I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 30. Aku Akan Menjadi Tamengmu



Raja Alec dan Ratu Roseline tiba di istana Ibu Suri. Para pelayan sangat kaget dengan kedatangan kedua junjungan mereka yang berlari dengan wajah yang tegang. Raja Alec langsung menerobos masuk ke kamar Ibu Suri Helene.


"Ibu!" Teriak Raja Alec.


"Putraku, Seline." Sahut Ibu Suri bingung.


Ibu Suri Helene tersentak. Raja Alec segera mengambil gelas yang masih ada di meja ibunya dan membuang airnya ke dalam mangkuk.


"Pelayan ambilkan buah lemon!" Teriak Raja Alec.


"Ada apa ini, Putraku? Mengapa kau membuang obat ibu?" Tanya Ibu Suri Helene.


"Maafkan aku ibu. Aku ingin memastikan jika obat ini tidak ada racunnya." Jawab Raja Alec.


"Apa kau bilang? Racun?" Ibu Suri Helene terlihat panik.


"Benar ibu. Nanti akan kami jelaskan. Ibu tenanglah dulu." Ucap Ratu Roseline lembut.


Tak lama kemudian, Marquess Filan mengambil buah lemon dari pelayan dan segera meneteskan airnya ke dalam obat Ibu Suri. Terlihat ketegangan di wajah mereka. Dan setelah beberapa lama, wajah tegang mereka pun segera melunak.


"Syukurlah obat ini tidak beracun." Ucap Raja Alec lega.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Jelaskan pada ibu!" Tanya Ibu Suri Helene.


"Kami mendapat kabar jika ada orang yang ingin menyakiti Ratu Roseline menggunakan orang-orang terdekat dan yang disayanginya. Dan Ibu adalah orang pertama yang terlintas dalam pikiran kami. Semua orang tahu jika hubungan Ibu dengan Ratu sangatlah dekat, bahkan sudah seperti ibu dan anak. Kami takut jika Ibulah yang akan menjadi sasaran penjahat itu." Terang Raja Alec.


Ibu Suri Helene sangat terkejut, lalu menatap wajah Ratu Roseline dan memeluknya.


"Tenanglah, Nak. Ibu yakin rencana penjahat itu tidak akan berhasil." Ucap Ibu Suri Helene.


"Terima kasih, Ibu." Balas Ratu Roseline.


Marquess Filan segera membuang obat itu dan meminta tabib untuk membuatkan yang baru di hadapan mereka.


"Silakan diminum Ibu."


Ibu Suri Helene segera meminum obat itu sampai habis tak bersisa.


"Sekarang Ibu istirahat. Seline dan Baginda Raja mohon ijin undur diri dulu." Ucap Ratu Roseline.


"Baiklah." Jawab Ibu Suri Helene sambil tersenyum.


Meskipun cukup mengejutkan, namun Ibu Suri Helene merasa sangat bahagia karena putra dan menantunya bisa sedekat sekarang. Ibu Suri Helene berharap tidak akan ada lagi masalah ataupun pengganggu yang akan mengusik kebahagiaan mereka.


Raja Alec dan Ratu Roseline berjalan keluar dari istana Ibu Suri dan kembali ke istana ratu. Marquess Filan dan Felix mengikuti di belakang keduanya.


"Kira-kira siapa orang yang ingin mereka celakai?" Tanya Marquess Filan memecah keheningan.


"Entahlah. Kita harus berpikir keras untuk bisa menebaknya dan menggagalkan rencana jahat mereka." Jawab Raja Alec.


"Kakak. Apa Ibu Suri baik-baik saja?" Tanya Arabella.


Saat melihat Raja Alec dan Ratu Rosèline memasuki istana ratu, Arabella langsung berlari ke arah mereka. Marquess Filan cukup terpana melihat penampilan Arabella yang sudah bersih. Dengan mengenakan baju yang biasa digunakan untuk keluar istana dengan rambutnya dikucir seperti ekor kuda, Arabella terlihat sangat cantik dan menawan.


"Ibu Suri baik-baik saja, Ara. Sebaiknya kau makan lalu beristirahat karena tubuhmu pasti lelah." Ucap Ratu Roseline.


"Aku baik-baik saja, Kak. Setelah membersihkan diri tadi tubuhku terasa lebih segar. Aku tidak bisa tenang sebelum kita menemukan orang yang akan menjadi target mereka." Ujar Arabella.


Ratu Roseline meletakkan tangannya di bahu Arabella sambil tersenyum. "Terima kasih, Ara."


Arabella juga ikut tersenyum. Namun senyumnya segera menguap saat kedua bola matanya bertatapan dengan mata Marquess Filan.


"Apa kau lihat-lihat? Jangan bilang kalau kau naksir padaku!" Bentak Arabella.


Marquess Filan tersentak.


"Apa kau bilang? Aku tidak sudi tertarik apa wanita galak dan bar-bar sepertimu yang tidak ada anggun-anggunnya. Kau jauh dari tipe wanita yang aku inginkan." Ucap Marquess Filan dengan tatapan meremehkan.


"Syukurlah jika aku tidak termasuk tipemu. Hidupku akan selalu damai karena bisa jauh dari pria kasar sepertimu. Hanya ada segelintir pria baik di dunia ini yang seperti ayahku, Felix, Dean, Kak Ramon dan Paman Sullivan."


Tiba-tiba Arabella terdiam dan membelalakkan matanya. Ratu Roseline seakan bisa membaca pikiran Arabella.


"Ayah." Seru Ratu Roseline.


"Apa ada Ratu?" Tanya Raja Alec.


"Felix, siapkan kudaku. Kita pergi ke kediaman Duke Sullivan sekarang juga!" Perintah Ratu Roseline.


Felix segera berlari untuk menyiapkan kuda. Raja Alec dan Marquess Filan langsung mengerti.


"Aku ikut, Kak." Ucap Arabella sambil berlari mengikuti Ratu Roseline.


"Filan, beritahu Marquess Andry untuk menjaga istana dan juga keselamatan Ibu Suri. Aku akan menemani Ratu pergi ke kediaman Duke Sullivan."


Raja Alec segera mengejar Ratu Roseline dan naik ke atas kuda Ratu Roseline.


"Apa yang Baginda lakukan?" Tanya Ratu Roseline.


"Kita pergi bersama. Akan kutunjukkan jalan pintas rahasia yang lebih cepat menuju kediaman Duke Sullivan." Jawab Raja Alec.


Ratu Roseline pun menurut karena yang paling penting mereka bisa tiba di kediaman Duke Sullivan dengan cepat. Raja Alec yang memimpin perjalanan mereka menuju pintu belakang istana yang dulu pernah digunakan Ratu Roseline saat pergi ke gunung Goby. Marquess Filan juga sudah duduk di atas kudanya dan mengikuti rombongan Raja Alec dari belakang.


"Ya Tuhan, aku mohon jagalah ayahku dari kejahatan mereka. Di dunia asliku, aku telah kehilangan ayah, ibu dan kakakku. Dan aku tidak ingin kehilangan ayah dan kakakku di dunia ini. Cukup ibuku saja yang kau ambil." Mohon Ratu Roseline dalam hati yang diiringi derasnya air matanya yang telah tumpah.


Hati Raja Alec terasa perih saat melihat air mata Ratu Roseline yang terus jatuh.


"Tenanglah Ratu, kita akan segera sampai di kediaman Duke Sullivan." Bisik Raja Alec sambil memacu kudanya agar berlari lebih kencang lagi.


Setelah menempuh waktu beberapa lama, mereka tiba di kediaman Duke Sullivan. Para penjaga sangat terkejut melihat kedatangan mereka.


"Hormat hamba, Baginda Raja dan Ratu." Teriak mereka.


Keduanya tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam mansion Duke Sullivan.


"Perketat penjagaan di sini. Jangan biarkan siapapun keluar masuk mansion ini, kecuali Duke Ramon!" Perintah Marquess Filan.


"Ayah! Ayah!" Panggil Ratu Roseline cemas.


Ratu Roseline telah mencari di setiap sudut mansion, sampai akhirnya dia masuk ke dalam ruang kerja Duke Sullivan yang berada di lantai dua. Ratu Roseline melihat Duke Sullivan hendak meminum tehnya.


"Ayah!"


Duke Sullivan tersentak dan hampir menjatuhkan cangkir yang dia pegang.


"Jangan diminum, Ayah."


"Seline. Kau datang kemari? Dan bersama Baginda Raja." Tanya Duke Sullivan bingung.


Ratu Roseline tak menjawab. Dia langsung merebut cangkir berisi teh itu, membuat Duke Sullivan semakin tak mengerti.


"Felix!"


"Ada apa ini Seline?"


"Hormat hamba, Baginda. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Duke Sullivan kepada Raja Alec.


Duke Sullivan mengangguk patuh.


Felix masuk bersama Marquess Filan dengan membawa buah lemon yang sudah terbelah menjadi dua. Felix menyiram air teh itu dengan air lemon. Tak butuh waktu lama, warna teh di cangkir itu berubah menjadi hitam pekat. Duke Sullivan membelakkan matanya. Sedangkan Raja Alec mengepalkan tangannya dengan kuat dengan rahang wajahnya mengeras.


"Mengapa warna tehnya berubah?" Tanya Duke Sullivan penasaran.


Ratu Roseline langsung memeluk ayahnya erat.


"Terima kasih Tuhan karena Engkau telah mengabulkan doaku untuk melindungi ayahku." Lirih Ratu Roseline.


Felix dan Marquess Filan ikut bernapas lega karena mereka tiba tepat waktu sehingga hal buruk tidak sampai menimpa Duke Sullivan.


"Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Pinta Duke Sullivan.


"Ada orang yang ingin menjahati dan menyakiti Ratu melalui orang-orang yang disayangi oleh Ratu. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah Anda, Duke Sullivan. Ada yang telah menaruh racun berbahaya di dalam teh Anda yang tidak berwarna dan juga tidak berbau. Akan tetapi jika kita memberinya air lemon, racun itu akan menampakkan warnanya." Terang Raja Alec.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Duke Ramon dengan wajah khawatir.


"Kakak."


Ratu Roseline langsung berhambur ke dalam pelukan Duke Ramon.


"Apa kau baik-baik saja, Seline?"


Duke Ramon menakupkan kedua tangannya ke wajah Ratu Roseline.


"Aku baik, Kak. Dan aku bersyukur ayah dan kakak juga baik-baik saja." Jawab Ratu Roseline.


Duke Ramon tersenyum sambil mengangguk. Kemudian Duke Ramon memberikan hormat kepada Raja Alec.


"Terima kasih Baginda, telah datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan ayah hamba." Ucap Duke Ramon.


"Tidak perlu berterima kasih, Duke. Kalian adalah keluarga Ratu yang artinya juga keluargaku. Duke Sullivan adalah ayah mertuaku, berarti dia juga ayah bagiku." Jawab Raja Alec.


Hati Ratu Roseline menghangat mendengar ucapan Raja Alec dan dia melihat ketulusan di mata Raja.


Brakk...


Arabella masuk ke dalam ruangan dengan satu tangan menjambak rambut seorang pelayan. Sedangkan Dean berjalan di belakang mereka. Arabella mendorong pelayan itu sampai jatuh tersungkur di hadapan Raja Alec dan Ratu Roseline. Semua orang dibuat terkejut.


Sebelumnya, di saat semua orang berada di ruangan Duke Sullivan, Arabella langsung berkeliling untuk mencari orang yang telah memberikan racun itu. Dia yakin orang itu tidak akan pergi dengan cepat, karena dia pasti memastikan bahwa usahanya telah berhasil. Dan usaha Arabella membuahkan hasil. Arabella berhasil menangkap pelayan itu.


"Ini Kak, tikus yang telah memberikan racun ke dalam teh paman Sullivan." Ucap Arabella.


Pelayan itu menunduk dengan wajah ketakutan, tubuhnya juga gemetaran.


"Kurang aj@r! Beraninya kau berusaha meracuni ayahku. Aku akan membunuhmu!" Teriak Duke Ramon.


Pelayan itu meraba saku bajunya dan mengambil sebuah botol kecil, dan akan meminum cairan di dalamnya. Dengan cepat Ratu Roseline menedangnya sehingga botol itu terlepas dari tangan pelayan. Bahkan tendangan Ratu Roseline sampai mengenai wajah pelayan itu.


Ratu Roseline menakup wajah pelayan itu dan menekannya dengan keras, membuat pelayan itu meringis kesakitan. "Kau tak kan bisa mati semudah itu. Sekarang katakan siapa yang telah menyuruhmu?"


"Lebih baik biarkan aku mati, Ratu." Jawab pelayan itu.


"Lancang sekali kau!" Bentak Arabella sambil menarik rambut pelayan itu sehingga wajahnya terangkat ke atas.


"A-aku hanya orang suruhan. Aku mohon biarkan aku mati." Ucap pelayan itu sambil meringis kesakitan.


"Dean. Bawa pelayan ini ke markas kita. Siksa dan buat dia mengaku!" Perintah Duke Ramon.


Dean segera membawa pelayan itu keluar dari ruangan Duke Sullivan.


"Hari sudah gelap, sebaiknya kau menginap di sini, Seline bersama Baginda Raja. Marquess Filan juga." Ucap Duke Sullivan.


"Tidak perlu Ayah. Kami harus segera kembali ke istana." Jawab Ratu Roseline.


"Tidak Ratu. Kita menginap di sini malam ini." Sahut Raja Alec.


"Bagaimana dengan istana, Baginda?" Tanya Ratu Roseline.


"Kau tidak perlu cemas. Marquess Andry dan Jenderal Azel, beserta anak buah mereka sedang berjaga di istana saat ini. Aku juga sudah menempatkan prajurit bayangan untuk mengawasi istana Ibu Suri. Sebaiknya kita bermalam dan istirahat di sini karena tubuh Ratu masih sakit." Jawab Raja Alec.


Ratu Roseline mengangguk setuju. Sejujurnya tubuhnya masih lemah sekarang. Duke Sullivan dan Duke Ramon senang karena Ratu Roseline mau bermalam di mansion mereka.


Raja Alec masuk ke dalam kamar Ratu Roseline setelah selesai membersihkan diri. Raja Alec berjalan menuju balkon kamar dan melihat Ratu Roseline yang berdiri membelakanginya. Raja Alec memperhatikan bahu Ratu Roseline yang bergerak tanda bahwa Ratu sedang menangis. Raja Alec menyentuh bahunya.


"Tenanglah Ratu. Jangan cemas lagi. Ayah dan kakakmu akan baik-baik saja. Aku akan memerintahkan prajurit istana untuk memperketat penjagaan di sini." Ucap Raja Alec dengan lembut.


Ratu Roseline membalikkan badannya dan berhadapan dengan Raja Alec. Dengan lembut Raja Alec menghapus air matanya.


"Jangan menangis lagi. Aku berjanji, aku akan menjadi tamengmu yang selalu melindungimu dan keluargamu."


Ratu Roseline menatap mata Raja Alec lekat. Ratu Roseline memeluk tubuh gagah Raja Alec dan membenamkan wajahnya di dada bidang itu.


"Terima kasih Baginda." Lirihnya.


Raja Alec tersenyum bahagia, kemudian mengurai pelukan mereka.


"Tidak perlu berterima kasih Ratu, itu sudah menjadi tugas dan kewajibanku sebagai suamimu."


Kedua wajah mereka sangat berdekatan, sehingga Ratu Roseline bisa merasakan hembusan hangat napas Raja Alec. Entah siapa yang memulai duluan, namun kedua bibir mereka sudah saling bertautan dan saling menyesap rasa serta kelembutan di dalamnya. Tangan Raja Alec menarik pinggang Ratu Roseline dan tengkuk leher Ratu. Raja Alec semakin memperdalam ci***n mereka membuat tubuh keduanya semakin terbakar.


Ratu Roseline membelalakkan matanya dan mendorong tubuh Raja Alec. Wajah keduanya langsung memerah karena malu bercampur gairah yang telah terkobar.


"Sebaiknya Baginda istirahat. Hamba juga akan beristirahat karena perut hamba masih sakit."


Ratu Roseline segera masuk ke dalam kamar dengan wajah memerah. Sedangkan Raja Alec menepuk dahinya. Dia baru ingat jika Ratu Roseline sedang kedatangan tamu bulanan.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰