
"Karena kau adalah calon suami idamanku." Ucap Putri Viviane dengan lantang.
Duke Ramon langsung terdiam dan terpaku.
"Mengapa kau terdiam, Duke? Aku yakin saat ini kau pasti merasa sebagai pria yang paling beruntung di dunia ini."
"Apa kau salah makan tadi? Sepertinya otakmu bermasalah." Ucap Duke Ramon dingin.
Senyuman Putri Viviane langsung menguap. "Mengapa kau bilang seperti itu? Apa kau tidak menyukaiku?"
"Tidak." Duke Ramon melangkahkan kakinya meninggalkan Putri Viviane begitu saja.
"Hei, mau ke mana kau? Aku belum selesai bicara."
Putri Viviane mengejar dan menarik tangan Duke Ramon sehingga mereka berhadapan kembali.
"Beraninya kau menyentuhku." Bentak Duke Ramon.
"Mengapa tidak? Aku bebas menyentuhmu di sini, di sini dan di sini." Dengan senyum genitnya Putri Viviane menunjuk tangan, dada dan wajah Duke Ramon.
Duke Ramon semakin kesal. Dia mencekal tangan Putri Viviane dan mencengkeramnya dengan kuat membuat Putri Viviane memekik kesakitan.
"Mana sifat sombongmu tadi, hah? Wanita lemah dan manja sepertimu disentuh sedikit saja sudah kesakitan. Dan aku tidak suka wanita lemah."
Duke Ramon menghempaskan tangan Putri Viviane dengan kasar.
"Apa kau bilang? Aku bukan wanita lemah, Duke. Beraninya kau meremehkanku." Ucap Putri Viviane tak terima.
Tatapan Duke Ramon semakin dingin. Dia melangkah maju membuat Putri Viviane gugup.
"Kau memang lemah, manja dan tidak berguna."
Putri Viviane bergerak mundur, namun gaunnya terinjak oleh kaki Duke Ramon sehingga tubuhnya limbung dan akan jatuh ke belakang.
"Aarghh!"
Putri Viviane menarik baju Duke Ramon, sehingga keduanya jatuh bersamaan dengan posisi Duke Ramon berada di atas tubuh Putri Viviane. Duke Ramon berusaha untuk bangun, namun Putri Viviane menariknya kembali sehingga pertemuan kedua bibir mereka tak terelakkan lagi.
Raja Alec dan Duke Sullivan yang sedang berbincang, tiba-tiba samar-samar mendengar suara pertengkaran dan teriakan dari arah taman belakang. Keduanya segera melangkah menuju taman dan dikejutkan dengan dua insan yang berada di atas tanah berselimut salju dengan posisi seperti roti lapis.
"Ramon!"
Tautan bibir Duke Ramon dan Putri Viviane pun terlepas. Duke Ramon segera bangun dan berdiri tanpa menghiraukan Putri Viviane yang masih tergeletak di tanah. Putri Viviane mendengus kesal.
"A-ayah, Baginda Raja. Aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Ucap Duke Ramon gelalapan.
"Benarkah? Lalu mengapa kalian berdua saling bertumpuk di atas salju yang dingin ini? Apa kalian berusaha untuk saling menghangatkan?" Tanya Raja Alec sambil berusaha menahan tawanya.
"Kami tadi tidak sengaja terjatuh. Dan itu semua karena kebodohan wanita ini. Dia terus mengejarku meskipun aku sudah menolaknya." Ucap Duke Ramon sambil menunjuk ke arah Putri Viviane.
Putri Viviane yang tak terima pun langsung berdiri. "Sungguh tega sekali kau, Duke Ramon. Kalau bukan karena kau yang telah menginjak gaunku, kita berdua tidak akan jatuh."
"Dan lebih sialnya lagi, aku tidak akan kehilangan ciuman pertamaku. Kau sungguh keterlaluan. Aku tidak terima. Kau harus bertanggung jawab, Duke Ramon." Tambahnya.
"Apa yang harus aku pertanggung jawabkan? Semua yang terjadi karena ketidak sengajaan." Tolak Duke Ramon.
Putri Viviane langsung menatap ke arah Duke Sullivan dengan tatapan sedih. "Lihatlah kelakuan putramu, Tuan Duke. Putramu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya kepadaku. Dia adalah pria pertama yang telah menyentuhku."
"Tidak, Ayah. Jangan dengarkan ucapannya. Wanita ini tidak waras." Sahut Duke Ramon.
"Cukup Ramon. Jaga sikapmu. Bagaimana pun juga dia adalah seorang putri." Tegur Duke Sullivan.
Duke Ramon pun tak berani membantah. Dia menatap kesal ke arah Putri Viviane yang tersenyum tipis seolah megejeknya.
"Vi, tanganmu berdarah lagi." Seru Raja Alec.
Putri Viviane mengangkat tangan kanannya dan darah segar mengalir dari balik sarung tangannya.
"Sepertinya jahitannya robek lagi." Lirihnya.
Brukk... (Putri Viviane jatuh pingsan)
"Ramon, bawa Putri Viviane masuk ke dalam supaya Ronaf bisa mengobati lukanya." Perintah Duke Sullivan.
"Mengapa Ayah tidak menyuruh penjaga saya yang mengangkat tubuhnya." Protes Duke Ramon yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ayahnya.
Duke Ramon akhirnya mengalah dan segera mengangkat tubuh Putri Viviane, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Tuan Ronaf segera memeriksa dan mengobati luka di tangan Putri Viviane.
"Lukanya cukup dalam Baginda. Hamba harus segera menutup lukanya kembali agar darahnya berhenti keluar." Ucap Tuan Ronaf.
"Lakukan secepatnya Tuan Ronaf, sebelum dia bangun. Kau tidak akan bisa menjahit lukanya dengan tenang saat kesadarannya kembali." Jawab Raja Alec.
"Tapi mengapa jahitannya bisa terbuka lagi? Padahal baru beberapa saat yang lalu, dokter telah menutup lukanya. " Raja Alec penasaran.
Wajah dingin Duke Ramon mulai melunak. Dalam benaknya dia merasa bersalah karena ulahnyalah luka jahitan di tangan Putri Viviane terbuka.
Putri Viviane meringis kesakitan saat menggerakkan tangannya.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu Putri, karena jahintannya masih basah." Ucap Tuan Ronaf.
Putri Viviane bernapas lega, karena dia tidak perlu merasakan kesakitan yang luar biasa akibat tusukan jarum jahit.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Putri Viviane.
"Pelayan. Antarkan Putri Viviane kembali ke kamarnya di paviliun tamu." Perintah Raja Alec.
"Biar hamba saja yang mengantarkannya, Baginda." Ujar Duke Ramon.
Duke Ramon membantu Putri Viviane bangun dan memapahnya. Keduanya tetap diam seribu bahasa sampai di paviliun tamu.
"Terima kasih banyak, Duke Ramon." Ucap Putri Viviane.
Duke Ramon hanya mengangguk. Pelayan membantu Putri Viviane masuk ke dalam kamarnya.
"Tunggu."
Putri Viviane menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Aku minta maaf. Aku tidak tahu jika tanganmu sedang terluka." Ucap Duke Ramon.
Putri Viviane tersenyum. "Aku memaafkanmu. Justru aku merasa senang. Dengan adanya musibah ini kau jadi bersikap manis padaku."
"Dasar tidak waras. Kau benar-benar menyebalkan." Ucap Duke Ramon kesal.
"Tapi kan cantik dan mempesona." Sahut Putri Viviane.
Duke Ramon segera pergi dari sana.
"Hei, jangan lupa kau harus bertanggung jawab, Duke. Bibirku ini sangat berharga." Teriak Putri Viviane.
Duke Ramon tidak menghiraukan teriakan Putri Viviane dan semakin mempercepat langkahnya. Duke Ramon melihat seorang pelayan yang baru saja merapikan salah satu kamar tamu di kediaman Tuan Ronaf.
"Siapa yang akan menempati kamar ini?" Tanya Duke Ramon kepada pelayan.
"Aku." Seru Raja Alec yang berdiri di belakang Duke Ramon.
"Mengapa Baginda tidak tinggal di paviliun tamu?" Tanya Duke Ramon sedikit ketus.
"Mana mungkin aku berjauhan dengan istri dan calon anak kembarku?" Jawab Raja Alec dengan santainya.
"Dia bukan Roseline, tapi Alice, Baginda." Sahut Duke Ramon.
"Tapi tubuh itulah yang aku nikahi."
"Benar, tapi atas nama adikku Roseline bukan Alice." Duke Ramon tak terima.
"Kalau begitu aku akan menikahinya ulang dengan nama Alice."
Duke Ramon mengeraskan rahangnya. Dia masih marah dan kesal atas sikap Raja Alec selama ini.
"Tidak peduli, Roseline atau Alice, dia dan si kembar adalah tanggung jawabku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mereka. Bahkan nyawaku sekalipun sebagai taruhannya." Tambahnya.
"Berbicara memang sangatlah mudah, Baginda." Ucap Duke Ramon dengan nada mengejek.
Raja Alec tersenyum tipis. "Kau hanya perlu menjadi penonton dan penilai, apakah aku masih layak atau tidak untuk adikmu."
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰