I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 96. First Date



Di mansion keluarga Parker, Sean masuk dengan wajah merah padam.


"Sean. Kau sudah kembali sayang."


Seorang wanita cantik paruh baya tersenyum senang melihat putra kesayangannya pulang. Dia adalah Nyonya Imelda Parker, ibu dari Sean.


"Di mana Daddy, Mom?" Tanya Sean setelah mencium pipi ibunya.


""Daddymu ada di ruang kerjanya." Jawab Nyonya Imelda.


Sean segera mengambil langkah lebarnya menuju ruang kerja ayahya, lalu membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar.


"Apa kau tidak punya sopan santun sedikit pun?" Bentak ayah Sean, Tuan Samuel Parker.


"Mengapa Daddy memblokir rekeningku?" Tanya Sean dengan marahnya.


Tuan Samuel menyunggingkan bibirnya. "Kau tanya mengapa? Tentu saja agar kau tidak melakukan kebodohan yang fatal."


"Daddy tidak berhak melarang apapun yang ingin aku lakukan!" Bentak Sean.


Braakkk... (Tuan Samuel menggebrak meja)


Nyonya Imelda yang mendengar pertengkaran diantara keduanya segera masuk ke dalam ruangan.


"Pelankan suaramu Sean saat bicara dengan Daddymu." Tegur Nyonya Imelda.


"Kalian bisa membicarakannya dengan baik-baik. Tenang dirimu suamiku." Tambahnya sambil menatap ke arah suaminya.


"Bagaimana aku bisa tenang? Putra kesayanganmu ini akan menghabiskan uang sebesar £400.000.000 hanya untuk sebuah kalung yang tak berharga di tempat pelelangan." Ucap Tuan Samuel.


Nyonya Imelda membulatkan matanya.


"Dan lebih parahnya lagi, Sean ingin mendapatkan kalung dengan harga yang fantastis itu demi seorang wanita." Tambah Tuan Samuel.


"Apa yang salah dari semua itu? Wajar kan jika seorang pria berusaha memberikan sesuatu yang berharga untuk wanita yang dicintainya. Daddy sendiri juga selalu membelikan barang-barang mewah untuk Mommy." Ucap tak terima.


Plak!!


Tuan Samuel menampar wajah Sean dengan keras.


"Suamiku!" Teriak Nyonya Imelda.


"Kau harus ingat Sean. Kau sudah memiliki tunangan, Katherine. Dan tak lama lagi kalian akan menikah." Ucap Tuan Samuel dengan suara menggelegar.


Sean tertawa hambar.


"Aku tidak pernah menganggap Katherine ada dalam hidupku, Dad. Bagiku dia tak lebih dari orang asing. Pertunangan itu terjadi bukan karena keinginanku, tapi keinginan kalian semua yang tak lain sebagai kesepakatan kerjasama bisnis kalian. Aku bebas menentukan pilihan hidupku sendiri. Bukan kalian." Tegas Sean.


"Suka atau tidak. Setuju atau tidak. Kau akan tetap menikah dengan Katherine. Daddy akan mrngatur agar pernikahan dipercepat. Dan Daddy pastikan wanita dari keluarga Quinn itu tidak akan bisa menjadi penghalang, karena dia tidak akan pernah diterima di keluarga Parker. Camkan itu."


Tuan Samuel langsung pergi keluar dari ruangannya. Sean menendang kursi yang ada di hadapannya dengan keras.


"Mau sampai kapan Mom? Mau sampai kapan Daddy mengatur khidupku seperti ini? Apa aku tidak berhak untuk hidup bahagia? Apa aku tidak berhak untuk jatuh cinta?"


Nyonya Imelda langsung memeluk tubuh putranya sambil menangis.


"Kamu berhak sayang. Tapi perjodohan antara dirimu dengan Katherine sudah terjadi sejak kalian masih kecil." Tutur Nyonya Imelda.


"Sean tidak mencintainya Mom. Sean mencintai wanita lain."


"Kita tidak bisa membatalkan pertunangan itu begitu saja. Ini menyangkut hubungan baik antara dua keluarga besar yang telah terjalin sejak lama. Keluarga Parker memiliki hutang budi kepada Keluarga Katherine." Terang Nyonya Imelda.


"Mengapa harus aku yang menjadi pelunas hutang itu, Mom?" Lirih Sean.


Nyonya Imelda tak bisa berkata-kata lagi. Sean melepaskan pelukan ibunya dan berjalan ke arah pintu.


"Kau mau ke mana, Sean? Menginaplah di sini sayang? Ini juga rumahmu, Nak. Mommy mohon." Pinta Nyonya Imelda.


Sean menggeleng.


"Sean tidak bisa tinggal di sini selama Daddy masih memaksakan kehendaknya. Mommy jaga diri baik-baik. Sean pergi dulu."


Nyonya Imelda sangat sedih melihat kepergian putranya, namun ia juga tak punya kuasa untuk menentang kehendak suaminya.


...***...


Sebuah limosin super mewah berhenti tepat di halaman mansion keluarga Quinn. Allen segera turun untuk membukakan pintu dan membantu Xander turun dari mobil. Dari dalam mansion, Alice keluar dengan wajah bekunya. Di balik kacamata hitamnya, netra Xander berbinar melihat penampilan Alice dengan A line dress panjang berwarna peach.


"Selamat malam, teman kencanku yang cantik." Ucap Xander dengan sambil tersenyum.


"Cih, aku paling benci dengan orang yang tidak tepat waktu." Jawab Alice.


"Aku minta maaf atas keterlambatanku, Alice. Ini sebagai permintaan maafku." Xander menyerahkan buket bunga mawar merah kepada Alice.


"Bunga yang cantik. Yah meskipun penampilan keseluruhannya cukup menyedihkan." Sindir Alice sambil menatap buket bunga yang diikat dengan asal itu.


"Aku janji untuk kencan selanjutnya aku akan membawakannya dengan penampilan yang terbaik."


Keduanya telah duduk di dalam mobil yang telah bergerak meninggalkan mansion.


"Kau benar-benar tidak percaya jika aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu." Ucap Xander memecah keheningan yang menyelimuti keduanya.


"Tentu saja. Karena aku bukan wanita bodoh." Jawab Alice dingin.


Xander hanya mengangguk sambil tersenyum. "Sebaiknya kau menyimpan pistol dan pisaumu itu ke dalam tas. Aku tidak ingin kedua benda berbahaya akan melukai kaki indahmu."


Alice membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika Xander akan mengetahui pistol dan pisau yang dia sembunyikan di balik dress panjangnya.


"Apa kau terkejut mengapa aku bisa mengetahuinya?"


Alice menatap tajam.


"Menjadi seorang mafia membuatku sangat peka terhadap apapun yang ada di sekitarku. Bahkan aku bisa mencium bau logam dari berbagai jenis senjata berbahaya." Terang Xander.


"Kita akan pergi ke mana?" Tanya Alice mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja mengajakmu makan malam yang romantis."


Alice kembali terdiam. Dia mencium bunga mawarnya. Aromanya sungguh harum sesuai dengan keindahan alami bunga itu.


"Bukankah ini bunga mawar yang langka? Sangat susah mendapatkan bunga jenis ini di toko bunga. Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Alice penasaran.


"Oh pantas saja penampilannya cukup menarik." Seru Alice sambil menatap ikatan buket bunga tersebut.


"Apa kau mau memberitahuku tentang bunga mawar merah ini?" Xander mendapatkan topik pembicaraan yang menarik.


"Mawar putri, itulah namanya. Jenis bunga mawar yang kebanyakan tumbuh di Indonesia, salah satu negara yang ada di Asia. Bunga ini memiliki ciri khas warna merah tua dan masuk ke dalam jenis bunga ganda karena memiliki benang sari dan putik di dalamnya. Aroma bunganya juga lebih wangi dibandingkan dengan jenis bunga mawar yang lain." Terang Alice sambil tersenyum simpul.


Bunga mawar adalah bunga favorit Alice, terutama mawar merah. Bunga yang memberikan kesan anggun dan berani. Cantik namun juga berbahaya karena mawar memiliki duri tajam untuk melindungi dirinya. Mengingatkan Alice dengan kehidupannya di Kerajaan Cardania.


"Bagaimana nasib taman mawarku di sana?" Batinnya dengan wajah sendu.


Xander senang melihat bagaimana cara Alice mendeskripsikan tentang bunga mawar. Baru kali ini dirinya tertarik kepada seorang lawan jenis. Seolah Alice telah mencairkan hatinya yang selama ini membeku.


"Mengapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Alice penuh selidik.


"Karena kau bagitu cantik malam ini." Jawab Xander membuat napas Alice sedikit tercekat.


"Aku memang sudah cantik sejak lahir." Ucap Alice sambil memalingkan wajahnya dan memilih menyapukan pandangannya ke luar kaca mobil.


Xander menahan tawanya. Dia tahu jika Alice sedang tersipu malu.


Mobil limusin tiba di sebuah restoran ternama yang ada di Kota London. Seperti biasa Allen bertugas membukakan pintu untuk bosnya dan teman kencannya. Xander dan Alice masuk ke dalam restoran bintang 5 itu, sedangkan Allen dan anak buahnya berjaga di depan pintu restoran.


Alice menyerngitkan dahinya karena restoran itu sepi tanpa satu pengunjungpun, padahal biasanya restoran itu selalu ramai pengunjung meskipun harga makanannya sangat mahal.


"Aku sengaja menyewa restoran ini khusus untuk kita berdua, Alice." Ucap Xander yang menjawab pertanyaan yang ada di benak Alice.


"Selamat datang Tuan Xander. Mari silakan saya antarkan ke meja Anda." Ucap manager restoran dengan sopan.


Xander dan Alice mengikuti manager restoran itu menuju sebuah meja yang telah disiapkan. Manager restoran menarik kursi sebelum Alice mendudukinya. Terlihat Xander mendengus kesal dengan pelan. Para pelayan segera datang dan meletakkan berbagai hidangan yang menjadi andalan dan keunggulan restoran itu.


"Selamat menikmati makan malam Anda, Tuan Xander dan Nona Quinn." Ucap manager restoran.


"Terima kasih." Jawab Xander dingin.


Manager restoran itu segera meninggalkan Xander dan Alice berdua.


"Apa kau menyukainya Alice?" Tanya Xander sambil menatap Alice yang sedang menikmati olahan ikan salmon di piringnya.


"Yah, ikan salmonnya enak dan bumbunya juga pas." Jawab Alice singkat.


Seorang pelayan datang sambil membawa botol wine dan menuangkannya ke dalam gelas. Saat pelayan itu akan menuangkan wine ke dalam gelasnya, Alice langsung menghentikannya.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak minum wine. Bisakah kau membawakanku Lemonade?"


"Tentu saja, Nona." Jawab pelayan itu.


"Apa kau takut mabuk dan ....."


"Buang jauh-jauh pikiran kotormu itu. Aku sedang tidak ingin meminumnya karena masih banyak pekerjaan penting yang harus aku selesaikan setelah acara kencan ini." Ucap Alice memotong pembicaraan Xander.


"Kau adalah seorang pekerja keras. Kau memang pantas dinobatkan sebagai pengusaha muda terbaik selama lima tahun berturut-turut." Puji Xander.


Tidak banyak yang keduanya bicarakan. Setelah makan malam selesai, Xander mengantarkan Alice kembali ke mansionnya.


"Terima kasih, Alice untuk makan malam romantisnya." Ucap Xander.


"Hmm." Jawab Alice.


"Besok pagi aku akan menjemputmu." Ujar Xander.


"Tidak. Aku besok ada pertemuan penting dengan klienku. Kau jangan seenaknya mengubah scheduleku." Tolak Alice dengan marah.


Xander terkekeh. "Aku tahu jika kau besok sangat sibuk. Aku hanya ingin mengantarkanmu ke Quinn Corps."


"Tidak perlu. Kedua asistenku yang akan menjemput dan mengantarkanku." Tegas Alice.


"Demi kalung rubi itu, please!"


Alice mendengus kesal. "Kau ingin mengancamku?"


Xander menggeleng. "Hanya tersisa waktu enam hari. Bertahanlah. Setelah itu, kau bisa memiliki kalung rubi selamanya dan aku tidak akan mengganggumu lagi."


Alice terdiam.


"Lagipula aku hanya akan mengantarkanmu bekerja bukan mengajakmu naik ke atas ranjang yang empuk." Tambahnya dengan senyum menggoda.


Wajah Alice langsung merah padam. Alice segera turun dari mobil sambil tersungut membuat Xander tak bisa menahan tawanya.


"Pergi sana!" Bentak Alice.


"Sampai ketemu besok pagi, teman kencanku. Semoga kau mimpi indah malam ini." Ucap Xander dengan senyum mengembang sebelum pintu mobil tertutup dan mobil mewah itu pergi meninggalkan mansion.


Alice pun masuk ke dalam mansion sambil mengucap sumpah serapah. Sedangkan di dalam mobilnya, Xander terus mengumbar senyum bahagianya yang membuat Allen takjub. Baru kali ini Allen melihat bosnya tersenyum bahagia seperti itu. Sebelumnya hanya wajah dingin dan menyeramkan yang selalu Xander tunjukkan di hadapan orang lain.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰