I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 81. Janji Suci



Begitu keluar dari kamar mandi, Ratu Roseline dikejutkan dengan keberadaan sebuah gaun putih yang berada di atas ranjang.


"Baju siapa ini, Marie?" Tanya Ratu Roseline saat melihat gaun putih yang sangat indah itu.


"Tentu saja milik Yang Mulia Ratu. Baginda Raja yang telah mempersiapkannya khusus untuk Ratu." Jawab Marie sambil tersenyum.


Ratu Roseline mendekat dan menyentuh gaun itu.


Deg...


"Ini kan?"


"Itu adalah gaun pernikahan tercantik yang pernah aku lihat." Seru Arabella.


"Dan sangat layak untuk wanita secantik dirimu, Ratu." Sahut Putri Viviane.


Ratu Roseline terkejut saat menyadari keberadaan Arabella dan Putri Viviane yang sudah duduk di sofa kamarnya.


"Sejak kapan kalian berada di kamarku?" Tanya Ratu Roseline.


"Sejak kau masuk ke dalam kamar mandi." Jawab Arabella dengan santainya.


"Apakah kalian bisa menjelaskan maksud dari semua ini?" Tanya Ratu Roseline lagi.


Arabella dan Putri Viviane saling melempar senyum, lalu berdiri dan melangkah ke arah Ratu Roseline.


"Gaun pengantin hanya akan dikenakan oleh sang calon pengantin, Alice. Apa lagi yang harus kami jelaskan?" Jawab Arabella.


"Sebaiknya kau segera mengenakannya, karena pengantin priamu sudah menunggumu di depan altar." Ucap Putri Viviane.


Ratu Roseline tersenyum bahagia bercampur haru. Baru semalam Raja Alec melamarnya. Dan hari ini Raja Alec telah menunggunya di depan altar untuk mengucapkan janji suci pernikahan dengannya. Jadi inilah tujuan dari Raja Alec membawa Ratu Roseline ke kediaman Duke Sullivan.


"Ternyata Baginda sudah mempersiapkan segalanya." Lamun Ratu Roseline.


"Mengapa kau bengong, Alice? Tunggu apalagi. Kau harus segera bersiap. Aku dan Putri Viviane yang akan membantumu." Ucap Arabella dengan penuh semangat.


Berkat para tangan handal Arabella dan Putri Viviane, Ratu Roseline tampil dengan sangat memukau. Mereka merias wajah dan menata rambut Ratu Roseline berbeda dari biasanya sesuai permintaam Ratu Roseline (Alice). Kini Alice bisa menjadi dirinya sendiri. Bulir air matanya menetes karena terharu melihat pantulan dirinya di cermin.


"Apakah ini wujud aslimu yang ada di duniamu, Alice?" Tanya Arabella.


"Yah, kurang lebih. Kau benar-benar merindukan diriku sendiri." Jawabnya sambil menyeka air mata.


"Kau sangat cantik. Aku jadi ingin berpenampilan seperti ini. Maukah kau mengajariku nanti?" Tanya Putri Viviane.


"Tentu saja, calon kakak ipar." Jawab Ratu Roseline (Alice) membuat Putri Viviane tersipu malu.


"Oh lihatlah, wajah Putri Viviane seperti kepiting rebus sekarang." Arabella meledek.


"Kau jangan meledeknya lagi, calon Marchioness Filan." Ujar Ratu Roseline yang seketika membuat Arabella bungkam dengan wajah memerah.


Ratu Roseline dan Putri Viviane tak bisa tawa mereka. Duke Sullivan mengetuk pintu dan menghentikan tawa mereka.


"Apakah calon pengantin wanitanya sudah siap?" Tanya Duke Sullivan


"Sudah sangat siap, Paman. Silakan Paman mengantarnya menuju altar." Jawab Arabella sambil terkekeh.


Duke Sullivan berjalan mendekat ke arah Ratu Roseline. Duke Sullivan pun tak bisa menahan air mata harunya melihat pengantin cantik yang berdiri di hadapannya.


"Mengapa Ayah menangis?" Tanya Ratu Roseline sambil menggenggam tangan Duke Sullivan.


"Karena Ayah sangat bahagia, Nak. Hari ini Ayah bisa melihat dirimu yang sebenarnya dan mengantarmu menuju altar." Jawab Duke Sullivan sambil menghapus air matanya.


"Terima masih, Ayah." Ucap Ratu Roseline dengan mata berkaca-kaca.


Duke Sullivan tersenyum, lalu merenggangkan tangannya. Ratu Roseline segera melingkarkan tangannya di lengan Duke Sullivan.


"Apa kau sudah, Alice?" Tanya Duke Sullivan.


"Aku siap, Ayah."


Duke Sullivan mengantarkan Ratu Roseline menuju altar pernikahan yang digelar secara sederhana di taman belakang mansion. Pengucapan janji suci mereka juga dihadiri langsung oleh Ibu Suri Helene, Marquess Filan, serta beberapa orang kepercayaan Duke Ramon. Keamanan istana untuk sementara waktu menjadi tanggung jawab Marquess Andry dan Jenderal Azel.


Raja Alec berdiri dengan gagahnya di depan altar. Tangisnya pecah saat melihat Ratu Roseline (Alice) berjalan ke arahnya. Sesekali Raja Alec menyeka air matanya.


Hati Duke Sullivan terenyuh melihatnya. Ingatannya kembali ke masa lalu saat ia mengantarkan Roseline menuju altar. Saat itu Roseline tersenyum penuh kebahagiaan, namun lain halnya dengan Raja Alec. Raja Alec menampilkan wajah dinginnya. Bahkan Raja Alec tidak melirik sedikit pun ke arah Roseline saat itu.


"Baginda. Hari ini hamba akan menyerahkan putri hamba untuk kedua kalinya kepada Baginda. Hamba mohon jangan sia-siakan dia, jangan sakiti dia dan selalu bahagiakan dia. Apa yang terjadi di masa lalu jangan sampai terulang kembali. Sebagai seorang ayah, hamba tidak akan sanggup lagi melihat putri hamba menderita untuk kedua kalinya." Ucap Duke Sullivan dengan mata berurai air mata.


Ratu Roseline (Alice) sangat terharu.


"Aku berjanji Tuan Duke. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu pernah kulakukan kepada Roseline, kepada Alice. Aku akan selalu melindungi dirinya dan calon anak-anak kami. Aku berjanji akan membuat mereka selalu bahagia sampai maut memisahkan kami." Janji Raja Alec.


"Hamba pegang janji, Baginda. Sekarang hamba menyerahkan putriku, Alice, kepadamu." Kata Duke Sullivan.


"Berbahagialah, Nak. Aku yakin Roseline juga bahagia melihatmu hidup bahagia." Lirih Duke Sullivan.


Ratu Roseline mencium pipi kiri Duke Sullivan sebelum akhirnya menerima uluran tangan Raja Alec. Raja Alec dan Alice mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Semua yang menjadi saksi pernikahan mereka bersorak bahagia. Ucapan selamat dan lantunan doa mereka panjatkan untuk pasangan Raja dan Ratu Cardania itu.


Keesokan harinya Raja Alec dan Ratu Roseline kembali ke istana. Raja Alec mengumumkan kepada seluruh rakyatnya tentang kehamilan Ratu Roseline. Ini merupakan kabar yang sangat membahagiakan bagi rakyat Cardania.


Kabar bahagia ini juga telah berhasil membuat para putri bangsawan menyerah dan tidak akan bermimpi lagi untuk menikah dengan Raja Alec. Karena di depan seluruh rakyatnya, Raja Alec telah mengambil sumpah jika dia tidak akan pernah mengkhianati Ratunya dengan menikah lagi dengan wanita lain. Apabila dia ingkar, maka dia akan turun tahta dan keluar dari Kerajaan Cardania.


...***...


"Baginda, apakah istana akan merekrut pelayan baru?" Tanya Ratu Roseline.


Keduanya baru saja keluar dari istana Ratu dan akan menuju istana Ibu Suri Helene. Kandungan Ratu Roseline sudah berusia empat bulan.


"Benar, Ratu. Ada banyak pelayan yang sudah lanjut usia. Aku memulangkan beberapa pelayan yang sudah tua kepada keluarga, supaya mereka bisa menikmati masa tua bersama keluarga mereka." Jawab Raja Alec.


Ratu Roseline melebarkan matanya.


"Selain itu mereka juga tetap akan mendapatkan uang bulanan sebagai ucapan terima kasihku atas pengabdian mereka selama ini." Tambah Raja Alec.


"Ternyata suamiku benar-benar Raja yang luar biasa." Puji Ratu Roseline.


"Kau terlalu memuji Ratu." Ucap Raja Alec sambil tersenyum malu.


"Bagus sekali. Baginda mengganti pelayan yang sudah tua dengan para pelayan yang masih muda dan segar." Ucap Ratu Roseline sambil menyeringai.


Glek... (Senyum Raja Alec seketika luntur)


"Kepala pelayan!" Panggil Raja Alec dengan cepat.


Kepala pelayan tersentak saat menyadari keberadaan Raja dan Ratunya. Dia langsung memberi hormat dan diikuti oleh semua pelayan yang baru direkrut.


"Tempatkan semua pelayan baru ini ke istana Ibu Suri dan bagian istana yang lain, selain istana Raja dan istana Ratu. Untuk posisi pelayan yang kosong di istana Raja, kau bisa mengambil pelayan lama yang ada di istana Ibu Suri untuk mengisinya. Aku pastikan Ibu Suri akan memberikan ijin." Perintah Raja Alec.


Kepala pelayan sedikit bingung, namun dia segera melaksanakan perintah Raja Alec.


"Ternyata benar Ratu itu wanita pencemburu. Ratu tidak ingin kecantikannya tersaingi dengan kehadiran gadis yang lebih muda dan lebih cantik darinya, seperti kita." Terdengar bisik-bisik di antara para pelayan baru.


Ratu Roseline menyerngitkan dahinya dan tertawa pelan. Kepala pelayan membulatkan matanya saat mendengar suara bisik-bisik dari arah belakangnya.


"Habislah kalian." Batinnya


"Aku bukannya takut kalah usia dan cantik dari kalian." Ujarnya yang langsung membuat para pelayan yang bergosip itu pun diam.


"Tapi, aku hanya tidak ingin membuang waktu dan tenagaku untuk mendidik pelayan yang tak tahu diri seperti kalian." Tambahnya.


"Pengawal! Cambuk pelayan yang sudah lancang menghina Ratuku, lalu pulangkan ke keluarga mereka masing-masing." Teriak Raja Alec.


"Baik Baginda."


Para pelayan yang telah bergosip tadi langsung diseret dan dibawa ke tempat eksekusi. Mereka meronta dan memohon ampun, namun Raja Alec tak peduli sama sekali.


"Dan jika sekali lagi aku mendengar ada yang berani menghina Ratuku maka aku tidak segan untuk memenggal kepala kalian." Ancam Raja Alec yang membuat semua orang gemetaran.


Raja Alec menggenggam tangan Ratu Roseline dan berbisik. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Ratu. Aku tidak ingin Ratu kelelahan. Karena nanti malam kau harus memenuhi janjimu, untuk mencoba gaya baru."


Ratu Roseline membelalakkan matanya dan kedua pipinya yang terasa panas. Raja Alec tersenyum geli. Dia menarik tangan Ratu Roseline dan segera membawanya masuk ke dalam istana Ibu Suri Helene.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰