I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 109. Darah Keluarga Quinn



Dokter Ethan datang ke markas Fire Eagle untuk mengambil sampel darah Alice dan "R", kemudian membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan tes DNA.


"Mengapa kau diam seperti itu? Apa kau masih padaku, Alice sayang?" Tanya Xander.


Saat ini tinggal Xander dan Alice yang berada di ruang pribadi Xander.


Alice sibuk dengan ponselnya dan mengacuhkan Xander. Xander mendesah kasar. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Alice dan mendudukkannya di atas pengkuannya. Alice memalingkan wajahnya karena hatinya yang masih kesal. Xander melepas topengnya dan menarik wajah Alice agar menghadap padanya.


"Keluarkan apa pun yang ada di hatimu dan jangan memendamnya." Ucap Xander lembut.


"Aku tidak suka ada banyak j@l @ng yang berkeliaran di sekitarmu." Jawab Alice dingin.


Xander tersenyum senang. "Kau sangat menggemaskan jika sedang marah karena cemburu, Ratuku."


Alice memutar bola matanya malas.


"Bukankah sudah aku jelaskan untuk apa mereka berada di sini? Selama ini aku tidak pernah bertemu dengan mereka secara langsung. Aku menugaskan Allen, Penelope dan Scott untuk mengurus mereka." Xander menjelaskan.


"Tetap saja aku tidak suka."


"Baiklah, untuk selanjutnya aku tidak akan mendatangkan mereka ke markas ini. Aku akan mencari tempat lain untuk melancarkan rencanaku menjebak para hama itu." Ucap Xander yang mendapat senyuman tipis dari Alice.


"Aku minta maaf, sayang. Kau sudah tidak marah kan sekarang."


"Sedikit."


Xander menghela napas panjang, lalu dengan cepat menci um bibir Alice dengan lembut. Alice sempat terkejut, namun perlahan dia menikmatinya. Xander menarik tengkuk leher Alice dan semakin memperdalam ciu mannya. Alice mengalungkan kedua tangannya di leher Xander. Percum buan pun semakin memanas.


"Tuan. Para klien Anda sudah selesai bersenang-senang dan menandatangi kontrak kerja samanya." Allen yang menyelonong masuk seketika ternganga melihat adegan panas yang ada di depan matanya.


Xander dan Alice membuka mata mereka tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, dan malah memperdalam ciu man panas keduanya. Allen mengerjapkan matanya.


"S-sepertinya tidak ada orang di sini. Sebaiknya aku kembali lagi nanti."


Allen segera mengambil langkah seribu keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya kembali dengan rapat. Alice melepaskan tautan bibirnya membuat Xander mendesah kesal.


"Akan kuberikan hukuman yang berat pada Allen. Beraninya dia mengganggu kesenangan kita." Gerutunya.


"Jangan menyalahkan Allen. Kau yang salah karena tidak mengunci pintunya." Sahut Alice sambil mengusap bibirnya yang masih basah.


"Aku minta maaf, sayang." Cicit Xander dengan raut wajah yang berubah lembut.


"Huh... Bagaimana kalau kita menikah besok, Alice? Aku tidak sanggup jika terlalu lama berjauhan darimu." Rengek Xander kemudian.


"Kendalikan hasratmu itu!" Bentak Alice.


"Aku tidak memungkirinya sayang. Tapi ada yang lebih penting dari sekedar hasrat, yaitu cintaku padamu yang sangat besar membuatku selalu ingin berdekatan denganmu." Ucap Xander.


"Tunggu saja sampai hasil tes DNA nya keluar." Kata Alice.


"Mengapa?"


"Karena aku ingin berjalan menuju altar diantarkan oleh kakek dan kakakku. Mereka adalah pengganti Daddyku." Jawab Alice dengan tatapan nanar.


Xander menarik Alice ke dalam pelukannya. "Keinginanmu akan terkabul. Aku pastikan itu."


Alice mengangguk pelan.


"Itu artinya Ethan harus segera mendapatkan hasil tes DNA itu. Kalau perlu dalam waktu kurang dari 24 jam hasil tesnya harus keluar agar aku bisa segera memilikimu seutuhnya." Ujar Xander dengan tatapan berapi-api.


"Mana ada hasil tes DNA keluar secepat itu? Dasar bos mafia mesum." Ucap Alice sambil menyebikkan bibirnya.


Xander tertawa senang.


"Alex."


Xander menghentikan tawanya. "Ya, Ratuku "


"Aku ingin membalas dendam kepada keluarga O'bero." Ucap Alice dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, sayang. Musuh kita sama. O'bero dan Donovan bekerja sama. Keduanya saling membantu dalam melancarkan aksi jahat mereka. Aku yakin kecelakaan yang menimpa orang tua kita merupakan hasil kerja sama mereka." Terang Xander.


"Lalu, apa rencanamu?" Tanya Alice.


"Untuk sementara waktu, kita tetap diam seolah tidak mengetahui apa-apa. Kita harus memainkan sandiwara yang luar biasa dan menyeret mereka masuk ke dalam jebakan menyakitkan yang kita siapkan." Jawab Xander sambil menyeringai.


"Jadi kau ingin aku berpura-pura di depan Jason?"


Xander mengangguk.


"Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Tanganku rasanya sudah tidak sabar untuk mencongkel mata baji ng@n itu lalu menguliti tubuhnya." Tatapan membunuh langsung keluar dari mata indah Alice.


"Aku tahu sayang. Tapi kita tidak boleh gegabah. Aku berjanji padamu. Aku tidak akan membiarkan rencana busuk baji ng@n itu berjalan dengan baik. Aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu, termasuk Sean Parker." Janji Xander.


"Cih... Raja Sevilen dulu gagal untuk mendapatkanmu, di dunia ini pun dia juga tidak bisa." Tambah Xander dengan senyum sombongnya.


"Ternyata kau juga menyadarinya." Ujar Alice.


"Tentu saja. Sejak ingatan Raja Alec masuk ke dalam kepalaku, aku mengetahui semua yang terjadi di Kerajaan Cardania." Sahut Xander.


"Benarkah?"


Xander mengangguk.


"Jadi kau juga tahu bagaimana nasib ketiga anak kita? Si kembar Cello dan Celine, juga bayiku Leon?" Tanya Alice penasaran.


Xander menghela napas pelan.


"Aku minta maaf Alice. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana nasib para pengeran dan putri. Ingatan Raja Alec terhenti sampai kepergianmu meninggalkan dunia mereka."


Alice terlihat kecewa dan sedih. Xander menakup wajahnya.


"Jangan bersedih seperti itu, Ratuku. Aku yakin mereka baik-baik saja. Setelah kita menikah nanti kita akan menghadirkan mereka ke dunia ini."


Ucapan Xander berhasil menerbitkan senyuman malu di wajah Alice.


"Aku penasaran. Bagaimana kau bisa tahu jika "R" adalah kakakmu, padahal kau belum pernah melihat wajahnya?" Tanya Xander.


"Aku bisa mengenali kakakku sejak pertama kali bertemu dengannya di mansion milikmu tadi pagi. Suara "R" terasa tak asing bagiku. Dan saat aku menatapnya, aku melihat tatapan mata Kak Ramon. Aku berniat untuk menyelidiki dan mencari tahu siapa "R" sebenarnya. Tapi Tuhan sangat baik dengan memberikan petunjuk-Nya lebih cepat." Jawab Alice dengan senyum bahagia.


Di sebuah taman yang terletak di belakang markas Fire Eagle, Tuan Abraham sedang berjalan-jalan dengan "R".


"Kakek bahagia sekali. Akhirnya kakek berhasil menemukanmu, cucuku." Ucap Tuan Abraham sambil tersenyum.


"R" masih terlihat canggung dengan panggilan itu, apalagi hasil tes DNA masih belum keluar.


"Tapi hasil tes DNA nya belum keluar, Tuan. Belum tentu aku adalah...."


"Aku tidak peduli dengan hasil tes DNA itu. Aku sangat yakin jika kau adalah Romeo, cucuku. Aku mengenali darah keturunanku dengan baik. Kau adalah seorang Quinn." Sahut Tuan Abraham.


"R" tersenyum kikuk. Tak lama kemudian mereka kembali ke dalam markas. Tuan Abraham mengajak Alice pulang ke mansion.


"Baiklah. Hati-hati sayang."


Xander mencium pipi Alice dengan mesra.


"Hei, jaga sikapmu! Kau belum resmi menjadi cucu menantuku." Bentak Tuan Abraham tak terima.


Xander mengulum senyumnya dengan wajah tanpa berdosa.


"Aku pulang dulu, Kak. Sampai jumpa lagi. Aku besok akan mengunjungimu lagi." Ucap Alice pada "R".


"Nona, hasil tes DNA nya belum keluar. Belum tentu aku ini kakakmu." Ujar "R".


"Persetan dengan hasil tes DNA itu. Kau adalah kakakku, Kak Romeo." Jawab Alice dengan penuh percaya diri, lalu masuk ke dalam mobil.


Mobil keluarga Quinn meninggalkan markas Fire Eagle. "R" menghela napas panjang.


"Apakah keluarga Quinn memang seperti itu?" Gumam "R".


"Apa maksudmu?" Tanya Xander.


"Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, Tuan. Mereka yakin sekali jika aku adalah anggota keluarga mereka yang hilang." Jawab "R".


Xander terkekeh. "Bukan hanya kepercayaan diri yang tinggi, tapi insting mereka juga luar biasa. Aku juga yakin jika kau adalah Romeo Quinn. Kau dan Alice memiliki kemiripan."


"R" mendesah.


"Apa kau tidak percaya?" Tanya Xander.


"R" mengangkat kedua bahunya.


"Aku hanya tidak berani berharap terlalu tinggi." Ucapnya sambil memaksakan senyumnya.


Keesokan harinya, Alice kembali menjalani aktivitasnya di Quinn Cooperation. Dan sesuai dugaan, Jason mendatanginya.


"Alice. Aku senang bisa melihatmu hari ini. A-apa kau baik-baik saja?"


"Memangnya aku kenapa, Jason?" Tanya Alice sinis.


"Ah tidak. M-maksudku kau kemarin tidak datang ke perusahaan. Aku berpikir apakaj kau sakit?" Jawab Jason sedikit gugup.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama kakekku. Itu saja."


"Syukurlah." Ucap Jason.


"Oh ya Alice. Pada pesta malam itu, kau pergi ke mana?"


Alice menyunggingkan bibirnya.


"Oh itu. Aku pulang lebih cepat karena aku merasa lelah. Apa terjadi sesuatu di pesta itu yang tidak aku ketahui?" Pancingnya.


"Ah.. Tidak ada. Aku berniat untuk mengajakmu berdansa, tapi aku tidak menemukanmu. Syukurlah jika pulang ke mansion, aku sangat mencemaskanmu." Jawab Jason.


"Aku tahu jika kau ingin memastikan apakah obat terkutukmu masuk ke dalam tubuhku atau tidak. Dasar baji ng@n menjijikkan!" Batin Alice sambil mengepalkan tangannya di bawah meja.


Bella masuk ke dalam ruangan.


"Nona, Tuan Parker sudah tiba di ruang meeting."


"Terima kasih, Bella."


"Maaf Jason, aku ada pertemuan penting dengan klienku. Sebaiknya kau pergi sekarang." Usir Akice dengan sopan.


"Baiklah. Sampai jumpa lagi, Alice." Jason pergi dengan perasaan kesal karena kedatangan Sean Parker di sana.


"Aku harus segera menyingkirkan Sean Parker secepatnya dari sisi Alice. Sebelumnya pria itu berhasil lolos dari malaikat maut, tapi keberuntungan tidak akan datang berulang kali." Gumam Jason sambil mengeraskan rahangnya.


"Selamat siang, Tuan Parker. Terima sudah hadir tepat waktu." Sapa Alice.


"Aku adalah orang yang suka akan kedisiplinan dan ketepatan waktu, Nona Quinn. Seperti sebuah pepatah "Waktu adalah Uang." Jawab Sean.


Selama satu jam lamanya, Alice dan Sean membahas tentang perkembangan pengerjaan tender Suarez Group yang hampir selesai.


"Maukah kau makan siang bersamaku, Alice?" Ajak Sean.


"Terima kasih atas ajakannya, Sean. Tapi maaf aku tidak bisa." Jawab Alice.


Sean mengangguk sambil memaksakan senyumnya.


"Ada yang ingin aku katakan padamu, Sean. Tolong buang jauh-jauh perasaan yang kau miliki untukku." Ucap Alice.


Sean membelalakkan matanya.


"Maaf aku tidak akan bisa membalas perasaanmu, Sean."


"Apakah kau melakukannya karena Katherine?" Tanya Sean.


"Bukan. Karena hatiku sudah dimiliki oleh seseorang yang aku cintai. Jadi berhentilah mengharapkan cintaku. Aku tidak kau semakin terluka nantinya. Belajarlah untuk mencintai tunanganmu. Aku ingin kita tetap berteman tanpa ada perasaan lain diantara kita." Tegas Alice.


Sean meninggalkan Quinn Cooperation dengan perasaan hancur berkeping-keping.


"Apa kurangnya diriku, Bill?" Tanya Sean dengan wajah sendunya.


"Tidak ada, Bos. Anda adalah pria yang sempurna. Mungkin kalian memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh." Jawab Billy sambil mengemudian mobil mereka.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


3. Terpaksa Menikah : Suami Buleku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰