
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Sean diizinkan pulang. Katherine mengantarkannya pulang ke apartemen bersama Nyonya Imelda.
"Mengapa kau tidak pulang ke rumah, Sean sayang?" Tanya Nyonya Imelda.
"Tidak Mom. Sean lebih senang tinggal di sini, bebas dari semua aturan Daddy. Terutama menikah dengan wanita yang tidak aku cintai." Jawab Sean ketus.
"Sean, jaga ucapanmu."
Sean tak menjawab dan malah menyibukkan diri dengan ponselnya. Katherine memaksakan senyumnya ke arah Nyonya Imelda. Nyonya Imelda merasa tak enak hati.
"Baiklah, kalau begitu Mommy pulang dulu. Kau istirahatlah dengan baik. Katherine akan menemaninu." Ucap Nyonya Imelda.
Sean hanya mengangguk. Nyonya Imelda memeluk putranya.
"Hati-hati, Mom."
"Aunty pulang dulu ya, Kat."
"Ya aunty. Hati-hati di jalan." Keduanya saling berpelukan.
"Kau mau makan apa, Sean?" Tanya Katherine setelah mengantar Nyonya Imelda sampai ke depan pintu.
"Aku tidak lapar. Duduklah. Ada yang aku bicarakan denganmu."
Katherine langsung duduk.
"Apa benar kau menemui Alice di kantornya?" Tanya Sean dingin.
Katherine melebarkan matanya dan membuang napas pelan sebelum menjawab.
"Benar. Dan kedatanganku ke sana untuk memberitahu wanita itu bahwa kau sudah memiliki calon istri dan memintanya untuk menjauh darimu."
Brakk!!!
Sean menggebrak meja karena marah.
"Lancang sekali kau! Kau pikir siapa dirimu? Beraninya kau mencampuri urusan pribadiku?" Bentak Sean.
"Aku adalah tunanganmu, calon istrimu. Sudah menjadi kewajibanku untuk menjauhkan para wanita penggoda di luar sana dari calon suamiku." Suara Katherine bergetar karena menahan marah.
"Kau adalah tunangan yang tidak pernah aku harapkan. Jangan bermimpi aku akan menikah denganmu. Camkan itu!"
Katherine meremas gaunnya. Pedih sekali hatinya mendengar ucapan itu keluar dari mulut Sean.
"Mengapa kau diam? Apa hatimu sakit karena mendengar ucapanku? Mau sampai kapan kau akan seperti ini, Kat? Apa kau tidak punya harga diri sebagai seorang wanita terhormat?" Cerca Sean.
Katherine tersenyum simpul.
"Kau masih belum sehat total, Sean. Sebaiknya kau istirahat sekarang." Ucap Katherine.
"Cukup Kat. Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku ingin semua ini segera berakhir." Tolak Sean.
"Cukup!" Teriak Katherine.
Katherine langsung berdiri.
"Pesawatku akan terbang 2 jam lagi. Aku akan kembali Perancis dan memberimu waktu untuk menjernihkan pikiran, Sean. Aku harap saat kita bertemu nanti hatimu sudah bisa menerima keberadaanku. Dan di saat itu tiba maka aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan menjadikanmu milikku selamanya."
Katherine segera keluar dari apartemen Sean. Saat berada di dalam lift, bulir air matanya tak terbendung lagi. Katherine segera menghapusnya dan memakai kacamata hitamnya.
"Maafkan aku Kat. Aku tidak pernah berniat menyakiti hatimu, tapi kau yang memaksaku melakukannya. Aku menganggapmu seperti adikku sendiri dan perasaanku tidak akan pernah berubah." Gumam Sean.
Ponsel Sean berdering. Billy menghubunginya.
"Boss. Orang yang mencelakai kita pada malam itu telah berhasil menginggalkan negara ini. Sepertinya ada orang yang sengaja berusaha menghilangkan jejak mereka."
"Kerahkan semua anak buahmu untuk terus mencari. Kalau perlu bayar orang yang ahli IT untuk melacak keberadaannya."
"Baik, Boss."
Sean mengakhiri pembicaraan mereka dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Siapapun orang itu, dia telah mencari masalah dengan orang yang salah." Ucap Sean dengan wajah dinginnya.
Quinn Cooperation akan melakukan pertemuan penting yang sempat tertunda dengan Parker Groups. Pertemua itu diadakan di Quinn Cooperation.
"Selamat datang Tuan Parker dan Tuan Billy. Bagaimana keadaan kalian? Aku dengar kalian mengalami kecelakaan?" Tanya Alice ramah.
Sean sedikit tidak suka dengan sikap Alice yang kembali dingin.
"Seperti yang kau lihat sekarang, Alice. Beruntung kami tidak mengalami luka parah." Jawab Sean sambil tersenyum.
"Mengapa kau tidak datang menjengukku, Alice?" Tambahnya lirih.
"Tolong jaga sikap profesional Anda selama pertemuan ini berlangsung, Tuan Parker." Ucap Alice yang sontak membuat Sean terkejut.
"Aku minta maaf, Nona Quinn."
Pertemuan penting yang membahas perkembangan tender Suarez Corps berjalan dengan baik. Setelah pertemuan itu selesai, Sean menemui Alice di ruangannya.
"Apakah ada yang bisa aku bantu lagi, Tuan Parker? Bukankah pada saat meeting tadi kita sudah mencapai kesepakatan bersama?" Tanya Alice.
Sean menggeleng.
"Ada apa Alice? Mengapa sikapmu berubah seperti ini?" Tanya Sean lembut.
"Tidak ada yang berubah, Sean. Aku hanya tidak suka saat bekerja kita bersikap tidak profesional." Jawab Alice.
"Apa karena Katherine? Aku tidak tahu apa saja yang telah dia katakan kepadamu. Tapi percayalah Alice, aku tidak memiliki perasaan padanya. Pertunangan ini terjadi karena keterpaksaan, bukan karena aku menginginkannya." Terang Sean.
"Mau itu terpaksa atau tidak, Katherine tetaplah tunanganmu. Status kalian jelas. Sebagai seorang wanita aku sangat mengerti bagaimana perasaannya. Tidak ada seorang pun yang menginginkan pasangannya bersama orang lain. Seharusnya kau bisa menjaga perasaannya." Ucap Alice.
"Tapi aku tidak mencintainya. Aku mencintaimu, Alice." Sahut Sean dengan tatapan nanarnya.
"Maaf Sean. Sebaiknya kau buang jauh-jauh perasaanmu padaku. Katherine-lah yang lebih pantas mendapatkan cintamu, bukan aku. Dan aku wanita terhormat yang tidak akan pernah menjadi wanita ketiga di dalam hubungan kalian. Sebagai seorang pria, tidak seharusnya kau berusaha mendapatkan seorang wanita di saat kau masih terikat dengan wanita lain." Tegas Alice.
Sean menghela napas dan berusaha menenangkan dirinya. "Aku tahu aku salah. Aku belum menyelesaikan hubunganku dengan Katherine, dan berusaha mendekatimu. Dengan atau tanpa adanya dirimu, hubunganku dan Katherine tidak akan pernah berhasil. Aku tetap akan menyelesaikan ikatan kami."
"Kau harus tahu Alice, perasaanku tulus untukmu. Izinkan aku tetap menjadi temanmu." Mohon Sean.
"Baiklah, namun tetap dalam batasan yang wajar. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman yang nantinya akan mempengaruhi hubungan kerjasama kita."
"Terima kasih, Alice." Ucap Sean.
...***...
Alice memasuki sebuah ruangan pesta di sebuah bangunan mansion yang sangat luas. Alice hadir dengan balutan gaun merah selutut tanpa lengan dan rambut hitamnya bergaya half updo. Kalung rubi yang menawan juga telah melingkar di lehernya dan membuatnya semakin mempesona. Sebuah topeng hitam menutup sebagian wajah cantiknya. Saat ini Alice sedang memenuhi undangan pesta dari salah satu rekan bisnisnya yang bertemakan "Pesta Topeng".
"Kau cantik sekali malam ini, Alice." Puji Jason sambil tersenyum senang.
"Terima kasih, Jason." Jawab Alice singkat.
"Aku ingin menjadi pasangan dansamu nanti." Ucap Jason.
"Aku permisi dulu, Jason. Aku ingin menemui pemilik pesta ini, Tuan dan Nyonya Brown."
Alice segera pergi menjauh dan menghampiri yang pemilik pesta. Jason terus menatapnya dari belakang sambil mengusap bibirnya.
"Malam ini kau harus menjadi pasangan dansaku dan menjadi milikku sepenuhnya, Alice." Gumamnya sambil tersenyum licik.
Sean mendekati Alice. Tak bisa dipungkiri jika penampilan Alice malam ini membuatnya terpukau.
"Hai, Alice." Sapa Sean.
"Hai, Sean."
"Senang bertemu denganmu malam ini. Kau terlihat sangat memukau malam ini." Puji Sean dengan raut wajah tak jauh berbeda dengan Jason tadi.
"Terima kasih, Sean. Kau juga terlihat luar biasa malam ini." Ucap Alice.
Jason yang berdiri tak jauh dari sana marah melihat kedekatan keduanya.
"Seharusnya pria itu sudah berada di neraka sekarang jika orang-orang bodoh itu menjalankan tugas mereka dengan baik." Baik Jason.
Alice duduk dan berbincang bersama Nyonya Brown di sebuah sofa panjang. Nyonya Brown tampak senang sekali dan terlihat akrab dengan Alice. Keduanya bersulang bersama para wanita yang lain.
Alice bergerak menjauh dari kerumunan saat acara dansa akan dimulai. Terlihat sekali Sean ingin mengajaknya berdansa, Jason malah sudah lebih dulu mengutarakan keinginannya. Sejujurnya dia tidak ingin berdansa dengan siapapun malam ini. Saat musik dansa diputar, baik Sean maupun Jason terus mengedarkan pandangan mereka. Keduanya mencari keberadaan Alice.
"Di mana Alice? Bukankah dia tadi bersama Nyonya Brown?" Gumam Sean.
"Sial! Ke mana perginya Alice? Aku tidak boleh kehilangan dia malam ini." Gerutu Jason.
Alice yang menyadari jika kedua pria itu sedang mencarinya, bersembunyi di balik tirai.Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dan menariknya menjauh dari ruang pesta. Alice berusaha memberontak dan melepaskan diri.
"Tenanglah, Alice sayang. Atau mereka akan bisa menemukanmu." Bisik pria itu di telinga Alice.
Alice membulatkan matanya saat mendengar suara pria yang beberapa bulan ini telah menghilang. Saat Alice sudah tenang pria itu melepaskan bekapan tangannya. Alice membalikkan badannya.
"Xander!"
Pria itu menyeringai di balik topengnya.
"Apa kau merindukanku, teman kencan cantikku? Karena sejujurnya aku sangat merindukanmu dan kencan kita yang tertunda." Jawab pria itu yang tak lain adalah Xander.
Alice menatap curiga. Pria yang sebelumnya duduk di atas kursi roda, sekarang berdiri dengan tegak di hadapannya.
"Jadi selama ini kau menipuku." Ucap Alice sinis.
"Aku tidak pernah membohongimu, Alice. Saat kita bertemu dulu aku memanglah pria cacat yang tergantung pada kursi roda. Tapi aku sudah sembuh sekarang." Xander menjelaskan.
Alice masih setia dengan wajah dinginnya.
"Aku sedikit kecewa. Aku pikir kau akan senang saat melihatku sembuh dan bisa berdiri di hadapanmu." Ucap Xander.
"Untuk apalagi kau menemuiku? Kita sudah tidak ada urusan lagi." Ketus Alice.
"Apa kau lupa jika kau masih berhutang kencan satu hari denganku?"
Alice melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sepertinya kau yang lupa Xander. Kau sendiri yang mengakhiri kontrak kencan kita di hari terakhir kencan kita dan mengembalikan kalung rubiku." Sahut Alice.
"Apa kau mendengarnya langsung mulutku, Alice?"
Alice menyebikkan bibirnya.
"Aku memang menyuruh Scott untuk memberikan kalung rubi ini untukmu, tapi bukan untuk mengakhiri kencan kita. Kontrak kencan kita masih berjalan sayang. Dan aku datang menagihnya sekarang."
Xander menarik tubuh Alice ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, Xander. Dasar pria mesum tak tahu diri." Pekik Alice.
Bukannya melepaskan, Xander malah semakin mengeratkan pelukannya. "Mari kita berdansa, Alice untuk kencan terakhir kita. Aku mohon."
"Mengapa kau tidak berdansa saja dengan wanita seksimu itu?"
Xander terkekeh. "Apa kau cemburu ?"
"Hanya ada dalam mimpimu." Jawab Alice.
"Apa yang kau lihat belum tentu itu adalah kenyataan yang sebenarnya." Bisik Xander.
Alice terdiam dan berpikir. Tidak ingin membuang waktu lagi, Xander segera menarik kedua tangan Alice dan melingkarkannya di lehernya. Sedangkan kedua tangannya memeluk pinggang Alice dengan posesif. Keduanya berdansa mengikuti alunan musik yang menguar dari ruang pesta. Alice seakan tersihir dan bergerak mengikuti setiap gerakan Xander. Alice menatap wajah Xander yang saat ini tanpa menggunakan kacamata hitamnya. Alice mengerjapkan matanya.
Deg!
Jantung berdebar sangat kencang.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. Terpaksa Menikah : Suami Buleku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰