
Alice dan kedua asistennya tiba di Suarez Hotel, salah satu hotel bintang 5 milik Tuan Suarez. Mereka segera masuk ke dalam kamar masing-masing untuk melepaskan penat. Alice meletakkan tas dan kaca matanya di atas nakas. Dia berdiri di depan kaca riben besar dan menatap pemandangan yang ada di luar.
"Sudah hampir satu bulan, Alec." Lirihnya sambil menghela napas panjang.
Bella dan Jacob menjemputnya saat jam makan malam. Alice bersama kedua asistennya tengah berada di sebuah restoran ternama yang ada di kota Budapest untuk menikmati menu makan malam mereka.
Mereka memilih salah satu menu makan khas Hungaria, yaitu Paprikash. Paprikash merupakan menu bahan paprika ayam, ikan atau jamur. Pada umumnya menu paprikash akan satu paket dengan minuman khas Hungaria yaitu palinka, sejenis minuman beralkohol dengan ekstrak buah anggur. Selain itu, mereka juga mencicipi kelezatan makanan khas Hungaria yang lain seperti Somloi Galuska dan Kremes.
Selama makan malam berlangsung Alice terus menggunakan kaca mata hitamnya. Hal itu sengaja Alice lakukan untuk menutupi matanya yang sedikit membengkak. Alice tidak bisa membendung air matanya setiap kali dia teringat dengan Raja Alec. Terutama saat dia teringat ketiga anaknya.
"Bagaimana dengan persiapan pengajuan kontrak kerja sama kita dengan Suarez Corps., Jacob?" Tanya Alice.
"Nona tidak perlu khawatir. Tuan besar sudah mempersiapkan segalanya. Kita tinggal mempelajarinya sebelum melakukan presentasi di depan Tuan Suarez." Jawab Jacob.
Alice menghela napas pelan. "Meskipun segala sesuatu sudah dipersiapkan oleh kakekku, tapi kita harus tetap waspada dan tidak boleh lengah. Karena saingan kita kali ini bukanlah dari kalangan perusahaan biasa. Banyak diantara mereka berasal dari perusahaan-perusahaan besar dari luar Eropa."
"Baik, Nona." Jawab Bella dan Jacob.
"Selesai makan aku ingin kembali ke hotel. Jika kalian ingin bersenang-senang, silakan. Tapi jangan sampai lupa waktu karena besok malam kita harus menghadiri pesta wedding anniversary Tuan dan Nyonya Suarez." Ucap Alice.
"Saya ikut Nona kembali ke hotel. Saya ingin istirahat total malam ini. " Ujar Bella sambil tersenyum.
"Saya juga akan kembali ke hotel. Di Suarez Hotel terdapat club yang cukup bagus." Sahut Jacob.
Selama Alice menikmati makan malamnya, dari kejauhan ada seseorang yang terus menatap ke arahnya dengan tatapan elangnya.
"Ternyata selain sombong, dia juga orang yang aneh." Gumam Sean yang duduk agak jauh dari meja Alice.
"Apa yang Boss maksud adalah wanita yang berkacamata hitam itu? Wanita yang tadi siang telah menabrak Boss di bandara." Ucap Bill yang duduk di hadapan Sean.
"Apa kau tahu siapa mereka?" Tanya Sean.
Bill mengangguk sambil mengunyah makanannya.
"Mereka adalah salah satu saingan berat kita untuk mendapatkan kontrak kerja sama dengan Suarez Corps. Wanita berkacamata hitam itu adalah Nona Muda dari Keluarga Quinn, sekaligus CEO dari Quinn Cooperation. Dan dua orang yang bersamanya itu adalah asisten kepercayaannya."
"Quinn Cooperation?" Seru Sean.
"Salah satu perusahaan besar yang ada di Inggris." Jawab Bill.
Sean menyunggingkan bibirnya.
"Menarik. Aku ingin tahu seberapa besar tingkat kesombongan seorang Nona muda dari keluarga ternama bersaing di dunia bisnis. Apakah dia akan menunjukkan sikap manjanya sebagai Nona muda?" Ucap Sean sinis.
"Saya yakin dia memiliki tingkatan yang tinggi, Boss. Karena dia pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Best Entrepreneur selama lima tahun berturut-turut." Ujar Bill yang langsung melunturkan senyuman di bibir Sean.
"Apa Boss terkejut?"
"Tidak. Aku hanya tidak pernah mendengar berita seperti itu." Elak Sean.
Bill tertawa pelan. "Tentu saja Boss tidak tahu. Karena selama ini Boss terlalu lama tinggal di Amerika. Dan fokus Boss hanya pada Parker Group yang ada di Amerika."
Sean penasaran dengan sosok Nona muda Quinn tersebut.
"Mendapatkan penghargaan besar selama lima tahun berturut-turut bukalah hal yang mudah. Pesaing seperti dia tidak bisa dianggap remeh." Batin Sean.
Selain mendapatkan tatapan dari seorang Sean Parker, Alice juga menjadi pusat perhatian dari seorang pria yang berada di meja pojok restoran tersebut. Pria itu mengamati Alice dari balik kacamata hitamnya sambil tersenyum.
...***...
Tuan Suarez mengadakan pesta ulang pernikahannya yang ke-25 dengan sangat mewah di resort miliknya. Semua tamu undangan yang hadir berasal dari kalangan pengusaha, selebritis dan para pejabat.
"Saya ucapkan selamat merayakan ulang tahun pernikahan untuk Tuan dan Nyonya Suarez yang ke-25." Ucap Sean sambil menjabat tangan Tuan Suarez dan istrinya secara bergantian.
"Kami ucapkan terima kasih banyak karena Anda telah meluangkan waktu untuk menghadiri pesta kami ini, Tuan Sean Parker." Ujar Tuan Suarez.
"Sepertinya pada malam ini tamu tampan kita akan menjadi pusat perhatian para wanita cantik, suamiku. Lihatlah para wanita itu terus menatap ke arah Tuan Sean." Ucap Nyonya Suarez sambil tersenyum.
Sean hanya mengulum senyumnya.
"Selamat menikmati pestanya, Tuan Sean dan selamat bersenang-senang."
Sean hanya berdiri dengan tangan kanannya memegang gelas berisi wine. Dia terlihat tidak begitu semangat berpesta malam ini. Berbanding terbalik dengan Bill yang terus menebar pesonanya di depan para wanita cantik yang hadir di sana.
"Hei Boss, mengapa kau diam membatu seperti ini. Mari kita bersenang-senang dan menikmati pesta ini." Tegur Bill yang sudah berdiri di sampingnya.
"Tidak ada yang membuatku tertarik di sini." Jawab Sean ketus.
"Come on, Boss."
"Lihatlah ada banyak wanita cantik dan seksi di sini. Mereka berharap mendapatkan sapaan darimu." Bisik Bill.
"Aku bilang tidak ada satu pun yang membuatku tertarik. Apa telingamu sudah rusak?" Ucap Sean sedikit kesal.
"Sepertinya wanita yang satu ini bisa menarik perhatianmu, Boss. Lihatlah siapa yang baru saja datang." Bill tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.
Sean melihat ke arah mata Bill memandang.
Deg!
Sean melebarkan matanya saat melihat seorang wanita berbalut cocktail dress berwarna tosca setinggi lutut dipadu dengan clutch dan heels dengan warna yang senada. Kecantikan wanita itu semakin tereksplor dengan pewarna bibir merah merekah serta rambut hitam yang digerai dengan indahnya.
Wanita itu adalah Alice. Malam ini Alice tampil memukau tanpa kaca mata hitam yang menjadi penghalang pesona mata cantiknya. Napas Sean secara tertahan. Dia terus menatap Alice tanpa berkedip.
"Berkediplah Boss, supaya matamu tidak kering nantinya." Goda Bill yang sontak membuat Sean terkejut.
"Eekhmm!"
"Jangan bersikap kurang @j@r kau, Bill!"
Bukannya takut, Bill malah tertawa.
Sean tidak menghiraukan ucapan Bill. Kedua matanya terlalu fokus menatap ke arah Alice.
"Selamat merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-25 Tuan dan Nyonya Suarez. Semoga pernikahan kalian berdua terus langgeng dan harmonis sampai maut memisahkan." Ucap Alice.
"Terima kasih banyak, Nona Quinn atas ucapan dan doanya. Anda terlihat luar biasa malam ini." Puji Nyonya Suarez.
"Terima kasih atas pujiannya Nyonya. Anda jauh lebih memukau karena Anda adalah Ratu di pesta malam ini. Benarkan Tuan Suarez?" Ujar Alice.
"Tentu saja Nona. Istriku adalah sang Ratu dan wanita tercantik di pesta ini." Jawab Tuan Suarez lalu mengecup bibir istrinya.
Pesta berjalan dengan sangat meriah. Dan tibalah pada sesi dansa. Banyak pasangan yang menempati ruang dansa. Mereka berdansa mengikuti alunan lagu romantis yang sedang diputar.
"Maukah kau berdansa denganku, Nona cantik?" Tanya seorang pria kepada Alice.
"Terima kasih atas ajakannya, Tuan. Tapi maaf, saya sedang tidak ingin berdansa." Jawab Alice dengan sopan kepada pria yang terlihat sedang mabuk itu.
"Cih! Sombong sekali. Jangan karena wajah cantikmu yang kau miliki ini lantas membuatmu jual mahal, Nona. Ayo sekarang kita berdansa. Aku ingin berdansa denganmu." Pria itu berusaha menarik tangan Alice, dan dengan cepat Alice menangkisnya.
"Jaga sikap Anda, Tuan." Bentak Alice.
"Dasar j@l @ng! Beraninya kau membentakku!"
Pria itu hendak menampar Alice, namun tangannya dihalau oleh Sean yang sudah berdiri di depan Alice.
"Lepaskan tanganku, breng sek!" Bentak pria mabuk itu.
"Jangan coba-coba membuat onar di sini, Tuan. Dan jangan berani menyentuh wanita ini sedikitpun, atau aku akan mematahkan kedua tanganmu ini." Jawab Sean sambil memelintir tangan pria.
Pria itu mengaduh kesakitan dan memohon untuk dilepaskan. Alice terkejut dan menatap pria yang sedang memunggunginya itu.
"Tubuh pria ini, warna rambut coklatnya dan suara beratnya. Apakah itu kau, Alec?" Batin Alice.
Sean melepaskan pria itu sambil mendorongnya sampai jatuh ke lantai. Pria itu segera berlari menjauh dari sana. Sean membalikkan badannya membuat jantung Alice berdegup dengan kencang.
"Apa kau baik-baik saja, Nona?" Tanya Sean.
Alice terdiam dengan tatapan kosong.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya Sean lagi sambil menyentuh bahu Alice.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Alice sedikit terkejut.
"Terima kasih, Tuan." Tambahnya sambil tersenyum simpul untuk menutupi kegugupannya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, Nona." Ucap Sean sambil melepaskan tangannya dari bahu Alice.
"Nona." Seru Bella yang datang menghampirinya.
"Apa kau asistennya?" Tanya Sean.
"I-ya, Tuan." Jawab Bella sedikit gugup karena melihat wajah tampan Sean.
"Sebaiknya jangan pernah meninggalkannya sendirian, karena banyak buaya darat yang sedang mengincarnya saat ini." Ucap Sean sambil melihat ke arah gerombolan pria muda yang sejak tadi mengamati Alice.
"Baik, Tuan." Jawab Bella.
"Baguslah." Sean pergi meninggalkan Alice dan Bella.
"Mengapa kau tidak mengajaknya berkenalan, Boss?" Tanya Bill.
"Besok juga kita akan berkenalan dengan mereka, Bill." Jawab Sean dengan santai.
Alice menyentuh dada kirinya dan berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Apa Nona baik-baik saja? Saya minta maaf karena harus pergi ke toilet dan meninggalkan Nona sendirian tadi." Bella merasa bersalah saat mengetahui ada pria yang berusaha mengganggu bosnya.
"Kau tidak perlu cemas, Bel. Aku baik-baik saja. Hubungi Jacob, kita akan kembali ke hotel sekarang juga."
Sesampainya di kamar hotel, Alice menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Sean tadi.
"Pria itu memiliki postur tubuh, warna rambut dan suara mirip dengan Alec. Namun tidak dengan wajahnya. Alec dan pria itu sama-sama memiliki rahang tegas dan mata elang, namun keduanya terlihat berbeda." Gumam Alice.
"Siapa dia?"
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰