
Alice dan Sean menikmati jamuan makan malam yang telah disiapkan oleh Keluarga Suarez. Selesai makan malam, mereka melakukan obrolan ringan sebelum masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuk para tamu istimewa itu. Terlihat sekali jika Alice berusaha menghindari Sean.
Saat waktu menunjukkan hampir tengah malam, Alice pamit kepada tuan rumah untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat. Dia meninggalkan Bella dan Jacob yang masih berbincang dengan para asisten Tuan Suarez. Alice menghepaskan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya menghadap ke atas dan menatap langit-langit kamar.
"Siapa kau sebenarnya, Sean Parker?"
"Kau adalah titisan Alec atau bukan?"
"Dan mengapa jantungku tidak pernah berdebar lagi seperti di awal kita bertemu?"
Alice terus bermonolog. Alice memejamkan matanya seraya membayangkan wajah tampan Raja Alec dan senyumannya terus melintas di dalam ingatannya. Tak terasa buliran cairan bening mulai membasahi matanya. Dengan cepat Alice menghapusnya dan segera bangun untuk membersihkan riasan di wajahnya. Setelah itu dia mengistirahatkan tubuhnya.
Sedangkan Sean yang juga berada di kamarnya duduk di atas sofa sambil melamun. Baru kali ini ada seorang wanita yang acuh kepadanya. Biasanya para wanita akan berusaha mencari perhatiannya, berharap untuk menjadi kekasihnya. Bahkan para wanita itu rela menjadi seorang j@lang supaya bisa naik ke atas ranjangnya, namun Sean tolak mentah-mentah. Tak ada seorang wanita yang bisa menarik hatinya, kecuali Alice.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau melihat ke arahku, Alice?"
Sean mengusap wajahnya kasar. Dia berdiri di depan cermin dan menatap pantulan wajahnya.
"Apa kurang diriku?"
"Aku tampan dan kaya. Aku mampu membuat semua wanita bertekuk lutut di hadapanku, tapi tidak denganmu, Alice. Kau memang spesial dan layak untuk diperjuangkan. Dan aku pasti akan mendapatkanmu." Ucap Sean sambil tersenyum.
Pada keesokan harinya, Sean dibuat sangat kesal. Pasalnya saat dia bangun, Alice dan kedua asistennya telah pergi. Bukan hanya pergi meninggalkan villa Keluarga Suarez, tetapi Alice juga telah meninggalkan negara Hongaria.
"Bagaimana kita bisa kecolongan seperti ini?" Gerutu Sean dengan wajah kesalnya.
"Maaf Bos, saya kurang waspada." Jawab Bill.
Bill tetap fokus mengemudikan mobil. Saat ini Sean dan Bill sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Bill, sudahkah kau melakukan apa yang aku perintahkan?" Tanya Sean.
"Bos tenang saja. Tanggung jawab atas perusahaan yang ada di Amerika untuk sementara waktu akan dialihkan kepada saudara sepupu Anda, Tuan Giovanni Parker." Jawab Bill.
"Dan yah, pastinya sebentar lagi ponsel Anda akan berdering." Tambahnya sambil tersenyum.
Benar apa kata Bill, tak butuh waktu lama ponsel Sean langsung berdering. Sean menyunggingkan bibirnya saat melihat nama Gio terpampang nyata di layar ponselnya.
"Halo sepupuku sayang."
Sapa Sean yang dijawab dengan kalimat makian dari saudara sepupunya itu.
"Sean br****k! Beraninya kau mengalihkan tanggung jawabmu kepadaku. Dasar saudara sepupu kurang @jar! ......... "
Sean menjauhkan ponselnya dari telinganya beberapa saat, karena malas mendengarkan teriakan berisi kalimat umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Gio. Gio marah besar karena Sean memindahkan tanggung jawab atas perusahaan yang ada di Amerika kepadanya, sehingga dia harus membatalkan acara liburan.
"Apa kau sudah menyelesaikan mantra makianmu, Gio?" Tanya Sean.
"Dengarkan aku. Aku akan membayar 10 kali lipat dari gaji yang biasanyakau terima. Selain itu kau boleh menggunakan semua fasilitas yang aku miliki, sesuka hati."
"Apa kau serius, Sean?" Terdengar suara Gio melembut.
"Tentu saja." Sean memutar bola matanya.
"Apa aku boleh tinggal mansionmu dan menggunakan semua mobil sportmu sesuai keinginanku?"
"Silakan. Kau boleh melakukannya, Gio. Bahkan kau juga boleh menggunkan yacht pribadiku untuk berpesta dan bersenang-senang dengan para wanitamu." Jawab Sean.
"Yes!"
"Tapi dengan syarat kau harus melakukan tugasmu dengan baik. Jangan pernah menggangguku, kecuali untuk hal yang benar-benar sangat penting." Jawab Sean dengan santai namun penuh penekanan.
Tak lama kemudian Sean menutup panggilan telponnya. Setibanya di bandara, Sean menaiki pesawat pribadi miliknya dan terbang menuju negara tempat Alice berada.
Sebuah limosin memasuki pintu pagar besar yang terbuka lebar. Saat limosin itu berhenti, Jacob segera turun dan membukakan pintu untuk majikannya. Alice turun dan masuk ke dalam mansion keluarga Quinn.
"Selamat datang cucu kesayanganku." Sambut Tuan Abraham.
"Kakek."
Alice berlari ke dalam pelukan kakeknya.
"Mengapa kau kembali secepat ini? Apakah Budapest tidak membuatmu senang?" Tanya Tuan Abraham.
Alice mengurai pelukannya.
"Bukan seperti itu, Kek. Budapest kota yang menarik. Hanya saja urusanku di sana sudah selesai. Aku berhasil menyelesaikan tantangan yang Kakek berikan dan mendapatkan kontrak kerja sama dengan Suarez Corps. Kakek pasti sudah tahu tentang hal itu." Jawab Alice.
Tuan Abraham mengangguk. "Yah kakek tahu jika Quinn Coopertion akan bekerja sama dengan Suarez Corps. dan Parker Groups."
"Kau memang tidak pernah mengecewakan. Sama seperti mendiang ayahmu." Puji Tuan Abraham bangga.
"Mau bagaimana lagi, kami kan tercipta dari bibit unggul sang ketua mafia dan pengusaha hebat yang sangat disegani, Tuan Abraham Quinn." Ucap Alice dengan sombongnya membuat Tuan Abraham tertawa.
"Sebaiknya kita makan sekarang. Kau pasti kurang makan selama di sana. Lihatlah tubuhmu terlihat kurus sekali." Ujar Tuan Abraham.
"Itu tidak benar, Kek." Rajuk Alice.
"Jacob, Bella. Kalian ikut makan bersama kami. Aku tidak menerima penolakan." Tegas Tuan Abraham yang membuat Jacob maupun Bella tak bisa mengelak.
"Baik, Tuan."
Alice sangat menikmati makanannya, begitu juga dengan Jacob dan Bella. Manik Tuan Abraham sedang mengamati Jacob dan Bella yang duduk berdampingan.
"Ekhm! Apa kalian berdua berkencan?" Tanya Tuan Abraham yang seketika membuat Jacob dan Bella tersedak.
Keduanya segera meneguk air minum di gelas mereka sampai tandas.
"M-maaf Tuan." Ucap Jacob dan Bella bersamaan karena telah bersikap tidak sopan di depan kedua bos mereka.
"Kami tidak berkencan, Tuan. Hubungan kami hanya sebatas parter kerja." Ucap Bella menjelaskan.
"Itu benar, Tuan." Sahut Jacob.
"Mereka sudah memiliki kekasih, Kek." Ucap Alice.
Tuan Abraham mengelap mulutnya setelah makanannya bersih. "Sebaiknya kalian putuskan saja pacar kalian itu. Aku tidak masalah jika kalian bersama. Kalian terlihat serasi."
"Kakek?" Protes Alice.
Tuan Abraham tak bergeming. Beliau segera berdiri dan meninggalkan ruang makan begitu saja.
Alice menghela napas panjang. "Sorry. Aku harap kalian tidak mengambil hati apa yang dikatakan oleh kakekku barusan."
"Tidak apa-apa, Nona. Kami tidak marah sama sekali. " Ucap Bella sambil tersenyum kikuk.
"Nona tidak perlu khawatir." Tambah Jacob.
Selesai makan, Jacob dan Bella segera pamit dan pergi meninggalkan mansion keluarga Quinn. Alice mendatangi kakeknya yang sedang duduk santai di taman sambil membaca majalah bisnis.
"Mengapa kakek berkata seperti itu kepada Jacob dan Bella? Kakek tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi mereka." Tegur Alice dengan wajah kesal.
"Kakek hanya mengatakan hal yang seharusnya." Jawab Tuan Abraham santai tanpa mengalihkan pandangan netranya dari majalah itu.
"Itu sama saja Kakek mencampuri hidup mereka."
Tuan Abraham meletakkan majalahnya di atas meja.
"Kakek tidak suka melihat mereka dipermainkan." Ucap Tuan Abraham yang membuat Alice menaikkan satu alisnya.
"Kedua aistenmu itu hebat dalam bekerja, tapi tidak dalam percintaan. Mereka bodoh. Mereka sama-sama memungut sampah untuk dijadikan pasangan." Lanjut Tuan Abraham.
Alice hanya bisa diam. Alice tahu betul jika kakeknya bukanlah orang yang suka asal bicara tanpa fakta yang jelas. Tapi tetap bagaimanapun juga, Alice tidak ingin terlalu mencampuri urusan pribadi anak buahnya, terutama masalah percintaan mereka.
"Kau jangan sampai menjadi bodoh seperti mereka. Apa yang terlihat bagus di mata kita, belum tentu itu berkualitas. Dan begitu juga sebaliknya."
Alice terpaku dengan penuturan kakeknya. Entah mengapa Alice jadi teringat dengan Sean.
"Lusa akan diadakan pelelangan barang antik. Apa kau tidak berminat untuk datang?" Tanya Tuan Abraham membuyarkan lamunan Alice.
"Alice tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, Kek." Jawab Alice sedikit malas.
"Kakek dengar, mereka akan melelang beberapa barang langka langka, salah satunya sebuah kalung bertaburkan permata berwarna rubi. Banyak konglomerat yang tertarik dan berlomba untuk mendapatkan kalung itu. Karena kalung langka itu telah ditemukan di bawah reruntuhan sebuah kerajaan kuno." Terang Tuan Abraham sambil menunjukkan gambar kalung yang akan dilelang.
Alice membelalakkan matanya.
"Kalung itu mirip sekali dengan kalung yang diberikan Raja Alec kepadaku." Ucap Alice dalam hati.
"Bagaimana? Indah bukan?"
"Ck... Tapi sayangnya cucuku tidak tertarik." Ucap Tuan Abraham sedikit kecewa.
"Kapan acara lelang itu akan digelar, Kek?" Tanya Alice antusias.
"Jum'at malam di Climton, sayang." Jawab Tuan Abraham sambil menyeringai.
...***...
Climton merupakan suatu ruangan bawah tanah yang cukup luas dan digunakan sebagai tempat pelelangan barang antik dan langka yang khusus diperuntukkan bagi golongan billioner di seluruh dunia. Para peserta lelang diwajibkan menggunakan topeng dan menggunakan nama samaran.
Alice tampak anggun dengan balutan pensil dress berwarna hitam selutut dan tanpa lengan. Alice memakai topeng hitam untuk melengkapi penampilannya. Tersemat bunga mawar merah di dada kirinya. Bella dan Jacob juga menggunakan dress code yang senada. "Black Rose" adalah nama samaran yang digunakan oleh Alice.
Kedatangan Alice menarik perhatian semua orang yang telah hadir di sana, terutama bagi sepasang mata yang terlebih dahulu tiba bersama asistennya. Siapa lagi kalau bukan Sean Parker, yang tersenyum bahagia di balik topengnya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu di sini, Alice. Akhirnya kau keluar juga dari istanamu." Sean.
Selama Sean berada di Inggris, dia tidak pernah bertemu dengan Alice. Alice masih enggan untuk keluar setelah kepulangannya dari Hongaria dan memilih bekerja dari rumah. Beberapa kali Sean melewati mansion keluarga Quinn, namun yang dia cari tak pernah tampak batang hidungnya.
Pejabat lelang segera membuka acara lelang dengan mengeluarkan sebuah guci antik dari salah satu dinasti kerajaan yang ada di China dan dibuka dengan harga £ 1.000. Tak butuh waktu lama, guci antik itu laku dengan harga £ 5.000 oleh seorang konglomerat asal Thailand. Selanjutnya si Pejabat lelang mengeluarkan beberapa barang antik lainnya, yang kesemuanya sama sekali tidak menarik perhatian Alice.
Sampai akhirnya, tibalah sang primadona pada acara lelang kali ini dihadapkan kepada seluruh peserta lelang. Kalung bertahtakan batu permata rubi dipajang disebuah manekin.
"Sayang, aku ingin kalung itu. Kau harus mendapatkannya untukku." Pinta seorang wanita muda dengan suara manjanya kepada pria yang usianya dua kali lipat dari wanita itu.
Mereka tak jauh dari meja Alice dan kedua asistennya. Keduanya berpelukan dengan sangat mesra.
"Tentu saja sayang. Kalung indah itu akan menjadi milikmu." Jawab pria itu lalu ******* bibir kekasihnya dengan kasar dan lahap.
"Cih, menjijikkan sekali." Gumam Alice.
"Jangankan memakainya, menyentuhnya saja kau tak layak b**ch!" Umpat Alice dalam hati dengan tatapan jijiknya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰