I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 44. Tawaran



"Bagaimana tabib Fay?" Tanya Ratu Roseline.


"Dugaan Yang Mulia benar. Ratu Cetta sakit bukan karena penyakit, tapi racun." Jawab tabib Fay.


Raja Abraham membelalakkan matanya.


"Kurang aj*r! Siapa yang telah berani menyakiti Ratuku?" Umpat Raja Abraham sambil mengepalkan tangannya.


"Lihatlah Raja Abraham. Warna daun dari tanaman ini perlahan menguning kemudian akan mati secara perlahan. Seperti itulah racun itu bekerja di dalam tubuh Ratu Cetta." Ucap Ratu Roseline.


"Apakah kalian bisa menyembuhkan istriku? Aku mohon." Tanya Raja Abraham dengan wajah memohon.


"Aku akan berusaha membuatkan obat penawarnya. Aku berharap semua itu tidak terlambat." Jawab Ratu Roseline.


"Terima kasih, Ratu Roseline. Aku mohon sembuhkan istriku." Ucap Raja Abraham.


"Mohon maaf ada hal penting yang harus hamba sampaikan kepada Yang Mulia Raja dan Ratu." Ujar tabib Fay dengan wajah serius.


"Katakanlah tabib."


"Kemungkinan tubuh Ratu Cetta masih bisa disembuhkan. Namun demikian, kemungkinan besar Ratu Cetta akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Racun itu telah menyerang rahim Yang Mulia Ratu." Terang tabib Fay.


Ratu Cetta sangat terpukul dan hatinya terasa hancur. Raja Abraham terus menggenggam tangan istrinya untuk menguatkannya.


"Yang penting bagiku saat ini keselamatan dan kesehatan Ratuku. Aku mohon lakukan yang terbaik." Ucap Raja Abraham.


"Tapi Yang Mulia, percuma aku hidup jika aku tidak bisa memberikan pewaris untuk Yang Mulia." Ucap Ratu Cetta sambil terisak.


"Aku tidak peduli. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan tetap dan selalu mencintaimu Ratu." Sahut Raja Abraham.


Raja Abraham langsung memeluk Ratu Cetta.


"Masih ada kemungkinankan Ratu Cetta bisa hamil nantinya. Sekecil apapun kemungkinan itu bisa menjadi harapan untuk kita. Ratu Cetta tetaplah semangat. Kau harus bangkit dari keterpurukanmu, karena cinta Raja Abraham yang sangat besar untukmu. Kita akan berusaha bersama untuk menghilangkan racun dari dalam tubuhmu, dan juga memulihkan kesehatan kandunganmu." Ujar Ratu Roseline.


"Terima kasih, Ratu Roseline." Ucap Ratu Cetta dan Raja Alec.


"Sama-sama, Ratu Cetta." Jawab Ratu Roseline, sedangkan Raja Alec hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Bagaimana keadaan Baginda?" Tanya Ratu Roseline saat keduanya berjalan keluar dari paviliun tamu.


"Aku sudah kembali sehat." Jawab Raja Alec.


"Apa Baginda sudah makan?"


"Sudah." Jawab Raja Alec singkat.


Ratu Roseline mendengus kesal. "Baiklah kalau begitu aku akan kembali ke istana ratu."


Raja Alec menarik lengan Ratu Roseline.


"Mengapa kau marah, Ratu?" Tanya Raja Alec sambil tersenyum.


"Aku sedang tidak marah." Ketus Ratu Roseline sambil menepis tangan Raja Alec.


Raja Alec menyunggingkan bibirnya, lalu menyelipkan tangan kanannya ke pinggang Ratu Roseline dan mendekatkan wajahnya ke telinga Ratu Roseline.


"Apa kau marah karena kau tidak melihat keberadaanku saat kau bangun tadi?" Bisik Raja Alec menggoda.


"Untuk apa aku marah, justru aku merasa senang karena sudah tidak berdekatan dengan Baginda." Jawab Ratu Roseline.


"Benarkah? Hmm... Ternyata dalam keadaan sadar dan tidak sadar sikapmu berbeda jauh." Ucap Raja Alec sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Apa kau tidak ingat? Semalam kau memelukku dengan sangat erat, bahkan kau tidak membiarkanku bergerak atau menjauh sedikit pun. Tanganku sampai kesemutan. Tapi tak apalah yang penting Ratuku bisa tidur dengan nyenyak." Ucap Raja Alec sambil terus tersenyum.


"A-apa? Aku memelukmu?"


Raja Alec mengangguk. Ratu Roseline langsung gelagapan dan salah tingkah dengan wajah yang mulai bersemu merah.


"A-aku akan kembali ke istana ratu. Aku harus segera membuatkan obat penawar untuk Ratu Cetta." Ujar Ratu Roseline.


"Baiklah. Aku juga akan pergi ke ruang kerjaku, Marquess Filan pasti sudah menungguku. Dan nanti siang aku akan makan di istana ratu. Aku sangat merindukan masakanmu, Ratu."


Raja Alec merendahkan suaranya namun terkesan serius. "Setelah itu aku ingin mengajakmu menemui seseorang."


Ratu Roseline hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan Raja Alec. Saat ini dia benar-benar malu. Marie berjalan di belakangnya sambil menahan tawa.


Setibanya di istana ratu, Ratu Roseline segera mengambil tanaman obat yang ada di taman obat miliknya. Sebelumnya, Ratu Roseline telah memerintahkan para pelayan untuk menanam berbagai jenis tanaman obat yang ia dapatkan dari luar istana. Ratu Roseline merebus sebagian tanaman obat itu, dan sebagian lagi dijemur untuk ditumbuk dan dijadikan obat dalam bentuk pil dan kapsul.


Setelah obat rebus itu jadi, Ratu Roseline sendiri yang membawakannya untuk Ratu Cetta. Ratu Roseline juga membawa seorang pelayan yang dikirimkan oleh Duke Ramon. Livia, nama pelayan itu. Livia bukanlah pelayan biasa, tapi dia juga salah satu prajurit rahasia yang terlatih milik Duke Ramon. Ratu Roseline sengaja menempatkan Livia di samping Ratu Cetta. Selain sebagai pelayan, Livia juga bertugas sebagai mata-mata serta menjaga keselamatan Ratu Cetta.


"Ratu Cetta, perkenalkan ini adalah Livia. Selama Ratu Cetta berada di sini, Livia yang akan menjadi pengganti pelayanmu sebelumnya." Ucap Ratu Roseline.


"Hormat hamba, Yang Mulia Raja dan Ratu." Livia memberikan hormat.


Raja Abraham dan Ratu Cetta menganggukkan kepala mereka.


"Terima kasih, Ratu Roseline. Sejujurnya saja setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh pelayan Mayya, kami tidak mudah percaya kepada orang lain." Ucap Raja Abraham.


"Kalian tidak perlu cemas. Livia adalah salah satu orang kepercayaanku. Aku yang menjaminnya." Sahut Ratu Roseline.


Raja Abraham pun setuju.


"Livia berikan obat untuk Ratu Cetta." Perintah Ratu Roseline.


Livia berjalan ke tempat tidur Ratu Cetta sambil membawa nampan. Dengan lembut, Livia membantu Ratu Cetta meminum obatnya.


"Terima kasih, Livia." Ucap Ratu Cetta.


"Ratu Cetta nantinya kau akan meminum obat ini tiga kali dalam sehari. Selain itu, Ratu juga harus banyak beristirahat dan jangan berpikir terlalu berat supaya proses penyembuhanmu bisa berjalan dengan baik." Ujar Ratu Roseline.


Ratu Cetta mengangguk.


"Tenang saja, Ratu. Aku sendiri yang akan memastikan Ratuku beristirahat dengan baik." Ucap Raja Abraham.


"Baiklah, aku tidak mengganggu kebersamaan kalian. Livia akan berada di depan kamar, jika kalian membutuhkannya." Ucap Ratu Roseline sebelum meninggalkan kamar Ratu Cetta.


"Pastikan Ratu Cetta selalu berada dalam pengawasanmu, Livia. Aku yakin siapapun itu tidak akan menyerah untuk menyakiti Ratu Cetta. Hanya kau dan Raja Abraham yang boleh membantu Ratu Cetta untuk meminum obatnya." Bisik Ratu Roseline saat berada di luar.


"Baik, Ratu. Hamba akan terus mengawasi Ratu Cetta dan memastikan Ratu Cetta meminum obatnya dengan baik." Jawab Livia.


Ratu Roseline berjalan menuju istananya. Namun di tengah perjalanan dia bertemu dengan Raja Sevilen yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Ratu Roseline." Sapa Raja Sevilen.


"Raja Sevilen." Balas Ratu Roseline.


"Ratu baru saja dari kamar Ratu Cetta, bukan? Bagaimana keadaan Ratu Cetta?" Tanya Raja Sevilen.


"Ratu Cetta masih dalam pengobatan, keadaannya sudah lebih baik." Jawab Ratu Roseline.


"Syukurlah."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Tunggu Ratu." Tahan Raja Sevilen.


"Ada apa Raja Sevilen?" Tanya Ratu Roseline sambil menyerngitkan dahinya.


"Dengarkan aku Ratu. Jika Ratu ingin pergi dari sini dan menjauh dari Raja Alec, aku siap untuk membantumu dan membawamu pergi jauh." Ucap Raja Sevilen.


Ratu Roseline tersenyum sinis. "Jadi kaulah orang yang semalam menyelinap ke istana ratu dan menguping pembicaraanku dengan Baginda Raja. Apa Raja Sevilen tahu jika yang Raja lakukan telah melanggar hukum di kerajaan ini."


"Aku tahu. Dan jika Ratu ingin melaporkanku kepada Baginda Raja, tidak masalah. Aku siap mendapatkan hukuman. Tapi aku melakukannya karena aku mengkhawatirkanmu, Ratu." Jawab Raja Sevilen.


"Mengapa Raja harus mengkhawatirkanku?"


"Karena aku menyukaimu, Ratu Roseline. Aku jatuh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu." Ucap Raja Sevilen.


"Apa Raja sudah tidak waras? Aku adalah wanita yang sudah bersuami, dan suamiku adalah Raja dari Kerajaan Cardania." Ucap Ratu Roseline menahan marah.


"Aku tahu Ratu, apa yang aku lakukan memang salah. Tapi perasaanku ini murni untukmu. Aku ingin membahagiakanmu." Sahut Raja Sevilen.


"Cukup! Buang jauh-jauh perasaanmu untukku. Dan aku tekankan jangan pernah mencampuri urusanku lagi!" Tegas Ratu Roseline.


Raja Sevilen terdiam sesaat.


"Aku tidak akan memaksamu, Ratu. Pikirkan tawaranku baik-baik. Jika nanti Ratu berubah pikiran, katakan padaku. Aku akan menunggumu, Ratu." Ucap Raja Sevilen sambil tersenyum, lalu pergi menjauh dari Ratu Roseline.


Ratu Roseline menghela napas panjang.


"Masalah dengan Raja Alec saja belum selesai, dan sekarang sudah muncul masalah baru lagi." Gumam Ratu Roseline.


Ratu Roseline segera kembali ke istana ratu. Ratu Roseline duduk di taman sambil memandangi langit yang cerah.


"Aku merindukan duniaku. Aku merindukan rumahku dan semua orang yang aku sayangi, Grandpa, Bella, Jack, para maid."


Ratu Roseline menutup matanya sambil membayangkan wajah mereka.


"Hhhh... Aku benar-benar rindu." Lirihnya.


"Siapa yang Ratu rindukan? Apakah Ratu merindukanku?"


Ratu Roseline membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah tampan Raja Alec yang sedang tersenyum tepat di hadapannya.


"B-baginda?"


Raja Alec mengecup ujung bibir Ratu Roseline dengan lembut. Ratu Roseline membulatkan matanya dan napasnya terasa tercekat.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰