
Alice segera melepas pelukannya dan mendorong tubuh Xander. Dia langsung duduk menjauh.
"A-apa yang kau lakukan di ranjangku? Dasar pria mesum kurang aj@r!" Bentak Alice.
"Buka matamu lebar-lebar. Ini bukan ranjangmu, tapi ranjangku." Ucap Xander santai sambil duduk bersandar.
"Apa kau bilang? Ranjangmu?!"
Xander mengangguk.
"Benar Alice sayang. Ini ranjangku. Lihatlah baik-baik. Apakah ruangan ini kamarmu?" Jawab Xander sambil menyunggingkan bibirnya.
Alice menyapukan pandangannya ke seluruh. Dia sangat terkejut saat menyadari bahwa kamar itu bukanlah miliknya.
"Mengapa aku bisa ada di sini? Apa yang telah kau lakukan padaku, Xander?"
Alice menatap pakaiannya saat ini. Matanya membulat sempurna saat melihat tubuhnya sudah tak terbalut gaun merahnya lagi. Saat ini tubuh Alice hanya terbungkus kemeja putih tanpa menggunakan br@ dan hanya menggunakan celana pendek. Xander berusaha mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah yang ada di balik kemeja putih itu.
"Kau benar-benar br*ng sek!"
Alice langsung mengarahkan pukulannya ke wajah Xander, namun dengan cepat serangannya dihalau oleh Xander.
"Tenanglah Alice. Aku bisa jelaskan."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kau memang baji ng@n!" Ucap Alice dengan penuh kemarahan.
Xander pun tak tinggal diam. Dia balik menyerang Alice dan mendorong tubuh Alice lalu mengukungnya. Wajah keduanya sangat dekat, bahkan bibir Xander nyaris menyentuh bibir Alice. Napas keduanya saling memburu. Sungguh Xander ingin sekali menikmati bibir ranum itu sekarang juga.
"Kalau kau tidak bisa mengendalikan dirimu, maka aku benar-benar akan melakukan apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini." Ucap Xander.
Alice tidak menemukan kebohongan dari tatapan mata Xander.
"Baiklah." Cicitnya pelan.
Xander pun bangkit dan melepaskan tubuh Alice dari kungkungannya. Dia menyugar rambut hitamnya. Alice langsung duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Apa kau ingat saat kita berada di pesta tadi malam?" Tanya Xander.
Alice berusaha mengingat tentang kejadian semalam.
"Ada yang sengaja memberimu obat perangsang dan menyuruh beberapa orang untuk mencarimu." Jelas Xander yang membuat ingatan Alice kembali dengan cepat.
"Ya, aku ingat. Dan kau membawaku pergi dari sana. Kau mengatakan akan membawaku ke tempat temanmu yang dokter itu." Ucap Alice.
Xander mengangguk. "Tapi sayangnya dia tidak bisa dihubungi."
"Lalu?" Tuntut Alice.
"Aku membawamu ke mansionku. Sebelumnya aku minta maaf. Aku terpaksa mengguyurmu dengan air dingin dan merendam tubuhmu di dalam bathtub. Hal itu aku lakukan untuk meredam hasrat yang tengah kau rasakan. Mungkin kau tidak ingat, beberapa kali kau berusaha menyerangku seperti singa betina yang kelaparan." Terang Xander.
Alice membelalakkan matanya dengan rahang mengeras.
"Kalau kau tidak percaya, kau bisa melihat rekaman CCTV yang ada di mobil, mansion ini dan juga kamar ini. Kecuali kamar mandi." Ucap Xander.
"Lanjutkan ceritamu." Ketus Alice.
"Ternyata usahaku tidak sia-sia. Setelah cukup lama kau berendam, tubuhmu pun melemah dan mulai tertidur. Aku mengganti gaunmu yang basah dan memakaikan pakaianku, supaya kau tidak sakit." Telinga Xander memerah.
"Kau sendiri yang telah mengganti pakaianku?" Tanya Alice marah.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi? Saat malam tiba, para maid telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Di mansion ini hanya tinggal aku, Allen dan para anak buahku yang lain. Dan kesemuanya itu adalah pria."
"Itu artinya kau telah menyentuh tubuhku." Ucap Alice dengan wajah menahan kesal.
"Dengan terpaksa. Aku tidak punya pilihan lain." Bela Xander.
"Jadi kau telah..." Ucapan Alice tercekat.
Dia teringat saat bermesraan dengan Raja Alec. Dan semua itu terasa nyata bagi Alice.
"Jadi kau sungguh menginginkanku melakukannya padamu, Alice. Aku memang pria normal. Tapi aku berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak menyentuhmu dan bercinta denganmu. Kalau kau tidak percaya, kau bisa memeriksanya sendiri atau memeriksakannya ke dokter." Ucap Xander.
Xander mengingat bagaimana juniornya tersiksa semalam. Alice telah membangkitkan gai rahnya yang selama ini terpendam. Setelah memastikan Alice tidur dengan nyaman, Xander menuntaskan hasr atnya dengan bersolo ria di dalam kamar mandi. Xander menghela napas panjang dan dia memalingkan wajahnya. Telinganya pun semakin memerah. Alice terkejut melihat kissmark yang ada di leher Xander.
"Lalu, bagaimana bisa ada tanda kissmark di lehermu?" Tanyanya.
Xander terkekeh pelan. "Apa kau tidak mengingatnya sama sekali?"
"A-apa maksudmu? Tidak mungkin aku yang membuatnya." Kekeh Alice tak percaya.
Xander menyeringai.
"Mengapa kau tersenyum seperti itu? Bukan aku. Itu pasti tanda yang dibuat oleh salah satu wanitamu." Elak Alice.
"Kau satu-satunya wanita yang ada di sini, Alice. Andai kau tahu bagaimana tingkahmu semalam. Aku yakin pria mana pun tidak akan bisa meredam hasratnya setelah mendapatkan godaan yang luar biasa darimu." Ucap Xander.
"Semalam kau mengalami demam tinggi, karena terlalu lama berendam air dingin. Beberapa kali aku mengompres dahimu, namun demammu belum turun juga. Kau terus mengigau dan memanggil nama Alec sambil menangis. Aku putuskan untuk memelukmu dan tak lama kemudian tangismu berhenti. Kau tidur dengan sangat lelap." Terang Xander.
Pandangan mata Alice melembut. "Siapa Xander sebenarnya? Mengapa pelukannya terasa sangat hangat dan nyaman."
"Apa kau baik-baik saja, Alice?" Tanya Xander yang membuyarkan lamunan Alice.
"Xander."
"Ya."
"Maukah kau membuka topengmu. Aku ingin melihat wajahmu." Pinta Alice.
Xander terdiam dan rahangnya sedikit mengeras. Xander nampak gelisah.
"Aku mohon. Izinkan aku melihat wajahmu, seperti apapun itu. Aku berjanji tidak akan menghina dan merendahkanmu." Ucap Alice dengan tatapan memohon.
Xander menyentuh wajahnya dengan gugup. "Tapi Alice. W-wajahku tidak sempurna."
"Aku tetap ingin melihatnya."
Alice mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Xander. Napas Xander tercekat. Dia mengalami kecemasan yang luar biasa. Tangan Alice yang lain menggenggam tangan Xander untuk menenangkannya. Xander menarik napas panjang lalu mengangguk pelan. Dengan perlahan, Alice membuka topeng yang selama ini menyembunyikan wajah asli Xander.
Saat topengnya terlepas, Xander langsung menundukkan wajahnya. Dengan jantung berdebar, Alice menakup wajah Xander dan mengangkatnya secara perlahan. Seketika napas Alice tercekat dengan mata melebar. Alice diam terpaku. Tak terasa bulir-bulir air matanya menetes secara perlahan membuat Xander bingung.
"Sudah kubilang kau akan kecewa saat melihat wajah cacatku ini." Suara Xander bergetar.
Alice tersenyum saat memandangi wajah tampan dengan rahang sempurna dan manik mata seperti milik Raja Alec. Namun wajah Xander memiliki bekas luka permanen di dekat telinga kanannya.
"Akhirnya kau datang, Alec." Lirih Alice.
Wajah lembut Xander berubah mengeras. Dia hendak memakai topengnya kembali, namun Alice segera menahannya.
"Lepaskan, Alice." Ucap Xander namun tak dihiraukan oleh Alice.
Hati Xander terasa sakit saat Alice menyebut nama pria lain di hadapannya. Nama pria yang telah membuatnya terbakar cemburu sejak semalam.
"Alice..!"
Tanpa berpikir panjang, Alice mendekatkan wajahnya dan menci um bibir Xander dengan lembut. Mata Xander terbelalak. Seketika semua kenangan tentang kebersamaan pria yang wajahnya mirip dengannya bersama Alice memenuhi otaknya. Xander mendorong tubuh Alice sehingga tautan bibir keduanya terlepas. Alice tersentak. Xander tertegun dengan apa kenangan yang muncul di pikirannya barusan.
"Aku minta maaf." Ucap Alice dengan perasaan kecewa bercampur malu.
Alice merutuki kebodohannya karena berpikir Xander adalah Raja Alec, hanya karena wajah mereka mirip. Alice membalikkan badan seraya menghapus air matanya. Tubuhnya tersentak saat Xander menariknya ke dalam pelukannya dan menyatukan bibir mereka kembali. Satu tangan Xander merengkuh pinggang Alice, dan tangannya yang lain menahan tengkuk leher Alice.
Kenangan Raja Alec dan Alice semakin memenuhi ingatannya. Xander melu mat bibir Alice dengan lembut dan perlahan semakin dalam. Li dah keduanya saling beradu dan mengeksplor kenik matan di dalamnya. Luma tan dan pagutan itu terjadi cukup lama. Xander melepaskan tautan bibirnya saat keduanya kehabisan napas. Dengan napas terengah Xander mengecup bibir manis Alice berkali-kali.
"Maafkan aku yang telah membuatmu menunggu lama, Aliceku, Ratuku." Ucap Xander dengan suara parau.
Xander menatap manik mata Alice lekat.
"Maafkan Alecmu ini, my Queen." Tambah Xander sambil tersenyum.
Alice langsung menumpahkan air matanya di dalam pelukan Xander. Xander semakin mengeratkan pelukannya.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Alec." Lirih Alice sambil terisak.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu. Ke mana pun kau pergi, maka aku akan menemukanmu sayang. Cintaku akan selalu membawaku padamu." Ucap Xander sambil mengecup pucuk kepala Alice.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
3. Terpaksa Menikah : Suami Buleku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰