I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 67. Sakit Sekali



"Nona mau pergi ke mana?" Tanya Marie saat melihat Ratu Roseline keluar dari kamarnya.


"Aku akan ke paviliun tamu. Aku harus menyerahkan plakat Ratu ini kepada Putri Viviane. Tak lama lagi, Putri Viviane akan dinobatkan sebagai Ratu Kerajaan Cardania." Jawab Ratu Roseline.


"Ijinkan hamba menemani, Nona." Ucap Marie.


Ratu Roseline mengangguk. Keduanya pun mendatangi paviliun tamu.


"Apa Putri Viviane ada di kamarnya?" Tanya Ratu Roseline kepada seorang pelayan.


"A-ada, Yang Mulia." Jawab pelayan itu dengan gugup.


Ratu Roseline segera melangkahkan kakinya menuju kamar Putri Viviane.


"Arrrgghhh!!! Sakit! Pelan-pelan." Terdengar teriakan dari dalam kamar.


"Tahan sebentar, Vi. Nanti sakitnya juga akan hilang." Sahut Raja Alec.


"Aarggh!! Ssttt!"


Ratu Roseline membeku di tempatnya, sedangkan Marie membulatkan matanya. "Sebaiknya kita kembali, Marie."


Ratu Roseline dan Marie segera berbalik dan melangkah pergi.


"Ratu." Panggil Marquess Filan.


Ratu Roseline menghentikan langkahnya.


"Apa yang Ratu lakukan di sini?" Tanya Marquess Filan dengan gugup.


"Aku ingin menyerahkan plakat Ratu ini kepada Putri Viviane. Tapi sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Jadi tolong serahkan plakat ini kepada Baginda dan Putri Viviane, besok."


Ratu Roseline menyerahkan plakat itu kepada Marquess Filan.


"Mengapa harus menunggu besok, Ratu. Ratu bisa menemui Baginda Raja sekarang juga."


Marquess Filan berjalan menuju kamar Putri Viviane dan hendak mengetuk pintu. Namun suara absurb yang mengalun dengan keras membuat Marquess Filan mengurungkan niatnya.


"Sudah aku katakan, serahkan saja besok. Karena mereka sedang sibuk saat ini." Ucap Ratu Roseline.


Ratu Roseline dan Marie segera pergi meninggalkan Marquess Filan yang masih diam terpaku.


"Nona."


Ratu Roseline menoleh ke arah Marie. Keduanya sudah kembali ke kamar Ratu Roseline.


"Aku baik-baik saja, Marie. Kau tidak perlu cemas." Ujar Ratu Roseline sambil tersenyum.


"Hamba akan mengambilkan bubur labu hangat untuk Nona. Perut Nona pasti kosong setelah muntah tadi. Kasihan si kembar jika Nona sampai kelaparan." Ucap Marie.


"Terima kasih, Marie."


Tak lama kemudian, Marie kembali dengan membawa semangkuk bubur labu. Ratu Roseline terlihat sedang berdiri dan melihat ke arah luar jendela.


"Nona, makanlah bubur labu ini selagi hangat." Ucap Marie.


"Letakkan saja di meja, Marie. Sebentar lagi aku akan memakannya. Kembalilah ke kamarmu dan tinggalkan aku sendiri." Ucap Ratu Roseline.


"Baiklah, Nona. Tapi Nona harus benar-benar memakannya atau aku akan marah nanti. Aku tidak ingin Nona sampai jatuh sakit." Ujar Marie.


Ratu Roseline hanya mengangguk. Marie keluar dari kamar sambil menutup pintu. Sepeninggal Marie, Ratu Roseline tak kuasa membendung air matanya lagi. Sejak tadi, dia sudah berusaha untuk menekan rasa sakit di hatinya.


"Mengapa ini sakit sekali? Mengetahui kebersamaan Raja Alec dengan Putri Viviane membuat hatiku benar-benar sakit." Lirihnya.


"Tidak. Aku tidak boleh menjadi wanita yang lemah. Aku adalah Alicia Alexandria Quinn. Aku adalah wanita yang kuat." Ucap Ratu Roseline pada dirinya sendiri sambil menghapus air matanya.


Tiba-tiba ada sesendok bubur mendekat ke arah bibirnya membuat Ratu Roseline tersentak.


"Sudah kubilang Marie, aku akan memakannya nanti. Mengapa kau tidak mau mendengarkanku?"


Ratu Roseline membalikkan badanya, dan kedua bola matanya membulat secara sempurna.


"B-baginda?"


Bukan Marie yang berdiri di hadapan Ratu Roseline saat ini, melainkan Raja Alec. Raja Alec tidak menjawab dan memajukan sendok yang berada di tangannya ke depan mulut Ratu Roseline. Ratu Roseline menampik tangan Raja Alec dengan kasar sampai sendok itu jatuh dan buburnya tumpah di atas lantai.


"Mengapa Baginda berada di sini? Seharusnya Baginda berada di kamar pengantin bersama Putri Viviane dan menikmati malam pengantin kalian. Bisa-bisanya kau meninggalkan Putri Viviane, setelah kau merenggut kesuciannya." Ucap Ratu Roseline dengan wajah marahnya.


Raja Alec terkekeh membuat Ratu Roseline semakin kesal.


"Apa kau cemburu?" Tanya Raja Alec dengan nada mengejek.


"Cih. Untuk apa aku cemburu? Aku bahkan tidak peduli." Elak Ratu Roseline.


"Benarkah? Baru beberapa saat yang lalu kau menangis tersedu-sedu." Raja Alec semakin mengejek membuat wajah Ratu Roseline memerah karena marah.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan masuklah Marie.


"Nona, hamba bawakan obat dari Tuan Ronaf. Tuan Ronaf bilang obat ini akan menguatkan tubuh Nona dan juga si kembar." Cerocos Marie yang tidak menyadari keberadaan Raja Alec di sana.


"Si kembar?" Seru Raja Alec.


Tubuh Marie membeku dengan mata terbelalak saat mengetahui Raja Alec berada di hadapannya.


"B-Baginda Raja." Cicitnya.


"Katakan apa maksud dari ucapanmu itu, Marie? Dan obat apa yang kau bawa itu? Lalu siapa yang kau panggil dengan sebutan si kembar itu?" Cerca Raja Alec membuat Marie semakin gugup dan takut.


"Bukan apa-apa, Baginda. Itu obat biasa. Aku hanya sedang kurang sehat, sehingga Tuan Ronaf memberiku obat ini supaya aku bisa segera sembuh. Itu saja." Sahut Ratu Roseline agar Raja Alec tidak bertanya lebih lanjut.


"Letakkan saja obatku di atas meja, Marie dan kembalilah ke kamarmu."


"Baginda juga, sebaiknya Baginda kembali ke kamar Putri Viviane. Putri Viviane pasti cemas karena Baginda tidak bersamanya saat ini." Usir Ratu Roseline.


"Berhenti, Marie!"


Marie menghentikan langkahnya sambil meneguk salivanya kasar, sebelum menghadap ke arah Raja Alec.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." Ucap Raja Alec dingin.


"Bukankah sudah aku jelaskan tadi, aku sedang kurang enak badan sehingga aku harus meminum obat ini." Tegas Ratu Roseline.


"Aku tidak bertanya padamu, Alice. Aku bertanya kepada Marie."


"Tapi..." Protes Ratu Roseline.


"Katakan yang sejujurnya, Marie, atau aku akan mengirim Alice ke penjara bawah tanah." Ancam Raja Alec.


"Cukup Baginda. Kau sudah keterlaluan." Bentak Ratu Roseline.


"Pengawal!" Teriak Raja Alec.


Marie langsung berlutut. "Hamba mohon jangan lakukan itu, Baginda. Jangan sakiti Nona Alice."


"Kalau begitu, katakan yang sebenarnya. Aku tahu jika kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap Raja Alec geram.


Marie menatap ke arah Ratu Roseline. Ratu Roseline menggelengkan kepalanya agar Marie tidak berkata jujur.


"Sedikit saja kau berbohong padaku, maka aku akan menebas kepalamu dan aku pastikan Alice akan meringkuk di penjara."


Marie menggeleng sambil menangis saat menatap Ratu Roseline.


"Hamba mohon jangan lakukan itu, Baginda. Sebenarnya, Nona Alice sedang hamil. Dan menurut Tuan Ronaf, Nona Alice hamil anak kembar." Marie menundukkan kepalanya sambil menangis.


Ratu Roseline memejamkan matanya. Raja Alec pasti tidak akan melepaskannya lagi.


"H-hamil katamu?"


"Benar, Baginda."


"Dan ada dua bayi di dalam perutnya. Itu artinya Alice sedang mengandung dua calon pewarisku." Ucap Raja Alec.


"Benar, Baginda." Jawab Marie.


Raja Alec menatap Ratu Roseline tak percaya. Sedangkan Ratu Roseline membuang mukanya.


"Keluarlah, Marie. Tinggalkan kami berdua." Ucap Raja Alec.


"T-tapi, Baginda."


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menghukummu dan tidak akan menjebloskan Alice ke dalam penjara." Sahut Raja Alec.


Marie segera berdiri dan melangkah pergi dari ruangan itu. Raja Alec menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya. Raja Alec mendekati Ratu Roseline yang masih terdiam dengan wajah dinginnya.


"Mengapa kau tidak memberitahuku dan malah merahasiakannya dariku, Alice? Mereka adalah anak yang tercipta dari benihku. Beraninya kau berniat menyembunyikan mereka dariku!" Tuntut Raja Alec.


Ratu Roseline tersenyum sinis. "Untuk apa? Bukan hal yang penting juga kan? Toh sebentar lagi kau juga memiliki keturunan dari Putri Viviane."


"Jangan mengalihkan pembicaraan Alice. Ini tidak ada hubungannya dengan Viviane. Ini tentang kita, anak kita." Ucap Raja Alec sambil menahan marah.


Ratu Roseline mengeraskan rahangnya. "Sebaiknya kau pura-pura tidak mengetahuinya, Baginda Raja Alec. Aku tidak ingin Putri Viviane tahu. Dia pasti akan merasa tersaingi dan itu bisa membahayakan kedua anakku kelak."


"Aku pastikan tidak akan ada yang membahayakan mereka. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu dan kedua anak kita."


"Itu mustahil. Kau sudah menikah dengan Putri Viviane. Dan dia akan menjadi Ratu Kerajaan Cardania." Elak Ratu Roseline.


"Itu tidak akan pernah terjadi." Sahut Raja Alec.


"Mengapa tidak?" Tanya Ratu Roseline.


"Karena aku tidak pernah menikah dengan Putri Viviane." Jawab Raja Alec.


"A-apa maksudmu?"


Ratu Roseline tak mengerti. Raja Alec menarik tubuh Ratu Roseline ke dalam pelukannya. Tubuh keduanya sangatlah dekat sehingga bisa terdengar suara detak jantung keduanya yang cukup keras.


"Aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak pernah menikah dengan Putri Viviane, dan tidak akan pernah."


Raja Alec meraup bibir Ratu Roseline yang sedikit terbuka dan menyesapnya dengan rakus. Ratu Roseline memejamkan matanya. Otaknya ingin dia mendorong tubuh Raja Alec, namun tubuhnya melakukan hal yang sebaliknya.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰