I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 85. Eksekusi Massal



Ruangan pengadilan istana tengah dipenuhi oleh para bangsawan yang ingin menyaksikan jalannya persidangan secara. Raja Alec duduk di singgasananya dengan Pangeran Marcello dan Putri Micheline yang duduk di samping kanan dan kirinya. Ketiganya menampilkan wajah dingin dengan tatapan tajam. Terdengar suara bisik-bisik dari para bangsawan yang sedang bergunjing.


"Kira-kira masalah apalagi yang dibuat oleh Pangeran dan Putri?"


"Aku dengar mereka telah membuat onar di pesta perayaan ulang tahun Nona Gretha dari keluarga Druff. Tanpa alasan yang jelas, Pangeran dan Putri dengan brutalnya menyerang Nona Gretha. Akibat ulah mereka kepala Nona Gretha nyaris mengalami kebotakan."


"Ya Tuhan, itu kejam sekali."


"Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa para pewaris kerajaan memiliki sikap yang sangat buruk seperti itu? Ini pasti karena pola asuh Yang Mulia Ratu yang buruk dan tidak sesuai dengan aturan dan tradisi istana yang telah berlangsung sejak dulu."


"Benar sekali."


Begitulah gunjingan-gunjingan yang keluar dari mulut para bangsawan yang membuat hati si kembar memanas.


"Beraninya mereka menghina Mommy kami." Gumam Putri Celine geram.


"Mereka harus diberi hukuman, Daddy." Sahut Pangeran Cello.


"Tenangkan diri kalian. Kita selesaikan dulu masalah dengan keluarga Druff." Jawab Raja Alec menenangkan.


"Bukan hanya kalian yang marah. Daddy juga. Rasanya Daddy ingin memotong lidah mereka, lalu menjahit mulut busuk mereka."


Raja Alec menatap ke arah kerumunan penggunjing dengan tatapan dinginnya. Seketika para bangsawan itu bubar dan saling memisahkan diri. Tak lama kemudian, Tuan Druff tiba bersama istri dan putrinya, Gretha, yang memakai penutup kepala untuk menutupi kepalanya yang naas. Hakim pun segera memulai persidangan.


"Hakim yang terhormat, kami dari keluarga Druff ingin meminta keadilan yang seadil-adilnya atas penderitaan yang dialami oleh putri kami, Gretha Druff akibat ulah Pangeran Marcello dan Putri Micheline." Ucap Tuan Druff.


Nona Gretha tiada henti menangis di pelukan ibunya, membuat iba semua orang.


"Apa kalian tahu dengan siapa kalian sedang berhadapan saat ini?" Tanya Hakim.


"Kami tahu, Hakim yang terhormat. Meskipun kami hanyalah keluarga bangsawan biasa, namun kami tidak bisa menerima perlakuan dari Pangeran dan Putri. Mereka memang masih anak-anak, akan tetapi sikap mereka tidak bisa dibiarkan." Jawab Tuan Druff dengab tegas.


Pernyataan Tuan Druff mendapat dukungan dari sebagian besar bangsawan. Terutama para bangsawan yang sebelumnya pernah dipermalukan oleh Pangeran dan Putri di depan umum.


"Baginda Raja, hamba mohon ijin untuk bertanya langsung kepada Pangeran dan Tuan Putri." Ucap Hakim.


"Silakan, Hakim." Jawab Raja Alec.


"Pangeran dan Tuan Putri...."


"Kami memang melakukannya, Hakim." Seru Pangeran Cello memotong ucapan Hakim.


Hakim pun menghela napas. "Boleh hamba tahu apa alasan Pangeran dan Tuan Putri melakukan hal tersebut kepada Nona Druff?"


"Karena dia telah berani menunjukkan rasa sukanya kepada Baginda Raja." Jawab Putri Celine.


"Itu alasan yang tidak masuk akal, Hakim. Di mana letak kesalahan putri hamba? Hanya karena putri hamba terpesona dengan karisma Baginda Raja, lantas Pangeran dan Tuan Putri bisa berbuat kejam kepada Putri hamba. Tata krama macam apa itu?" Sahut Tuan Druff tak terima.


Raja Alec mengepalkan tangannya dan berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Tentu saja salah karena dia tidak bisa menjaga matanya saat melihat pria yang telah memiliki istri dan dua orang anak." Jawab Pangeran Cello.


Pangeran Cello langsung berdiri.


"Dan kesalahan terbesarnya adalah dia berusaha untuk mencelakai Yang Mulia Ratu." Tegas Pangeran Cello sambil menunjuk ke arah Nona Gretha.


Raja Alec membulatkan matanya.


"Omong kosong macam ini." Teriak Tuan Druff.


"Jaga bicaramu, bangsawan Druff! Yang sedang kau hadapi saat ini adalah putraku, calon Raja Kerajaan Cardania." Bentak Raja Alec.


Tuan Druff langsung ketakutan. "H-hamba mohon ampun, Baginda."


Nona Gretha tampak gusar dan ketakutan.


"Lanjutkan Pangeran." Ucap Raja Alec.


Pangeran Cello mengangguk. "Saat di kediaman keluarga Druff, Nona Gretha menemui seorang wanita dan mereka membicarakan tentang rencana jahat untuk mencelakai ibu kami, Yang Mulia Ratu, dengan menggunakan bubuk racun."


"Benar kan, Nona Gretha Druff?" Tambah Pangeran Cello sambil menyeringai.


Nona Gretha terbelalak dan tubuhnya seketika gemetar.


Pada saat di taman kediaman Druff, Nona Gretha sempat meninggalkan Pangeran Cello dan Putri Celine untuk menemui seseorang yang memakai tudung kepala, beberapa saat sebelum pelayan menyajikan kue. Terlihat keduanya sedang berbicara serius. Meskipun Pangeran dan Putri tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, namun mereka memiliki bakat untuk membaca bahasa bibir. Pangeran Cello dan Putri Celine sangat marah.


"Bagaimana mungkin hamba melakukan hal sekejam itu kepada Ibu dari Kerajaan ini? Apalagi Yang Mulia Ratu saat ini sedang mengandung. A-apa buktinya?" Nona Gretha berusaha mengelak dengan menampilkan wajah sedihnya.


"Benar itu? Mana mungkin wanita baik dan berhati lembut seperti Nona Druff tega melakukannnya?"


"Dan bagaimana mungkin kita bisa mempercayai ucapan anak sekecil itu?"


Para bangsawan mulai bergunjing kembali.


Putri Celine ikut berdiri di samping saudara kembarnya dan tersenyum sinis. "Aku tahu kalian tidak akan mempercayai ucapan anak kecil seperti kami. Anak yang selalu kalian anggap tidak tahu apa-apa."


"Paman Dean, bawa masuk orang itu ke hadapan kami!" Teriak Putri Celine.


Glek...


Nona Gretha meneguk salivanya kasar.


"Katakan. Siapa namamu?" Tanya Raja Alec.


Wanita itu menunduk dengan wajah ketakutan.


"Apa kau tuli? Atau bisu? Jawab pertanyaanku!" Bentak Raja Alec.


"H-hamba Nigel, Baginda. Hamba adalah seorang pembuat segala jenis obat." Jawab wanita yang bernama Nigel itu.


"Apa kau mengenal Nona Druff, Nigel?" Tanya Hakim.


Nigel menoleh ke arah Nona Gretha. Nona Gretha menatapnya dengan tajam dan memberikan isyarat.


"Jawab dengan jujur, atau algojo akan menebas lehermu sekarang juga." Ancam Pangeran Cello yang membuat Nigel semakin ketakutan.


"H-hamba mengenal Nona Druff." Jawab Nigel sedikit terbata.


"Jangan bicara sembarangan. Aku tidak pernah bertemu dengan wanita rendahan sepertimu. Hamba mohon jangan percaya dengan ucapan wanita ini, Baginda." Teriak Nona Gretha.


"Beraninya kau mengataiku sebagai wanita murahan! Dasar wanita manja yang sombong." Sahut Nigel.


"Jaga ucapanmu! Beraninya kau membentak putriku!" Teriak Tuan Druff dan hendak menampar wajah Nigel.


Dengan cepat Dean menahan tangan Tuan Druff.


"Jaga tanganmu baik-baik, sebelum aku melepasnya dari tubuhmu." Gertak Dean.


Tuan Druff pun mundur dengan tubuh gemetar.


"Sekarang katakan, apa hubunganmu dengan Nona Druff?" Tanya Hakim lagi.


"Nona Druff meminta saya untuk membuatkan sebuah racun yang mematikan. Racun yang membunuh bayi dalam kandungan beserta ibunya. Hamba mempunyai buktinya, yaitu koin emas yang Nona Druff berikan sebagai upah hamba yang dimasukkan ke dalam peti yang berlambangkan bangasawan Druff." Jawab Nigel.


Seorang pengawal masuk dan menunjukkan barang bukti yaitu sebuah peti berlambangkan keluarga Druff dan di dalamnya berisi koin emas dalam jumlah cukuo banyak.


Brak!!!


Raja Alec memukul kursi singgasananya hingga patah. Dia memberikan tatapan membunuhnya kepada Nona Gretha.


"Apa kau tahu racun itu akan diberikan kepada siapa?" Tanya Putri Celine.


Nigel mengangguk. "Racun itu akan diberikan kepada Yang Mulia Ratu, Tuan Putri."


Raja Alec tidak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat dia berada di depan Nona Gretha dan langsung mencekik lehernya dengan kuat. Tuan dan Nyonya Druff sangat ketakutan.


"Aku tidak akan pernah memaafkan manusia jahat dan hina sepertimu."


Nona Gretha memegang tangan Raja Alec dan berusaha untuk melepaskan cekikan di lehernya. Namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga Raja Alec. Wajah Nona Gretha semakin memerah dan matanya terus berair karena tak bisa bernapas. Raja Alec menghempaskan tubuh Nona Gretha dengan keras. Nona Gretha pingsan seketika.


"Segera eksekusi mati pengkhianat ini." Teriak Raja Alec dengan wajah memerahnya.


"Ampun Baginda. Kami mohon ampunilah kesalahan putri kami." Mohon Tuan dan Nyonya Druff.


"Ampun, kalian bilang. Aku tidak akan pernah mengampuni orang yang ingin mencelakai keluargaku." Jawab Raja Alec dengan wajah sadisnya.


"Aku mencabut gelar kebangsawanan kalian. Mulai sekarang kalian hanyalah rakyat jelata yang akan dikirim ke tempat pengasingan."


Tuan Druff lamgsung jatuh terduduk, sedangkan istrinya langsung jatuh pingsan di sampingnya.


"Nigel. Katakan kepada kami, siapa lagi yang menggunakan keahlianmu meracik obat untuk menyakiti Yang Mulia Ratu? Yang ada satupun yang sembunyikan." Tanya Pangeran Cello.


"Ada beberapa Nona muda dari beberapa bangsawan Pangeran." Jawab Nigel.


"Katakan siapa saja mereka?" Teriak Raja Alec.


Tidak sedikit dari para putri pun bangawan terlihat ketakutan. Nigel menyebutkan semua nama putri bangsawan yang memiliki niat dan tujuan yang sama seperti Nona Gretha. Dan hari itu menjadi hari eksekusi besar-besaran. Raja Alec tidak mengenal ampun sedikitpun. Pangeran Cello dan Putri Celine tersenyum bangga.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰