
"Apa maksud dari ucapan Kakek? Siapa cucu yang Kakek maksud itu? Bukankah aku satu-satunya cucu yang Kakek miliki?" Cerca Alice.
Tuan Abraham menghela napas panjang.
"Emilio, tinggalkan kami berdua."
"Baik, Tuan." Tuan Emilio segera keluar dan menutup pintu dengan rapat.
"Duduklah, sayang." Tuan Abraham membawa Alice ke sofa.
"Katakan yang sebenarnya dan jangan ada lagi yang Kakek sembunyikan dariku." Tuntut Alice.
Tuan Abraham mengangguk.
"Sebelumnya Kakek ingin meminta maaf karena telah menyembunyikan semua kenyataan ini darimu."
"Katakan Kek, siapa cucu yang Kakek maksud itu? Apakah aku masih mempunyai saudara?"
Tuan Abraham mengangguk. "Benar, Alice sayang."
"Kau sudah tahu bukan jika kau memiliki seorang kakak laki-laki?"
"Ya, aku tahu. Daddy dan Mommy yang telah memberitahuku. Dan mereka juga mengatakan bahwa kakakku, Kak Romeo meninggal saat berusia 2 tahun karena mengalami deman dan kejang. Dan satu tahun setelah kematian kakakku, aku lahir ke dunia ini." Jawab Alice.
"Kakakmu, Romeo Gabriel Quinn sebenarnya belum meninggal. Dia masih hidup."
Alice terkejut.
"A-apa maksud ucapan Kakek? Bagaimana mungkin kakakku masih hidup sedangkan makamnya telah ada di area pemakaman keluarga kita."
"Itu bukan makam kakakmu. Seseorang telah merekayasa kematiannya dan menipu putraku, Alejandro, dan istrinya ,Gabriela. Saat berada di rumah sakit, Romeo dinyatakan meninggal karena diakibatkan oleh sebuah penyakit langka. Awalnya Romeo mengalami demam dan kejanh. Tiba-tiba tubuhnya melepuh sehingga wajahnya tak bisa dikenali lagi. Alejandro dan Gabriela menganggap anak yang meninggal itu adalah Romeo, karena tubuh anak itu mirip dengan tubuh Romeo. Hati mereka benar-benar hancur. Bahkan Gabriela nyaris bunuh diri."
"Dua belas tahun kemudian, dokter yang menangani Romeo dulu ditangkap karena kasus penipuan. Alejandro menemui dokter itu di penjara. Dan dari mulut dokter itulah kebenaran tentang Romeo terungkap. Dia mengaku jika dirinya telah dibayar mahal oleh seseorang untuk memalsukan kematian Romeo. Alejandro dan Gabriela melakukan tes DNA dengan jasad yang ada di makam itu, dan hasilnya adalah tidak cocok. Kemudian Alejandro dan Gabriela berusaha menemukan Romeo." Tuan Abraham terus bercerita dengan air mata berlinang.
"Mengapa selama ini kalian merahasiakan semuanya dariku?" Tanya Alice sambil terisak.
"Itu semua kami lakukan untuk melindungimu dari orang-orang jahat itu. Terlebih lagi setelah mereka membunuh putra dan menantuku." Tuan Abraham menepuk-nepuk dadanya dengan tangis yang semakin menjadi.
Napas Alice terasa tercekat.
"Jadi, Daddy dan Mommyku meninggal karena dibunuh dan bukan karena kecelakaan?"
"Mereka dibuat seolah-olah mengalami kecelakaan."
Tangis Alice semakin pecah. Dia menangis sejadi-jadinya. Tuan Abraham langsung memeluknya.
"Daddy! Mommy!"
Setelah cukup lama menangis di pelukan kakeknya, Alice segera menghapus air matanya.
"Katakan Kakek, siapa orang yang telah menghancurkan keluarga kita?"
"Harry O'bero." Jawab Tuan Abraham.
"O'bero?" Cengo Alice.
"Ayah dari Jason O'bero." Tegas Tuan Abraham.
Alice mengepalkan tangannya. "Aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Akan kuberikan penderitaan yang luar biasa menyakitkan sampai mereka lebih memilih untuk mati."
"Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan, tapi tidak sekarang. Bersabarlah. Kau harus bekerja sama dengan Xander untuk membalas perbuatan mereka. Mereka sangat berbahaya. Nyawamu dan nyawa kakakmu akan semakin terancam." Tuan Abraham menjelaskan.
Alice memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Lalu kedua matanya terbuka lebar.
"Apa Kakek yakin jika Kak Romeo berada di tangan keluarga O'bero?"
"Tentu saja. Harry O'bero sendiri yang telah menculik Romeo. Kakek yakin baj* ng@n itu tahu di mana Romeo berada saat ini." Jawab Tuan Abraham.
"Kakek ikut aku sekarang."
Alice menarik tangan kakeknya dan berjalan keluar.
"Tuan Emilio, tolong antarkan kami ke suatu tempat." Teriak Alice.
"Baik, Nona." Sahut Tuan Emilio.
Mereka bergegas masuk ke dalam mobil.
"Kau mau membawa Kakek ke mana, Alice?"
"Nanti Kakek juga akan tahu." Jawab Alice.
Tuan Emilio segera melajukan mobil mereka.
"Bukankah ini markas Eagle Fire? Mengapa kita datang ke tempat ini? Apa kau berniat meminta bantuan Xander?" Tanya Tuan Abraham.
"Alice tidak bisa menjelaskannya sekarang, Kek. Sebaiknya kita masuk dan menemui Xander."
Kedatangan Alice dan Tuan Abraham disambut baik oleh para anak buah Xander. Xander segera keluar dari ruangannya saat mengetahui bahwa Alice dan Tuan Abraham berada di markasnya.
"Alice! Tuan Abraham!"
"Xander." Alice berjalan mendekat.
"Mengapa kau tidak memberitahuku jika kalian akan datang ke sini, Alice?" Tanya Xander.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu. Maaf jika kedatanganku mengganggu kesibukanmu." Jawab Alice tak enak.
"Tuan Xander, para wanita penghibur itu sudah datang." Lapor Allen yang tidak menyadari keberadaan Alice dan Tuan Abraham di sana.
Plak!!! Xander memukul jidatnya pelan.
"W-wanita penghibur?" Alice menggertakkan giginya dengan tatapan tajamnya.
Allen membulatkan matanya. Dia meneguk salivanya kasar saat melihat tatapan mata Alice yang mengerikan.
"Kau jangan salah sangka, Alice. Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Xander berusaha menjelaskan.
Xander menyentuh tangan Alice, namun segera ditampik olehnya. Lima orang wanita cantik dan berbaju super seksi tiba di hadapan mereka. Para wanita itu menebarkan senyum mereka dan menatap genit ke arah Xander dan Allen. Alice mengeraskan rahangnya, begitu juga dengan Tuan Abraham.
"Ayo Kakek, kita pergi. Aku jijik berada di sini." Ucap Alice sambil menatap Xander penuh kecewa.
"Alice sayang, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku. Anda juga, Tuan Abraham. Mari kita pergi ke ruanganku. Dan aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini begitu saja." Xander menegaskan.
"Tuan Xander, kami sudah datang dan siap untuk menghibur Anda." Seru salah seorang wanita murahan dengan suara manjanya.
Tubuh atletis dan seksi milik Xander tentunya sangat menarik di mata para jal @ng itu. Xander menoleh ke arah wanita yang telah berani berbicara itu dengan tatapan membunuhnya.
"Allen, perintahkan Penelope untuk memberikan pelajaran kepada mulut *** *** busuk ini!"
Senyuman di wajah wanita itu seketika luntur dan wajahnya terlihat ketakutan. Semua wanita penghibur itu langsung menundukkan wajah mereka. Penelope yang mendengar teriakan Xander segera datang bersama "R".
"Apa kau tidak bisa mendidik mereka dengan baik, Penelope?" Bentak Allen.
"S-saya minta maaf, Tuan." Ucap Penelope sambil membungkukkan badannya.
Penelope langsung berdiri di hadapan para wanita penghibur itu dan menatap mereka dengan tajam.
"Apa kalian sudah lupa dengan apa yang telah aku katakan sebelumnya? Tubuh kalian itu dibeli untuk menghibur para tamu dari Tuan Xander, bukan Tuan Xander. Beraninya mata kalian jelalatan, juga mulut busuk kalian menggoda Tuan Xander. Apa kalian sudah bosan hidup di dunia ini?" Bentak Penelope sambil menggertakkan giginya.
"K-kami minta maaf, Nona." Ucap para wanita itu ketakutan.
"Kalian berempat pergilah ke ruangan para tamu penting itu. Dan kau ikut denganku!" Ucap Penelope sambil menunjuk wajah wanita yang telah berani merayu Xander.
"T-tapi, Nona. S-saya...."
Belum selesai bicara, Penelope sudah menjambak rambut wanita itu dan menariknya menjauh dari sana. Wanita itu terus meronta kesakitan, namun Penelope seolah menulikan telinganya. "R" hendak menyusul Penelope, namun Alice segera menarik tangannya. Xander, Allen dan juga "R" terkejut.
"Kau tidak boleh pergi ke mana-mana. Kau harus tetap berada di sini." Perintah Alice.
"Apa yang kau lakukan, Alice?" Tanya Xander cemburu.
"Tapi Nona. Mengapa saya harus ikut juga?" "R" berusaha melepaskan genggaman tangan Alice, namun Alice malah semakin mencengkeramnya.
"Karena aku menyukaimu dan aku senang berada di sampingmu." Jawab Alice sambil tersenyum manis.
"R" melebarkan matanya. Dia menatap Xander dengan wajah tak enak.
"Alice hentikan. Kau jangan berbuat konyol seperti ini."
"Diam kau! Kalau kau bisa berbuat semaumu, mengapa aku tidak?" Ucap Alice sinis.
Xander membuang napasnya kasar. Sedangkan Tuan Abraham hanya diam.
"Baiklah. "R" juga ikut. Tapi lepaskan dulu tanganmu darinya." Pinta Xander yang benar-benar cemburu.
"Tidak sampai kita berada di dalam ruanganmu." Tolak Alice.
"Baiklah." Xander terlihat sangat kesal.
Saat mereka berada di dalam ruang pribadi Xander, Alice segera melepaskan genggaman tangannya. Alice dan Tuan Abraham duduk di atas sofa, sedangkan "R" tetap berdiri. Xander menekan tombol otomatis dan muncullah sebuah layar besar. Alice dan Tuan Abraham melebarkan mata mereka. Dari layar besar itu, terlihat keempat wanita seksi itu sedang menghibur tiga orang pria paruh baya.
"Aku sengaja menyewa para pel @cur untuk menghibur klien-klienku, lebih tepatnya para antek dari Michael Dawson." Xander menjelaskan.
"Cara jitu untuk menjerat pria hidung belang seperti mereka harus dengan menyajikan wanita cantik dan seksi yang siap untuk memuaskan nap su mereka." Ujar Tuan Abraham.
"Betul sekali, Tuan. Begitulah caraku mendekati mereka. Dan secara perlahan aku akan membuat mereka tunduk padaku." Sahut Xander.
"Aku harap kau tidak salah paham lagi padaku, Alice."
Alice masih diam membisu dan enggan menatap ke arah Xander. Meskipun para wanita itu bertugas untuk merayu para klien Xander, hatinya tetap kesal karena wanita seperti itu bisa berkeliaran di markas Xander. Alice tersentak saat Xander berlutut di hadapannya.
"Aku minta maaf karena tidak memberitahumu semua tentang diriku. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menyentuh para jal @ng itu ataupun wanita lain, selain dirimu." Kata Xander jujur.
Alice menghela napasnya panjang.
"Berdirilah dan matikan tampilan layar besar itu. Aku jijik melihatnya." Ucap Alice.
Xander tersenyum senang. Dia segera berdiri dan melakukan apa yang Alice perintahkan.
"Apa saya boleh pergi sekarang?" Celetuk "R".
"Tidak!" Tegas Alice.
"Apa yang kau inginkan dari "R"? Apa kau benar-benar menyukainya?" Tanya Xander penasaran.
Alice langsung mengangguk. Seketika hati Xander terasa ditusuk benda tajam.
"Kalian berdua duduklah. Ada yang ingin aku tanyakan."
Xander dan "R" segera duduk.
"Aku ingin melihat wajah "R"."
Xander dan "R" terbelalak.
"Mengapa Nona ingin melihat wajah saya?" Tanya "R" tak mengerti.
"Benar Alice, mengapa kau ingin melihat wajah pria ini? Kakek tidak mengerti." Sahut Tuan Abraham.
"Aku akan menjelaskannya setelah "R" melepas penutup wajahnya." Jawab Alice santai.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tuntut Xander.
"Kakek mengatakan jika kakakku, Romeo, ternyata masih hidup."
Xander menatap Alice lekat, dan Alice mengangguk. Xander mengerti apa yang ada dipikirkan oleh Alice saat ini.
"Lalu, apa hubungannya dengan saya?" "R" semakin tak mengerti.
"Lepas penutup wajahmu "R"!" Seru Xander.
"Tapi, Tuan!"
"Ini perintah dariku." Sahut Xander.
Mau tak mau "R" menuruti perintah bosnya. Dengan sedikit ragu "R" pun melepas penutup wajahnya. Saat penutup wajah itu terlepas, Tuan Abraham terbelalak dan napasnya terasa tercekat. "R" bingung melihat ekspresi Tuan Abraham.
"Apa Kakek mengerti sekarang?" Tanya Alice sambil tersenyum.
Tuan Abraham mengangguk. Bulir air matanya tak terasa menetes. "Kau adalah cucuku, Romeo."
"A-apa maksud Tuan? Tuan pasti salah orang. Itu tidak mungkin. Saya hanyalah anak jalanan yang dipungut oleh Tuan dan Nyonya Smith. Dan saya tidak memiliki orang tua." Kata "R" tak percaya.
"Bagaimana kalau kalian lakukan tes DNA?" Usul Xander.
"Aku setuju. Bagaimana dengan Kakek?" Sahut Alice.
"Kakek juga setuju." Jawab Tuan Abraham.
"Untuk apa Tuan? Mustahil jika orang rendahan seperti saya adalah salah satu anggota keluarga kalian." Ujar "R".
"Kita bisa mengetahuinya setelah kalian melakukan tes DNA." Jawab Xander.
"Meskipun tanpa dilakukannya tes DNA sekalipun, aku tetap yakin kau adalah kakakku. Kau mewarisi wajah ibuku, Nyonya Gabriela Quinn." Alice menegaskan.
Xander juga memiliki keyakinan yang sama. Tentu saja ingatan dari Raja Alec yang membuatnya mengetahui wajah Duke Ramon yang mirip dengan wajah "R".
"Kalau boleh tahu, dari mana kau mendapatkan nama "R" itu?" Tanya Tuan Abraham.
"I-itu...." "R" bingung untuk menjelaskan.
"Katakanlah, Nak." Tuntut Tuan Abraham.
"R" menatap Tuan Abraham lekat.
"Tuan Smith memanggilku "R" sesuai dengan inisial yang terukir di kalung yang aku kenakan saat itu. Tuan Smith yakin jika kalung itu adalah pemberian orang tuaku, orang tua yang tak pernah aku tahu." Terang "R" sambil memaksakan senyumnya.
"Kalung? Maksudmu kalung yang memiliki batu permata safir kecil pada liontinnya?" Tanya Tuan Abraham.
"Bagaimana Tuan bisa tahu?" Seru "R".
Tuan Abraham tersenyum. "Hanya cucuku, Romeo Gabriel Quinn, yang memiliki kalung seperti itu."
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. Terpaksa Menikah : Suami Buleku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰