
Alice bersama Bella dan Jacob berdiri di depan pintu lift sambil menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Mereka tengah berada di Suarez Corps, dan akan menuju ruang pertemuan yang ada di lantai 5 gedung tersebut.
"Kau pasti bisa, Alice." Alice menyemangati dirinya sendiri.
Seorang pria bersama dengan asistennya baru saja tiba dan ikut berdiri di depan lift. Alice terkejut saat melihat siapa yang tengah berdiri tak jauh darinya. Alice menatap lekat pria yang telah menyelamatkannya semalam dari seorang pria mabuk, dan pria yang sepintas mirip dengan Alec. Meskipun saat ini Sean menggunakan kacamata Alice tetap bisa mengenalinya.
Deg.
"Kau." Seru Alice.
Jacob dan Bella menoleh ke arah Sean. Bella melebarkan matanya.
"Senang bertemu denganmu lagi, Nona." Ucap Sean sambil tersenyum tipis.
Belum sempat Alice menjawab, pintu lift terbuka. Mereka semua segera masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup kembali dan Bill segera menekan angka 5 sehingga lift membawa mereka ke lantai 5. Tidak ada satupun yang membuka suara sampai pintu lift terbuka kembali. Sean dan Bill melangkah keluar terlebih dahulu, dan setelahnya Alice bersama kedua asistennya.
Sean berhenti lalu berbalik.
"Semoga berhasil, Nona Quinn." Ucapnya sambil menyinggungkan bibirnya, lalu melanjutkan langkah lebarnya lagi.
Alice mengepalkan tangannya.
"Heh. Beraninya pria itu meremehkan kita, Nona." Ucap Jacob kesal membuat Alice semakin mengeraskan rahangnya.
"Kita ke toilet sebentar, Boss." Ucap Bill.
"Tapi aku tidak..."
Ucapan Sean terputus karena Bill langsung menarik tangannya menuju toilet yang letaknya tak jauh dari ruang pertemuan.
"Lancang sekali kau, Bill!" Bentak Sean saat keduanya sudah berada di dalam toilet.
"Apa yang sudah kau lakukan, Boss?" Tanya Bill.
"Hah? Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Kau yang aneh, tiba-tiba menyeretku ke dalam toilet". Ucap Sean kesal.
Bill menepuk dahinya pelan.
"Apa yang telah Boss lakukan kepada Nona Quinn barusan?" Tegas Bill.
Sean menyerngitkan dahinya.
"Memangnya salah jika aku memberinya semangat?" Jawabnya dengan santai.
Bill membuang napasnya kasar. "Aku tahu Boss sedang berusaha untuk menarik perhatian Nona Quinn. Tapi mengapa Boss menunjukkan sikap meremehkan seperti itu?"
"Apa maksudmu, Bill?" Sean semakin tidak mengerti.
"Ekhhm!" Bill berdehem.
"Semoga berhasil, Nona Quinn."
Bill menirukan ucapan Sean lengkap dengan gaya tersenyumnya.
"Lalu, letak kesalahannya di mana? Aku berusaha bersikap ramah kepadanya." Ucap Sean yang membuat Bill semakin geram.
"Ucapan Boss tidak salah. Tapi cara Boss tersenyum kepadanya itu yang tidak tepat."
Bill menyinggungkan bibirnya lagi.
"Mengapa kau meremehkanku, Bill?" Sean sangat kesal melihat senyuman Bill yang seolah sedang meremehkannya.
"Bagaimana perasaan Boss sekarang? Marah? Kesal?"
"Tentu saja. Rasanya aku ingin memukul wajahmu yang menyebalkan itu." Sahut Sean sedikit membentak.
"Ahaa... Itu juga yang sedang dirasakan oleh Nona Quinn saat ini. Boss tahu mengapa? Karena Boss memberinya senyuman meremehkan seperti yang telah aku praktikkan barusan." Cerocos Bill.
Ekspresi wajah Sean seketika berubah. "Apa kau serius, Bill?"
Bill mengangguk. "1000%."
Sean mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Boss harus tetap bersikap tenang dan santai. Buat Nona Quinn terpesona dengan kelebihan yang Boss miliki, yaitu rencana kerjasama yang akan kita ajukan kepada Tuan Suarez. Tunjukkan kehebatan Boss saat melakukan presentasi nanti." Jawab Bill.
"Kau benar, Bill. Aku harus tampil semaksimal mungkin."
Sean segera merapikan penampilannya sambil tersenyum senang.
"Saya sarankan Boss hasil harus banyak belajar bagaimana cara tersenyum yang baik. Senyum Anda terkesan kaku, karena selama ini Anda terlalu banyak menampilkan wajah beku." Ucap Bill yang seketika melunturkan senyum di wajah Sean.
"Selamat datang Tuan Parker." Seru Tuan Suarez saat Sean dan Bill tiba di ruang pertemuan.
Di dalam ruangan tersebut telah hadir CEO dan perwakilan dari empat perusahaan besar yang berasal dari Eropa, Asia maupun Australia.
"Perkenalkan Tuan dan Nona, beliau adalah Tuan Sean Parker, CEO dari salah cabang Parker Groups yang ada di Amerika. Tuan Sean adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses dan tidak perlu diragukan lagi kehebatannya." Terang Tuan Suarez.
"Baiklah Tuan Sean, silakan Anda menempati kursi dan puncak dari diadakan pertemuan ini akan segera kita mulai."
Sean dan Bill segera menempati tempat duduk mereka. Sean duduk berhadapan dengan Alice. Sean meneguk salivanya pelan saat melihat tatapan dingin yang Alice berikan padanya.
"Tetap tenang Boss." Bisik Bill.
"Tutup mulut cerewetmu itu dan berhentilah menceramahiku, Bill." Gerutu Sean.
Tuan Suarez segera membuka rapat pertemuan penting itu dan meminta CEO atau perwakilan dari masing-masing perusahaan untuk mempresentasikan materi yang telah mereka siapkan. Quinn Cooperation mendapatkan urutan yang keempat dan Parker Groups urutan kelima.
Alice mempresentasikan rencana kerjasama yang luar biasa di hadapan Tuan Suarez dan pengusaha yang lain. Tuan Suarez tersenyum senang. Tawaran yang Quinn Cooperation berikan sangat bagus dan pastinya akan memberikan keuntungan yang banyak bagi kedua belah pihak.
Dari arah mejanya, Sean menatap Alice kagum. Selain cantik, Alice menunjukkan jika dirinya adalah waniya yang cerdas dan tangguh.
"Tidak salah jika dia mendapatkan penghargaan sebagai The Best Entrepreneur selama 5 tahun berturut-turut." Gumam Sean.
Suara tepuk tangan menggema dengan keras saat Alice selesai dengan presentasenya. Alice kembali ke tempat duduknya sambil melempar senyum angkuhnya ke arah Sean. Sean menanggapinya dengan senyum simpul sebelum dia berdiri.
"Baiklah Tuan-tuan dan Nona sekalian. Saya sudah melihat presentasi dan penawaran luar biasa yang kalian tunjukkan tadi. Ini merupakan hal yang sulit dan juga berat bagi saya untuk mengambil keputusan." Ujar Tuan Suarez.
Semua wajah menunjukkan ekspresi tegang, tak terkecuali dengan Alice. Tuan Suarez berdiskusi sebentar dengan dewan direksi yang lain di ruangan sebelah. Tak lama kemudian Tuan Suarez kembali dengan raut bahagia.
"Baiklah. Saya akan mengumumkan hasilnya. Dari penilaian saya pribadi, juga dengan dewan direksi yang lain dengan ingin memutuskan bahwa tender Suarez Corps. jatuh kepada Parker Groups." Ucap Tuan Suarez.
"Yes!" Sean dan Bill terlihat sangat bahagia dengan kemenangan mereka.
Alice mengepalkan tangannya di bawah meja sebagai ungkapan rasa kecewanya karena gagal memenangkan tander itu.
"Dan Quinn Cooperation." Tambah Tuan Suarez.
Alice membelalakkan matanya tak percaya. Sean dan Bill pun berhenti tertawa.
"A-apa maksud, Tuan?" Tanya Alice.
"Tender ini dimenangkan oleh dua perusahaan yaitu Parker Groups dan Quinn Cooperation. Aku ingin bekerja sama dengan dua pengusaha muda hebat seperti kalian berdua." Jawab Tuan Suarez.
"Yeii, kita menang Nona." Seru Bella dengan wajah bahagia.
Alice hanya mengangguk sambil tersenyum. Para kandidat yang telah gagal mengucapkan selamat kepada Alice, Sean dan Tuan Suarez, lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Selamat bergabung dengan Suarez Corps., Tuan Parker dan Nona Quinn."
"Terima kasih, Tuan." Jawab Alice dan Sean bersamaan.
"Untuk merayakan awal kerja sama dari tiga perusahaan besar ini, saya mengundang kalian berdua untuk makan malam sekaligus menginap di villa milik Keluarga Suarez. Sopir kami yang akan menjemput dan mengantarkan kalian ke villa." Ucap Tuan Suarez.
Alice dan Sean mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kemudian, mereka meninggalkan Suarez Corps.
"Selamat Nona Quinn. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Ucap Sean sambil tersenyum ramah.
"Saya juga mengucapkan selamat untuk Anda, Tuan Parker. Semoga Anda bisa bekerja sama dengan baik dan prosfesional. Kalau begitu kami permisi dulu." Balas Alice.
"Sampai berjumpa kembali nanti malam, Nona." Tambah Sean.
Alice hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya lalu berlalu pergi. Sean dan Bill juga segera pergi menuju mobil mereka.
"Selamat Boss. Nasib baik telah berpihak kepada Anda." Ucap Bill dan dibalas dengan senyuman yang melengkung di bibir Sean.
"Tapi Boss juga harus berhati-hati. Kakek dan Ayah Anda pasti selalu mengawasi gerak gerik Anda selama di sini." Lanjut Bill.
"Kau benar, Bill. Aku tidak menganggap remeh mereka. Aku harus sangat berhati-hati sebelum mengambil alih semua perusahaan milik keluarga Parker."
"Dan setelah semua berada di dalam genggamanku, tidak akan ada seorang pun yang akan mengatur hidupku lagi. Mereka semua tidak akan bisa melarangku untuk bersama wanita yang aku inginkan." Ucap Sean sambil mengeraskan rahangnya dan tatapan matanya menyimpan kemarahan.
...***...
Mobil yang ditumpangi Alice tiba bersamaan dengan mobil yang ditumpangi oleh Sean. Sean turun dari mobil dengan gagahnya. Malam ini dia mengenakan setelan tuxedo hitam. Asistennya Bill juga tak kalah tampan dengan Bossnya. Bill juga mengenakan setelan tuxedo.
Sedangkan Alice mengenakan gaun berbentuk A-line selutut dan lengan sebahu. Gaun Alice berwarna hijau zamrud dan pewarna bibir merah menyala, kontras dengan warna kulitnya yang seputih susu. Rambut hitamnya dimodel half undo dan diberi hiasan rambut yang senada dengan bajunya. Alice menggunakan sepatu dan cluth berwarna hitam yang membuatnya terlihat semakin elegan.
Sean terus menarik napas untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, saat melihat Alice berjalan ke arahnya.
"Selamat malam Tuan Parker, Tuan Billy." Ucap Alice.
"Selamat malam, Nona Quinn." Jawab Sean singkat.
"Malam ini Anda terlihat sangat memukau, Nona." Puji Bill.
"Terima kasih atas pujiannya Tuan Billy." Ucap Alice sambil tersenyum manis.
Sean mengepalkan tangannya. Dia tidak senang melihat Alice dan Bill saling melempar senyum.
"Sebaiknya kita segera masuk. Tuan dan Nyonya Suarez pasti sudah menunggu kedatangan kita." Seru Sean sambil berjalan lebih dulu.
"Kami masuk dulu, Nona." Bill segera menyusul Bossnya.
"Apa Nona lihat betapa tampannya Tuan Sean Parker malam ini? Saya sampai kesulitan mengontrol jantung saya yang berdebar-debar karena pesonanya." Ucap Bella memuji Sean.
"Menurutku dia terlihat sama seperti sebelum-sebelumnya. Sebaiknya kita juga segera masuk." Jawab Alice.
Alice melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa.
"Dasar wanita genit." Ejek Jacob yang kemudian segera mengikuti langkah Alice.
"Ck! Memangnya salah jika aku mengagumi pria tampan seperti Tuan Sean. Itu artinya aku masih normal." Gerutu Bella sambil mengikuti di belakang.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰