I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 101. Seorang Pelunas Hutang



"Dia telah kehilangan banyak darah. Segera lakukan transfusi darah."


"Dokter. Detak jantung pasien semakin melemah." Teriak seorang perawat.


"Siapkan alat pemacu jantungnya." Seru dokter itu.


Dokter segera melakukan prosedur pacu jantung listrik. Beberapa kali dokter memberikan kejutan listrik, namun detak jantung pasien tetap melemah. Terdengar alat pendeteksi jantung mengeluarkan bunyi yang panjang.


"Aku mohon kembalilah, Bro. Belum saatnya kau pergi meninggalkan kami dan dunia ini." Bisik dokter itu, lalu memberikan kejutan listrik lagi dengan daya yang lebih besar.


"Alec!!!" Teriak Alice yang membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Haahh... Haaah..." Napas Alice terengah dengan keringat bercucuran membasahi kening dan tubuhnya.


Alice memegang dadanya yang berdetak sangat kencang.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Alec?" lirihnya.


Alice menarik napas pelan agar dirinya lebih tenang.


Ponsel Alice berdering.


"Halo, Jacob. Ada apa?" Tanyanya.


"Tuan Sean mengalami kecelakaan, Nona. Mobilnya menabrak pohon besar." Jawab Jacob dari seberang telepon.


Alice membelalakkan matanya. "S-Sean kecelakaan?"


Alice bersama Jacob mengambil langkah lebar saat menyusuri lorong yang ada di salah satu rumah sakit terbesar di Inggris. Terlihat sekali kekhawatiran di wajah Alice. Keduanya tiba di depan sebuah kamar rawat VVIP, tempat Sean dirawat.


"Bagaimana keadaanmu, Sean sayang?" Tanya Nyonya Imelda dengan berurai air mata.


"Sean baik-baik saja, Mom. Mommy jangan menangis." Jawab Sean yang terlihat dengan perban di bagian pelipis dan di siku tangan kirinya.


"Baik apanya? Lihatlah kepala dan tanganmu terluka seperti ini." Omel Nyonya Imelda.


"Ini hanya luka kecil, Mom. Tadi terkena pecahan kaca, tapi kecil. Besok juga sembuh." Ucap Sean berusaha menenangkan ibunya.


"Hanya luka kecil kau bilang? Pecahan kaca itu sangat berbahaya. Mommy tidak mau tahu kau harus melakukan rontgen ulang di seluruh tubuh. Jangan sampai ada pecahan kaca yang masuk ke dalam tubuhmu."


"Ayolah Imelda, jangan membesar-besarkan masalah seperti ini. Kau lihat sendiri kan, Sean baik-baik saja. Kalau lukanya parah, dia pasti sudah tidak sadarkan diri sekarang atau koma." Celetuk Tuan Samuel yang terlihat cuek.


"Suamiku!" Seru Nyonya Imelda kesal.


Tuan Samuel hanya membuang napas kasar.


"Bagaimana keadaan Billy?" Tanya Tuan Samuel.


"Billy juga baik-baik saja. Beruntung mobilku sudah dimodifikasi, sehingga jika terjadi kecelakaan seperti ini tidak akan berdampak fatal." Jawab Sean.


Alice sejak tadi berdiri di depan pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Alice sempat melihat keadaan Sean dari balik kaca kecil yang di ada pintu. Alice bersyukur Sean tidak terluka parah dan tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Alice membalikkan badan dan melangkah pergi diikuti Jacob. Di tengah jalan, Alice berpapasan dengan Katherine.


"Mau apa kau datang kemari? Untuk menemui tunanganku?" Tanya Katherine dengan nada tak suka.


"Ya, kau benar. Aku dengar dia mengalami kecelakaan, jadi aku berniat untuk menjenguknya." Jawab Alice.


"Dasar pembohong. Tadi siang kau mengatakan jika kau tidak mencintai Sean. Lalu ini apa? Kau terlihat sangat mencemaskannya. Kau bahkan sudah tiba di rumah sakit lebih dulu daripada aku yang berstatus sebagai tunangannya Sean." Sinis Katherine.


Alice menyunggingkan bibirnya. "Aku hanya kebetulan saja sedang ada urusan di rumah sakit ini, jadi aku sekalian ingin tahu bagaimana keadaan rekan bisnisku yang sedang terkena musibah."


"Kau jangan membodohiku, Alice. Aku bukan wanita dungu dan aku sama sekali tidak percaya dengan ucapanmu." Ujar Katherine.


"Alice. Kau sudah datang." Terdengar seseorang menyapa Alice dari arah belakang Katherine.


"Ya dokter." Jawab Alice ramah.


"Permisi Nona Alonzo, saya sudah ada janji dengan dokter."


Alice melangkahkan kakinya melewati Katherine yang masih terdiam di tempatnya.


"Maaf dokter saya telah menyita waktu istirahat dokter malam-malam begini." Ucap Alice tak enak sambil memeluk dokter Rayya.


"Tidak apa-apa sayang. Kebetulan aku sedang ada shift malam. Semakin dewasa, kau semakin mewarisi wajah cantik ibumu." Jawab dokter Rayya.


Alice dan dokter Rayya berjalan beriringan menuju ruangan dokter Rayya. Katherine menatap keakraban keduanya beberapa saat. Dalam hati dia kesal karena Alice selalu berhasil mematahkan tuduhannya. Katherine berjalan cepat menuju ruangan Sean. Kedua orang tua Sean menyambutnya dengan hangat, berbanding terbalik dengan sikap sang anak yang sedingin es.


"Sean. Mengapa kau diam saja? Apa kau tidak bisa menghargai kebaikan Katherine sedikitpun? Malam-malam seperti ini dia telah bersedia datang ke sini karena mencemaskamu." Cerca Tuan Samuel yang kesal dengan sikap dingin putranya.


"Bukan keinginanku, Dad. Aku tidak pernah menyuruhnya untuk datang ke sini." Jawab Sean acuh.


"Kau!" Bentak Tuan Samuel.


"Tenangkan dirimu, suamiku. Kita sedang berada di rumah sakit sekarang, dan putra kita baru saja mengalami kecelakaan. Seharusnya kau bisa mengendalikan emosimu." Ucap Nyonya Imelda.


"Aunty benar, Uncle. Lagipula Katherine sudah terbiasa dengan sikap dingin Sean." Sahut Katherine.


Sean memalingkan mukanya karena malas melihat wajah tunangannya itu. Yang ingin Sean lihat saat ini adalah wajah Alice, bukan Katherine.


"Sebaiknya Aunty dan Uncle pulang sekarang. Biar aku saja yang menjaga Sean malam ini." Ujar Katherine ramah.


"Kau baik sekali, sayang. Tapi kau juga harus istirahat. Kau saja yang pulang, biar Aunty dan Uncle yang menjaga Sean." Ucap Nyonya Imelda.


"Aunty tenang saja. Katherine bisa istirahat di sini nanti. Lagipula Sean kan calon suamiku, jadi mulai sekarang aku ingin belajar untuk menjadi istri yang baik untuknya." Jawab Katherine.


"Kau dengar itu, Sean? Wanita mana lagi yang bisa lebih baik dari Katherine? Seharusnya kau bersyukur memiliki calon istri seperti dia." Omel Tuan Samuel.


"Kalau begitu Daddy saja yang menikah dengannya." Jawab Sean.


"Sean!" Bentak Tuan Samuel lagi.


"Sudah suamiku, sebaiknya kita pulang sekarang. Biarkan Sean beristirahat."


"Sayang, Mommy dan Daddy pulang dulu ya. Kau harus banyak istirahat. Besok pagi Mommy akan datang lagi." Ucap Nyonya Imelda sambil mencium pucuk kepala putranya.


"Sekalian bawa wanita itu pulang, Mom." Desis Sean.


"Sean." Tegur Nyonya Imelda dengan suara lembut.


Sean mendengus kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Katherine, kami pulang dulu ya dan titip Sean. Tolong jaga dia dengan baik." Ucap Nyonya Imelda.


"Kalian tenang saja. Aku akan merawat Sean dengan baik."


Keduanya saling berpelukan sebelum berpisah. Setelah Tuan Samuel dan Nyonya Imelda keluar, tinggallah Sean dan Katherine berdua di ruangan itu.


"Pergilah. Aku tidak butuh bantuanmu. Di sini ada banyak perawat yang akan menjagaku." Ucap Sean ketus.


"Apa kau tidak punya malu, Kat? Aku sudah berkali-kali menolakmu, tapi kau masih saja belum menyerah."


Katherine duduk di tepi ranjang. "Cinta memang butuh perjuangan, Sean. Dan aku akan berjuang untuk cintaku."


"Tapi aku tidak mencintaimu. Aku mencintai wanita lain."


"Aku tahu."


"Lalu mengapa kau masih mempertahankan pertuangan ini? Semua ini hanya akan melukai hatimu. Sebaiknya kita batalkan pertunangan ini, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencintaimu." Tegas Sean.


Dada Katherine terasa sesak setiap kali Sean mengucapkan kalimat yang menyakitkan itu.


"Kalau kau bisa menghidupkan kakekku kembali, maka aku akan mengabulkan permintaanmu untuk membatalkan pertunangan ini." Ucap Katherine yang membuat Sean mengeraskan rahangnya.


"Kau gila. Mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali?" Bentak Sean.


"Maka dari itu, mustahil juga bagiku untuk membatalkan pertunangan ini." Sahut Katherine. "Sebaiknya kau istirahat sekarang."


Sean langsung memutar badannya dengan posisi membelakangi Katherine.


"Jika saja kejadian naas itu tidak pernah terjadi dan kakek Katherine tidak meninggal, aku tidak akan pernah menjadi pelunas hutang." Batin Sean.


Kakek Katherine meninggal dunia karena menyelamatkan kakek Sean yang hampir tertabrak sebuah truk yang hilang kendali. Kakek Sean selamat, akan tetapi kakek Katherine tidak berhasil menyelamatkan diri. Kakek Katherine meninggal seketika setelah terlindas truk tersebut. Oleh karena itulah, keluarga Sean berhutang nyawa kepada keluarga Katherine.


Katherine duduk di atas sofa sambil menatap punggung Sean.


"Aku yang lebih dulu bertemu denganmu, Sean. Aku yang lebih berhak untuk memilikimu dari pada Alice atau wanita manapun. Aku yang selama ini berada di sampingmu, meskipun kau tidak pernah menganggap keberadaanku." Batin Katherine.


Alice dan Jacob tengah berada di dalam mobil. Alice menghubungi dokter Rayya sebelum dia tiba di rumah sakit. Dadanya terasa nyeri setelah dia terbangun dari tidurnya. Meskipun dia sudah mengetahui Sean baik-baik saja, Alice tetap merasa tidak tenang. Dokter Rayya menjelaskan dari hasil pemeriksaannya tidak ditemukan penyakit yang serius, kemungkinan besar Alice hanya mengalami kelelahan. Dokter Rayya menyarankan agar Alice mengurangi aktivitasnya dan lebih banyak beristirahat.


"Kita ke markas Fire Eagle, Jacob." Ucap Alice.


"Baik, Nona." Jawab Jacob.


Mobil Alice berhenti agak jauh dari pintu gerbang markas Fire Eagle. Tak lama kemudian, sebuah limusin mewah yang sudah tak asing lagi bagi Alice masuk ke dalam markas. Entah mengapa Alice merasa senang. Sudah lama dia tidak menaiki mobil mewah itu.


Wajah senang Alice berubah dingin saat melihat seorang wanita cantik dan seksi bergaun merah tengah mendorong kursi roda Xander masuk ke dalam markas. Keduanya terlihat sedang tertawa bahagia. Bahkan satu tangan Xander sedang mengelus-elus tangan wanita itu. Keduanya terlihat sangat mesra.


"B*st*rd!" Umpat Alice.


Alice memerintahkan Jacob untuk melajukan mobilnya pergi dari markas itu. Hati Alice memanas membayangkan Xander mengucapkan kata-kata manis yang pernah dia berikan kepadanya, juga Xander berikan kepada wanita lain.


"Sekali br*ngs*k tetap br*ngs*k. Aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria itu." Batin Alice dengan rahang mengeras dan tangannya mengepal.


"Lebih cepat Jacob. Aku ingin segera tiba di mansion." Seru Alice.


"Baik Nona." Jacob mempercepat laju mobilnya.


Tanpa Alice ketahui, sepasang mata telah mengawasinya dari dalam markas.


"Apa wanita itu telah pergi?" Tanya wanita cantik bergaun merah itu dengan segelas wine di tangannya.


"Ya."


Wanita itu mendekat dan ikut menatap keluar markas.


"Kita harus lebih berhati-hati lagi. Scott benar, wanita dari keluarga Quinn itu bukanlah wanita sembarangan. Jangan sampai penyamaranmu terbongkar R. Atau nyawa boss kita akan berada dalam bahaya." Ucap wanita itu.


Pria yang duduk di kursi roda itu mengangguk setuju.


Alice masuk ke dalam mansion dengan wajah marahnya. Dia melangkahkan kakinya menuju ruang bawah, tempat yang biasa dia gunakan untuk berlatih. Alice mengambil busur dan beberapa anak panah. Dengan kasar Alice mengambil dua anak panah dan melepaskannya secara bersamaan. Serangannya tepat sasaran. Alice mengulanginya lagi dan lagi sampai titik yang menjadi pusat sasaran itu dipenuhi anak panah.


"Siapa orang yang telah membuat cucu kesayanganku semarah ini?" Terdengar suara Tuan Abraham yang tengah berdiri di belakang Alice.


"Tidak ada, Kek. Alice hanya ingin berlatih saja." Jawab Alice tanpa membalikkan badan.


Tuan Abraham tersenyum dan menarik pundak Alice sehingga keduanya saling berhadapan.


"Kau tidak bisa membohongi kakekmu ini, Alice."


Alice menghela napas panjang. Tuan Abraham dengan setia menunggu cucunya bercerita.


"Aku tadi melihat Xander bersama wanita lain." Ucap Alice.


Tuan Abraham menaikkan satu alisnya. "Apa kau cemburu?"


Alice melebarkan matanya. "Tentu saja tidak, Kek. Aku malah jijik melihat mereka. Dan aku kesal karena aku dulu mau menjadi teman kencan kontraknya. Jika bukan karena untuk mendapatkan kalungku kembali, aku tidak sudi berkencan dengan baj*ng an itu."


Tuan Abraham melihat api amarah di mata Alice.


"Sudahlah. Lupakan saja apa yang telah terjadi. Sebaiknya kau pergi ke kamarmu dan beristirahat. Dokter Rayya menghubungi kakek dan mengatakan jika kau sedang kurang sehat. Mengapa kau tidak memberitahu Kakek jika kau sakit?"


"Alice baik-baik saja, Kek. Hanya kelelahan saja karena banyak tender yang harus segera Alice tangani." Ucap Alice lembut agar Kakeknya tidak cemas.


"Baiklah. Alice ke kamar dulu, Kek. Kakek juga segera istirahat. Alice tidak ingin kakek sakit nantinya." Pungkasnya.


Keduanya segera meninggalkan ruang berlatih. Alice segera pergi ke kamarnya. Tuan Abraham tersenyum menatap kepergian Alice.


"Kau harus bisa melewati semua ini cucuku, agar kelak kau mendapatkan pria terbaik yang layak itu berdampingan dengan seorang ratu sepertimu."


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰