I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 74. Bimbang



"Bagaimana keadaan Baginda Raja, Ronaf?" Tanya Duke Sullivan yang telah berada di kamar Raja Alec dengan wajah cemasnya.


"Baginda mengalami infeksi akibat luka di punggungnya." Jawab Tuan Ronaf setelah memeriksa keadaan Raja Alec.


Ratu Roseline membulatkan matanya.


"Infeksi?" Seru Duke Ramon. "Apa yang sebenarnya terjadi, Marquess Filan?"


Marquess Filan terdiam dengan wajah menegang.


"Sebaiknya tidak ada yang kau sembunyikan dari kami, Marquess Filan. Nyawa Rajamu sedang dalam bahaya saat ini." Ucap Ratu Roseline.


"Baginda Raja terluka akibat terkena cakaran harimau, saat sedang berburu kelinci di hutan. Baginda Raja berebut kelinci hutan itu dengan dua ekor harimau." Aku Marquess Filan.


"Baginda Raja berburu kelinci?" Ratu Roseline langsung menatap Duke Ramon tajam.


Duke Ramon menelan salivanya kasar.


"Aku minta maaf Alice. Kakak sudah berusaha mencarikan kelinci hutan untukmu, namun kakak tidak berhasil. Dan kelinci yang kau makan tadi sebenarnya hasil buruan Baginda Raja." Ucap Duke Ramon merasa bersalah.


Ratu Roseline menatap tubuh lemah Raja Alec dengan wajahnya yang memucat. Ratu Roseline melangkah pergi meninggalkan kamar Raja Alec dengan terburu.


"Nona mau ke mana? Hati-hati jalannya Nona." Tanya Marie yang mengejarnya bersama Felix.


"Aku harus membuatkan obat untuk Baginda." Jawab Ratu Roseline singkat.


Mereka segera menuju ruang penyimpanan bahan makanan dan rempah-rempah untuk mencari bahan membuat obat.


"Nona, biarkan kami saja yang melakukannya. Nona cukup memberikan arahan kepada kami. Jangan sampai Nona kelelahan nantinya." Ucap Marie khawatir.


"Tidak Marie. Aku akan membuatnya sendiri." Tolak Ratu Roseline.


Marie dan Felix dengan setia membantu Ratu Roseline membuatkan obat untuk Raja Alec. Tuan Ronaf datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Baginda Raja, Tuan?" Tanya Ratu Roseline.


"Baginda mengalami demam. Apa kau sedang membuat obat untuk Baginda Raja?" Tanya Tuan Ronaf.


"Benar Tuan." Ucap Ratu Roseline sambil mengangguk.


"Untuk obat lukanya sudah jadi. Tinggal obat yang harus diminum untuk melawan infeksi dan membantu menurunkan demamnya. Marie masih merebusnya." Tambahnya.


Tuan Ronaf mengangguk senang. Setelah obat itu jadi, langsung dibawa ke kamar Raja Alec. Dengan lembut Ratu Roseline mengoleskan obat ke atas luka yang ada di punggung Raja Alec. Kemudian dia sendiri yang membantu Raja Alec meminum obat rebusnya.


"Ratu." Lirih Raja Alec yang masih belum sadar sepenuhnya. Raja Alec tersenyum melihat Ratu Roseline berada di dekatnya saat ini.


Marie membawakan air hangat dan lap untuk mengompres Raja Alec.


"Biarkan hamba yang merawat Baginda Raja. Sebaiknya Ratu kembali ke kamar dan beristirahat." Ucap Marquess Filan.


"Marquess Filan benar Nona. Nona harus istirahat sekarang, demi kesehatan Nona dan kedua bayi dalam kandungan Nona." Sahut Marie.


Ratu Roseline membuang napasnya kasar dan menatap wajah Raja Alec.


"Kau harus sembuh jika masih ingin melihat mereka lahir dan memanggilmu "Ayah"." Ucap Ratu Roseline sesaat sebelum meninggalkan kamar Raja Alec.


Raja Alec mengerjapkan matanya saat merasakan hangatnya cahaya matahari yang menelusuk masuk ke dalam kamarnya. Raja Alec berusaha bangun, namun tubuhnya terasa lemas.


"Baginda jangan bangun dulu. Tubuh Baginda masih lemah." Kata Marquess Filan.


"Apa yang terjadi padaku, Filan?" Tanya Raja Alec dengan suara pelan.


"Semalam Baginda pingsan. Tuan Ronaf mengatakan bahwa Baginda mengalami infeksi akibat luka cakaran harimau. Baginda sampai mengalami deman tinggi." Terang Marquess Filan.


Raja Alec menarik napasnya pelan dan mengingat saat dia pergi menjauh dari kamar Ratu Roseline, setelah Ratu Roseline mengusirnya. Raja Alec tersenyum tipis.


"Mengapa Baginda tersenyum seperti itu?" Tanya Marquess Filan cemas.


"Apa kau tahu Filan? Aku semalam bermimpi indah. Aku bermimpi Ratu berada di dekatku. Meskipun samar, aku masih bisa melihat wajahnya dari jarak yang begitu dekat." Jawab Raja Alec.


"Baginda tidak bermimpi. Semalam Ratu memang berada di sini dan merawat Baginda. Bahkan Ratu sendiri yang membuatkan obat untuk Baginda." Ucap Marquess Filan.


Raja Alec melebarkan matanya tak percaya. "Kau sedang tidak bercanda kan, Filan?"


"Hamba tidak bercanda, Baginda. Ratu juga mengatakan bahwa Baginda harus sembuh jika Baginda masih ingin melihat kedua calon penerus Baginda lahir ke dunia ini dan memanggil Baginda dengan sebutan "Ayah"." Jawab Marquess Filan.


Raja Alec meneteskan air mata. "Terima kasih Alice."


Marquess Filan tertegun melihat sisi rapuh Raja Alec yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Pintu kamar terbuka dan masuklah Ratu Roseline bersama Marie. Raja Alec langsung menghapus air matanya.


"Syukurlah Baginda akhirnya bangun juga. Saatnya Baginda untuk makan lalu minum obat." Ucap Ratu Roseline dingin.


"Terima kasih, atas perhatianmu." Ucap Raja Alec sambil tersenyum.


Marquess Filan membantu Raja Alec untuk duduk. Ratu Roseline mengambil mangkuk berisi bubur dan duduk di tepi ranjang. Ratu Roseline menyuapi Raja Alec dengan perlahan. Hati Raja Alec sangat bahagia.


"Mengapa kau bersedia melakukannya, Alice?" Tanya Raja Alec.


"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena Baginda telah bersusah payah untuk mendapatkan kelinci hutan kemarin." Jawab Ratu Roseline.


Raja Alec memaksakan senyum di bibirnya. "Dasar bodoh. Memangnya jawaban apa yang aku harapkan? Cukup cintailah dia tanpa mengharapkan sesuatu yang sulit untuk kau raih, Alec."


"Alice, tunggu." Seru Raja Alec saat Ratu Roseline hendak berdiri.


"Bolehkah aku menyentuh perutmu sebentar saja. Aku hanya ingin menyapa anak-anakku." Ucap Raja Alec dengan memohon.


Ratu Roseline terdiam dengan tatapa dinginnya.


"Tapi jika kau keberatan, aku tidak akan memaksa. Melihat kalian selalu sehat sudah cukup untukku."


Ratu Roseline menarik tangan kanan Raja Alec dan meletakkanya dengan perlahan di perutnya yang mulai membuncit. Raja Alec tersenyum senang.


"Halo, anak-anak hebatku. Ini Ayah, Nak. Ayah berharap kalian tumbuh dengan baik di dalam sana. Ayah mohon kepada kalian, jangan sampai kalian menyusahkan ibu kalian dan buatlah ibu kalian selalu bahagia." Ucap Raja Alec sambil menitikkan air matanya.


Ratu Roseline mengatur napasnya agar tetap terlihat tenang.


"Terima kasih, Alice." Ucap Raja Alec.


Ratu Roseline hanya mengangguk, lalu keluar dari kamar Raja Alec. Raja Alec terus mencium tangannya dengan senyum bahagia. Saat berada di kamarnya, Ratu Roseline tak kuasa menahan air matanya lagi.


"Apa Nona baik-baik saja?" Lirih Marie.


"Jika Nona mencintai Baginda Raja, mengapa Nona tidak kembali kepada Baginda Raja, bukannya terus menolak Baginda Raja?"


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Marie. Dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku ingin kedua anakku mendapatkan keluarga yang utuh. Tapi di sisi lain, aku tidak ingin menjadi orang lain agar bisa hidup bersamanya. Aku ingin menjadi diriku sendiri." Jawab Ratu Roseline.


"Apa Nona belum yakin jika Baginda Raja benar-benar mencintai Nona?"


Ratu Roseline tersenyum hambar. "Baginda Raja mencintai pemilik tubuh ini Marie, yaitu Ratu Roseline, bukan diriku yang sebenarnya."


Semakin hari kondisi Raja Alec berangsur membaik. Bahkan Raja Alec juga sudah bisa keluar dari kamarnya meskipun harus selalu didampingi oleh Marquess Filan.


Siang itu Duke Ramon terlihat keluar dari kamar Raja Alec setelah mengatarkan kue yang dibuat oleh Ratu Roseline.


"Duke Ramon." Panggil Putri Viviane.


Putri Viviane berlari dengan senyum mengembang di wajahnya.


Duke Ramon berdecak dan bergumam. "Mengapa aku harus bertemu dengan wanita ini di sini?"


"Putri Viviane." Sapa Duke Ramon.


"Apa Duke baru saja menjenguk Raja Alec?" Tanya Putri Viviane.


"Benar, aku baru saja menjenguk Baginda Raja. Apakah Putri juga hendak menjenguk Baginda Raja?"


"Ya, aku datang ke sini untuk menjenguknya. Dan aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan Duke di sini." Ucap Putri Viviane.


"Kebetulan sekali Baginda sedang tidak sibuk saat ini, jadi Putri bisa langsung menemuinya. Kalau begitu aku permisi dulu." Ujar Duke Ramon, lalu melangkah pergi.


Putri Viviane langsung mengejarnya. Dan berdiri di tepat hadapan Duke Ramon sehingga langkah Duke Ramon terhenti.


"Mengapa Putri menghalangi jalanku?"


"Mengapa kau selalu menghindariku, Duke? Apa salahku?" Tanya Putri Viviane.


Duke Ramon membuang napasnya kasar. "Aku hanya merasa tidak nyaman dan terganggu dengan keberadaan Putri di sekitarku sambil menunjukkan rasa sukamu yang berlebihan itu kepadaku."


"Apa kau tidak menyukaiku?"


"Maaf Putri Viviane, tapi sepertinya aku memang harus berkata jujur padamu. Aku ucapkan terima kasih banyak karena kau telah menyukaiku dan memiliki perasaan untukku. Namun aku tidak merasakan hal yang sama. Aku tidak menyukaimu." Ucap Duke Ramon.


"Apa alasannya?"


"Karena sudah ada wanita lain yang menempati ruang di hatiku. Sudah ada wanita yang aku cintai. Dan aku tidak ingin mengkhianatinya. Jadi mulai sekarang buang jauh-jauh perasaanmu itu Putri, karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya." Tegas Duke Ramon.


Duke Ramon segera pergi meninggalkan Putri Viviane yang masih terdiam karena shock setelah mendengar pengakuan Duke Ramon.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰