di atas meja ke hadapan Alice. Dengan wajah kesal, Alice mengambil paper bag itu dan membukanya. Alice mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna hitam lalu membukanya.
"Ini kan?" Suaranya tercekat saat melihat kalung bertahtakan permata Rubi miliknya.
"Tuan Xander memberikan kalung ini untuk Nona." Ujar Xander.
"Mengapa? Bukankah kontrak kencannya masih tersisa satu hari lagi?" Tanya Alice tak mengerti.
"Katakan padaku, di mana Xander sekarang?"
"Tuan Xander sudah meninggalkan negara ini, Nona." Jawab Scott.
Alice membulatkan matanya.
"Maksudmu dia pergi."
Scott mengangguk. "Tuan Xander telah mengakhiri kontrak kencan kalian dan menyerahkan kalung rubi ini kepada Anda."
Napas Alice tercekat. Ada rasa kecewa, kesal dan marah berkecamuk dalam hatinya.
"Mengapa dia tidak menyerahkannya sendiri padaku?"
"Karena Tuan Xander ada urusan yang sangat penting dan mendesak saat ini." Jawab Scott.
Alice tertawa hambar. "Urusan yang sangat penting."
Scott segera berdiri. "Kalau begitu saya pergi dulu. Semoga hari Nona menyenangkan."
Alice diam dan tak menyahut. Scott menghentikan langkahnya dan berbalikkan badannya.
"Ahh. Ada yang ingin saya tanyakan kepada Nona." Serunya yang membuat Alice mengangkat wajahnya.
"Mengapa Nona memberikan julukan "X-tra Small" kepada Tuan Xander?"
Alice menyerngitkan dahinya.
"Padahal milik Tuan Xander itu es Mambo jumbo. Jika seukuran pemukul baseball itu kecil, lalu yang besar seukuran apa Nona? Apakah seukuran batang pohon pinus?" Tanya Scott dengan santainya.
Emosi Alice tak terbendung lagi. Dia mengambil shuriken yang tersimpan di bawah meja dan melemparnya ke arah Scott. Scott berhasil menghindar dengan cepat, dan shuriken itu nyaris menancap di dahinya.
"Wow... Wow... Santai Nona. Saya hanya penasaran. Tuan Xander itu pria langka yang belum pernah terjamah."
Glek...!
Scott menelan salivanya kasar saat menatap beberapa shuriken dengan mata pisau yang tidak diragukan lagi ketajamannya berada di tangan Alice dan siap untuk menghujani tubuhnya.
"Dasar bodoh! Kau telah membangunkan singa betina, Scott." Gumamnya lalu berlalu sekencangnya untuk menghindari serangan shuriken.
"Aarggh!!!"
Satu shuriken berhasil mengenai lengan kiri Scott. Darah segar keluar dari balik jas hitam miliknya. Scott segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan penuh meninggalkan mansion Quinn. Scott menekan lengannya agar darahnya tidak terus keluar sambil tertawa.
"Benar-benar menakjubkan. Saya bangga sekali dengan Anda, Tuan."
Alice mengambil kotak makan yang telah disiapkannya tadi dan hendak membuangnya ke tempat sampah.
"Ada apa, Alice? Mengapa kau ingin membuang makanan itu? Bukankah kau sudah bersusah payah untuk membuatnya sejak pagi tadi?" Tanya Tuan Abraham.
"Tidak akan ada yang memakannya, Kakek. Sebaiknya dibuang saja."
Tuan Abraham menyerngitkan dahinya.
"Xander telah pergi meninggalkan negara ini. Dia mengakhiri kontrak kencan kami tanpa memberitahuku secara langsung. Jadi makanan ini sudah tidak ada gunanya lagi." Ucap Alice sambil mengeraskan rahangnya.
"Bukankah itu baik. Kau tidak perlu lagi membuang waktu berhargamu bersama pria itu." Ujar Tuan Abraham.
"Kakek benar. Lagipula aku sudah mendapatkan kalungku kembali." Sahut Alice.
"Sepertinya kau terlihat kecewa."
"Omong kosong macam apa itu Kek. Itu adalah hal yang mustahil bagiku. Kenyataannya hatiku sangat senang sekarang." Alice memaksakan senyumnya.
"Baguslah. Tapi makanan ini tidak bersalah. Berikan saja kepada Kakek. Ini akan menjadi bekal terlezatku selama di perjalanan menuju Italia nanti."
Tuan Abraham langsung mengambil kotak makan itu dan menyerahkannya kepada anak buahnya, sebelum Alice melemparnya ke dalam tempat sampah. Alice menarik napas panjang untuk mengontrol emosinya.
"Apa Kakek akan lama di Italia?" Tanya Alice manja.
"Sekitar satu minggu. Tapi Kakek usahakan tidak selama itu. Kakek juga tidak tega terlalu lama meninggalkan cucu kakek yang sedang bersedih ini."
"Ish. Siapa yang bersedih Kek?" Ucap Alice sambil mendengus kesal.
"Baiklah, cucu kesayanganku. Kakek berangkat dulu. Kau jaga diri baik-baik ya. Dan jangan terlalu lama berdukanya."
"Kakek?!" Seru Alice kesal.
Sudah satu minggu ini mood Alice buruk sekali. Dia mudah marah dan kesal. Sekecil apapun kesalahan yang dibuat oleh anak buahnya, Alice akan memarahinya habis-habisan. Seperti saat ini Alice masuk ke dalam ruangannya dengan wajah memerah diikuti Jacob dan Bella yang berada di belakangnya.
"Dasar tidak becus! Bagaimana kalian bisa kecolongan dan membiarkan para tikus itu merongrong perusahaanku?" Bentak Alice setelah memecat tiga karyawan yang berada di bagian keuangan karena ketahuan melakukan korupsi.
"Kami minta maaf atas kelalaian ini, Nona. Kami janji, hal seperti ini tidak akan terulang lagi." Ucap Jacob.
"Benar, Nona. Saya akan lebih jeli dan hati-hati lagi mulai sekarang."
"Aku tidak butuh janji kalian, tapi bukti."
"Baik, Nona." Jawab Jacob dan Bella bersamaan.
Jacob dan Bella segera keluar dari ruangan Alice.
"Aku merasa akhir-akhir ini emosi Nona Alice tidak terkontrol. Nona terlihat uring-uringan." Ucap Bella dengan hati-hati.
"Suasana hati Nona sedang tidak baik saat ini. Kita harus lebih hati-hati sekarang, jangan sampai membuat Nona marah lagi." Ujar Jacob yang diangguki oleh Bella.
Alice menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Akhir-akhir ini emosiku terus meluap. Semua itu karena pria mesum dan bre ngsek itu, Xander Smith. Sebelum aku memukul wajahnya dengan keras, hatiku akan terus memanas. Berani sekali dia mengingkari janji. Pria tak tahu diri itu telah membuatku bangun pagi dan memasak untuknya seperti orang bodoh." Gerutunya.
Alice tidak terima Xander memutuskan kontrak kencan mereka begitu saja dan pergi tanpa mengatakan apapun. Alice merasa dipermainkan. Alice memejamkan matanya.
"Mengapa kau tidak pernah muncul di mimpiku lagi, Alec? Aku sangat merindukanmu." Lirihnya.
"Maaf Tuan, Nona Alice sedang tidak ingin diganggu sekarang."
"Aku sudah terbiasa datang ke sini. Alice tidak mungkin menolakku. Jaga sikapmu itu."
Terdengar perdebatan antara Bella dengan seorang pria yang suaranya sangat Alice kenali. Alice membuang napasnya kasar saat pintu ruangannya terbuka.
"Hai, Alice." Sapa Jason.
"Maaf Nona. Saya sudah berusaha menahan tapi Tuan Jason memaksa untuk masuk dan menemui Anda."
"Tidak apa-apa, Bella. Kembalilah bekerja."
Bella segera keluar.
"Mau apa kau datang kemari, Jason? Jika kau berniat untuk mengajakku makan siang bersama, jawabanku tetap sama "tidak"." Tegas Alice.
"Mengapa kau tega berbuat sekejam itu padaku, Alice?" Tanya Jason.
Alice hanya menunjukkan raut wajah datarnya.
"Kau mau makan bersama pria cacat itu. Lalu mengapa kau menolak untuk makan bersama pria sempurna sepertiku?"
Alice mengeraskan rahangnya. "Jadi selama kau menguntitku."
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja." Elak Jason.
"Cih. Apa bedanya? Kau sudah keterlaluan Jason. Beraninya kau mencampuri urusan pribadiku." Ucap Alice dengan menunjukkan eskpresi tidak senangnya.
"Baiklah. Aku minta maaf. Aku melakukannya karena sungguh mengkhawatirkanmu, Alice."
"Tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan dirimu. Bagaimana mungkin kau bisa duduk bersama pria yang bukan hanya cacat tapi juga buruk rupa. Aku yakin topeng yang dia gunakan pasti untuk menutupi wajahnya yang buruk." Ucap Jason dengan nada merendahkan.
"Manusia yang memiliki fisik sempurna belum tentu hatinya suci dan tidak busuk. Begitu juga sebaliknya." Ucap Alice sinis.
Bella mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Maaf Nona. Tuan Parker datang dan ingin bertemu dengan Nona." Lapor Bella.
"Suruh dia masuk."
"Baik, Nona." Bella segera keluar.
"Kau dengar sendiri kan saat ini aku sedang sibuk dan ada tamu penting. Sebaiknya kau pergi, Jason." Ucap Alice.
"Baiklah. Kali ini aku mengalah lagi. Tapi aku akan kembali lagi. Aku tidak akan menyerah sampai kau menjawab "ya", Alice."
Jason melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Selamat siang, Alice." Sapa Sean yang masuk dengan membawa buket bunga mawar putih.
Jason menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Sean.
"Apakah kedatanganku mengganggu kalian?" Tanya Sean.
Jason akan menjawab namun didahului oleh Alice.
"Tidak sama sekali, Sean. Jason sudah akan pergi dari sini. Benarkan Jason?"
Rahang Jason mengeras. Dia berusaha memaksakan senyumnya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰