
Keesokan paginya, Ratu Roseline (Alice) keluar dari tendanya. Semalam dia tidur dengan sangat lelap setelah dokter memberinya obat untuk meredakan rasa sakit dan nyeri dari bahunya yang terluka. Para prajurit langsung memberikan hormat saat bertemu dengannya.
"Di mana Baginda Raja? Aku tidak melihatnya sama sekali sejak kemarin?" Batin Ratu Roseline.
"Apa Ratu sedang mencari Baginda Raja?" Tanya Marie yang mengerti kegelisahan junjungannya.
Ratu Roseline mengangguk. "Aku tidak melihatnya sejak kemarin."
"Baginda Raja kemarin sangat sibuk menangani prajurit yang terluka, juga mengurusi jenazah para prajurit yang gugur di medan perang." Ucap Marie.
Raut wajah Ratu Roseline terlihat sendu. "Aku sudah berusaha semampuku untuk melindungi mereka, tapi Tuhanlah yang lebih berkuasa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga para prajurit itu."
"Namanya juga perang, apalagi ini perang besar Yang Mulia. Pasti akan memakan banyak korban. Hamba dengar, Baginda Raja menjamin kesejahteraan hidup dari keluarga prajurit yang terluka dan telah gugur."
"Syukurlah. Setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban mereka." Ujar Ratu Roseline sambil tersenyum simpul.
"Semalam Baginda Raja juga mengunjungi tenda Yang Mulia." Celetuk Marie.
Ratu Roseline langsung menatap ke arah Marie dengan tatapan tak percaya.
Marie terkekeh pelan. "Hamba tidak berbohong. Semalam Yang Mulia sempat mengalami demam. Baginda Raja sendiri yang merawat Yang Mulia. Baginda Raja bahkan melarang hamba untuk mengompres Yang Mulia. Semuanya dilakukan sendiri oleh Baginda Raja."
Wajah Ratu Roseline langsung merona. Marie tersenyum, lalu dia ijin ke dapur untuk mengambilkan makanan sebagai sarapan mereka.
"Yang Mulia Ratu." Sapa Raja Sevilen.
"Raja Sevilen." Sahut Ratu Roseline.
"Bagaimana keadaan Ratu pagi ini? Aku dengar Ratu mengalami demam semalam akibat luka di bahu Ratu." Tanya Raja Sevilen.
"Keadaanku sudah jauh lebih baik Raja Sevilen. Terima kasih." Jawab Ratu Roseline sambil tersenyum.
Ratu Roseline dan Raja Sevilen melihat Raja Abraham pergi menunggangi kuda dengan terburu-buru bersama rombongannya.
"Mengapa Raja Abraham terlihat sedang terburu-buru? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ratu Roseline.
"Aku dengar adik sepupunya, Lady Xena, sedang terluka parah karena menyelamatkan Jenderal Azel
di medan perang kemarin. Sepertinya Raja Abraham ingin melihat keadaan saudarinya." Jawab Raja Sevilen.
"Lady Xena berada di medan perang?"
"Benar. Lady Xena menyelinap ke dalam rombongan prajurit Kerajaan Sun." Terang Raja Sevilen.
"Cinta yang luar biasa." Ucap Ratu Roseline.
"Hei, mau apa kalian datang kemari? Apa kalian ingin menyerang kami atau menyerahkan diri?" Terdengar teriakan dari para prajurit yang sedang berjaga.
Ratu Roseline dan Raja Sevilen segera mendekati arah suara teriakan itu. Mereka melihat beberapa prajurit berlambangkan Kerajaan Liam sedang berhadapan dengan prajurit Cardania.
"Kalian tidak perlu cemas. Kedatangan kami bukan untuk mencari masalah dengan kalian. Sebaiknya kita berdamai sekarang, karena kedua kerajaan kita akan bersatu." Ucap salah seorang prajurit Liam sambil tersenyum.
Prajurit Cardania terlihat bingung.
"Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan utusan Baginda Raja Henry menemui Raja Alec. Raja Henry memberikan penawaran yang baik untuk Raja Alec. Raja Henry menawarkan Kerajaan Liam untuk menjadi bagian dari Kerajaan Cardania dan berjanji tidak akan menyerang Kerajaan Sun lagi, dengan syarat Raja Alec harus menikah dengan Putri Viviane dan mengangkat Putri Viviane menjadi Ratu Cardania."
Ratu Roseline dan Raja Sevilen membulatkan mata mereka.
Parjurit Cardania tertawa meremehkan. "Kami sudah memiliki Ratu yang cantik dan sempurna, yaitu Ratu Roseline. Kami tidak membutuhkan Ratu baru. Aku yakin Baginda Raja Alec tidak akan mungkin mengkhianati Ratu Roseline."
"Asal kalian tahu, Putri Viviane adalah wanita tercantik di Kerajaan Liam. Banyak raja muda dan pangeran yang ingin mempersuntingnya, namun Putri Viviane menolak mereka semua. Putri Viviane hanya tertarik pada pria hebat seperti Raja Alec." Sahut prajurit Liam.
Ratu Roseline meremas gaunnya.
"Apa kau baik-baik saja, Ratu? Aku yakin Raja Alec tidak akan menuruti keinginan Raja Henry." Ucap Raja Sevilen.
Ratu Roseline tidak menjawab dan langsung berlari menuju tempat Raja Alec. Raja Sevilen hendak menyusul, namun prajuritnya datang untuk melapor.
"Yang Mulia." Hormat prajurit yang berjaga di luar tenda Raja Alec.
"Apa Baginda ada di dalam?" Tanya Ratu Roseline.
"Benar Yang Mulia. Baginda saat ini sedang menerima tamu penting dan tidak ingin diganggu."
"Aku harus menemui Baginda Raja sekarang juga." Tegas Ratu Roseline.
"Mohon maaf, Baginda Raja tidak bisa menemui Yang Mulia Ratu saat ini." Prajurit itu menahan Ratu Roseline agar tidak mendekati tenda Raja Alec.
"Ratu. Ada apa ini?" Tanya Duke Ramon.
"Kakak, aku harus menemui Baginda Raja sekarang. Tapi mereka menghalangiku." Jawab Ratu Roseline.
"Mohon maaf Tuan Duke. Kami hanya menjalankan perintah Baginda Raja."
Ratu Roseline kehilangan kesabarannya dan menarik salah satu pedang prajurit itu.
"Yang Mulia."
"Minggir atau aku tidak segan-segan melukai kalian tanpa ampun." Ratu Roseline mengeluarkan aura yang mengerikan.
Para prajurit itu segera menyingkir dan memberi jalan. Ratu Roseline langsung menuju tenda Raja Alec diikuti oleh Duke Ramon.
"Katakan kepada Raja Henry aku menerima tawarannya. Satu minggu lagi rombongan dari Cardania akan datang ke Kerajaan Liam." Terdengar suara Raja Alec dengan jelas.
Ratu Roseline hendak membuka pintu tenda, namun gerakan tangannya langsung berhenti begitu mendengar perkataan Raja Alec.
"Baginda Raja Henry dan Putri Viviane pasti sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Satu minggu lagi kerajaan kami akan mengadakan pesta pernikahan yang besar dan mewah untuk kalian." Ucap utusan dari Kerajaan Liam.
"Apa maksud ucapan Raja Alec?" Tanya Duke Ramon tak mengerti.
Ratu Roseline membalikkan badannya dan menatap Duke Ramon. "Kakak, aku mohon bawa aku pergi jauh dari sini."
Duke Ramon yang tak tahan melihat kesedihan yang terpancar di mata adiknya, langsung mengambil pedang yang berada di tangan Ratu Roseline dan membuangnya ke tanah. Duke Ramon menarik tangan Ratu Roseline dan membawanya pergi dari sana.
Felix dan Marie kebingungan mencari keberadaan Ratu Roseline. Mereka pun mendatangi tenda Raja Alec. Raja Alec keluar dari tendanya bersama utusan dari Kerajaan Liam. Utusan itupun segera pamit undur diri.
"Baginda."
"Apakah Yang Mulia Ratu sedang bersama Baginda saat ini?" Tanya Felix.
"Ratu? Tidak. Aku bahkan belum bertemu dengannya pagi ini." Jawab Raja Alec.
"Yang Mulia Ratu tidak ada Baginda." Ucap Marie.
"Apa maksudmu? Bukankah Ratu selalu bersamamu?" Tanya Raja Alec dengan wajah marah.
"Benar Baginda. Hamba tadi pergi ke dapur untuk mengambil makanan, dan saat hamba kembali Ratu sudah tidak ada." Jawab Marie sambil menangis karena kalut.
"Ada apa Marie? Mengapa kau menangis?" Tanya Arabella yang tiba bersama Marquess Filan.
"Yang Mulia Ratu menghilang, Nona Ara." Jawab Marie.
"Menghilang? Bagaimana mungkin? Apa kalian sudah mencari di tempat Kak Ramon?"
"Sudah Nona. Tuan Duke juga tidak ada di tendanya." Jawab Felix.
"Ratu Roseline tadi berlari menuju ke sini." Ucap Raja Sevilen.
Raja Alec melebarkan matanya.
"Apa Ratu datang ke sini?" Tanya Raja Alec.
"Benar, Baginda. Beberapa saat yang lalu, Yang Mulia Ratu datang ke sini bersama Duke Ramon. Ratu memaksa untuk bertemu dengan Baginda. Ratu mengambil salah satu pedang kami dan mengancam akan melukai kami jika tidak diijinkan masuk." Jawab prajurit yang berjaga ketakutan.
Raja Alec mengeraskan rahangnya. Raja Sevilen menyerngitkan dahinya.
"Apa kau menerima tawaran Raja Henry?" Tanya Raja Sevilen.
Raja Alec menatap Raja Sevilen dengan tajam.
"Penawaran apa?" Tuntut Arabella.
Raja Alec tidak menjawab, hanya mengepalkan tangannya.
"Jadi benar, kau menerima tawaran menikah dengan Putri Viviane dan menyatukan Kerajaan Cardania dengan Kerajaan Liam." Ucap Raja Sevilen kecewa.
Semua terlihat terkejut dan terbelalak.
"Menikah? Menyatukan dua kerajaan? Apa yang sebenarnya terjadi, Baginda? Apa maksud ucapan Raja Sevilen?" Cerca Marquess Filan.
"Sebaiknya kau diam, Filan. Aku adalah Raja, semua keputusan ada di tanganku." Ucap Raja Alec.
Marquess Filan langsung terdiam. Raja Sevilen langsung pergi dan mencari keberadaan Ratu Roseline.
"Luar biasa sekali, Baginda Raja yang terhormat. Setelah semua yang dilakukan oleh Ratu, sekarang kau membalasnya dengan sebuah pernikahan dengan putri dari Kerajaan Liam demi memenuhi ambisimu sebagai sang penguasa." Cibir Arabella.
"Cukup Arabella. Hentikan." Tegur Marquess Filan.
Arabella menatap sinis ke arah Marquess Filan. "Ada apa Marquess Filan? Apa kau tidak terima?"
"Aku bilang hentikan Arabella. Jaga sikapmu di hadapan Baginda Raja." Tegas Marquess Filan.
Arabella terkekeh pelan.
"Hamba ucapan selamat kepada Baginda Raja atas rencana pernikahan yang luar biasa ini. Dan hamba sangat berharap Alice sudah pergi jauh dari sini, kalau perlu Tuhan mengirimnya kembali ke dunianya dan dia bisa hidup bahagia. Di sini, dia hanya akan merasakan penderitaan yang selalu Baginda berikan." Ucap Arabella sambil tersenyum sinis.
"Ayo Felix, Marie, kita pergi dari sini. Kita sudah tidak ada urusan di sini."
Raja Alec masuk kembali ke dalam tendanya tanpa berkata apa-apa diikuti oleh Marquess Filan.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Filan. Tapi aku sedang tidak ingin membahasnya. Kita kembali ke istana sekarang juga. Aku ingin kau mempersiapkan segala sesuatunya. Minggu depan kita berangkat ke Kerajaan Liam." Perintah Raja Alec.
"M-minggu depan?"
Marquess Filan mendapatkan tatapan tajam dari Raja Alec. "Baik, Baginda. Segera hamba laksanakan."
Arabella, Felix dan Marie tiba Kediaman Duke Sullivan. Namun mereka tidak menemukan Ratu Roseline di sana. Duke Sullivan dan Duke Ramon juga tidak ada. Marie terus menangis.
"Mengapa Nona tega meninggalkanku? Bukankah Nona berjanji akan selalu membawaku kemanapun Nona pergi? Benarkah apa yang dikatakan oleh Nona Arabella jika Nona telah kembali ke dunia Nona?" Lirih Marie sambil terisak.
Marie menangisi kepergian Alice di dalam kamar Ratu Roseline.
"Lapor Baginda. Ratu dan Tuan Duke tidak berada di Kediaman Duke Sullivan. Nona Arabella, Felix dan Marie masih berada di sana untuk mencari petunjuk." Lapor prajurit bayangan Raja Alec.
"Terus awasi mereka." Ucap Raja Alec sambil menyesap winenya.
"Baik, Baginda." Prajurit bayangan itu segera menghilang dari hadapan Raja Alec.
Raja Alec mengeraskan rahangnya dan melempar gelasnya ke dinding sampai hancur. Dia lalu meneguk minumannya langsung dari botolnya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰