
Raja Alec dan Ratu Roseline memasuki ruang pengadilan. Para penjaga membawa masuk Countess Sarah dan Baron Joseph dengan kondisi tangan yang terikat. Baron Joseph mengeraskan rahangnya. Dalam hati dia menyesali kebodohannya yang menyelinap masuk ke dalam istana raja dan mengambil wine milik Raja Alec.
"Br*ngs*k! Seandainya aku tidak meminum wine milik Alec, aku tidak akan mabuk dan hilang kendali." Rutuknya dalam hati.
"Baron Joseph dan Countess Sarah, kalian berdua dituntut karena telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan hubungan terlarang di kamar Baginda Raja." Ucap Marquess Filan dengan lantang.
"Itu tidak benar, Baginda. Hamba berani bersumpah jika hamba dijebak. Hamba memohon supaya Baginda percaya kepada hamba. Hamba tidak mungkin melakukan hal seburuk itu." Ucap Countess Sarah dengan wajah memelas dan beruraian air mata.
"I-itu benar Baginda. Hamba juga dijebak. Hamba tidak tahu bagaimana hamba bisa berada di kamar Baginda. Hamba mohon keadilan, Baginda." Sahut Baron Joseph memohon.
"Apa yang dikatakan putra hamba itu benar, Baginda. Putra hamba tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu." Ujar Baroness Yolanda membela putranya.
"Bagaimana mungkin kalian berdua bisa dijebak? Dan siapa pelakunya?" Tanya Raja Alec dingin.
Countess Sarah dan Baron Joseph saling berpandangan.
"Apa kalian mau memfitnah Ratuku lagi?" Tambahnya.
Count Donovan maju dan berlutut di hadapan Raja dan Ratu.
"Hamba mohon Baginda, bebaskan putri hamba. Hamba berjanji akan menemukan siapa orang yang telah menjebaknya."
"Apa kau yakin?" Tanya Raja Alec dengan tatapan tajamnya membuat tubuh Count Donovan gemetar.
Marquess Andry dan Jenderal Azel membawa masuk dua orang prajurit dan juga seorang pria berpakaian dan penutup wajah berwarna hitam. Mereka langsung memberikan hormat. Countess Sarah dan Baron Joseph terkejut dan terlihat tidak tenang.
"Mereka adalah prajurit yang berjaga di istana raja, Baginda. Dan keduanya ditemukan dalam keadaan pingsan semalam. Mereka akan memberikan kesaksian." Lapor Marquess Andry.
"Hormat kami, Baginda."
"Katakan apa yang kalian ketahui tentang kejadian semalam dan mengapa kalian berdua bisa pingsan?" Tanya Raja Alec.
"Pada saat kami berjaga semalam, Countess Sarah datang ke istana raja dan memaksa untuk masuk ke dalam. Namun kami melarang dan menahannya, sesuai dengan perintah Baginda yang tidak ingin diganggu oleh siapapun."
"Saat kami masih bersitegang dengan Countess Sarah, tiba-tiba ada yang memukul tengkuk leher belakang kami sehingga kami tak sadarkan diri."
Countess Sarah meremas gaunnya dengan kuat dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya yang sudah memucat. Countess Sarah benar-benar takut jika Raja Alec akan menghukumnya. Begitu juga dengan Baron Joseph. Jika anak buahnya memberikan kesaksian dengan jujur, maka hidupnya juga berada dalam bahaya.
"Dan pria inilah yang telah membuat kedua prajurit ini pingsan, Baginda. Prajurit bayangan yang telah berhasil menangkapnya semalam." Ujar Jenderal Azel sambil membuka penutup wajah pria itu.
Pria itu menatap ke arah Baron Joseph, namun Baron Joseph mengalihkan pandangannya. Raja Alec dan Ratu Roseline tersenyum tipis.
"Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan Countess Sarah?" Tanya Raja Alec.
"Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Countess Sarah. Aku hanya membantunya masuk ke dalam istana raja supaya dia bisa bertemu dengan Raja dari kerajaan ini." Jawab pria itu dengan santainya.
"Beraninya kau bersikap tidak sopan kepada Baginda Raja!" Bentak Marquess Filan.
Pria itu menatap Marquess Filan sambil menyunggingkan bibirnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Baron Joseph dan Baroness Yolanda.
"Benarkah hanya seperti itu?" Tanya Raja Alec.
Pria itu tak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya.
"Sepertinya kau tidak takut mati." Ucap Raja Alec. "Tapi, bagaimana jika mereka yang mati?"
Felix membawa masuk seorang wanita dengan dua bayi laki-laki kembar yang berada di dalam gendongannya. Pria berbaju hitam itu langsung membelalakkan mata.
"Sial! Bagaimana mungkin mereka bisa ditemukan? Bukankah anak buahku sudah menculik mereka sebelumnya." Batin Baron Joseph sambil mengepalkan tangannya.
"Sekarang bersumpahlah atas nyawa mereka, jika apa yang kau katakan tadi benar adanya." Tantang Raja Alec.
Pria itu langsung berlutut di hadapan Raja Alec.
"Hamba mohon jangan sakiti mereka, Baginda." Ucap pria itu.
Raja Alec tertawa pelan. "Hilang ke mana kesombonganmu tadi?"
"Baginda boleh menghukum mati hamba, tapi hamba mohon bebaskan keluarga hamba." Mohon pria itu.
"Aku akan memberikan hukuman atau tidak itu tergantung pada jawabanmu, termasuk kebebasan mereka. Aku memberimu satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, Isak."
Pria yang bernama Isak itu mengangkat wajahnya, lalu mengarahkan pandangannya kepada Baron Joseph.
"Hamba adalah salah satu orang bayaran Baron Joseph dan Baroness Yolanda. Mereka membayar hamba untuk melakukan semua yang mereka perintahkan, termasuk membantu Countess Sarah agar bisa masuk ke dalam istana raja. Mereka bekerja sama menjebak Baginda Raja untuk tidur dengan Countess Sarah." Ucap Isak.
"Tenangkan dirimu, Baroness Yolanda. Tidak seharusnya kau meninggikan suaramu di hadapan Baginda Raja dan Ratu." Tegur Ibu Suri Helene.
Baroness Yolanda langsung diam sambil kedua tangannya meremas gaunnya dengan sangat kuat.
"Apa buktinya jika kau adalah orang suruhan Baroness Yolanda dan Baron Joseph?" Tanya Ratu Roseline.
Isak mengeluarkan sekantong koin emas dan sebuah plakat berlambangkan Keluarga Baron Joseph. Baroness Yolanda dan Baron Joseph tak bisa berkutik lagi.
"Apa benar kalian tidak mengenal pria ini?" Tanya Raja Alec kepada Baron Joseph dan Baroness Yolanda yang terlihat kebingungan.
"Apa tujuan kalian sebenarnya?" Bentak Raja Alec.
Baroness Yolanda menatap Raja Alec dan tersenyum sinis. "Kami hanya ingin mendapatkan hak kami kembali."
"Hak kalian yang mana?" Tanya Ibu Suri Helene.
"Hak kami sebagai anggota keluarga kerajaan. Mendiang Raja Arthur telah mengangkatku menjadi anak dan memberikan hak yang sama seperti anggota kerajaan yang lain. Tapi semenjak tahta kerajaan diambil alih Raja Uther, kalian mengambil semua apa yang menjadi hakku yang telah diberikan oleh Raja Arthur." Jawab Baroness Yolanda dengan tatapan penuh kebencian.
"Kami tidak pernah mengambil hak yang telah diberikan kepadamu. Tapi kau sendiri yang telah menyalahgunakan semua kebaikan Raja Arthur selama ini. Kau hanyalah anak angkat, tapi kau mengharapkan hak yang sama dengan penerus kerajaan ini. Meskipun kau dan keluargamu tidak tinggal di istana, kami tetap memenuhi segala kebutuhan dan kesejahteraan hidup kalian. Seharusnya kau berkaca dan mengingat kembali dari mana kau berasal. Kau itu bagaikan punguk merindukan rembulan. Kau terlalu serakah, Yolanda." Cerca Ibu Suri Helene.
"Kau!" Hardik Baroness Yolanda.
"Beraninya kau membentak Ibu Suri!"
"Lalu, apa yang akan Raja lakukan padaku?" Tanya Baroness Yolanda sambil tersenyum sinis.
"Melakukan tuduhan yang telah kau ucapkan tadi." Jawab Raja Alec membuat senyum Baroness Yolanda luntur.
"Kalian terbukti melakukan kerjasama untuk menjebakku. Akan tetapi, kalian telah masuk ke dalam jebakan kalian sendiri. Mulai saat ini aku mencabut gelar kebangsawanan dari Baroness Yolanda, Baron Joseph, Count Donovan dan Countess Sarah. Semua harta dan aset kalian yang berada di Kerajaan Cardania akan diambil alih kerajaan dan akan dibagikan kepada rakyat Cardania yang masih kekurangan. Aku tidak akan menghukum mati kalian, tapi aku akan mengirim kalian keluar dari kerajaanku dan membuang kalian ke tempat pengasingan."
Mereka berempat langsung membelalakkan mata. Tubuh Baroness Yolanda langsung merosot ke lantai. Begitu juga dengan Count Donovan langsung lemas, saat mengetahui semua harta yang telah dikumpulkannya akan disita dan dibagikan kepada rakyat jelata.
"Dan sebelum kalian keluar dari kerajaan ini, kalian akan mendapatkan hadiah berupa hukuman cambuk sebanyak 100 kali." Tegas Raja Alec sambil memyeringai.
Keputusan Raja Alec tidak bisa diganggu gugat. Duke Darian pun tak berani berbicara dan memberikan pembelaan kepada kakak ipar dan keponakannya. Duke Darian takut jika dirinya akan ikut terseret sehingga gelar kebangsawanannya akan dicabut dan dibuang ke tempat pengasingan.
Keempat tawanan itu langsung dibawa ke penjara bawah tanah untuk mendapatkan 100 kali cambukan. Sedangkan Isak yang telah berkata jujur dan mengakui kesalahannya, mendapatkan hukuman 50 kali cambukan dan hukuman kurungan penjara selama 1 bulan.
"Hamba menerima hukuman yang diberikan oleh Baginda. Tapi hamba ingin meminta satu permintaan, Baginda." Ucap Isak.
"Katakan!"
"Hamba mohon bebaskan istri dan kedua anak hamba. Mereka tidak bersalah." Pinta Isak.
"Kau tidak perlu khawatir. Selama kau menjalani hukumanmu, mereka akan berada di bawah pengawasanku dan tinggal di salah satu kamar pelayan di istana ratu."
"Terima kasih banyak atas semua kebaikan Yang Mulia Ratu." Ucap Isak. Istri Isak juga ikut berlutut dan mengucapkan terima kasih.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰