I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 73. Melihatmu Bahagia



Duke Ramon, Felix dan Dean sudah mengelilingi hutan selama beberapa jam, namun mereka belum mendapatkan seekor pun kelinci hutan. Ketiganya berteduh di bawah pohon besar untuk beristirahat.


"Mengapa tidak ada seekorpun kelinci di hutan ini? Kita tidak mungkin pulang dengan tangan kosong. Alice pasti kecewa." Gerutu Duke Ramon.


"Sepertinya hewan pemangsa yang telah memburu kawanan kelinci di hutan ini, Tuan." Kata Felix sambil menunjukkan jejak kaki seekor hewan yang cukup besar.


"Ini jejak kaki harimau. Dan bukan hanya satu harimau, tetapi sepasang harimau." Ucap Dean.


"Kita harus lebih waspada Tuan. Karena hewan ini bisa menyerang kapan saja." Sahut Felix.


Kreekk... Kreekk....


Tiba-tiba terdengar suara rating kering yang terinjak. Mereka bertiga langsung mengambil pedang sambil mengedarkan pandangan mereka ke segala arah.


Kreekk ...


"Suaranya berasal dari balik pohon besar itu." Ucap Duke Ramon sambil berbisik sambil menunjuk pohon besar yang tak jauh dari tempat mereka.


Ketegangan terlihat jelas di wajah mereka. Felix melangkah dengan perlahan mendekat ke arah pohon besar itu. Suara itu terdengar semakin keras. Felix langsung mengayunkan pedangnya saat sesuatu di balik pohon besar itu muncul.


Prang...! (Suara kedua pedang sedang beradu)


"Baginda!" Seru Felix terkejut.


Raja Alec datang bersama Marquess Filan.


"Keahlian bermain pedangmu cukup bagus, Felix." Puji Raja Alec sambil tersenyum tipis.


"Apa yang sedang Baginda lakukan di tempat ini?" Tanya Duke Ramon.


"Marquess Filan."


Marquess Filan segera maju dengan membawa karung kecil lalu menyerahkannya kepada Duke Ramon.


"Di dalam karung itu berisi seekor kelinci hutan. Aku tahu kalian belum mendapatkan hewan buruan sama sekali, bukan? Segera bawa pulang dan berikan kepada Alice." Jelas Raja Alec.


"Tapi Alice tidak akan mau menerima hewan buruan ini karena Baginda yang menangkapnya." Protes Duke Ramon.


"Kau tidak perlu mengatakan yang sebenarnya, Duke. Yang penting apa yang Alice inginkan sudah terpenuhi." Jawab Raja Alec.


Duke Ramon terdiam.


"Tunggu apalagi, cepat bawa pulang kelinci ini. Kalau sampai bayi kembarku nanti terus berliur, kau yang harus tanggung jawab." Bentak Raja Alec membuat Duke Ramon tersentak.


Duke Ramon mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. "Beruntung dia adalah seorang raja, kalau tidak sudah ku jahit mulutnya yang menjengkelkan itu."


"Jangan menggerutu dalam hati kakak ipar, nanti kau cepat tua dan susah dapat jodoh." Ejek Raja Alec.


"Bukankah jodoh Duke Ramon sudah ada di depan mata, Baginda?" Tanggap Marquess Filan sambil terkekeh.


"Kau benar Filan. Aku lupa jika Viviane telah jatuh hati padanya. Tunggu apalagi Duke, mumpung masih ada mau, segerakanlah. Aku siap membuatkan pesta pernikahan untuk kalian." Sahut Raja Alec.


Wajah Duke Ramon semakin memerah karena kesal. "Lebih baik Baginda fokus saja dengan urusan pribadi Baginda sendiri. Dan jangan ikut campur urusan pribadi hamba."


"Felix! Dean! Ayo kita pulang." Lanjutnya.


Duke Ramon meninggalkan Raja Alec dan Marquess Filan begitu saja sambil mendengus kesal. Sedangkan Raja Alec dan Marquess tidak bisa menahan tawa mereka.


"Eugh!" Lirih Raja Alec.


Marquess Filan langsung menghentikan tawanya. "Baginda."


"Sebaiknya kita juga pulang, Filan. Kita lewat jalan pintas yang kita gunakan sebelumnya. Aku tidak ingin Alice curiga nantinya."


Marquess Filan mengangguk. Keduanya segera keluar dari hutan menggunakan jalan yang berbeda dari jalan yang dilewati oleh rombongan Duke Ramon.


Ratu Roseline (Alice) menikmati sate kelinci dengan lahapnya. Wajahnya terlihat berbinar saat mengunyah daging kelinci yang lembut itu. Raja Alec tersenyum senang melihatnya, meskipun dia hanya bisa menatapnya dari jarak jauh. Raja Alec tidak ingin merusak selera makan Ratu Roseline karena keberadaannya.


"Sepertinya kelinci buruan Baginda telah diterima dengan sangat baik." Ujar Marquess Filan yang berdiri di samping Raja Alec.


Raja Alec mengangguk dengan senyum yang semakin mengembang. "Apa kau tahu Filan? Hatiku sangat bahagia saat melihatnya bahagia seperti ini. Hatiku juga merasa sedih saat melihatnya terluka. Mungkin itu yang dinamakan cinta sesungguhnya. Aku ingin melihat Alice terus bahagia, meskipun tanpa diriku di dekatnya."


"Apa maksud dari ucapan Baginda? Apa Baginda akan menyerah sekarang?" Tanya Marquess Filan.


"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya, Filan. Namun aku juga tidak akan memaksakan kehendakku lagi kepadanya. Dia bebas menjalani hidup sesuai dengan keinginannya, asalkan dia bahagia." Jawab Raja Alec.


Marquess Filan tersenyum hambar. Nasib percintaannya juga tak jauh beda dengan Raja Alec.


"Sebaiknya Baginda kembali ke kamar dan beristirahat sekarang." Ujar Marquess Filan.


Raja Alec menggeleng. "Aku masih ingin melihat senyumannya, Filan. Anak buah Jenderal Azel telah datang dan hendak memberikan laporan. Sebaiknya kau pergi menemuinya."


"Baik, Baginda."


Marquess Filan pun pergi meninggalkan Raja Alec untuk menemui anak buah Jenderal Azel yang menunggu di beranda.


"Hormat hamba, Marquess."


Marquess Filan hanya mengangguk.


"Apa ada masalah yang terjadi di daerah perbatasan?" Tanya Marquess Filan.


"Tidak Tuan. Keadaan di perbatasan sudah aman dan terkendali. Kedatangan hamba ke sini untuk menyampaikan pesan dari Jenderal Azel. Jenderal sudah mempersiapkan tempat yang akan Marquess tempati nantinya serta hal-hal apa saja yang akan Marquess tangani selama memimpin daerah perbatasan." Lapornya.


"Sampaikan kepada Jenderal Azel, aku akan pergi ke perbatasan setelah Baginda Raja kembali ke istana." Ucap Marquess Filan.


"Baik, Tuan."


Anak buah Jenderal Azel segera undur diri dari hadapan Marquess Filan. Marquess Filan berjalan menuju kemarnya. Di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Arabella. Marquess Filan berhenti dan menunduk pelan, kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


Marquess Filan berhenti dan berbalik. "Ada apa Nona?"


Arabella terkejut melihat perubahan sikap Marquess Filan yang kembali dingin seperti dulu.


"Aku ingin tahu, apakah benar kau akan dipindahtugaskan di daerah perbatasan?" Tanyanya.


Marquess Filan menyerngitkan dahinya, lalu menarik napas panjang. "Apakah hal itu penting bagi Nona?"


Arabella terdiam.


"Ya, itu benar. Nona bisa tenang sekarang karena aku tidak akan mengganggu hidup Nona lagi." Ucap Marquess Filan.


"Mengapa kau melakukannya?" Tuntut Arabella.


"Aku ingin melihat orang yang aku cintai bisa hidup bahagia." Jawab Marquess Filan sambil memaksakan senyumnya.


Arabella menitikkan air matanya. "Kalau kau mencintaiku, lantas mengapa kau ingin pergi meninggalkanku?"


"Karena aku tidak ingin melihatmu menderita karena keberadaanku di sekitarmu."


Arabella tidak bisa membendung amarahnya lagi.


"Dasar bodoh. Aku memang marah dan kesal padamu. Tapi bukan berarti aku bisa hidup jauh darimu. Beberapa hari ini hidupku terasa hampa karena berjauhan denganmu." Ucap Arabella sambil memukul dada Marquess Filan.


Marquess Filan memegang tangan Arabella dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Kau benar-benar jahat, Filan. Mengapa kau mempermainkan perasaanku seperti ini?" Lirih Arabella sambil terisak.


"Aku minta maaf. Aku tidak ingin terus menerus membuatmu kesal. Aku sangat mencintaimu, Arabella." Jawab Marquess Filan.


Marquess Filan mengurai pelukan mereka dan menghapus air mata Arabella dengan lembut. Marquess Filan menarik dagu Arabella dan menci um bibirnya dengan lembut. Namun kelembutan itu hanya bertahan sementara karena selanjutnya ciu man lembut itu berubah menjadi lum atan-lum atan yang saling menuntut.


...***...


Ratu Roseline duduk santai di kamarnya sambil tersenyum puas setelah menghabiskan puluhan tusuk sate kelincinya. Marie datang membawakan air jeruk hangat.


"Terima kasih, Marie." Ucap Ratu Roseline.


"Sama-sama, Nona." Sahut Marie.


Wajah Marie terlihat gusar.


"Ada apa Marie?" Tanya Ratu Roseline.


"Itu Nona, Baginda Raja masih berdiri dan berjaga di depan pintu." Jawab Marie.


"Biarkan saja. Nanti dia juga akan pergi dengan sendirinya." Ucap Ratu Roseline cuek.


"Sepertinya Baginda sedang tidak sehat Nona. Wajah Baginda terlihat pucat." Ucapnya Marie dengan hati-hati.


"Kalau begitu kau keluarlah dan suruh dia kembali ke kamarnya. Atau kau panggilkan saja Marquess Filan." Kata Ratu Roseline.


Marie mengangguk. Dia segera keluar dari kamar Ratu Roseline dan menemui Raja Alec.


"Ada apa Marie? Apa Alice menginginkan sesuatu?" Tanya Raja Alec.


Marie menggeleng. "Nona Alice ingin Baginda pergi dari sini dan kembali ke kamar Baginda."


"Katakan kepada Alice, aku tidak akan mengganggunya. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Dan aku berjanji, aku akan pergi setelah memastikan dia tidur dengan nyenyak." Ucap Raja Alec.


Pintu kamar terbuka dan keluarlah Ratu Roseline dengan wajah marahnya.


"Apa Baginda tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Marie tadi? Aku ingin Baginda pergi dari sini. Keberadaan Baginda di sini hanya akan membuatku terganggu. Aku tidak ingin Baginda berada di dekat ruang pribadiku." Bentak Ratu Roseline.


Raja Alec melebarkan matanya. Bentakan Ratu Roseline juga mengejutkan Marquess Filan dan Arabella yang berjalan ke arah mereka.


"Aku minta maaf Alice. Baiklah aku akan pergi sesuai keinginanmu. Kau bisa masuk kembali ke kamarmu dan beristirahatlah." Ucap Raja Alec dengan lembut.


Raja Alec melangkahkan pergi dari hadapan Ratu Roseline. Baru beberapa langkah, tubuh Raja Alec jatuh terkulai di atas lantai.


"Baginda!" Teriak Marquess Filan sambil berlari ke arah Raja Alec.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰