
Cukup lama Roseline duduk di bawah pohon, sampai dia tidak menyadari jika sang surya semakin condong di ufuk barat. Roseline tersentak saat ada tangan yang menyentuh bahunya, dia langsung mengangkat wajahnya. Ternyata orang itu adalah Tuan Ronaf. Tuan Ronaf duduk di samping Roseline.
"Sekarang aku benar-benar yakin, bahwa kau adalah orang baik, Alice. Kau memilih untuk berkata jujur dan siap untuk kehilangan semua yang kau miliki di dunia ini." Ucap Tuan Ronaf.
Roseline (Alice) menghapus air matanya.
"Tentu saja aku sudah siap, Tuan. Karena sejak awal semua itu adalah milik Ratu Roseline, bukan milikku. Dan sesuai dengan apa yang pernah aku katakan kepadamu, aku tidak akan tinggal diam dan menerima begitu saja jika mereka menyalahkanku atas kepergian Ratu Roseline apalagi sampai berani memberikan hukuman padaku. Apa yang terjadi pada Ratu Roseline bukan karena kesalahanku. Malahan karena kepergian Ratu Roselinelah, aku harus masuk ke dalam dunia kalian. Dan aku kehilangan kehidupanku sendiri sebagai Alice." Ujar Roseline (Alice) sambil tersenyum hambar.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Tuan Ronaf.
"Aku akan pergi. Aku sudah tidak ada urusan lagi di Cardania." Jawab Roseline.
"Apa kau ingin melarikan diri?"
Ratu Roseline terkekeh. "Bisa dibilang seperti itu. Aku tidak ingin konyol di dunia ini. Lagipula, aku juga sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Sangat menyedihkan, bukan? Hidup sebagai Alice ataupun sebagai Roseline, aku tetap akan kehilangan orang-orang yang aku sayangi."
Tuan Ronaf menatap kasihan ke arah Roseline. Dia merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Roseline saat ini. "Apa kau sudah memiliki tempat tujuan untuk melarikan diri?"
Ratu Roseline menggeleng.
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu. Aku tahu suatu tempat di mana tak seorang pun akan mengenalimu." Ucap Tuan Ronaf.
"Benarkah? Apa Tuan yakin?"
Tuan Ronaf mengangguk.
"Baiklah. Itu tidak buruk." Lirih Roseline.
"Jadi, kau berniat untuk pergi?" Terdengar suara berat Duke Sullivan.
Ratu Roseline dan Tuan Ronaf terkejut. Keduanya segera berdiri.
"Apa Tuan mendengar semua pembicaraan kami?" Tanya Roseline.
"Ya, aku mendengar semuanya dan kau mencoba untuk melarikan diri." Jawab Duke Sullivan dengan wajah datarnya.
Roseline membulatkan matanya. "Aku minta maaf Tuan. Tapi kepergian putrimu, Roseline, bukan karena kesalahan yang aku lakukan. Itu adalah takdir. Dan aku tidak bisa menerima jika kalian memintaku untuk menanggung kesalahan yang tidak pernah aku lakukan."
Wajah dingin Tuan Sullivan berubah sendu. "Aku sudah kehilangan putriku, Roseline. Dan apakah aku juga harus kehilangan putri lagi untuk kedua kalinya?"
"Hah? A-apa maksud dari ucapan Tuan?" Tanya Roseline (Alice).
Tuan Sullivan mendekati Roseline, lalu menggenggam kedua tangannya.
"Tubuh ini adalah tubuh putriku." Ucap Duke Sullivan sambil menahan air mata.
"Tapi tidak dengan jiwanya. Aku bukanlah jiwa putrimu." Sahut Roseline.
"Aku tidak peduli siapapun dirimu. Berkat dirimulah aku masih bisa melihat putriku, menyentuhnya, memeluknya, melihat senyumannya, serta tertawanya. Aku sangat berterima kasih padamu, Alice." Ucap Duke Sullivan sambil menitikkan air matanya.
Tanpa sadar, air mata Roseline mulai mengalir kembali.
"Bersediakah kau menjadi putriku, Alice?" Tanya Duke Sullivan dengan bibir bergetar.
"Apa Tuan serius?" Tanya Roseline.
"Tentu saja." Jawab Duke Sullivan.
Roseline (Alice) terdiam sejenak, dan tak lama kemudian dia mengangguk dengan perlahan.
"Ya, aku mau Tuan. Aku sangat bersedia untuk menjadi putrimu." Jawab Roseline.
"Kalau begitu jangan panggil Tuan, panggilah Ayah. Sekarang aku adalah ayahmu." Ucap Duke Sullivan.
"Ayah. Tentu saja, Ayah."
Keduanya saling berpelukan dengan tangis bahagia.
"Terima kasih Tuhan, engkau telah mengembalikan ayahku." Batin Roseline.
"Mengapa kalian berpelukan tanpa mengajakku?" Suara bariton Duke Ramon mengejutkan mereka.
"Ramon?" seru Duke Sullivan.
"Mengapa ayah hanya memelukknya saja? Aku kan juga anak ayah." Protes Duke Ramon.
"Dan kau juga!" Bentaknya membuat Roseline gugup.
"Apa kau dengan mudahnya membuang kakak yang paling tampan di dunia ini?"
Roseline tersenyum dengan air mata yang semakin mengalir. Duke Ramon menghapusnya dengan lembut.
"Dasar anak bodoh. Ini tubuh adikku, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi adikku."
Duke Ramon menarik Roseline ke dalam pelukannya. "Aku bukan hanya kakak dari Roseline. Mulai sekarang aku juga kakakmu, Alice. Aku memang tidak apapun tentangmu, tapi hatiku mengatakan bahwa kau adalah saudariku. Apa yang aku rasakan padamu sama seperti apa yang aku rasakan pada Roseline."
Roseline mengeratkan pelukannya. "Kakak."
Duke Sullivan sangat bahagia. Tuan Ronaf menepuk bahunya, lalu memberinya pelukan dan ucapan selamat.
"Alice. Apa kau masih ingin pergi?" Tanya Tuan Ronaf.
Roseline (Alice) terdiam, lalu menatap ayah dan kakaknya secara bergantian dengan wajah bingung.
Roseline menghela napas panjang.
"Baginda Raja tidak akan tinggal diam, Ayah. Dia pasti sangat marah saat ini setelah mengetahui Ratu Roseline sudah tiada. Aku yakin dia akan membalas kematian Ratu Roseline, karena Raja Alec sangat mencintai Ratu Roseline." Jawab Roseline.
Wajah Duke Sullivan dan Ramon terlihat tegang.
"Kita tidak bisa tinggal diam, Ayah. Kali ini aku tidak akan membiarkan adikku menderita lagi." Ucap Duke Ramon.
"Baiklah, kita akan pergi jauh dari Kerajaan Cardania." Jawab Duke Sullivan.
"Tapi Ayah. Ayah adalah salah satu bangsawan di Kerajaan ini dengan kedudukan tinggi. Keluarga kerajaan tidak akan membiarkan Ayah dan kakak pergi dengan mudahnya." Sahut Roseline.
"Kau benar putriku. Tapi, Ayah tidak ingin melakukan kesalahan yang sama sehingga membuat kami juga akan kehilangan dirimu."
"Sebaiknya kita semua kembali ke dalam mansion, karena malam akan segera tiba. Dan besok pagi-pagi sekali, kita akan pergi meninggalkan Kerajaan ini." Ucap Tuan Ronaf.
Mereka semua mengangguk setuju.
"Tuan, Nona. Bolehkah kami ikut dengan kalian?" Tanya Marie yang tiba bersama Felix.
"Apa yang akan kami lakukan bisa membahayakan nyawa kalian." Jawab Duke Ramon.
"Kami tahu, Tuan. Tapi kami sudah bersumpah akan mengabdikan diri kami untuk keluarga kalian. Kami mohon ijinkan kami ikut dengan kalian." Mohon Felix.
"Marie, kau sudah tahu bukan jika aku bukanlah junjunganmu, Ratu Roseline." Ucap Roseline.
"Ya, hamba tahu Nona. Nona memang bukanlah junjungan hamba, Yang Mulia Ratu Roseline. Tapi selama hamba melayani dan mendampingi Nona, Nona tidak pernah menganggap hamba sebagai pelayan melainkan Nona memperlakukan hamba sebagai seorang teman dan saudari. Hamba ingin mengabdi untuk Nona." Jawab Marie.
Roseline tersenyum haru. "Baiklah, kau boleh ikut. Aku juga tidak ingin kehilangan teman dan saudari sepertimu."
"Terima kasih, Nona."
"Kau juga boleh ikut, Felix. Kau juga sudah bagian dari Keluarga Sullivan." Ucap Duke Ramon.
"Terima kasih, Tuan."
Mereka segera kembali ke dalam mansion.
"Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah sangat lapar karena terlalu lama menunggu kedatangan kalian." Teriak Arabella dari arah ruang makan.
"Ara. Kau masih di sini?" Tanya Duke Ramon.
"Tentu saja. Memangnya aku harus ke mana lagi. Kalau aku menemui orang tuaku, terlalu jauh. Karena mereka sedang berkunjung ke kampung halaman ayah." Jawab Arabella.
Roseline terlihat gugup. Dalam hati dia bertanya apakah Arabella akan menerima kehadirannya seperti yang lain. Arabella berjalan mendekatinya.
"Jadi, namamu Alice?" Tanya Arabella.
"Benar. Namaku Alice." Jawab Roseline (Alice)
"Tidak buruk. Baiklah Alice, dengarkan aku. Meskipun saat kau tinggal di dalam tubuh Kak Roseline, kau tetap tidak akan bisa menggantikan posisinya." Ucap Arabella sinis.
"Ara." Tegur Duke Ramon.
"Tapi, kita masih bisa berteman." Arabella menunjukkan senyum tulusnya. "Apa kau mau?"
"Aku akan menjadi manusia terbodoh di dunia ini jika aku tidak mau menerimanya. Terima kasih sudah mau menjadi temanku." Roseline dan Arabella saling berpelukan dengan tawa bahagia.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit mereka sudah berada di dalam kereta kuda dan bersiap untuk pergi meninggalkan kediaman Sullivan. Namun mereka kalah cepat, karena pasukan kerajaan sudah mengepung kediaman Duke Sullivan dan dipimpin oleh Marquess Andry. Roseline dan Duke Sullivan terkejut mendengar keributan yang terjadi di luar kereta.
"Ada apa, Marie?" Tanya Roseline.
"Pasukan kerajaan mengepung kita, Nona. Marquess Andry yang memimpin para pasukan ini." Lapor Marie.
"Tenanglah, Nak. Kami tidak akan membiarkan mereka menangkapmu." Ucap Duke Sullivan, lalu turun dari kereta dengan sebilah pedang yang telah berada di tangan kanannya.
Roseline terlihat sangat panik. Dia tidak ingin hal buruk menimpa ayah dan kakaknya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰