I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 72. Diabaikan



Ratu Roseline keluar dari kamarnya dengan langkah terburu dengan terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan kakaknya, Duke Ramon. Langkahnya pun tertuju ke ruang keluarga.


"Ayah, di mana Kak Ramon?" Tanyanya kepada Duke Sullivan.


"Kakakmu ada di halaman depan bersama Felix dan Dean. Ada apa Alice? Apa kau menginginkan sesuatu, Putriku?" Sahut Duke Sullivan.


"Mm... Aku ingin makan daging kelinci hutan, Ayah." Ucap Ratu Roseline.


"Kelinci hutan?" Seru Duke Ramon dari arah pintu.


Ratu Roseline menoleh ke arah pintu lalu mengangguk dengan wajah memelas. "Aku mohon, Kak."


Duke Sullivan dan Duke Ramon tak bisa menahan tawa mereka melihat wajah Ratu Roseline yang terlihat menggemaskan.


"Apa kau ingin makan daging kelinci hutan? Apa kau sedang ngidam?" Tanya Raja Alec yang tak sengaja mendengar percakapan mereka.


Ratu Roseline diam dan tak menjawab. Dia masih enggan bertemu apalagi berbicara dengan Raja Alec. Ratu Roseline selalu menghindarinya, meskipun Raja Alec sudah berusaha untuk selalu bersikap lembut padanya. Raja Alec sadar jika Ratu Roseline (Alice) masih belum bisa memaafkan dirinya. Raja Alec hanya bisa menatapnya dari jauh karena Ratu Roseline ingin ada jarak diantara mereka.


"Benar, Baginda. Alice sedang ingin makan daging kelinci hutan." Kata Duke Sullivan.


"Tunggulah sebentar. Aku akan mendapatkan kelinci hutan untukmu." Ucap Raja Alec sambil tersenyum.


"Tidak perlu. Aku ingin Kak Ramon yang mendapatkannya untukku." Tolak Ratu Roseline membuat senyum di wajah Raja Alec sirna.


"Kakak mau kan mencarikan kelinci hutan untukku?"


Duke Ramon mengangguk. "Baiklah. Kakak akan berburu bersama Felix dan Dean."


"Terima kasih, Kak." Ucap Ratu Roseline sambil tersenyum bahagia.


Raja Alec senang bisa melihat senyum Ratu Roseline lagi, meskipun senyum itu tidak ditujukan untuknya. Sepeninggal Duke Ramon, Ratu Roseline kembali ke kamarnya dan mengabaikan keberadaan Raja Alec di sana. Raja Alec menatap kepergian Ratu Roseline dengan raut sedih di wajahnya.


"Baginda." Panggil Duke Sullivan.


Raja Alec menatap ke arah Duke Sullivan dan memaksakan senyum di bibirnya. "Aku baik-baik saja, Duke. Memang bukan hal yang mudah untuk memaafkan orang sepertiku yang sudah terlalu banyak menyakiti perasaannya."


Duke Sullivan tersenyum simpul. "Hamba minta maaf, Baginda. Hamba tidak bisa berbuat apa-apa. Hamba menyerahkan semua keputusan di tangan Alice, karena hamba ingin melihatnya bahagia."


"Aku tahu, Duke." Raja Alec pun melangkah pergi.


Ratu Roseline sedang menikmati cookies coklat buatannya sendiri sambil meminum teh hangat bersama Arabella dan Marie di kamarnya.


"Apakah Nona masih marah kepada Baginda Raja?" Tanya Marie.


"Bisakah kau tidak membahas orang itu, Marie. Kau merusak selera makanku saja." Ucap Ratu Roseline kesal.


"Hamba minta maaf, Nona. Hamba hanya ingin mengingatkan jika memaafkan itu jauh lebih baik dari pada kita menyimpan dendam dan amarah. Dengan memaafkan akan membuat hati dan hidup kita menjadi lebih tenang dan damai." Ujar Marie.


Ratu Roseline mendengus kesal.


"Aku memang masih kesal dengan Raja Alec. Tapi apa yang diucapkan Marie ada benarnya juga, Alice. Bagaimana pun juga dia adalah ayah dari kedua bayi yang berada di dalam kandunganmu saat ini." Ucap Arabella.


"Tapi untuk melupakannya tidak semudah itu, Ara." Sahut Ratu Roseline.


"Aku tahu. Memaafkan Raja Alec, bukan berarti kau harus melupakan semua sikapnya yang telah menyakiti hatimu dan kembali kepadanya. Jangan sampai kebencian dan kemarahanmu itu akan menurun kepada anak-anakmu. Apa kau ingin mereka membenci ayah mereka sendiri?" Ujar Arabella.


Ratu Roseline terdiam tak menyahut.


"Apa yang dikatakan Nona Ara benar, Nona. Baginda Raja sangat mengkhawatirkan Nona. Setiap malam Baginda selalu berjaga di depan kamar untuk memastikan Nona baik-baik saja. Baginda Raja berada di depan kamar selama hampir sepanjang malam." Tambah Marie.


"Itu kan keinginannya sendiri. Lagipula yang dia khawatirkan bukan aku, tapi kedua bayi yang ada di dalam kandunganku." Ketus Ratu Roseline.


Arabella dan Marie langsung terdiam. Mereka tidak ingin membuat suasana hati Ratu Roseline semakin memburuk.


"Yang Mulia. Putri Viviane berada di luar dan ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu." Lapor salah satu pelayan.


"Mau apa wanita itu datang kemari?" Tanya Arabella tidak suka.


"Suruh dia masuk." Ucap Ratu Roseline.


Pelayan itu segera mempersilakan Putri Viviane untuk masuk.


"Hormat hamba, Yang Mulia Ratu." Ucap Putri Viviane sambil memberi hormat.


"Salam Nona Arabella."


Arabella hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya.


"Silakan duduk, Putri Viviane."


"Marie, buatkan teh hangat untuk Putri Viviane.


"Baik, Yang Mulia." Jawab Marie.


"Bagaimana kondisi tanganmu, Putri?" Tanya Ratu Roseline.


"Tanganku sudah lebih baik Ratu. Lukanya susah mulai menutup. Terima kasih untuk perhatiannya, Yang Mulia Ratu." Jawab Putri Viviane.


Ratu Roseline menyunggingkan bibirnya. "Ada keperluan apa kau datang menemuiku, Putri?"


Putri Viviane menarik napas panjang sebelum berbicara.


"Aku ingin meminta maaf kepadamu Ratu, karena aku telah membuat kesalahpahaman diantara Ratu dengan Raja Alec. Semua yang kami lakukan hanyalah sandiwara belaka. Dan diantara kami tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan kerja sama. Aku akui Raja Alec adalah teman yang baik dan enak untuk diajak berbicata meskipun sikapnya dingin seperti es. Tapi aku bersumpah aku tidak memiliki perasaan apapun padanya." Terang Putri Viviane.


"Jadi, aku mohon maafkanlah aku dan juga maafkan Raja Alec. Aku benar-benar merasa bersalah karena telah membuat hubungan kalian merenggang." Tambahnya.


"Apa Raja Alec yang memintamu datang ke sini?" Cerca Ratu Roseline.


"Tidak. Raja Alec tidak tahu jika aku berada di sini. Aku datang ke sini atas keinginanku sendiri." Jawab Putri Viviane.


Ratu Roseline tersenyum. "Aku sudah mengetahui semuanya Putri. Dan aku tidak marah ataupun benci padamu. Aku tahu kau melakukan sandiwara itu agar kau bisa membalaskan dendam atas kematian ibumu."


"Lalu, mengapa Ratu masih marah kepada Raja Alec?" Tanya Putri Viviane.


"Masalah yang terjadi diantara aku dengan Raja Alec tidak ada hubungannya denganmu. Jadi, kau jangan merasa bersalah lagi, Putri Viviane." Jawab Ratu Roseline.


"Maaf jika aku lancang, Ratu. Ratu saat ini sedang mengandung, bukan? Alangkah baiknya jika kalian berdua berbaikan demi calon bayi kalian. Raja Alec sangat mencintaimu Ratu." Ucap Putri Viviane.


Ratu Roseline terdiam dengan rahangnya sedikit mengeras.


"Sebaiknya kau tidak perlu mencampuri urusan mereka, Putri Viviane. Jika kau tidak memiliki urusan lagi di sini, sebaiknya kau segera pergi. Aku tahu saat ini kau sedang berusaha mendekati Kak Ramon. Apa karena Raja Alec menolakmu, lantas kau langsung berpindah haluan kepada Kak Ramon?" Sinis Arabella.


Alih-alih marah atau tersinggung, Putri Viviane malah tertawa.


"Kau memang wanita yang luar biasa, Nona Arabella. Pantas saja Marquess Filan sampai tergila-gila padamu." Ucap Putri Viviane.


Arabella membelalakkan matanya. "Jangan bicara sembarangan untuk mengalihkan pembicaraan kita sebelumnya."


"Aku tidak membual Nona Arabella. Apa kau tahu jika Marquess Filan sangat marah saat mengetahui sandiwara di antara aku dengan Raja Alec. Dan dia melampiaskan kemarahannya kepada Raja Alec." Ucap Putri.


"Marquess Filan berani memarahi Raja Alec?" Arabella tak percaya.


Putri Viviane mengangguk. "Marquess Filan tiada henti mengomel di depan Raja Alec. Bahkan Marquess Filan sampai memberikan satu pukulan keras ke wajah Raja Alec, karena telah membuatmu marah dan pergi. Bahkan Marquess Filan minta dipindah tugaskan ke perbatasan jika kau tidak bersedia memaafkannya. Marquess Filan sangat mencintaimu, Nona Arabella."


Arabella langsung terdiam. Dia teringat selama beberapa hari ini Marquess Filan terus mendatanginya untuk meminta maaf dan berusaha menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Namun, dirinya tetap besikap dingin dan enggan bicara Marquess Filan karena rasa kesal yang masih dirasakannya. Meskipun dalam lubuk hatinya yang terdalam, Arabella sangat merindukan pria yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta.


"Untuk masalah Duke Ramon. Aku akui, aku memang tertarik padanya. Dan itu bukan karena Raja Alec menolakku. Sudah sejak lama aku memiliki perasaan kepada Duke Ramon." Terang Putri Viviane.


Ratu Roseline memicingkan matanya. "Apa kau pernah bertemu dengan kakakku sebelumnya?"


Putri Viviane hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu dia undur diri dan pergi meninggalkan kamar Ratu Roseline.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰